← Latihan Dulu

Chapter Twenty Five

Cermin

POV: Bumi

Namanya Prilly, anak magang dari kampusku, jurusan yang sama, angkatan di bawahku.

Dia mencegatku di pantry hari Rabu jam setengah lima sore, waktu ruangan sudah mulai kosong, dengan wajah orang yang sudah menyiapkan kalimatnya di kamar mandi.

“Kak Bumi, boleh minta tolong?”

“Boleh.”

“Ini agak aneh.”

“Oke.”

“Beneran aneh, Kak.”

Aku menaruh gelasku.

“Prilly, ngomong aja.”

Dia menarik napas.

“Aku naksir orang,” katanya. “Anak tim empat. Yang tinggi itu.”

“Oke.”

“Dan aku nggak bisa ngomong sama dia. Kayak, sama sekali. Aku udah nyoba tiga kali dan tiga-tiganya aku cuma bilang ‘hai’ terus jalan ke arah yang salah.”

Ada sesuatu yang dingin mulai naik dari bawah tulang rusukku.

“Terus?”

“Terus aku mikir.” Dia meremas gelas plastiknya. “Kakak kan orangnya tenang. Nggak pernah aneh-aneh. Terus Kakak nggak akan nyebarin. Jadi aku mikir mungkin—“

Jangan.

“—mungkin Kakak bisa bantu aku latihan? Kayak, Kakak jadi dia, terus aku ngomong ke Kakak, terus—“

“Enggak.”

Dia berhenti.

Aku mendengar suaraku sendiri keluar, dan aku mendengarnya keluar terlalu cepat dan terlalu keras untuk ukuran pantry, dan aku melihat dia mundur setengah langkah.

“Sori,” kataku, langsung. “Sori. Gue nggak bermaksud gitu.”

“Nggak apa-apa, Kak.”

“Bukan salah lo.”

“Iya, aku ngerti kok. Aneh emang.” Dia tertawa dan tawanya kelihatan sakit. “Sori aku ngerepotin.”

“Prilly.”

“Iya?”

Aku memandang gelas kopiku.

Aku bisa berhenti di situ. Aku bisa membiarkan dia pergi merasa canggung selama dua hari lalu melupakannya.

“Duduk bentar,” kataku.


Kami duduk di dua kursi plastik di sudut pantry.

“Gue mau jelasin kenapa enggak,” kataku. “Bukan buat gue. Buat lo.”

“Nggak usah, Kak, beneran—“

“Prilly.”

Dia diam.

“Gue pernah ngelakuin itu,” kataku. “Buat orang lain. Selama sebelas bulan.”

Dia mengangkat kepalanya.

“Kakak pernah jadi partner latihan?”

“Empat puluh tiga kali.”

“Empat puluh—“

“Dan itu berhasil.” Aku memutar gelas kopiku. “Dia jadi jago. Dia nembak orangnya. Dia diterima. Semuanya sesuai rencana, dan rencananya gue yang susun.”

Prilly memandangiku.

“Terus?”

“Terus gue mau lo mikirin satu hal.” Aku menatapnya. “Lo minta seseorang buat jadi orang lain. Berulang-ulang. Berbulan-bulan. Lo bilang ke dia: jangan jadi diri lo sendiri, jadi orang yang gue mau.”

“Iya, tapi kan itu cuma—“

“Latihan. Gue tau.” Aku mengangguk. “Dan buat lo, itu emang cuma latihan. Gue percaya. Gue nggak lagi nuduh lo.”

“Terus masalahnya apa, Kak?”

Aku memikirkan cara mengatakannya selama beberapa detik.

“Masalahnya,” kataku, “lo nggak akan pernah tau apa artinya buat orang yang lo minta.”

Prilly diam.

“Bisa jadi dia beneran nggak apa-apa. Bisa jadi dia seneng bantuin temen. Itu paling mungkin, dan itu kemungkinan yang bagus.” Aku menaruh gelasku. “Tapi bisa juga enggak. Dan kalau enggak, dia nggak akan bilang. Karena orang yang mau ngelakuin itu buat lo, itu justru orang yang paling nggak akan bilang.”

Ruangan itu berdengung karena kulkas.

“Kak,” katanya pelan. “Kakak lagi cerita tentang diri Kakak sendiri ya.”

“Iya.”

Dia tidak bertanya lebih jauh. Aku bersyukur.

“Terus aku harus gimana?”

“Ngomong langsung ke dia.”

“Aku nggak bisa.”

“Lo bisa.”

“Kak, aku beneran nggak bisa. Aku bakal ambruk.”

“Prilly.” Aku berdiri dan mengambil gelasku. “Semua orang ambruk. Itu bagian dari acaranya. Bedanya cuma lo ambruk di depan dia atau di depan orang lain, dan kalau lo ambruk di depan orang lain, yang lo dapet cuma jago ambruk.”

Dia tertawa. Kali ini beneran.

“Kakak tuh nyebelin ya.”

“Gue tau.”

“Tapi bener.”

“Itu kombinasi yang paling sering gue dapet.”

Aku mencuci gelasku di wastafel.

“Kak.”

“Hm.”

“Yang orang itu,” katanya. “Yang Kakak latih sebelas bulan.”

Aku terus mencuci.

“Dia tau nggak?”

“Enggak.”

“Sampai sekarang?”

“Sampai sekarang.”

Prilly diam beberapa detik.

“Kak, itu udah berapa lama?”

“Enam tahun.”

“ENAM—“ Dia menutup mulutnya sendiri, lalu menurunkan tangan. “Sori. Sori, Kak.”

“Nggak apa-apa.”

“Kakak nggak pernah mau bilang?”

Aku menutup keran.

“Gue pernah,” kataku.

“Terus?”

“Terus dia nyatet di HP-nya.”

Prilly tidak tahu harus menjawab apa, dan aku tidak menyalahkannya, karena tidak ada yang bisa dijawab.

Dan waktu aku mengangkat kepala, aku melihat pantulan di jendela pantry.

Ada orang berdiri di ambang pintu.


Aku tidak tahu sudah berapa lama dia di sana.

Aku juga tidak tahu berapa banyak yang dia dengar, dan aku tidak berniat mencari tahu.

“Hai,” kataku.

“Hai.”

Prilly berdiri, menyapa dengan sopan, bilang dia duluan, dan keluar.

Kami berdua tinggal di pantry.

Dia berjalan ke dispenser, mengambil gelas, dan mengisinya. Aku melihat dari samping bahwa dia mengisi gelas itu terlalu penuh dan tidak menyadarinya sampai airnya hampir tumpah.

“Aurora.”

“Hm?”

“Gelas lo.”

“Oh.” Dia menuangnya sedikit ke wastafel. “Makasih.”

Kami berdiri di pantry itu selama mungkin sepuluh detik tanpa bicara.

“Bum.”

“Hm.”

“Prilly minta apa?”

Aku memandanginya.

Wajahnya biasa saja. Suaranya biasa saja. Kalau ada seratus orang di ruangan itu, sembilan puluh sembilan akan bilang tidak ada yang aneh.

Aku melihat dia menggenggam gelasnya dengan dua tangan.

“Dia minta bantuan,” kataku.

“Bantuan apa?”

“Urusan pribadi.”

“Oh.” Dia mengangguk. “Iya. Sori. Aku nggak berhak nanya.”

“Bukan gitu.”

“Nggak apa-apa.”

Dia minum airnya, dan waktu dia selesai minum, dia bertanya lagi — dan aku bisa mendengar bahwa dia sedang mencoba membuat suaranya ringan, dan aku bisa mendengar bahwa dia gagal.

“Kamu bantuin?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

Aku menaruh gelasku di rak.

Ada beberapa versi jawaban yang bisa kuberikan.

Aku memilih yang paling sedikit.

“Karena gue nggak mau,” kataku.

Dan aku mengucapkannya persis dengan nada yang sama seperti enam tahun lalu, di perpustakaan SMA, di meja ujung dekat rak referensi.

Aku tidak sengaja. Aku bersumpah aku tidak sengaja. Tapi tubuh manusia menyimpan hal-hal seperti itu, dan waktu situasinya berulang, tubuh mengeluarkannya lagi tanpa izin.

Dia mendengar itu.

Aku tahu dia mendengar itu karena dia berhenti bergerak selama satu detik penuh, dengan gelas setengah terangkat.

“Oke,” katanya.

“Aurora—“

“Aku duluan ya.”

Dia keluar dari pantry.


Aku pulang jam tujuh malam itu, dan di halte aku menelepon Fandi tanpa alasan yang jelas.

“Bum?”

“Gue nolak orang hari ini.”

“Nolak apa?”

“Ada anak magang minta gue jadi partner latihan.”

Hening panjang di seberang.

“Bum.”

“Gue nolak.”

“Bum, itu—“

“Gue tau.”

“Enggak, lo nggak tau.” Suara Fandi naik. “Lo tau nggak sih itu artinya apa? Itu artinya lo udah selesai. Beneran selesai. Bukan yang versi papan tulis, yang versi asli.”

Aku memandangi jalan.

“Terus kenapa gue ngerasa nggak enak?”

“Karena lo baru nolak orang buat pertama kali seumur hidup.” Fandi tertawa. “Itu nggak enak. Emang nggak enak. Selamat datang di dunia manusia normal.”

“Fan.”

“Hm.”

“Dia liat.”

Fandi berhenti tertawa.

“Dia liat lo nolak?”

“Dia denger sebagian. Gue nggak tau berapa banyak.”

Bus datang. Aku tidak naik.

“Bum,” kata Fandi, dan suaranya berubah. “Lo tau kan apa yang bakal kejadian di kepalanya sekarang?”

“Enggak.”

“Lo tau.”

Aku duduk di kursi halte dan membiarkan bus kedua lewat juga.

“Iya,” kataku. “Gue tau.”

“Terus?”

“Terus nggak ada terus.”

“Bum—“

“Fan, dengerin.” Aku memindahkan ponsel ke telinga sebelah. “Kalau dia nanya kenapa gue nolak Prilly, dan gue jawab yang sebenernya, itu artinya gue ngasih dia bahan buat nyusun kesimpulan tentang enam tahun terakhir.”

“Iya. Terus?”

“Terus dia bakal nyusun kesimpulan itu waktu dia lagi rapuh.” Aku memandangi aspal. “Dia baru putus dua minggu lalu.”

Hening.

“Lo tau dia putus?”

“Semua orang tau.”

“Bum, lo—“

“Gue nggak mau jadi kesimpulan yang diambil orang karena dia lagi kesepian,” kataku. “Kalau dia nyampe ke situ, dia harus nyampe sendiri. Dari barang yang dia punya. Bukan dari gue yang ngasih tau.”

Fandi diam lama sekali.

“Itu keputusan yang bagus banget,” katanya akhirnya.

“Makasih.”

“Dan itu juga cara paling rumit yang pernah gue denger buat nggak ngomong.”

Bus ketiga datang.

Aku naik, dan duduk di kursi paling belakang, dan menyandarkan kepala ke jendela.

Kalau dia nyampe ke situ, dia harus nyampe sendiri.

Aku mengulang kalimat itu di kepalaku sepanjang jalan pulang, dan setiap kali aku mengulangnya, kalimat itu terdengar makin seperti orang yang sedang menyusun alasan.