← Latihan Dulu

Chapter Thirteen

Kalau Dia Bilang Iya

POV: Bumi

Pesannya masuk jam delapan malam hari Minggu.

Aurora: bum
Aurora: aku tau ini kurang ajar banget
Aurora: tapi aku butuh satu sesi lagi

Aku memandangi layar itu selama mungkin satu menit.

Aku sudah menghapus blok hijau muda dari spreadsheet siang tadi. Butuh empat puluh menit, karena setiap kali kuhapus, kolomnya kelihatan salah, dan aku mengisinya dengan hal-hal lain — belajar, olahraga, satu blok yang isinya cuma “kosong” — dan menghapusnya lagi karena itu bohong.

Akhirnya aku biarkan kosong betulan.

aku: Jam berapa.

Fandi menelepon lima menit kemudian, karena Fandi punya bakat menelepon di waktu yang paling tidak berguna.

“Lo lagi apa?”

“Mau keluar.”

“Ke mana?”

“Taman.”

Hening.

“Bum.”

“Fan.”

“Besok dia nembak.”

“Iya.”

“Terus malem ini lo mau ke taman.”

“Iya.”

“Buat apa?”

“Buat sesi terakhir.”

Aku bisa mendengar Fandi menarik napas, menahannya, lalu melepaskannya lewat hidung.

“Gue nggak bakal nyuruh lo nggak pergi,” katanya. “Gue udah kapok. Tiap kali gue nyuruh, lo tetep pergi, terus gue yang kesel sendiri.”

“Terus lo nelepon buat apa?”

“Buat bilang gue di rumah semalaman.” Dia berhenti. “Kalau lo butuh nelepon jam berapa pun.”

Aku memakai sandalku dengan satu tangan.

“Gue nggak akan butuh.”

“Gue tau. Gue tetep di rumah.”


Taman belakang ruko, jam sembilan malam. Tiang listrik yang lampunya mati sebelah masih mati sebelah.

Dia sudah di sana waktu aku sampai, duduk di bangku besi dengan jaket dan celana rumahan, rambut diikat asal, memegang ponsel dengan dua tangan seperti orang menunggu hasil ujian.

“Kamu dateng,” katanya.

“Lo yang manggil.”

“Iya, tapi kan udah malem. Aku kira kamu—“

“Aurora.”

“Apa?”

“Gue selalu dateng.”

Dia tersenyum ke arah rumput.

Aku duduk di ujung bangku yang lain dan menaruh tas di antara kami, dan aku ingat dengan jelas bahwa aku menaruh tas itu di antara kami dengan sengaja.

“Besok jam berapa?” tanyaku.

“Habis rapat OSIS. Setengah lima.”

“Di mana?”

“Di depan ruang OSIS. Aku udah survei tempatnya. Sepi jam segitu.”

“Lo survei tempat?”

“Bum, aku survei semuanya.” Dia mengangkat ponselnya. “Aku bahkan udah ngecek ramalan cuaca.”

“Ramalan di kota ini—“

“—bohong terus. Iya. Makanya aku bawa payung.” Dia menunjuk ke tas kecil di sebelahnya. “Dua. Kayak kamu.”

Ada sesuatu yang menekan di dadaku, dan aku memutuskan untuk melihat ke tiang listrik.

“Bagus,” kataku.


Dia melakukannya sekali, dan sempurna.

Tentu saja sempurna. Aku yang melatihnya. Empat puluh tiga sesi, sebelas bulan, dari orang yang rontok di kalimat ketiga.

“Kak Bagas, aku suka kamu. Udah lama banget. Aku nggak minta apa-apa dan aku nggak akan aneh kalau kamu nggak ngerasain hal yang sama. Aku cuma nggak mau lulus tanpa pernah ngomong.”

Aku mengangguk.

“Sepuluh.”

“Bum.”

“Hm.”

“Ada satu hal yang belum pernah kita latih.”

“Apa.”

Dia menaruh ponselnya di pangkuan dan menatap tanganku sendiri, bukan wajahku.

“Kalau dia bilang iya.”

Aku diam.

“Aku udah latihan ngomong,” katanya. “Aku udah latihan ditolak. Tapi aku belum pernah mikirin kalau dia bilang iya. Aku bahkan nggak bisa ngebayanginnya. Kepalaku langsung kosong.”

“Itu wajar.”

“Aku takut aku bakal berdiri di situ terus diem kayak orang bego.”

“Lo nggak akan diem.”

“Kamu nggak tau.”

“Gue tau.” Aku memindahkan tas dari antara kami ke bawah bangku, dan aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu. “Lo nggak pernah diem. Itu bukan kelemahan lo.”

“Terus kelemahan aku apa?”

“Lo nggak percaya kalau ada orang yang bisa suka sama lo.”

Dia mengangkat kepala.

Aku sudah terlanjur mengatakannya, jadi aku melanjutkan.

“Itu masalah lo dari dulu. Bukan cara ngomong, bukan cara berdiri, bukan naskah.” Aku menatap rumput. “Lo bikin dua belas nomor daftar topik karena lo nggak percaya orang mau ngobrol sama lo tanpa disiapin. Lo latihan empat puluh tiga kali karena lo nggak percaya lo cukup kalau nggak latihan.”

Dia tidak bicara.

“Lo cukup,” kataku. “Lo dari dulu udah cukup.”

Angin lewat. Ada anjing menggonggong dua rumah dari situ.

“Bum, kamu kenapa ngomong gitu.”

“Karena besok lo butuh denger itu.”

“Oh.” Dia menggosok lengannya. “Iya. Makasih.”

Dan itu saja. Dia menerima kalimat itu seperti dia menerima semua kalimatku selama sebelas bulan: sebagai masukan teknis dari partner latihan yang kompeten.

Aku sudah tahu itu akan terjadi. Aku bahkan sempat menghitung kemungkinannya. Dan tetap saja aku duduk di sana dan merasakan sesuatu di dadaku turun satu tingkat, karena ternyata mengetahui sesuatu dan mengalaminya itu dua hal yang berbeda, dan aku baru belajar itu di usia tujuh belas.

“Oke,” katanya. “Sekarang latihannya. Kamu jadi dia, terus kamu bilang iya.”

“Iya doang?”

“Jangan iya doang. Yang beneran.” Dia menegakkan punggung. “Kayak, kalau dia suka aku juga, dia bakal ngomong apa?”

Aku menatap tiang listrik yang lampunya mati sebelah.

“Oke,” kataku.


Dia mengucapkan naskahnya lagi.

Aku mendengarkan sampai habis, sampai kalimat terakhir, sampai “aku cuma nggak mau lulus tanpa pernah ngomong.”

Lalu hening.

Dan aku duduk di bangku besi itu dengan tangan di pangkuan, dan aku memikirkan empat puluh tiga sesi, dan payung kedua yang kubawa empat ratus kali, dan kolom hijau muda yang baru kuhapus siang tadi, dan tujuh belas kali “aku suka kamu” yang bukan untukku, dan bahu kiri yang pegal selama tiga hari, dan buku catatan berisi empat kata yang dia tulis sendiri sebelas bulan lalu.

Anggap aja kamu dia. Jangan jadi kamu.

Aku melanggar satu-satunya aturan yang pernah dia buat.

“Aku sayang kamu,” kataku.

Aku tidak memakai suaranya. Aku tidak memakai gaya bicaranya, tidak memakai jempol yang mengetuk meja, tidak memakai “sip” alih-alih “oke”. Aku tidak memakai apa pun yang ada di sembilan halaman itu.

Aku memakai suaraku sendiri, dan aku menatap matanya, dan aku mengucapkannya sepelan yang aku bisa supaya suaraku tidak pecah.

“Aku sayang kamu. Udah lama. Lebih lama dari yang bakal aku bilang. Dan aku nggak pernah ngomong karena aku takut kalau aku ngomong, aku nggak bisa duduk di sebelah kamu lagi.”

Dia tidak bergerak.

Angin lewat lagi. Anjing itu berhenti menggonggong.

Aku menghitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga. Empat.

Di detik kelima, dia menarik napas.

“Ya ampun,” katanya.

Aku menunggu.

“Bum, itu—“ Dia menutup mulut dengan tangan, lalu menurunkannya. “Itu bagus banget.”

Sesuatu di dalam dadaku berhenti bergerak.

“Bagus?”

“Aku nggak nyangka kamu bisa ngomong kayak gitu.” Dia mengambil ponselnya, membuka aplikasi catatan, dan mulai mengetik dengan dua jempol. “Bentar, aku catet. ‘Udah lama, lebih lama dari yang bakal aku bilang’. Itu bagus banget. Kalau Kak Bagas ngomong gitu aku bakal ambruk beneran.”

Aku duduk di bangku besi itu dan memandangi dia mengetik.

Aku memandangi ubun-ubunnya, dan poni yang jatuh karena ikatan rambutnya kendur, dan dua jempol yang bergerak cepat di layar yang menyala, dan aku menyimpan kalimatku sendiri masuk ke dalam aplikasi catatan sebagai bahan referensi.

“Bagian yang ‘aku takut nggak bisa duduk di sebelah kamu lagi’ itu juga bagus,” katanya, masih mengetik. “Itu manis banget. Kamu dapet dari mana sih kalimat kayak gitu?”

Aku membuka mulut.

“Buku,” kataku.

“Buku apa?”

“Buku.”

Dia tertawa dan menyelesaikan ketikannya dan mengunci ponselnya, lalu menoleh ke arahku dengan mata yang cerah dan lelah dan penuh besok.

“Kamu tuh,” katanya, “kayaknya bakal jadi pacar yang bagus banget buat seseorang nanti.”

Aku memandangi tiang listrik.

“Ini latihan doang, kan?” tanyaku.

“Iya lah.” Dia berdiri dan menepuk celananya. “Emang kenapa?”

“Nggak,” kataku. “Nggak kenapa-kenapa.”


Aku mengantarnya sampai ujung gang, karena dia cuma tinggal tiga blok dari situ dan dia bilang tidak perlu diantar sampai depan.

Di ujung gang dia berbalik.

“Bum.”

“Hm.”

“Makasih ya. Buat semuanya. Sebelas bulan.” Dia mengatupkan dua tangan di depan dada. “Aku sayang banget sama kamu. Serius.”

“Gue tau.”

“Doain aku besok.”

“Iya.”

Dia melambai dan berbalik dan berjalan masuk ke gang, dan aku berdiri di sana sampai suara sandalnya hilang.

Lalu aku pulang lewat jalan yang salah, dua kali lebih jauh, karena aku belum ingin sampai di rumah.

Aku tidak menelepon Fandi.

Aku sampai rumah jam sebelas lewat, dan ibuku sudah tidur, dan aku duduk di tepi kasur dengan sepatu masih terpakai selama entah berapa lama.

Aku sudah mengucapkannya.

Itu yang terus kuputar di kepalaku. Aku sudah mengucapkannya — lengkap, jujur, dengan suaraku sendiri, sambil menatap matanya. Semua yang selama dua tahun kusimpan, keluar dalam empat kalimat, di taman yang bukan taman, dengan lampu yang mati sebelah.

Dan tidak terjadi apa-apa.

Dunia tidak berubah. Dia tidak marah, tidak kaget, tidak menjauh. Dia mencatatnya di ponsel. Dia bilang itu bagus.

Aku sempat berpikir bahwa mungkin ini yang terbaik. Bahwa aku sudah mengeluarkannya tanpa merusak apa pun, bahwa aku beruntung, bahwa besok kami masih bisa duduk di kursi yang sama di perpustakaan.

Lalu aku menyadari sesuatu yang membuatku berbaring dengan sepatu masih terpakai.

Kalimat itu sudah tidak ada lagi.

Aku cuma punya satu. Satu kalimat, satu kali kesempatan mengucapkannya untuk pertama kali, dan aku sudah memakainya. Aku sudah membakarnya. Besok, lusa, sepuluh tahun lagi — kalau suatu hari dia menoleh dan aku ingin mengatakannya lagi, itu bukan pertama kali lagi.

Yang pertama sudah terjadi. Dan yang pertama tersimpan di aplikasi catatan seseorang, di bawah judul “referensi”, sebagai contoh kalimat bagus dari orang lain.