Chapter Forty
Jam Empat
POV: Bumi
Revisi terakhirnya selesai jam tiga pagi.
Kami di lantai atas kosannya — bukan atap resmi, cuma dak beton di depan jemuran, dengan pagar setinggi pinggang dan satu lampu neon yang setengah mati.
Dia mengangkat laptopnya ke udara.
“SELESAI.”
“Ssst.”
“BUM, SELESAI.”
“Jam tiga pagi.”
“AKU NGGAK PEDULI.”
Ada lampu menyala di kosan sebelah. Aku menarik lengannya sampai dia duduk kembali.
Dia duduk di lantai dak beton dengan laptop di pangkuan dan wajah orang yang belum tidur tiga puluh jam, dan dia tertawa sendirian selama sekitar satu menit.
Aku duduk di sebelahnya.
Kota di bawah kami sudah mati. Ada satu warung yang lampunya masih menyala tiga blok dari situ. Ada kucing di atap sebelah yang sudah dua jam tidak bergerak.
“Bum.”
“Hm.”
“Aku nggak bakal bisa tidur.”
“Gue tau.”
“Kamu juga nggak bakal bisa.”
“Gue tau.”
Dia menutup laptopnya dan menaruhnya di lantai.
“Ya udah,” katanya. “Ngobrol.”
Kami mengobrol soal hal-hal kecil dulu.
Soal dosennya yang mungkin akan meminta revisi lagi. Soal wisuda. Soal apakah Reno akan menangis di wisuda — kesimpulan kami: iya, dan dia akan menyangkalnya.
Lalu langit mulai berubah sedikit, dan percakapannya berubah juga, seperti yang selalu terjadi jam empat pagi.
“Bum.”
“Hm.”
“Boleh nanya sesuatu yang aku takut nanyain?”
“Boleh.”
Dia memeluk lututnya.
“Hari Rabu itu gimana rasanya?”
Aku memandangi kota.
“Yang mana.”
“Semuanya.” Suaranya pelan. “Aku udah denger rekamannya. Aku udah baca margin. Tapi itu semua dari luar.” Dia menoleh. “Aku nggak tau rasanya dari dalem.”
Aku tidak menjawab selama mungkin dua puluh detik.
“Kamu nggak usah jawab kalau—“
“Gue jawab,” kataku.
“Yang paling susah bukan sesinya,” kataku.
“Bukan?”
“Bukan. Sesinya justru bagian terbaik.” Aku memandangi warung yang lampunya menyala tiga blok jauhnya. “Tiga jam, seminggu sekali, lo cuma ngomong sama gue. Nggak ada orang lain. Nggak ada yang ganggu. Itu tiga jam terbaik dalam seminggu.”
Dia diam.
“Yang susah itu setelahnya.”
“Setelahnya gimana?”
“Gue naik bus.” Aku memindahkan posisi dudukku. “Lo naik bus lo, gue naik bus gue. Dua puluh menit. Terus gue jalan dari halte ke rumah, delapan menit.”
“Terus?”
“Terus gue masuk kamar,” kataku. “Dan gue harus jadi orang lain lagi.”
Dia menoleh.
“Maksudnya?”
“Aurora, selama tiga jam itu gue boleh jadi orang yang lo panggil. Gue boleh megang tangan lo. Gue boleh peluk lo. Gue boleh dengerin lo bilang ‘aku suka kamu’ tujuh belas kali.” Aku menaruh tanganku di lutut. “Terus jam enam lewat, sesinya selesai, dan semua itu hilang. Bukan pelan-pelan. Langsung. Kayak saklar.”
“Bum—“
“Terus hari Kamis dateng.” Aku mengangkat bahu. “Dan gue harus duduk di sebelah lo di perpus dan jadi temen lo. Yang bener-bener temen. Yang nggak boleh mikirin apa pun yang kejadian kemarin.”
Aku bisa mendengar dia bernapas.
“Enam hari,” kataku. “Setiap minggu. Enam hari jadi temen, tiga jam jadi orang lain. Terus ulang.”
“Berapa lama?”
“Sebelas bulan.”
Dia menekan wajahnya ke lutut.
“Bum, kenapa kamu nggak berhenti?”
“Gue coba.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Kamu coba?”
“Dua kali.” Aku memandangi warung yang lampunya masih menyala. “Sesi kedelapan belas gue bilang ke Fandi gue mau bilang nggak bisa lanjut. Gue nyusun alesannya semaleman. Gue bilang gue ada les tambahan hari Rabu.”
“Terus?”
“Terus lo kirim pesen hari Selasa,” kataku. “Isinya cuma ‘besok jadi kan?’. Dua kata sama tanda tanya.”
Dia menutup matanya.
“Dan gue bales ‘jadi’,” kataku. “Dalam empat detik.”
“Yang kedua kapan?”
“Sesi tiga puluh satu.”
“Sama?”
“Sama.” Aku mengangkat bahu. “Cuma yang kedua gue nyerah lebih cepet. Gue bahkan nggak sampai nyusun alesannya.”
Kucing di atap sebelah bergeser sedikit.
“Fandi tau semuanya?” tanyanya.
“Fandi tau semuanya,” kataku. “Fandi enam tahun jadi orang yang harus dengerin gue kalah.”
“Yang paling parah kapan?” katanya, dari balik lututnya.
“Lo yakin mau denger?”
“Iya.”
Aku memikirkannya.
Dan yang muncul di kepalaku bukan sesi tiga belas. Bukan malam “aku sayang kamu”. Bukan hari lo minta latihan ciuman.
“Sesi tujuh,” kataku.
Dia mengangkat kepalanya.
“Yang dua belas menit?”
“Yang dua belas menit.”
“Kenapa itu?”
Aku memandangi langit yang sudah mulai abu-abu di satu sisi.
“Karena di menit kesepuluh,” kataku, “gue lupa.”
“Lupa apa?”
“Lupa bahwa itu latihan.”
Dia berhenti bergerak.
“Sepuluh menit gue duduk di kafe itu dan gue lupa,” kataku. “Gue nggak mikirin Kak Bagas. Gue nggak mikirin sesi. Gue cuma duduk di situ dan tangan lo di tangan gue dan gue lupa kenapa kita ada di situ.”
Aku menarik napas.
“Terus lo nanya ‘ini latihan doang kan’.”
Dia menutup mulutnya dengan tangan.
“Dan gue harus jawab iya,” kataku. “Dan gue harus jawab iya dalam waktu satu detik, karena kalau gue jeda, lo bakal nanya kenapa.”
Kucing di atap sebelah akhirnya bergerak.
“Itu yang paling parah,” kataku. “Bukan yang gede-gede. Yang paling parah itu detik-detik di mana gue lupa, terus diingetin lagi.”
Dia menangis dengan cara yang tidak bersuara sama sekali, yang jauh lebih buruk daripada yang bersuara.
Aku menaruh tanganku di punggungnya dan diam.
“Bum.”
“Hm.”
“Aku minta maaf.”
“Lo udah bilang gue nggak akan minta maaf lagi.”
“Aku bohong.”
“Gue tau.”
Dia tertawa, sekali, basah dan pendek.
“Bum, aku bikin kamu ngalamin itu sebelas bulan.”
“Iya.”
“Kamu nggak bilang ‘nggak apa-apa’?”
Aku memikirkannya.
“Enggak,” kataku.
Dia mengangkat kepalanya.
“Enggak?”
“Lo bilang minggu lalu gue selalu ngelindungin lo dari hal yang harusnya lo tanggung.” Aku memandanginya. “Jadi enggak. Itu bukan nggak apa-apa. Itu sakit banget dan lo emang penyebabnya.”
Dia menatapku dengan mata yang bengkak dan mulut setengah terbuka.
Lalu dia bilang, dengan suara yang sangat kecil:
“Makasih.”
“Buat apa.”
“Buat nggak bilang nggak apa-apa.”
Langit sudah cukup terang untuk melihat warna waktu dia bicara lagi.
“Bum.”
“Hm.”
“Aku juga mau cerita sesuatu. Yang aku nggak pernah cerita ke siapa pun.”
“Cerita.”
Dia menarik lututnya lebih dekat.
“Tiga tahun aku pacaran sama Kak Bagas,” katanya. “Dan tiap kali kami jalan, aku selalu ngambil sisi kiri.”
Aku menoleh.
“Selalu,” katanya. “Otomatis. Aku nggak pernah mikirin. Aku nggak pernah tanya ke diri aku sendiri kenapa.”
Aku tidak bisa bicara.
“Dan Kak Bagas nggak pernah pindah,” katanya. “Karena dia nggak tau harus pindah. Nggak ada yang ngajarin dia.”
Dia menoleh ke arahku.
“Jadi selama tiga tahun aku jalan di sisi yang salah sama orang yang salah,” katanya, “karena badan aku udah kebiasa sama orang yang bener.”
Matahari belum naik. Langit cuma terang tanpa sumber.
“Bum, aku nggak tau apa itu artinya,” katanya. “Aku nggak tau apa artinya aku udah sayang sama kamu dari dulu tanpa sadar, atau artinya badan aku cuma inget kebiasaan.”
“Aurora—“
“Tapi aku pengen kamu tau bahwa ada bagian dari aku yang udah milih kamu enam tahun lalu,” katanya. “Dan bagian itu nggak pernah ngasih tau bagian yang lain.”
Kami duduk di dak beton itu sampai matahari naik.
Dia tertidur jam setengah enam, dengan kepala di bahuku, di lantai beton yang dingin.
Bahu kiri.
Aku duduk di situ selama satu jam empat puluh menit dan tidak membangunkannya.
Ada perbedaan, dan aku memikirkannya sepanjang satu jam empat puluh menit itu.
Enam tahun lalu aku tidak membangunkannya karena aku tidak berhak menyentuhnya. Karena membangunkan berarti menyudahi, dan menyudahi berarti kembali jadi orang yang tidak boleh mengharapkan apa-apa.
Sekarang aku tidak membangunkannya karena dia tidak tidur tiga puluh jam.
Alasannya berbeda dan hasilnya sama, dan aku tidak tahu apakah itu tanda aku sudah berubah atau tanda aku tidak berubah sama sekali.
Bedanya kali ini, waktu dia bangun dan panik soal jam, aku sudah punya jawaban.
“Kenapa kamu nggak bangunin aku?”
“Karena gue mau.”
Dia berhenti.
“Apa?”
“Lo nanya kenapa,” kataku. “Jawabannya karena gue mau.”
Dia menatapku dengan mata yang belum fokus dan rambut yang menempel di pipi.
Lalu dia mulai menangis lagi, dan bilang “aku baru bangun, Bum, ini nggak adil”, dan aku bilang iya, dan aku tetap tidak minta maaf.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat reading
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu