Chapter Eighteen
Dua Detik
POV: Aurora
Aku tidak tidur sampai jam tiga pagi, dan aku tidak tahu kenapa.
Ini bagian yang harus kutulis dengan hati-hati, karena kalau aku tidak hati-hati aku akan curang dan menuliskan sesuatu yang baru kumengerti belakangan.
Malam itu aku benar-benar tidak tahu.
Aku berbaring di kasur kosan dan memutar ulang malam itu di kepalaku dan yang terus kembali bukan wajahnya, bukan suaranya, bukan apa pun yang masuk akal.
Yang terus kembali adalah dua detik.
Jeda dua detik sebelum aku menjawab “kita satu SMA”.
Aku yang punya jeda itu.
Aku sudah tiga tahun menghitung jeda orang lain, dan malam itu, di ruangan berisi tiga puluh orang, aku sendiri yang berhenti selama dua detik penuh sebelum bisa mengucapkan fakta paling sederhana di dunia.
Kenapa?
Aku memutar-mutar pertanyaan itu sampai jam satu, lalu menyerah, lalu memutuskan bahwa aku cuma kaget, karena bertemu teman lama memang mengagetkan, dan aku tidur.
Aku bangun jam tiga dan tidak bisa tidur lagi sampai subuh.
Icha datang ke kosan hari Minggu, membawa gorengan, dan mendudukkan dirinya di kasurku seperti biasa.
“Kata Fandi kamu ketemu Bumi.”
Aku sedang melipat baju. Aku terus melipat.
“Fandi cepet banget.”
“Fandi selalu cepet.” Dia mengambil satu tahu isi. “Gimana?”
“Ya biasa aja.”
“Biasa aja gimana?”
“Ya kayak ketemu temen SMA.” Aku melipat satu kaus dan menaruhnya. “Kita ngobrol bentar. Dia udah tinggi banget. Terus dia ambil risoles.”
“Empat menit.”
“Hah?”
“Kata Fandi kalian ngobrol empat menit.”
Aku berhenti melipat.
“Fandi ngitung?”
“Bumi yang ngitung,” kata Icha. “Fandi cuma nyampein.”
Ada sesuatu di dadaku yang bergerak, dan aku menekannya kembali dengan cara melanjutkan melipat baju.
“Ya dia emang gitu. Dia ngitungin semuanya. Dia bahkan tau nomor sepatu Fandi.”
“Empat puluh dua.”
“Iya, empat puluh—“ Aku berhenti lagi. “Kok kamu tau?”
“Fandi cerita.”
“Kenapa Fandi cerita nomor sepatunya?”
Icha mengunyah dan menelan sebelum menjawab.
“Karena dia lagi jelasin ke aku,” katanya, “bahwa Bumi tuh nggak inget semua hal. Dia cuma inget hal yang diomongin orang tertentu.”
Aku melipat kaus yang sama untuk kedua kalinya.
“Cha.”
“Hm?”
“Kenapa kamu ngomongin ini?”
Icha berhenti mengunyah.
“Ngomongin apa?”
“Bumi.” Aku menaruh kaus itu. “Tiga tahun kamu nggak pernah ngungkit. Sekali doang di tahun kedua, terus udah. Sekarang tiba-tiba kamu bawa gorengan terus ngomongin nomor sepatu Fandi.”
Icha menatapku beberapa saat.
“Karena tiga tahun kamu nggak pernah nanya,” katanya.
“Nanya apa?”
“Apa aja. Kabarnya, kuliahnya, dia gimana.” Icha mengangkat bahu. “Kamu nggak pernah nanya sekali pun, Ra. Padahal kamu nanya kabar Rizka. Kamu nanya kabar Bu Ratna guru kimia. Kamu bahkan nanya kabar kucing kantin.”
“Kucing kantin lucu.”
“Aurora.”
“Aku nggak nanya karena aku nggak kepikiran.”
“Orang nggak nanya karena nggak kepikiran,” kata Icha, “atau karena kepikiran terus.”
Aku mengambil kaus berikutnya dari tumpukan dan melipatnya, dan aku melipatnya dengan sangat rapi, jauh lebih rapi dari yang kubutuhkan.
“Cha, aku punya pacar.”
“Aku tau.”
“Tiga tahun.”
“Aku tau.”
“Terus kenapa kamu ngomong kayak gitu?”
Icha mengambil gorengan terakhir dan berdiri.
“Aku nggak ngomong apa-apa,” katanya. “Aku cuma nyebutin hal-hal yang kejadian.”
Lalu dia pamit karena ada kelas sore, dan aku tinggal sendirian di kamar dengan tumpukan baju yang sudah selesai dilipat sejak lima belas menit lalu.
Malam Minggu itu Kak Bagas mengajakku makan.
Dia bercerita panjang tentang proyek komunitas, tentang jadwal yang berantakan, tentang siapa yang masuk tim mana.
“Kamu beneran nggak papa satu tim sama Bumi?”
“Kenapa nggak papa?”
“Ya nggak tau. Kadang kan canggung ketemu temen lama.”
“Nggak canggung kok.”
“Bagus.” Dia menyeruput minumnya. “Soalnya dia bagus banget. Orangnya nggak banyak omong tapi kalau ngomong bener terus. Aku suka orang kayak gitu.”
Aku mengaduk makananku.
“Kak.”
“Hm?”
“Kalau ada orang yang jeda dua detik sebelum ngomong,” kataku, “menurut kakak itu artinya apa?”
Dia mengangkat kepalanya.
“Maksudnya?”
“Nggak. Random aja.”
“Ya artinya dia mikir dulu.” Dia mengangkat bahu. “Bagus dong. Aku suka orang yang mikir dulu.”
“Iya,” kataku. “Iya, bener.”
Dia tidak bertanya lagi, karena tidak ada alasan untuk bertanya lagi, dan kami melanjutkan makan.
Aku memikirkan pertanyaan itu sepanjang malam.
Bukan jawabannya. Pertanyaannya.
Kenapa aku bertanya itu ke Kak Bagas dan bukan ke diriku sendiri, padahal aku sudah punya jawabannya sejak umur enam belas.
Hari Selasa ada rapat pertama tim.
Aku datang sepuluh menit lebih awal, yang tidak biasa, karena aku biasanya tepat waktu.
Ruangannya masih kosong kecuali satu orang.
Dia sudah duduk di sana, di ujung meja, laptop terbuka, kacamata dipakai, mengerjakan sesuatu.
“Hai,” kataku.
“Hai.”
“Kamu dateng jam berapa?”
“Setengah.”
Rapatnya jam sepuluh.
Aku berdiri di pintu selama sekitar dua detik — dua detik lagi, aku menghitungnya lagi — lalu masuk dan duduk di kursi yang jaraknya tiga kursi dari dia.
Aku tidak tahu kenapa aku memilih tiga.
“Kamu ngerjain apa?” tanyaku.
“Dokumentasi arsitektur.”
“Itu bukan tugas kamu.”
“Bukan.”
“Terus kenapa dikerjain?”
“Karena tim dokumentasi nggak akan bisa nulis kalau arsitekturnya belum jelas.” Dia tidak mengangkat kepala dari layar. “Jadi ini dikerjain dulu supaya nanti kalian nggak nunggu.”
Aku memandanginya.
Dia mengetik. Ada bunyi keyboard. Ada suara AC.
“Bum.”
“Hm.”
“Kamu masih gitu ya.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Gitu gimana.”
Dan aku membuka mulut untuk menjelaskan, dan aku tidak menemukan satu pun kalimat yang tidak akan terdengar aneh.
Kamu masih ngerjain hal buat orang lain terus nggak bilang siapa-siapa. Kamu masih dateng satu setengah jam lebih awal. Kamu masih duduk di ujung. Kamu masih nggak pernah minta apa-apa.
“Nggak,” kataku. “Nggak apa-apa.”
“Oke.”
Dia kembali ke layarnya.
Anggota tim lain masuk lima menit kemudian. Rapat berjalan normal. Aku mencatat dengan baik dan bertanya di tempat yang benar dan tidak melakukan satu pun hal aneh.
Kecuali satu.
Di tengah rapat, koordinator meminta seseorang menjelaskan alur data, dan Bumi menjelaskannya, dan di tengah penjelasan dia melepas kacamatanya untuk mengusap lensanya dengan ujung kaus.
Aku berhenti menulis.
Bukan berhenti dramatis. Pulpenku cuma berhenti bergerak selama sekitar empat detik, di tengah kata, dan waktu aku melanjutkan, hurufnya jadi jelek.
Aku menatap kata jelek itu di kertasku sepanjang sisa rapat.
Aku ingat pernah begini. Bertahun-tahun lalu, di kafe berkopi buruk. Aku ingat aku kehilangan kalimat dan harus mencarinya lagi.
Aku ingat aku memutuskan waktu itu bahwa itu karena aku gugup soal Kak Bagas.
Sekarang aku tidak gugup soal Kak Bagas.
Waktu rapat selesai dan semua orang berdiri, aku sadar aku sudah tidak melihat catatanku selama dua puluh menit terakhir.
Aku tidak bisa tidur lagi malam itu.
Kali ini aku memutuskan untuk mencari alasannya secara sistematis, karena aku belajar dari orang yang sistematis.
Aku duduk di kasur dan membuka aplikasi catatan dan mengetik daftar.
Kenapa aku nggak bisa tidur:
1. Kopi sore tadi
2. Deadline
3.
Aku menatap nomor tiga selama sepuluh menit.
Aku sempat mengetik satu huruf. B.
Lalu aku menghapusnya, dan mengetik ulang, dan menghapusnya lagi, dan akhirnya mengetik: 3. kasur baru belum enak.
Kasurku sudah tiga tahun.
Lalu aku menghapus seluruh daftarnya dan menutup aplikasi dan berbaring menghadap dinding.
Ponselku ada di meja. Di dalamnya ada folder bernama “sesi” berisi empat puluh tiga file yang tidak pernah kubuka.
Aku tidak membukanya malam itu juga.
Aku cuma berbaring di sana dan berpikir, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, tentang sebuah kalimat yang pernah kucatat di aplikasi lain, di bawah judul referensi, di malam sebelum aku menembak Kak Bagas.
Udah lama. Lebih lama dari yang bakal aku bilang.
Aku ingat kalimat itu bagus.
Aku tidak ingat siapa yang mengucapkannya.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik reading
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu