← Latihan Dulu

Chapter Twenty Nine

Bukti

POV: Bumi

Aku tahu sepanjang hari.

Bukan tahu isinya. Tahu bahwa ada isinya.

Dia masuk jam delapan dengan mata bengkak dan tangan yang gemetar dan bilang nanti sore mau ngomong, dan setelah itu dia bekerja dengan normal selama sembilan jam, dan aku juga bekerja dengan normal selama sembilan jam, dan kami menyelesaikan dua bagian modul dengan hasil yang bagus.

Manusia bisa melakukan itu. Aku baru tahu hari itu.

Jam lima lewat, ruangan mulai kosong.

Jam setengah enam dia menutup laptopnya.

“Bum.”

“Iya.”

“Jalan yuk.”


Kami jalan tanpa arah selama sekitar sepuluh menit.

Bukan ke halte. Bukan ke mana pun. Dia jalan dan aku mengikuti, dan kami melewati dua blok dan satu perempatan, dan dia tidak bicara sama sekali.

Aku pindah ke sisi kanan.

Dia melihatnya.

Aku tahu dia melihatnya karena dia berhenti jalan selama setengah detik, lalu melanjutkan.

Kami sampai di halte kecil yang atapnya bocor di satu sudut, di jalan yang tidak ramai, dengan lampu jalan yang baru menyala setengah.

Dia berhenti. Berbalik. Menghadapku.

“Aku mau ngomong sesuatu,” katanya, “dan aku nggak latihan.”

Ada sesuatu di dadaku yang menekuk.

“Oke.”

“Aku beneran nggak latihan, Bum. Nggak sekali pun.” Dia menggenggam tali tasnya dengan dua tangan. “Semalem aku duduk di lantai delapan jam dan aku nggak nyusun satu kalimat pun. Aku pengen kamu tau itu.”

“Gue tau.”

“Kok tau?”

“Karena kalau lo latihan, lo bakal mulai dari kalimat pertama yang bagus.” Aku memasukkan tangan ke saku. “Lo barusan mulai dari penjelasan.”

Dia tertawa. Pendek, dan basah, dan berhenti di tempat yang salah.

“Kamu nyebelin banget.”

“Gue tau.”


Lalu dia mengucapkannya.

Aku tidak akan menuliskannya lengkap. Bukan karena aku lupa — aku ingat setiap kata, aku akan selalu ingat setiap kata — tapi karena kalau kutuliskan lengkap, aku harus juga menuliskan bagaimana dia mengucapkannya, dan aku tidak sanggup.

Yang penting isinya begini.

Dia menemukan kertas rubrik itu. Dia membaca margin kirinya. Semuanya.

Dia melihat spreadsheet.

Dia mendengarkan empat puluh tiga rekaman dalam satu malam.

Dia tahu soal payung. Dia tahu soal sisi jalan. Dia tahu soal bangku besi yang dilap pakai tisu. Dia tahu soal roti cokelat — dan waktu dia menyebut roti cokelat, suaranya pecah, dan dia harus berhenti sepuluh detik sebelum bisa melanjutkan.

Dia minta maaf. Berkali-kali. Aku menyuruhnya berhenti dan dia tidak berhenti.

Dan di akhirnya, dengan mata yang sudah tidak bisa lagi dibuka lebar, dia bilang:

“Aku suka kamu, Bum.”

Tanpa naskah. Tanpa nama orang lain. Tanpa jeda.

“Aku suka kamu dan aku nggak tau sejak kapan dan itu yang paling bikin aku takut, karena artinya bisa jadi udah lama banget dan aku nggak sadar.”

Hujan mulai turun.

Bukan deras. Gerimis, di luar atap halte, membuat suara di seng yang bocor di sudut.

Aku berdiri di sana dan mendengarkan kalimat yang selama enam tahun kubayangkan dalam berbagai versi, dan tidak satu pun versi yang kubayangkan menyerupai ini.

“Aurora.”

“Iya?”

“Gue nggak bisa.”


Dia tidak langsung bereaksi.

Itu bagian yang paling sulit. Kalau dia langsung menangis atau langsung marah, aku akan punya sesuatu untuk direspons. Yang terjadi adalah dia berdiri di sana dengan wajah orang yang mendengar kalimat dalam bahasa yang tidak dia kuasai.

“Apa?”

“Gue nggak bisa.”

“Bum—“

“Bukan karena gue nggak suka sama lo.” Aku mendengar suaraku sendiri dan suaraku rata dan aku benci itu. “Gue nggak akan bohong soal itu hari ini. Gue udah bohong cukup lama.”

“Terus kenapa?”

Aku memandangi hujan.

“Lo inget apa yang lo bilang ke gue enam tahun lalu?”

“Yang mana?”

“Aturan lo.” Aku menatapnya. “‘Anggap aja kamu dia. Jangan jadi kamu.’”

Dia menutup mulutnya dengan tangan.

“Bum—“

“Gue nurutin itu, Aurora.” Aku tidak menaikkan suara. “Sebelas bulan. Terus tiga tahun. Terus enam bulan terakhir ini juga, dengan cara yang beda. Gue jadi orang lain buat lo selama enam tahun dan gue nggak pernah sekali pun protes.”

