← Latihan Dulu

Chapter Twenty One

Enam Bulan

POV: Bumi

Pengumumannya keluar hari Kamis, dan aku membacanya di halte sambil berdiri.

Sebelas nama. Program magang enam bulan di perusahaan teknologi yang cukup besar untuk punya lobi berpendingin dan cukup kecil untuk semua orang tahu nama semua orang.

Nomor empat: namaku.

Nomor sembilan: namanya.

Aku membaca nomor sembilan itu tiga kali, bukan karena aku tidak percaya, tapi karena aku sedang mencari sesuatu di dalam diriku dan tidak menemukannya.

Tidak ada apa-apa. Lagi.

Aku memasukkan ponsel ke saku dan naik bus.


Fandi menelepon dua puluh menit kemudian.

“Bum.”

“Gue udah baca.”

“Enam bulan.”

“Enam bulan.”

“Satu ruangan?”

“Nggak tau. Belum ada pembagian tim.”

Hening.

“Lo mau gue bilang apa?” tanyaku.

“Gue mau lo bilang sesuatu yang jujur.”

Aku memandangi jalan lewat jendela bus. Sudah gelap. Lampu-lampu toko lewat satu per satu.

“Gue seneng,” kataku.

“Nah.”

“Bukan seneng yang itu.”

“Bum.”

“Gue seneng karena tempatnya bagus. Gue apply ke situ dari November. Gue nyiapin portofolio dua bulan.” Aku memindahkan tas ke pangkuan. “Dan sekarang gue harus mikirin dia di kalimat yang sama, dan itu yang bikin gue kesel.”

Fandi diam sebentar.

“Itu jujur,” katanya.

“Iya.”

“Itu juga pertama kalinya lo kesel.”

Aku menutup telepon.


Hari pertama, ruangan orientasi, sebelas kursi disusun setengah lingkaran.

Dia datang jam delapan kurang lima, memakai kemeja yang jelas-jelas baru dibeli untuk ini, dengan rambut diikat rapi dan wajah orang yang tidak tidur cukup.

Ada dua kursi kosong waktu dia masuk. Satu di sebelahku, satu di ujung.

Dia mengambil yang di ujung.

Bagus.

Aku mencatat itu di kepalaku dengan nada persetujuan, dan aku sungguh-sungguh, dan aku tidak sedang berbohong ke diriku sendiri sama sekali.

Lalu pembimbing masuk dan membagi tim.

“Tim tiga: Arsenio, Claire. Kalian pegang modul integrasi.”

Anak di sebelahku berbisik, “Kok cuma dua orang?”

“Karena modulnya kecil,” kataku.

Itu bohong. Modul integrasi bukan modul kecil. Modul integrasi adalah bagian yang menyambungkan semua bagian lain, artinya kami akan berkomunikasi dengan sepuluh orang lain sepanjang program, artinya kami akan duduk berdampingan selama enam bulan.

Aku tahu itu sebelum kalimat pembimbing selesai.


Bulan pertama berjalan seperti ini:

Aku datang jam setengah delapan. Dia datang jam delapan kurang lima.

Kami mengerjakan modul. Kami bicara tentang modul. Kami tidak bicara tentang hal lain.

Waktu istirahat, dia makan dengan anak-anak magang yang lain dan tertawa dengan mereka dan dalam dua minggu sudah tahu nama semua orang termasuk satpam. Aku makan lebih cepat dan kembali duluan.

Jam enam kami pulang. Kak Bagas menjemput dua kali seminggu. Sisanya dia naik ojek.

Itu saja. Tiga puluh hari kerja, dan tidak terjadi apa-apa.

Aku ingin menuliskan bahwa itu menyiksa. Sebenarnya tidak. Sebagian besar hari-hari itu benar-benar biasa. Kami bekerja dengan baik bersama — itu bagian yang tidak terduga. Dia teliti dengan cara yang berbeda dariku, dan dua-tiga kali dia menangkap kesalahan yang kulewatkan, dan sekali dia menang argumen tentang struktur penamaan dan aku harus mengakui dia benar.

“Kamu ngaku aku bener?”

“Iya.”

“Bum, ini bersejarah.”

“Jangan lebay.”

“Aku mau tulis di kalender.”

Dia menulisnya di kalender. Aku melihatnya waktu dia meninggalkan laptopnya terbuka. Tanggal 14, ada catatan: “MENANG DEBAT SAMA BUMI.”

Aku memandangi catatan itu selama sekitar tiga detik lalu berjalan ke pantry mengambil air yang tidak kubutuhkan.

Ada satu hal lagi yang kupelajari di bulan pertama, dan ini yang paling tidak nyaman.

Dia sudah tidak butuh dilatih.

Waktu presentasi progres minggu ketiga, dia berdiri di depan sebelas orang termasuk dua manajer, dan dia menjelaskan modul kami selama enam menit tanpa satu pun “eh” atau “duh” atau jeda yang tidak disengaja. Dia menjawab tiga pertanyaan. Salah satunya pertanyaan jebakan dan dia menyadarinya.

