← Latihan Dulu

Chapter Sixteen

Tiga Tahun, Versi Nyaman

POV: Aurora

Aku pacaran dengan Kak Bagas selama tiga tahun dan tidak ada satu pun hal buruk yang bisa kuceritakan.

Itu bukan kalimat manis. Itu masalahnya.


Tahun pertama.

Kami beda kampus tapi satu kota, dan itu ternyata cukup. Dia menjemput dua kali seminggu. Dia hafal dosenku yang menyebalkan. Dia datang ke ulang tahun ibuku dan ibuku menyukainya dengan cara yang membuat aku sedikit malu.

Teman-teman kampusku menyebutnya “cowok ideal” dan mereka tidak sedang menyindir.

Aku juga tidak menyindir. Dia memang begitu.

Yang aneh cuma satu, dan aku tidak menceritakannya ke siapa pun karena kedengarannya tidak tahu diri:

Aku tidak pernah gugup.

Sekali pun. Tiga tahun.

Waktu dia pertama kali menggenggam tanganku di parkiran — tidak gugup. Waktu dia bilang sayang untuk pertama kalinya — tidak gugup. Waktu kami bertengkar untuk pertama kalinya, soal jadwal, dan selesai dalam dua puluh menit — tidak gugup.

Aku bangga soal itu selama kira-kira setahun.

Empat puluh tiga sesi. Wajar dong.

Ada satu kebiasaan yang tidak hilang.

Aku menghitung jeda.

Kalau ada orang bicara denganku dan berhenti sebentar sebelum menjawab, aku menghitungnya. Otomatis. Satu detik, dua detik, tiga. Aku tidak melakukannya dengan sengaja dan aku tidak bisa mematikannya.

Kak Bagas hampir tidak pernah punya jeda. Dia menjawab langsung, selalu, tentang apa pun. Kalau ditanya mau makan apa, dia menjawab dalam satu detik. Kalau ditanya soal masa depan, satu detik juga.

Aku menyukai itu. Aku menyebutnya “tegas”.

Butuh tiga tahun sebelum aku sadar bahwa jeda itu bukan keraguan. Jeda itu tempat orang menaruh hal-hal yang tidak jadi mereka ucapkan.

Kak Bagas tidak punya jeda karena dia tidak punya apa-apa yang disembunyikan.

Aku pernah mengenal orang yang jedanya empat detik.


Tahun kedua.

Icha menanyakannya sekali, di kosan, sambil menggulung rambutnya.

“Ra.”

“Hm.”

“Kamu masih kontakan sama Bumi?”

Aku sedang mengetik tugas. Aku ingat aku terus mengetik.

“Enggak.”

“Sama sekali?”

“Terakhir waktu lulusan.”

“Tiga tahun?”

“Dua tahun.” Aku menghitung. “Dua tahun lebih.”

Icha diam sebentar.

“Kamu nggak kepikiran buat—“

“Cha, orang emang gitu.” Aku menyelesaikan satu paragraf dan menyimpannya. “Temen SMA tuh emang ilang semua. Kamu juga nggak kontakan sama siapa-siapa kan.”

“Aku kontakan sama Fandi.”

Jariku berhenti di keyboard selama sekitar dua detik.

Dua detik. Aku ingat itu karena aku menghitungnya, dan aku menghitungnya karena aku sudah punya kebiasaan menghitung jeda, dan aku sudah punya kebiasaan menghitung jeda karena sebelas bulan mendengarkan rekaman.

“Ya bagus dong,” kataku, dan mulai mengetik lagi.

Icha tidak melanjutkan.


Aku tidak pernah menghapus rekamannya.

Ini bagian yang paling susah kujelaskan, dan aku sudah mencoba menjelaskannya ke diriku sendiri ratusan kali.

Empat puluh tiga file. Tersimpan di folder bernama “sesi”, dipindahkan dari ponsel lama ke ponsel baru waktu ganti HP di tahun kedua — yang artinya aku secara sadar memilih untuk memindahkannya, satu per satu, sambil menunggu progress bar.

Aku tidak pernah membukanya.

Sekali pun.

Aku memindahkannya, aku menyimpannya, aku mem-backup-nya waktu ponselku rusak, dan aku tidak pernah menekan play.

Aku pernah nyaris. Satu kali, malam tahun baru di tahun kedua, jam dua pagi, waktu semua orang di kosan sudah tidur dan aku tidak bisa.

Aku membuka foldernya. Aku scroll sampai file terakhir. Jempolku sudah di atas tombolnya.

Lalu aku menutup aplikasinya dan menaruh ponsel itu di laci.

Aku tidak tahu apa yang aku takutkan. Sungguh. Aku duduk di kasur dan mencoba memberi nama pada rasa takut itu dan tidak menemukan satu pun kata yang cocok, dan akhirnya aku memutuskan bahwa aku cuma capek.

Kalau ada yang bertanya kenapa aku menyimpannya, aku akan bilang: “kenangan SMA.”

Dan itu jawaban yang cukup untuk semua orang, karena semua orang menyimpan kenangan SMA, dan tidak ada yang cukup dekat untuk bertanya kenapa kenangan SMA-ku berbentuk empat puluh tiga rekaman audio dengan durasi total tujuh puluh sembilan jam.


Tahun ketiga.

Ada hari di bulan Juli. Aku sedang jalan keluar dari gedung fakultas, hujan turun tiba-tiba seperti biasa di kota ini, dan aku berhenti di bawah kanopi bersama sekitar dua puluh orang lain.

Ada cowok di sebelahku. Aku tidak kenal. Dia membuka tasnya, mengeluarkan payung, memakainya — lalu mengeluarkan payung kedua dan memberikannya ke temannya.

Dua payung.

Aku berdiri di situ dan sesuatu di dadaku jatuh, tiba-tiba, tanpa peringatan, seperti anak tangga yang tidak ada.

Aku tidak menangis. Aku tidak melakukan apa-apa yang dramatis.

Aku cuma berdiri di bawah kanopi itu selama dua puluh menit sampai hujannya reda, padahal aku punya payung di dalam tas.

Malamnya aku membuka lemari dan melihat jaket seragam abu-abu yang masih tergantung di belakang pintu kamar, di rumah, tiga tahun, tidak pernah dikembalikan dan tidak pernah diminta.

Aku menutup lemari itu.

Aku menyebutnya “nostalgia” dan tidur.

Icha datang menginap dua minggu setelah itu dan melihat jaket itu waktu menggantung handuk.

“Ini punya siapa?”

“Punya aku.”

“Ini seragam cowok.”

“Ya... “ Aku mengambil handuknya dan menggantungnya di tempat lain. “Itu punya temen. Aku lupa balikin.”

“Tiga tahun?”

“Cha.”

“Aku cuma nanya.”

“Kamu nggak cuma nanya.”

Icha duduk di tepi kasur dan menatapku agak lama, dan aku sadar dia sedang memilih antara dua kalimat.

Dia memilih yang lebih pendek.

“Ra, kamu bahagia nggak?”

“Bahagia banget.” Aku menjawab dalam satu detik. Tanpa jeda sama sekali. “Kenapa emangnya?”

“Nggak apa-apa.” Dia berbaring. “Ya udah. Bagus.”

Dan aku menganggap percakapan itu selesai, dan aku mematikan lampu, dan aku tidur dengan punggung menghadap pintu tempat jaket itu tergantung.


Kak Bagas melamar perhatianku dengan cara yang benar selama tiga tahun dan aku tidak pernah punya satu pun keluhan.

Dan di bulan kedelapan tahun ketiga, dia mengajakku makan malam dan bertanya sesuatu yang tidak kusiapkan sama sekali.

“Ra, aku boleh nanya?”

“Boleh.”

“Kamu takut nggak sih sama aku?”

Aku menaruh sendokku.

“Takut gimana?”

“Bukan takut yang jelek.” Dia mencari kata-katanya. “Maksudnya, kayak... deg-degan. Grogi. Yang bikin kamu mikirin dua kali sebelum ngomong.”

“Enggak.”

“Nggak pernah?”

“Nggak pernah.” Aku tersenyum. “Itu bagus kan? Artinya aku nyaman.”

Dia mengangguk, dan tersenyum balik, dan mengganti topik.

Dan aku menghabiskan sisa makan malam itu merasa senang karena aku baru saja memberikan jawaban yang benar.

Dua bulan kemudian dia mengakhiri hubungan kami, dan waktu itu terjadi, dia mengutip percakapan ini.


Tapi sebelum itu, ada satu hal lagi.

September. Acara komunitas antar kampus. Kak Bagas ikut komunitas robotik sejak semester dua dan dia selalu mengajakku ke acara-acaranya, dan aku selalu ikut karena aku suka melihat dia di tempat yang dia kuasai.

“Nanti rame,” katanya di mobil. “Ada anak-anak dari kampus lain juga.”

“Kamu kenal semua?”

“Nggak semua. Tapi banyak.”

Aku sedang membetulkan tali sandalku waktu dia bilang kalimat berikutnya, jadi aku cuma mendengarnya setengah.

“Oh iya, ada anak yang aku salut banget sama dia. Anak utara. Jago banget, tapi orangnya diem. Kamu mungkin—“

“Hm?”

“Nggak jadi.” Dia tertawa. “Nanti kamu ketemu sendiri.”

Aku bilang oke.

Aku betul-betul bilang oke, dan aku kembali membetulkan tali sandalku, dan aku turun dari mobil sambil memegang tangannya.

Aku masuk ke ruangan itu tanpa persiapan apa pun.

Ada meja panjang di sisi kanan dengan gelas-gelas minuman. Ada sekitar tiga puluh orang. Ada suara mesin dari ruangan sebelah.

Dan ada orang yang berdiri di dekat meja itu dengan gelas di tangan, sedang mendengarkan seseorang bicara, dengan kacamata bingkai tipis dan postur yang terlalu santai untuk tinggi badannya.

Dia mengangkat kepalanya.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, tanganku dingin.

Bukan dingin karena AC.

Aku tahu bedanya. Ada orang yang mengajariku bedanya, di kafe berkopi buruk, waktu aku berumur enam belas.