← Latihan Dulu

Chapter Forty Four

Selasa

POV: Bumi

Tidak ada apa-apa hari itu.

Aku ingin mencatat itu di awal, karena itu poin seluruh bab ini.

Hari Selasa. Bukan ulang tahun siapa pun. Bukan hari jadi. Tidak ada yang selesai, tidak ada yang dimulai. Cuacanya biasa. Kerjaan biasa.

Sebelas bulan setelah kami jadian.


Kami sudah punya kebiasaan.

Itu hal yang tidak pernah kuperhitungkan waktu masih menunggu. Aku memikirkan banyak hal selama enam tahun — aku memikirkan pengakuan, penolakan, pernikahan orang lain, versi-versi dramatis dari segala kemungkinan.

Aku tidak pernah sekali pun memikirkan hari Selasa.

Itu kelemahan cara berpikirku, dan aku baru menemukannya di umur dua puluh tiga. Aku selalu bagus menghitung kemungkinan besar. Aku tidak pernah menghitung yang kecil, karena yang kecil tidak punya konsekuensi, dan aku dilatih oleh hidupku sendiri untuk cuma memperhatikan yang punya konsekuensi.

Ternyata hidup hampir seluruhnya terbuat dari yang kecil.

Kebiasaan kami begini:

Aku pulang kerja jam tujuh. Dia pulang jam setengah delapan karena kantornya lebih jauh. Kami masak — atau lebih tepatnya, dia masak dan aku memotong, karena percobaanku memasak di bulan ketiga menghasilkan sesuatu yang bahkan Fandi menolak.

Kami makan sambil menonton apa pun.

Jam sembilan dia mengerjakan hal-hal kantornya di meja dan aku di lantai dengan laptop di paha.

Jam sebelas dia pulang ke kosannya, atau tidak.

Itu saja. Setiap hari kerja, sebelas bulan.


Hari Selasa itu dia sedang memotong bawang di dapur kecil kosanku dan mengeluh soal atasannya.

“—terus dia bilang ‘nanti kita bahas’ padahal itu udah tiga kali ‘nanti kita bahas’.”

“Berapa lama?”

“Enam minggu.”

“Itu bukan ‘nanti kita bahas’. Itu ‘enggak’.”

“AKU TAU.” Dia menunjuk dengan pisau. “Tapi kalau aku bilang gitu aku yang jadi jahat.”

“Lo nggak jahat, lo akurat.”

“Sama aja.”

“Beda tipis.”

Dia berhenti memotong.

“Bum.”

“Hm.”

“Itu percakapan yang sama persis kayak enam tahun lalu.”

Aku memikirkannya.

“Iya.”

“Kafe, sesi tiga.”

“Sesi empat.”

“SESI TIGA.”

“Sesi empat,” kataku. “Sesi tiga itu latihan basa-basi. Sesi empat panggilan nama.”

Dia menaruh pisaunya dan memandangiku dari dapur dengan tangan berbau bawang.

“Kamu masih hafal.”

“Iya.”

“Semuanya?”

“Iya.”

Dia kembali memotong dan tidak mengatakan apa-apa lagi soal itu.


Kami makan jam delapan.

Dia bercerita soal Icha yang akan menikah tahun depan dan sudah mengirim tujuh belas foto gedung. Aku bercerita soal Fandi yang pindah kerja ke kota lain dan menelepon setiap malam untuk mengeluh soal kosnya.

Aku mencuci piring. Dia mengelap meja.

Ada satu momen kecil yang harus kucatat karena aku ingat semuanya dan aku tidak bisa memilih.

Waktu aku mencuci, dia lewat di belakangku untuk mengambil lap, dan tangannya menyentuh punggungku — ringan, sekali, tanpa berhenti jalan.

Gerakan orang yang sudah lama.

Aku berdiri di depan wastafel dengan tangan basah dan mengingat halaman wisma dua tahun lalu, dan Kak Bagas yang meletakkan tangan di punggung bawah seseorang tanpa berpikir, dan aku yang berdiri di seberang ruangan dan memutuskan untuk mengambil risoles.

Aku menyelesaikan cuciannya dan tidak bilang apa-apa.

Jam sembilan dia duduk di meja dengan laptopnya dan aku duduk di lantai dengan punggung ke tempat tidur.

Dan sekitar jam sepuluh, aku mengangkat kepala.


Dia sedang mengetik.

Rambutnya diikat asal-asalan dengan pulpen — kebiasaan yang muncul entah kapan dan yang selalu berakhir dengan pulpen hilang. Kacamata bacanya melorot. Dia sedang mengerutkan kening ke arah tabel yang jelas-jelas berantakan.

Kaus yang dia pakai kausku.

Ada bekas bawang di lengannya.

Dan aku duduk di lantai kosanku dengan laptop di paha dan memandanginya selama mungkin dua puluh detik.

Dan yang kupikirkan bukan sesuatu yang besar.

Yang kupikirkan adalah: besok dia bakal ke sini lagi.

Itu saja. Kalimat itu, persis begitu, tanpa hiasan apa pun.

Besok dia akan ke sini lagi. Dan lusa. Dan hari Kamis dia akan lembur jadi mungkin tidak. Dan Jumat iya.

Aku duduk di sana dan mencoba mencari ujungnya — mencoba mencari hari di mana ini berhenti, tanggal di mana sesinya selesai, jam enam lewat yang mengembalikan semuanya ke posisi semula.

Tidak ada.

Enam tahun aku hidup dengan waktu selesai yang selalu sudah ditentukan sebelum acaranya mulai.

Dan sekarang aku duduk di lantai pada hari Selasa yang tidak ada apa-apanya, dan tidak ada jam selesainya, dan tidak akan ada.

“Aurora.”

“Hm?” Dia tidak mengangkat kepala.

“Aku cinta kamu.”


Suara ketikannya berhenti.

Aku tidak mengulanginya.

Aku juga tidak menjelaskan, tidak menambahkan apa-apa, tidak melakukan hal lain. Aku menunduk kembali ke layarku dan melanjutkan apa yang sedang kukerjakan, karena itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan.

Enam tahun aku menyimpan satu kata.

Bukan “sayang”. Sayang sudah keluar sebelas bulan lalu, dan sebelumnya sekali di taman ke orang yang mengiranya latihan.

Yang satu ini belum pernah.

Aku tidak pernah mengucapkannya ke siapa pun. Tidak ke Tara. Tidak ke ibuku. Tidak di kepalaku sendiri, kalau boleh jujur — aku selalu berhenti sebelum sampai ke kata itu, karena selama enam tahun kata itu terlalu besar untuk sesuatu yang tidak akan ke mana-mana.

Aku menyimpannya karena aku sudah membakar yang pertama.

Aku sudah membakar “aku sayang kamu” di taman dengan lampu mati sebelah, ke orang yang mencatatnya di aplikasi ponsel, dan aku tidak akan pernah bisa mengucapkan itu untuk pertama kali lagi.

Jadi aku menyimpan satu.

Satu kata, selama enam tahun, tanpa tahu apakah akan pernah ada tempat untuk mengucapkannya.

Dan tempatnya ternyata hari Selasa, jam sepuluh malam, di lantai kosan, sambil dia mengetik tabel yang berantakan dengan pulpen di rambut.


Aku tidak mengangkat kepala.

Aku mendengar kursi bergeser.

Aku mendengar langkah kaki, dua langkah, dan lalu dia duduk di lantai di sebelahku dengan punggung ke tempat tidur.

Dia tidak bicara.

Kami duduk seperti itu selama mungkin satu menit.

Lalu dia menyandarkan kepalanya ke bahuku — bahu kiri — dan mengambil tanganku dan menaruhnya di pangkuannya dan memegangnya dengan dua tangan.

“Bum.”

“Hm.”

“Aku nggak akan bales sekarang.”

Aku menoleh.

“Bukan karena aku nggak,” katanya cepat. “Bukan itu.”

“Terus?”

Dia menekan tanganku sedikit.

“Kamu nunggu enam tahun buat ngomong itu,” katanya. “Kalau aku bales dalam empat detik, itu jadi jawaban. Aku nggak mau itu jadi jawaban.”

“Aurora—“

“Aku mau itu jadi punya aku sendiri,” katanya. “Nanti. Di waktu yang aku pilih. Bukan karena kamu ngomong duluan.”

Aku duduk di lantai kosanku dan memandangi laptop yang layarnya sudah mati sendiri.

“Itu masuk akal,” kataku.

“Serius?”

“Iya.”

“Kamu nggak kecewa?”

Aku memikirkannya, dengan jujur, karena dia menanyakannya langsung.

“Enggak,” kataku.

Dan itu benar.

Aku sudah enam tahun jadi orang yang mengucapkan sesuatu dan tidak mendapat balasan. Aku tahu persis rasanya, dan rasanya buruk sekali.

Yang ini bukan itu.

Yang ini adalah seseorang yang tidak membalas karena dia sedang menyimpan sesuatu untuk hari yang belum datang.

Aku mengenali cara kerjanya. Aku yang mengajarkannya.


Kami duduk di lantai sampai jam sebelas lewat.

Dia tidak pulang ke kosannya malam itu.

Dan sebelum tidur, dari sisi kanan kasur, dalam gelap, dia bicara sekali lagi.

“Bum.”

“Hm.”

“Aku boleh minta satu hal?”

“Boleh.”

“Jangan diulang.”

“Oke.”

“Aku serius.” Dia bergeser lebih dekat. “Jangan diulang sampai aku bales. Aku mau yang tadi tetep satu-satunya.”

“Oke,” kataku.

Dan aku tidak mengulanginya.

Bukan malam itu. Bukan minggu itu. Bukan bulan itu.

Aku tidak mengucapkannya lagi selama dua ratus tiga puluh satu hari, dan aku menghitungnya, karena tentu saja aku menghitungnya.

Dan setiap kali angkanya bertambah satu, rasanya bukan seperti menunggu.

Rasanya seperti menabung.