← Latihan Dulu

Chapter Twenty Two

Orang yang Dicari Orang

POV: Aurora

Ada hal tentang Bumi yang tidak pernah kulihat waktu SMA, dan aku baru melihatnya di bulan kedua magang.

Orang mencarinya.

Bukan satu-dua orang. Semua orang.

Anak magang dari tim lain datang ke mejanya rata-rata empat kali sehari. Karyawan tetap — orang-orang berumur tiga puluhan dengan kartu akses berwarna berbeda — juga datang. Ada seorang manajer produk yang pernah berdiri di sebelah mejanya selama dua puluh menit sambil menunggu dia selesai berpikir.

Dan dia tidak pernah kelihatan senang soal itu. Dia juga tidak kelihatan terganggu. Dia cuma mengangkat kepala, mendengarkan sampai habis, diam tiga detik, lalu menjawab dengan tiga kalimat yang menyelesaikan masalah orang itu.

Aku menghitungnya suatu hari, iseng, di kolom kosong catatanku.

Rata-rata jawaban: 3 kalimat.
Rata-rata jeda sebelum jawab: 3 detik.
Persentase orang yang balik lagi keesokan harinya: tinggi.

Aku menutup catatan itu dan merasa sedikit gila.

Icha menelepon minggu itu dan aku menceritakannya, dengan nada bercanda, sebagai lelucon tentang betapa anehnya kantorku.

“Jadi kamu nyatetin dia.”

“Aku nyatetin fenomena.”

“Fenomena.”

“Cha, ini menarik secara sosial. Ada orang yang nggak pernah minta apa-apa dari siapa pun tapi semua orang dateng ke dia.”

“Ra.”

“Apa?”

“Kamu pernah bilang kalimat kayak gini sebelumnya,” kata Icha. “Persis kayak gini. Enam tahun lalu.”

“Kapan?”

“Waktu kamu jelasin ke aku kenapa kamu nyimpen tiga puluh dua halaman catatan tentang orang yang bukan gebetan kamu.”

Aku menutup telepon lebih cepat dari yang sopan.


Hari ke empat puluh dua ada insiden.

Sistem yang sudah dipakai tim lain selama tiga minggu ternyata salah di bagian dasar, dan ketahuannya jam empat sore, dan presentasi ke klien jam sembilan besok pagi.

Ruangan itu panik dengan cara yang sopan. Orang berdiri. Orang bicara cepat. Seorang anak magang bernama Dika hampir menangis.

Bumi menarik kursi, duduk, dan bilang, “Boleh gue liat log-nya.”

Tidak ada tanda tanya di kalimat itu.

Lalu selama satu jam empat puluh menit dia tidak bicara sama sekali kecuali empat kali, dan empat kali itu semuanya berupa pertanyaan pendek ke orang yang berbeda.

Jam lima empat puluh dia bilang, “Ketemu.”

Ruangan itu hening.

“Bukan salah kalian,” katanya, dan ini bagian yang membuatku menaruh pulpenku. “Ini kesalahan asumsi di dokumen awal. Yang nulis dokumen awal itu gue.”

Dika menatapnya.

“Kak, tapi kan—“

“Gue yang nulis, gue yang benerin.” Dia sudah membuka laptopnya. “Kalian pulang. Besok jam delapan udah beres.”

Setengah dari mereka tidak pulang.

Aku juga tidak pulang.

Kak Bagas mengirim pesan jam tujuh menanyakan apakah aku mau dijemput. Aku membalas: lembur, ada masalah sistem.

Dia membalas: oke, hati-hati ya. Sayang kamu.

Aku menaruh ponselku terbalik di meja dan melanjutkan bekerja, dan aku tidak membalas pesan itu sampai jam sebelas, dan waktu aku membalasnya aku menulis sayang kamu juga dan langsung mengunci ponselnya.


Jam sembilan malam tinggal empat orang di ruangan itu.

Jam sebelas tinggal dua.

Aku duduk di meja sebelah, mengerjakan bagianku sendiri yang sebenarnya tidak mendesak, dan sesekali mengangkat kepala.

Dia tidak berubah posisi selama tiga jam. Punggung agak bungkuk, satu tangan di keyboard, satu tangan memegang gelas kopi yang sudah dingin sejak jam sepuluh.

Sekitar jam setengah dua belas dia melepas kacamatanya dan menekan pangkal hidungnya dengan dua jari.

Aku memandanginya.

Dari samping, dengan lampu ruangan yang cuma menyala setengah, dengan lengan kemeja yang sudah digulung sampai siku, dengan rahang yang terlihat lebih tegas karena dia sedang mengatupkan gigi.

Aku memandanginya terlalu lama.

Dan ini bagian yang harus kuakui: aku sudah tahu dia tampan. Aku bukan buta. Enam tahun lalu ada dua anak kelas sebelah yang naksir dia dan aku ingat aku sempat berpikir ya wajar sih.

Tapi ada perbedaan antara tahu dan melihat.

Waktu SMA dia adalah orang yang duduk di sebelahku. Itu kategorinya. Kategori itu punya dinding, dan di dalam dinding itu tidak ada tempat untuk memperhatikan rahang orang di bawah lampu setengah mati jam setengah dua belas malam.

Dindingnya masih ada. Aku bisa merasakannya.

Aku cuma tidak yakin lagi siapa yang membangunnya.

Dan waktu dia memasang kacamatanya kembali dan menoleh — mungkin karena merasa diperhatikan, mungkin kebetulan — aku sudah keburu memalingkan wajah ke layarku sendiri, tapi tidak cukup cepat.

“Aurora.”

“Hm?”

“Lo pulang.”

“Aku masih ada kerjaan.”

“Kerjaan lo deadline-nya Jumat.”

“Kamu tau deadline aku?”

“Gue tau semua deadline di ruangan ini.”

Dia bilang itu tanpa nada apa pun, seperti orang menyebutkan cuaca, dan aku duduk di sana dan tidak tahu harus menjawab apa.

“Kamu belum makan malam,” kataku akhirnya.

“Gue nggak laper.”

“Bum.”

“Gue serius.”

Aku berdiri, mengambil dompetku, turun ke minimarket di lantai dasar, dan kembali dengan dua roti dan satu air mineral.

Aku menaruhnya di sebelah laptopnya.

Roti cokelat.

Dia berhenti mengetik.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak.” Dia mengambil rotinya. “Makasih.”

“Kamu berhenti ngetik.”

“Gue kaget aja.”

“Kaget kenapa?”

Ada jeda.

Empat detik.

Aku menghitungnya, dan aku menghitungnya dengan sadar penuh, dan aku merasakan sesuatu di dadaku yang belum pernah kurasakan sejak umur enam belas.

“Nggak apa-apa,” katanya.

Dan dia membuka rotinya dan memakannya sambil terus mengetik dengan satu tangan.


Selesai jam dua pagi.

Kami turun bersama. Lobi sudah gelap kecuali meja satpam.

“Pak Yus, kami duluan.”

“Hati-hati, Mas Bumi. Mbak Aurora.”

Aku menoleh ke arahnya di parkiran.

“Kamu tau nama satpam?”

“Pak Yusman. Anaknya tiga. Yang paling kecil kelas dua SD.” Dia membuka aplikasi ojek. “Yang bungsu susah makan sayur.”

“Bum, kamu tau anak Pak Yus susah makan sayur.”

“Beliau cerita.”

“Terus kamu inget.”

“Gue emang inget hal yang orang bilang.”

“Semua orang?”

Ada jeda.

“Iya,” katanya.

Tiga detik.

Aku berdiri di parkiran jam dua pagi dan mendengar kalimat itu, dan sesuatu di dalam kepalaku bergerak seperti pintu yang tidak terkunci sepenuhnya.

Gue emang inget hal yang lo bilang.

Aku pernah mendengar versi lain dari kalimat itu. Di kafe berkopi buruk. Bertahun-tahun lalu. Dan waktu itu dia buru-buru menambahkan sesuatu tentang nomor sepatu Fandi.

“Bum.”

“Hm.”

“Kenapa dulu kamu buru-buru?”

Dia mengangkat kepalanya dari ponsel.

“Buru-buru apa?”

Dan aku berdiri di sana dengan pertanyaan yang sudah setengah keluar dan tidak punya bagian keduanya, karena aku tidak tahu apa yang sedang kutanyakan, karena aku bahkan tidak tahu kenapa aku bertanya.

“Nggak,” kataku. “Ojekku udah dateng.”

“Oke.”

“Kamu jangan pulang jalan kaki.”

“Gue nggak jalan kaki.”

“Bum.”

“Aurora, ojek gue tiga menit lagi.”

Aku naik dan memakai helm dan sepanjang jalan pulang aku memikirkan satu hal yang tidak masuk akal:

Aku tidak pernah melihatnya seperti ini waktu SMA.

Bukan karena dia berubah.

Karena dulu aku selalu sedang melihat ke arah lain.


Kak Bagas menelepon jam tiga pagi karena dia melihat pesanku.

“Kamu baru pulang?”

“Iya. Ada masalah sistem.”

“Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa.”

“Kok kamu ikut lembur? Bukan bagian kamu kan?”

Aku duduk di tepi kasur dengan sepatu masih terpakai.

“Iya,” kataku. “Bukan bagian aku.”

“Terus?”

Dan aku duduk di sana dan mencari jawaban yang jujur dan yang keluar adalah:

“Ya nggak enak aja ninggalin orang.”

Kak Bagas tertawa. “Kamu emang gitu. Ya udah, tidur ya. Sayang kamu.”

“Iya. Sayang kamu juga.”

Aku menutup telepon dan menaruhnya di meja dan duduk di sana dengan sepatu masih terpakai selama mungkin sepuluh menit.

Kalimat itu keluar dalam waktu kurang dari satu detik. Tanpa jeda sama sekali.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku memperhatikan bahwa aku tidak punya jeda.

Dan untuk pertama kalinya juga, aku tidak yakin apakah itu hal yang bagus.

Aku melepas sepatuku dan tidur jam empat.