“Aku tau. Aku tau dan aku minta maaf—“

“Gue nggak minta maaf.” Aku menarik napas. “Gue minta lo dengerin satu hal, terus habis itu lo boleh marah.”

Dia diam.


“Semalem lo dengerin empat puluh tiga rekaman,” kataku.

“Iya.”

“Sebelum itu lo baca margin di kertas.”

“Iya.”

“Sebelum itu lo liat spreadsheet.”

“Iya.”

Aku memandangi wajahnya.

“Aurora, lo nggak jatuh cinta sama gue.”

Dia mengangkat kepalanya.

“Lo jatuh cinta sama bukti.”

Hujan bertambah sedikit. Suara di seng jadi lebih rapat.

“Itu nggak bener,” katanya.

“Mungkin nggak bener. Gue nggak tau.” Aku mengangkat bahu, dan gerakan itu terasa palsu bahkan waktu aku melakukannya. “Itu masalahnya. Lo nggak tau. Gue nggak tau. Nggak ada yang tau.”

“Bum, aku—“

“Lo putus sebulan lalu.”

Dia berhenti.

“Lo putus sebulan lalu, terus dua minggu setelahnya lo nemu kotak sepatu, terus semalem lo nggak tidur.” Aku menyebutkan urutannya dengan tenang, seperti membaca log. “Dan sekarang lo berdiri di sini jam setengah tujuh malem ngomong ke gue. Coba lo liat urutan itu dari luar.”

“Itu bukan kayak gitu.”

“Mungkin bukan.”

“Bum, aku udah kayak gini dari sebelum aku nemu apa pun.” Suaranya naik. “Aku nunggu kamu di lobi. Aku dateng jam setengah delapan. Aku peluk kamu dari belakang dan itu sebelum aku denger satu pun rekaman—“

“Iya,” kataku. “Gue tau.”

“Terus?”

“Terus gue tetep nggak bisa.”


Dia menangis di titik itu.

Dan aku berdiri di sana dengan tangan di saku dan tidak melakukan apa-apa, dan itu adalah hal tersulit yang pernah kulakukan seumur hidupku, karena selama enam tahun tubuhku sudah dilatih untuk melakukan satu hal spesifik waktu dia menangis.

“Kamu udah nunggu enam tahun,” katanya. “Enam tahun, Bum. Terus sekarang waktu aku ada di sini kamu bilang enggak?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena gue udah nunggu enam tahun.”

Dia menatapku.

“Kalau gue bilang iya sekarang,” kataku, “gue nggak akan pernah tau. Seumur hidup. Gue bakal bangun tiap pagi terus mikir: dia milih gue, atau dia baca margin gue.”

“Itu sama aja!”

“Enggak.”

“Itu SAMA AJA, Bum!”

“Enggak, Aurora.” Dan di situ suaraku naik, untuk kedua kalinya dalam enam tahun. “Itu beda banget. Dan lo tau bedanya, karena tiga tahun lo pacaran sama orang yang baik banget dan lo nggak pernah gugup sekali pun.”

Hujan.

Suara seng.

Wajahnya berubah dan aku tahu aku sudah pergi terlalu jauh dan aku tidak bisa menariknya kembali.

“Sori,” kataku.

“Enggak.” Dia menghapus mukanya dengan lengan. “Enggak, itu bener.”


Dia maju.

Dua langkah, cepat, dengan tangan yang naik ke arah kerah jaketku, dan aku tahu apa yang akan terjadi karena tidak ada hal lain yang bisa terjadi.

Wajahnya sudah dekat.

Cukup dekat untuk melihat bahwa bulu matanya basah dan bahwa dia tidak menutup matanya.

Aku memundurkan kepalaku.

Setengah langkah. Cukup.

Dia berhenti.

Kami berdiri seperti itu — tangannya masih di kerahku, wajah masih terlalu dekat — selama mungkin tiga detik.

“Enam tahun lalu lo minta gue latihan cium,” kataku pelan. “Dan gue nolak.”

“Aku tau.”

“Gue nolak karena gue nggak mau ngelakuin itu sebagai orang lain.”

Dia menutup matanya.

“Dan sekarang gue nolak,” kataku, “karena gue nggak mau ngelakuin itu sama orang yang belum yakin.”

Tangannya turun dari kerahku.


Hujan menjadi deras sekitar semenit kemudian.

Aku membuka tasku dan mengeluarkan payung.

Satu.

Aku menyerahkannya ke tangannya.

“Bum—“

“Ambil.”

“Terus kamu?”

“Halte gue di sana.”

“Itu tiga ratus meter.”

“Iya.”

Dia memegang payung itu dengan dua tangan dan tidak membukanya.

“Bum.”

“Hm.”

“Ini selesai ya.”

Aku memandanginya, dan hujan, dan lampu jalan yang setengah menyala.

“Enggak,” kataku.

Dia mengangkat kepalanya.

“Gue nggak bilang selamanya,” kataku. “Gue bilang nggak sekarang.”

Lalu aku berbalik dan jalan ke halte, tiga ratus meter, di bawah hujan, dan aku tidak menoleh sekali pun karena aku tahu persis apa yang akan terjadi kalau aku menoleh.