Chapter Forty Five
Dua Kursi
POV: Aurora
Kami kembali ke SMA di bulan ketujuh, bukan karena sentimental, tapi karena adik sepupuku masuk ke sana dan ibuku menyuruhku mengantar hari pertama.
“Kamu ikut?”
“Boleh.”
“Bum, kamu nggak harus.”
“Gue mau,” katanya.
Dan aku masih belum terbiasa dengan kalimat itu, dan aku rasa aku tidak akan pernah terbiasa, dan aku tidak keberatan.
Sekolahnya berubah.
Catnya berbeda. Ada gedung baru di belakang lapangan. Kantin dipindah ke tempat yang lebih besar dan lebih terang dan tidak ada kucingnya.
“Kucingnya ke mana?” tanyaku ke satpam.
“Wah, sudah lama, Mbak. Dulu diambil guru.”
Kami jalan ke gedung utama setelah adik sepupuku masuk kelas.
“Bum, perpusnya masih ada nggak ya.”
“Ada.”
“Kok tau?”
“Gue nggak tau.” Dia mengangkat bahu. “Gue nebak.”
Perpustakaannya direnovasi.
Lantainya diganti keramik. AC-nya baru dan bunyinya tidak seperti mesin cuci. Ada dua komputer di depan yang sudah menggantikan buku katalog.
Kami jalan ke belakang.
Rak referensi masih ada.
Baunya masih sama — kertas yang menyerah, seperti dulu.
“Delapan susun,” kata Bumi.
Aku menoleh.
“Apa?”
“Raknya.” Dia menunjuk. “Delapan susun. Yang paling atas kamus.”
“Kamu inget?”
“Gue ngitung,” katanya. “Sekali.”
“Kapan?”
Dia memandangi rak itu.
“Waktu lo bilang lo suka Kak Bagas,” katanya.
Aku berdiri di perpustakaan sekolah tempat aku pernah berumur enam belas tahun dan mencoba memikirkan sesuatu untuk dikatakan.
“Bum.”
“Hm.”
“Kamu ngitungin rak buku sambil aku ngomong.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena gue harus ngitungin sesuatu,” katanya, “biar gue nggak ngitungin yang lain.”
Mejanya masih ada.
Meja ujung, dekat rak referensi, dengan dua kursi.
Aku berdiri di situ dan tidak bergerak.
“Aurora.”
“Bentar.”
Aku memandangi dua kursi itu. Kursinya sudah diganti — yang sekarang plastik biru, bukan kayu. Tapi posisinya sama. Dua, berhadapan dengan rak, kiri dan kanan.
“Bum.”
“Hm.”
“Kamu duduk di kanan.”
Dia menoleh.
“Apa?”
“Duduk di kanan,” kataku. “Sekali aja.”
Dia memandangi kursi itu.
Lalu dia berjalan ke sana dan duduk di kursi kanan, dan aku duduk di kursi kiri, dan kami berdua diam selama sekitar lima detik.
“Gimana?” tanyaku.
“Aneh.”
“Aneh gimana?”
“Salah.” Dia menggeser posisi duduknya. “Aurora, ini beneran salah. Pemandangannya beda.”
“Pemandangan apa? Kamu ngeliatin rak.”
“Gue nggak ngeliatin rak,” katanya.
Dan aku menoleh, dan dia sedang menatapku, dan aku menyadari sesuatu yang membuatku harus memandangi meja.
Dari kursi kiri, kalau kamu memutar kepala ke kanan, kamu melihat orang di sebelahmu.
Dari kursi kanan, kamu melihat rak.
Dua tahun. Setiap hari, jam istirahat kedua.
Dia memilih kursi yang memungkinkannya melihat, dan aku memilih kursi yang tidak.
“Bum.”
“Gue mau pindah balik.”
“Iya,” kataku. “Pindah.”
Kami keluar dari perpustakaan dan berdiri di koridor sebentar.
Ada bel. Ada anak-anak yang berlarian. Ada anak perempuan kelas sepuluh yang berjalan lewat dan seluruh koridor mengecil suaranya sedikit dan dia tidak menyadarinya sama sekali.
Aku memandanginya sampai dia belok.
“Bum.”
“Hm.”
“Anak itu.”
“Gue liat.”
“Dia nggak tau.”
“Enggak,” katanya. “Dia nggak tau.”
Kami berdiri di koridor itu dan memandangi arah anak itu pergi.
“Bum, kamu tau nggak,” kataku. “Aku dulu bener-bener ngira aku nol.”
“Gue tau.”
“Aku ngira nggak ada yang bakal deket sama aku kecuali karena mau sesuatu.”
“Gue tau.”
“Kamu nggak pernah bilang aku salah.”
Dia diam beberapa detik.
“Gue bilang,” katanya. “Sesi tiga belas.”
Aku menoleh.
Lo nggak percaya kalau ada orang yang bisa suka sama lo. Itu masalah lo dari dulu. Lo cukup. Lo dari dulu udah cukup.
“Ya ampun,” kataku.
“Iya.”
“Kamu bilang itu malem itu.”
“Iya.”
“Terus aku bilang ‘oh, iya, makasih’ terus kita lanjut latihan.”
“Iya,” katanya.
Aku menekan dua tangan ke wajahku di tengah koridor SMA.
“Bum, aku pengen mundurin waktu.”
“Gue enggak.”
Aku menurunkan tanganku.
“Kenapa?”
Dia memandangi ujung koridor.
