← Latihan Dulu

Chapter Twenty Three

Tameng

POV: Bumi

Bulan ketiga, dia mulai menyentuh dengan sengaja.

Aku ingin jelas soal ini karena kedengarannya lebih dramatis daripada kenyataannya. Tidak ada yang berlebihan. Semuanya berada di batas yang bisa dijelaskan sebagai kebetulan.

Tepukan di lengan waktu tertawa. Tangan di bahu waktu lewat di belakang kursiku. Jari yang mengambil serpihan entah apa dari kerah kemejaku dan bilang “ada apaan tuh” tanpa aku sempat menoleh.

Semuanya bisa dijelaskan.

Semuanya bertambah.

Aku mulai menghitungnya di minggu kedua bulan ketiga, karena aku ingin memastikan aku tidak mengarang.

Aku tidak mengarang.

Minggu pertama: empat kali.
Minggu kedua: sembilan.
Minggu ketiga: aku berhenti menghitung, bukan karena angkanya berhenti naik, tapi karena aku sadar apa yang sedang kulakukan.

Aku sedang menyusun bukti.

Untuk apa, aku tidak tahu. Tidak ada pengadilan. Tidak ada yang menuntut. Cuma satu orang di kosan yang mengumpulkan data tentang tepukan di lengan dan menyimpannya di kepalanya seperti orang yang menabung untuk sesuatu yang tidak akan pernah dia beli.

Aku berhenti menghitung dan mulai melakukan hal yang lebih buruk: aku mulai memperhatikan pola.

Dia menyentuh waktu tertawa. Dia menyentuh waktu aku baru saja menjelaskan sesuatu. Dia tidak pernah menyentuh waktu ada orang lain melihat.

Yang terakhir itu yang paling banyak artinya, dan aku menolak memikirkannya.


Hari ke lima puluh sembilan, ruang rapat kecil, jam empat sore.

“Bum.”

“Hm.”

“Kamu kalau lagi mikir suka ngetuk meja pakai jempol ya?”

Aku menghentikan tanganku.

“Enggak.”

“Barusan iya.”

“Itu refleks.”

“Kamu dulu nggak gitu.”

Aku menutup laptopku setengah.

“Aurora, apa yang lo mau tanya.”

“Aku nggak mau tanya apa-apa.”

“Lo udah tiga hari kayak gini.”

“Kayak gimana?”

“Kayak lagi ngumpulin data.”

Dia tertawa. “Kamu tuh ya.”

“Apa.”

“Nggak. Lucu aja.” Dia menopang dagu. “Kamu satu-satunya orang yang kalau dikepoin, dia bilangnya ‘lo lagi ngumpulin data’.”

“Karena itu yang lo lakuin.”

“Iya sih,” katanya.

Dia mengakuinya. Begitu saja, tanpa membantah, dan aku duduk di sana dengan seluruh argumen yang sudah kususun jadi tidak berguna.

Ini teknik yang tidak pernah dia punya waktu SMA. Dulu dia akan panik dan membantah dan bilang “duh, bukan gitu”. Sekarang dia mengakui, dan dengan mengakui dia menghapus seluruh hal yang bisa kuserang.

Aku tidak tahu siapa yang mengajarinya itu, dan aku menyadari, dengan tidak nyaman, bahwa jawabannya mungkin tidak ada. Mungkin dia cuma tumbuh.


Aku memasang tameng dengan cara yang kuanggap paling masuk akal: aku menjadikan semuanya soal pekerjaan.

Setiap kali dia bertanya sesuatu yang pribadi, aku menjawabnya sebagai pertanyaan teknis.

“Kamu tinggal di mana sekarang?”

“Dua puluh menit dari sini kalau nggak macet.”

“Bum, aku nanya di mana, bukan berapa menit.”

“Itu informasi yang sama dengan presisi berbeda.”

Setiap kali dia menyentuh, aku bergerak — mengambil sesuatu, membuka file, berdiri ke pantry. Tidak menghindar dengan jelas. Cuma selalu punya alasan.

Selama sekitar dua minggu, itu berhasil.

Lalu dia mulai membongkarnya.


Hari ke tujuh puluh satu.

“Bum, kenapa kamu selalu berdiri kalau aku duduk di sebelah kamu?”

“Gue nggak selalu.”

“Empat kali minggu ini.”

Aku berhenti.

“Lo ngitung.”

“Kamu yang ngajarin aku ngitung,” katanya.

Dan itu — aku ingin mencatat ini dengan tepat — itu adalah momen pertama aku menyadari bahwa aku sedang kalah.

Bukan kalah perasaan. Kalah argumen.

Selama sebelas bulan di SMA aku memberinya alat. Aku mengajarinya menghitung, mengukur, membaca jeda, mengevaluasi, mengejar bukti. Aku mengajarinya semua itu supaya dia bisa mendekati orang lain.

Sekarang alat itu diarahkan ke aku.

“Gue berdiri karena gue haus,” kataku.

“Empat kali?”

“Gue sering haus.”

“Bum.”

“Aurora.”

“Kamu tuh kalau bohong, kalimatnya jadi pendek.”

Aku memandanginya.

“Itu bukan indikator yang valid.”

“Itu indikator yang valid banget dan kamu tau.” Dia menopang dagu lagi. “Kamu yang bilang, dulu. ‘Kalau orang jawabnya makin pendek, artinya dia lagi nutup pintu.’”

“Gue nggak pernah bilang gitu.”

“Kamu bilang. Sesi dua puluh satu.”

Kafe di kepalaku. Kertas rubrik. Angka merah kecil di tengah meja.

“Lo inget nomor sesinya.”

Dia membuka mulut.

Lalu menutupnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak kami bertemu lagi, dia yang kehilangan kalimat.

“Aku... “ Dia menarik laptopnya. “Nggak. Aku cuma inget.”

“Oke.”

“Jangan diliatin gitu.”

“Gue nggak ngeliatin.”

“Kamu ngeliatin.”

Aku kembali ke layarku.

Dan selama sekitar sepuluh menit tidak ada yang bicara, dan aku bisa mendengar dia bernapas dengan cara yang tidak teratur, dan aku tidak menoleh sekali pun.


Fandi bertanya malamnya, lewat telepon, sambil makan.

“Gimana?”

“Dia inget nomor sesinya.”

Fandi berhenti mengunyah.

“Nomor berapa?”

“Dua puluh satu.”

“Bum, itu sesi tahun berapa?”

“Enam tahun lalu.”

“ENAM TAHUN—“

“Fan.”

“Gue nggak bisa tenang.” Aku mendengar bunyi kursi. “Orang nggak inget nomor sesi. Orang bahkan nggak inget ada nomornya.”

“Dia yang bikin nomornya.”

“Iya, dan dia nggak pernah dengerin rekamannya. Kata Icha.” Fandi berhenti. “Berarti dia inget itu dari kepalanya sendiri. Enam tahun. Tanpa diputer ulang.”

Aku duduk di lantai kosan dengan punggung ke tembok.

“Terus?”

“Terus apa maksud lo ‘terus’?”

“Fan, gue tanya beneran.” Aku memandang langit-langit. “Terus gue harus ngapain? Dia masih pacaran. Tiga tahun. Sama orang yang gue kenal dan gue hormatin.”

Hening.

“Gue nggak tau,” kata Fandi akhirnya.

“Nah.”

“Tapi gue tau satu hal.”

“Apa.”

“Lo nggak lagi mikirin apa yang harus lo lakuin.” Suaranya lebih pelan. “Lo lagi nyari alasan buat nggak ngelakuin apa-apa. Itu beda, dan lo jago banget di yang kedua.”


Hari ke tujuh puluh empat, dia berdiri di sebelah mejaku sore-sore waktu ruangan sudah setengah kosong.

“Bum.”

“Hm.”

“Aku boleh nanya satu hal? Beneran nanya. Bukan ngumpulin data.”

Aku menutup laptopku.

“Nanya.”

“Kenapa kamu nggak pernah nanya kabar aku?”

Aku diam.

“Kita udah tiga bulan sekantor,” katanya. “Kamu tau deadline semua orang. Kamu tau anak Pak Yus susah makan sayur. Kamu tau Dika alergi udang.”

“Iya.”

“Kamu nggak pernah nanya kabar aku sekali pun.”

Ruangan itu berdengung karena AC.

Aku memikirkan sekitar enam jawaban.

Yang pertama adalah bahwa aku tahu kabarnya. Aku tahu dia tidur lima jam, aku tahu dia berhenti membawa dua kotak makan sejak minggu lalu, aku tahu dia mengecek ponselnya lebih sering dari sebulan lalu dan menaruhnya kembali dengan cara yang berbeda.

Yang kedua adalah bahwa bertanya kabar seseorang adalah tindakan yang punya arah, dan aku sudah tiga tahun tidak punya arah, dan aku ingin tetap begitu.

Yang ketiga sampai keenam lebih buruk.

“Karena lo nggak pernah nanya kabar gue,” kataku.

Dia menarik napas.

“Itu nggak adil.”

“Gue tau.”

“Bum, itu bener-bener nggak adil.”

“Gue tau.” Aku memasukkan laptop ke tas. “Makanya gue nggak nanya.”

Aku berdiri.

“Bum—“

“Besok jam delapan,” kataku. “Modul integrasi bagian tujuh.”

Aku keluar dari ruangan itu dan menekan tombol lift dan berdiri di depan pintu lift yang tertutup, dan aku melihat pantulanku sendiri di pintu logam itu, dan yang kulihat adalah orang yang baru saja mengatakan sesuatu yang kejam untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Aku merasa buruk sepanjang perjalanan pulang.

Dan di suatu titik, di antara halte dan gang kosan, aku menyadari sesuatu yang lain.

Aku juga merasa lega.

Bukan lega karena menang. Lega karena, untuk pertama kalinya sejak umur lima belas, aku mengambil sesuatu untuk diriku sendiri.

Satu kalimat. Kecil, tidak adil, dan sepenuhnya milikku.

Aku sampai kosan dan duduk di lantai dan menyalakan lampu, dan aku memikirkan wajahnya waktu aku mengucapkannya, dan aku merasa buruk lagi.

Lalu lega lagi.

Dua hal itu berganti-ganti sampai jam satu pagi, seperti lampu yang rusak.

Fandi pernah bilang aku tidak pernah marah.

Aku berbaring menghadap langit-langit dan berpikir, dengan sangat tenang, bahwa mungkin dia benar, dan bahwa mungkin ini rasanya, dan bahwa ternyata rasanya tidak seperti yang kubayangkan sama sekali.

Rasanya seperti sesuatu yang sudah terlambat delapan tahun.