Anak magang di sebelahku berbisik, “Enak ya jadi orang yang nggak pernah grogi.”

Aku tidak menjawab.

Karena aku ingat orang yang butuh dua puluh tiga kali percobaan untuk mengucapkan “halo”, dan orang itu tidak ada lagi, dan aku tidak tahu apakah aku boleh merasa bangga atau merasa kehilangan.


Hari ke tiga puluh empat, sore, ruang rapat kecil.

Kami sedang menyusun ulang diagram alur di atas kertas karena layar tidak cukup besar. Dua orang, satu kertas A3, satu meja.

Aku menunjuk sesuatu di kiri bawah. Dia menunjuk sesuatu di kiri bawah.

Punggung tanganku menabrak punggung tangannya.

Kami berdua menarik tangan.

Bersamaan. Cepat. Seperti dua orang yang menyentuh panci panas dari dua sisi berbeda.

Kertas itu bergeser sedikit.

“Sori,” katanya.

“Sori.”

Hening selama mungkin empat detik.

Lalu dia tertawa — pendek, tidak nyaman, berhenti di tempat yang salah. “Kenapa kita minta maaf?”

“Nggak tau.”

“Aneh banget.”

“Iya.”

Kami kembali ke diagram.

Dan aku mengerjakan sisa sore itu dengan konsentrasi yang benar-benar penuh, dengan hasil yang benar-benar bagus, dan aku ingin mencatat bahwa aku sama sekali tidak memikirkan hal lain selama sembilan puluh menit berikutnya.

Baru malamnya, di kosan, jam sebelas, waktu aku sedang menyikat gigi, aku sadar sesuatu.

Tiga tahun lalu, di trotoar dekat stasiun, tangan yang sama pernah bertemu tangan yang sama.

Waktu itu tidak ada yang menarik tangan.

Waktu itu jarinya menyelip di antara jariku dan dia terus bercerita soal koin selama tiga puluh langkah.

Aku memegang sikat gigi di depan wastafel dan berpikir, dengan sangat tenang:

Jadi ini yang berubah.

Dulu dia nggak sadar dan nggak narik.

Sekarang dia sadar, dan narik.

Aku menyelesaikan menyikat gigi dan tidur, dan aku tidur nyenyak, dan aku tidak tahu apa artinya itu.


Hari ke tiga puluh delapan, dia bertanya sesuatu di pantry.

“Bum.”

“Hm.”

“Kamu masih kayak dulu nggak sih?”

Aku sedang menuang air panas. Aku menyelesaikannya.

“Maksudnya?”

“Nggak tau.” Dia bersandar ke konter. “Aku kayak nyari-nyari bedanya dari kemarin-kemarin. Kamu keliatan sama, tapi ada yang beda, tapi aku nggak bisa nunjuk.”

“Gue tiga tahun lebih tua.”

“Bukan itu.”

“Gue lebih jarang ngomong.”

“Kamu emang dari dulu jarang ngomong.”

Aku menutup termos.

“Aurora, gue nggak tau harus jawab apa.”

“Ya udah.” Dia mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Aku cuma penasaran.”

Dia keluar dari pantry.

Aku berdiri di sana dengan gelas panas di tangan dan menemukan jawabannya sekitar empat detik terlambat, seperti biasa.

Yang beda adalah dulu gue selalu tau apa yang lo mau sebelum lo minta.

Sekarang gue sengaja nggak nebak.

Aku minum airku dan kembali ke meja.


Bulan kedua, dia mulai membawa dua kotak makan.

Aku menyadarinya hari Selasa. Dia menaruh satu di mejanya dan satu lagi di meja sebelah — meja anak magang bernama Reza yang sering lupa makan.

Hari Kamis, dua kotak lagi. Reza lagi.

Hari Senin minggu berikutnya, dua kotak, dan yang kedua ditaruh di mejaku.

“Ini apa.”

“Kotak makan.”

“Gue tau ini kotak makan.”

“Ya udah, dimakan.”

“Kenapa gue?”

“Karena kamu makan siang tujuh menit terus balik ke meja.” Dia sudah duduk dan sudah membuka laptopnya. “Itu bukan makan siang. Itu pengisian bahan bakar.”

Aku memandangi kotak itu.

“Lo bikin sendiri?”

“Ibuku.”

“Ibu lo tau ini buat gue?”

Ada jeda.

“Iya,” katanya.

Dua detik. Aku menghitungnya.

Aku memakan isinya sampai habis, dan mencuci kotaknya di pantry, dan mengembalikannya sore itu.

Dan malamnya, di kosan, aku duduk di tepi kasur cukup lama.

Fandi bilang jangan langsung iya.

Fandi juga bilang orang yang cuma kebal itu bakal ngulang persis sama karena dia mikir dia kuat nahan.

Aku memasukkan kotak makan kosong itu — bukan, kotaknya sudah kukembalikan. Aku tidak memasukkan apa pun ke mana pun.

Aku cuma duduk di sana dan menyadari, dengan tenang dan lengkap, bahwa enam bulan itu masih tersisa lima bulan.