“Karena kalau diulang,” katanya, “gue nggak yakin gue bakal berani ngomong lebih cepet. Dan kalau gue nggak berani lagi, hasilnya sama, dan gue harus ngelewatin semuanya dua kali.”
Kami mampir ke kantin baru sebelum pulang.
Aku membeli dua roti dan menyerahkan satu ke dia tanpa melihat.
Lalu aku berhenti.
Aku memandangi bungkusnya. Roti cokelat.
“Bum.”
“Hm.”
“Kamu suka roti cokelat nggak?”
Dia berhenti berjalan.
Kami berdiri di kantin SMA yang sudah dipindah dan diperbesar, dengan lampu yang lebih terang dan tanpa kucing, dan aku memegang dua roti dan menyadari bahwa aku baru saja menanyakan sesuatu yang seharusnya kutanyakan delapan tahun lalu.
“Aurora.”
“Jawab aja, Bum.”
“Gue nggak suka roti cokelat,” katanya.
Aku menutup mataku.
“Gue nggak benci,” katanya cepat. “Gue nggak apa-apa. Gue makan semuanya.”
“Delapan tahun.”
“Aurora—“
“Kamu makan roti cokelat delapan tahun.” Aku menoleh. “Kamu suka apa?”
Dia diam.
Dan aku melihat wajahnya, dan aku sadar dia sedang mencari jawaban di tempat yang tidak pernah dia buka.
“Gue nggak tau,” katanya akhirnya.
“Ya udah.” Aku memasukkan dua roti itu ke tas dan menarik tangannya kembali ke arah kantin. “Kita cari tau sekarang.”
Kami menghabiskan dua puluh menit di kantin SMA membeli enam jenis roti berbeda dan memakannya semua, dan jawabannya ternyata roti keju, dan dia bilang itu tidak penting, dan aku bilang itu penting banget, dan kami hampir bertengkar di depan ibu kantin.
Kami melewati taman belakang ruko dalam perjalanan pulang.
Laundry-nya masih ada. Bangku besinya masih dua. Tiang listriknya menyala penuh.
“Berhenti sebentar?”
“Boleh.”
Kami duduk di bangku itu selama sepuluh menit tanpa alasan.
Ada anak kecil bermain di rumput. Ibu-ibu laundry menyapa dan bertanya kapan menikah, dan aku bilang belum tahu, dan Bumi tidak bilang apa-apa tapi telinganya merah di ujung.
“Bum.”
“Hm.”
“Kafenya masih ada nggak ya.”
“Tutup.”
“Kamu ngecek?”
“Gue lewat situ tahun lalu.”
“Sengaja?”
Dia tidak menjawab.
“Bum.”
“Iya,” katanya. “Sengaja.”
Empat bulan kemudian kami pindah.
Bukan tinggal bersama — kami menyewa dua unit di gedung yang sama, di lantai yang sama, karena kantor kami pindah ke kawasan yang sama dan itu masuk akal secara logistik dan karena kami berdua belum siap untuk percakapan dengan orang tua masing-masing.
Aku pindah lebih dulu.
Waktu dia datang membawa kardus terakhirnya, dia berhenti di ambang pintu unitku.
“Aurora.”
“Hm?”
“Itu apa.”
Aku menoleh ke arah dinding.
“Meja.”
“Gue tau itu meja.”
“Ya udah.”
Dia berjalan masuk dan berdiri di depannya.
Meja panjang, menghadap jendela. Dua kursi.
Satu di kiri. Satu di kanan.
“Aurora.”
“Iya?”
“Lo beli dua kursi.”
“Iya.”
“Buat apa.”
“Bum, jangan pura-pura bego. Kamu paling nggak bisa pura-pura bego.”
Dia berdiri di situ dengan kardus di tangan cukup lama.
“Kalau kamu mau kerja di sini, ada tempatnya,” kataku, dan aku bicara terlalu cepat, seperti biasa. “Kamu nggak harus. Unit kamu di ujung. Aku cuma—“
“Aurora.”
“Iya?”
“Kiri yang mana.”
Aku menunjuk.
Dia menaruh kardusnya, berjalan ke kursi kiri, dan duduk.
Lalu dia mengeluarkan laptopnya dari kardus itu — laptop kerjanya, yang seharusnya ada di unitnya sendiri, yang jelas-jelas dia bawa naik ke sini alih-alih ke ujung lorong — dan membukanya dan mulai mengetik.
Aku berdiri di tengah ruangan.
“Bum.”
“Hm.”
“Kamu bawa laptop kamu.”
“Iya.”
“Ke unit aku.”
“Iya.”
“Kamu udah tau ada mejanya.”
Dia tidak mengangkat kepala dari layar.
“Gue liat waktu lo beli,” katanya. “Struknya ketinggalan di mobil.”
“KAMU BACA STRUK AKU?”
“Gue nggak baca. Gue liat.” Dia menggeser kursinya sedikit. “Dua kursi, satu meja. Gue bisa ngitung.”
Aku duduk di kursi kanan.
Dan aku memutar kepalaku ke kiri, dan aku melihat orang di sebelahku, dan dia sedang mengetik dengan kening berkerut dan kacamata yang melorot sedikit.
Dan aku duduk di situ dan tidak melakukan apa-apa selama beberapa menit, karena tidak ada yang perlu dilakukan.
Dua kursi.
Kiri dan kanan.
Dan yang di kanan tidak lagi harus melihat rak.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi reading
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu