Chapter Five
Tanganmu Dingin
POV: Bumi
Sesi keenam dia datang membawa ponselnya, menaruhnya di tengah meja dengan layar menghadap ke atas, dan menekan tombol merah.
“Apa itu.”
“Perekam.”
“Buat apa.”
“Buat evaluasi.” Dia mendorong ponselnya sedikit lebih ke tengah. “Aku sadar aku nggak bisa nilai diri sendiri pas lagi ngomong. Aku terlalu sibuk panik. Jadi aku rekam, terus malemnya aku dengerin lagi.”
“Lo dengerin suara lo sendiri.”
“Iya.”
“Sendirian. Di kamar.”
“Iya.”
“Itu hukuman, bukan evaluasi.”
“Bum.” Dia menunjuk ponselnya. “Ini udah nyala.”
Aku memandang layar itu. Angka detiknya bertambah satu per satu, kecil dan merah di sudut layar.
Semua yang gue omongin mulai sekarang ada di dalam sana.
Aku sempat berpikir untuk keberatan. Aku sudah menyusun alasannya di kepala — soal privasi, soal kualitas audio kafe, soal apa pun. Tiga alasan, semuanya masuk akal.
Aku tidak mengeluarkan satu pun.
Karena kalau gue keberatan, dia bakal nanya kenapa, dan gue nggak punya jawaban yang bisa gue kasih.
“Ya udah,” kataku. “Mulai.”
“Kamu nggak keberatan beneran?”
“Enggak.”
“Soalnya kalau keberatan bilang aja. Aku hapus.”
“Gue nggak keberatan.”
Angka detik itu terus bertambah.
Tiga tahun lagi dia akan memutar salah satu rekaman ini di kamarnya, dan dia akan mendengar sesuatu yang tidak pernah dia dengar waktu itu, dan dia tidak akan bisa berhenti sampai file-nya habis.
Aku tidak tahu itu waktu itu. Aku cuma tahu ada angka merah kecil di meja, dan aku terus meliriknya sepanjang sesi seperti orang yang duduk terlalu dekat dengan api.
“Materi hari ini,” katanya, membuka buku sembilan halamannya, “pegangan tangan.”
Aku menaruh gelasku.
“Enggak.”
“Kenapa enggak?”
“Karena lo belum ngomong lima kalimat lurus sama dia. Lo mau langsung pegangan tangan.”
“Aku bukan mau langsung. Aku mau siap kalau nanti kejadian.” Dia menghitung dengan jari. “Coba bayangin. Aku udah nembak, dia terima, terus dia pegang tanganku, terus aku kaget terus narik tangan aku, terus dia mikir aku jijik sama dia, terus putus di hari pertama.”
“Itu skenario yang lo susun sendiri.”
“Aku susun karena itu MUNGKIN.”
“Lo bikin bencana di kepala lo terus lo minta gue jadi simulasinya.”
“Iya.” Dia menaruh tangannya di meja, telapak ke atas. “Tolong ya.”
Dan itu masalahnya dengan dia. Dia tidak membujuk. Dia tidak merayu. Dia cuma menaruh tangannya di atas meja dan bilang tolong, dan seluruh sistem pertahananku — yang kubangun bertahun-tahun, yang punya aturan tertulis dan batas waktu sesi dan margin khusus untuk catatan — runtuh dalam waktu sekitar empat detik.
Fandi benar. Aku bukan orang baik. Aku orang yang kebiasaan.
Aku menaruh tanganku di atas tangannya.
Dia langsung menarik napas.
“Kenapa.”
“Nggak apa-apa. Kaget.”
“Gue baru naruh tangan.”
“Iya, tapi kan—“ Dia berhenti. “Tangan kamu gede banget.”
“Itu bukan informasi yang berguna.”
“Bukan informasi. Observasi.”
“Ulang. Fokus.”
Aku bisa merasakan dia gemetar. Bukan gemetar besar — kecil, di ujung jari, semacam getaran yang cuma ketahuan kalau kamu memegangnya. Dan dari cara dia menahan napas, aku tahu ini bukan drama. Dia benar-benar tidak pernah melakukan ini sebelumnya.
Nol. Dia pernah bilang begitu ke Icha dan aku kebetulan dengar dari dua meja jauhnya, dan aku tidak percaya sampai detik ini.
Semua orang di sekolah ini mengira dia sudah tahu segalanya. Dan tidak satu pun dari mereka pernah cukup dekat untuk tahu tangannya dingin karena takut.
“Tangan lo dingin,” kataku.
“Aku selalu dingin.”
“Enggak. Ini dingin gugup.”
“Ada bedanya?”
“Ada.” Aku menggeser ibu jariku sedikit, satu kali, cukup untuk membuat pegangannya tidak kaku. “Yang ini nggak akan hilang sampai lo berhenti nahan napas.”
Dia menghembuskan napas.
“Nah.”
“Kamu tau banyak banget.”
“Gue baca.”
“Buku apa?”
“Buku.”
“Setiap kali aku nanya, jawabannya ‘buku’.”
“Karena jawabannya emang buku.”
Dia tertawa, dan tangannya bergerak sedikit di bawah tanganku, dan aku melihat angka merah di layar ponsel bertambah dari 12:03 ke 12:04.
Aku melepaskan tanganku.
“Udah?”
“Udah. Empat menit.”
“Kok cuma empat menit?”
“Karena empat menit itu udah lama banget buat orang yang belum pernah.”
“Oh.” Dia menarik tangannya kembali dan menggenggamnya sendiri di pangkuan. “Iya juga.”
Aku mengambil pulpen dan menulis di margin kiri lembar rubriknya.
Tangannya dingin. Bukan karena AC.
“Kamu nulis apa sih tiap kali?”
“Catatan.”
“Aku boleh baca?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena itu catatan gue.” Aku menutup pulpen. “Lo punya kolom. Gue punya margin. Itu perjanjiannya.”
“Aku nggak pernah setuju sama perjanjian itu.”
“Lo nggak protes waktu gue bikin. Diem itu setuju.”
“Itu bukan hukum.”
“Itu hukum di meja ini.”
Dia mengerucutkan bibir dan menarik lembar itu ke arahnya, dan aku sempat tegang selama satu detik penuh sebelum dia menutupnya tanpa membaca dan memasukkannya ke tas.
Dia benar-benar tidak membacanya.
Aku tidak tahu harus lega atau tidak, dan aku memutuskan lega, karena itu pilihan yang lebih mudah dijalani.
Fandi menemukan spreadsheet-ku hari Jumat, karena Fandi punya bakat menemukan hal yang tidak dia cari, dan karena aku bodoh dan meninggalkan laptopku terbuka di meja kantin.
“Bum.”
“Jangan.”
“Bum, ini apaan.”
“Tutup.”
“‘JADWAL MINGGUAN — v4’.” Dia membaca dengan suara pembawa acara. “Versi empat, Bum. Versi. Empat.”
“Fandi.”
“Ada kolom mata pelajaran, ada kolom jadwal les, ada kolom—“ Dia berhenti. Aku tahu dia sampai di mana karena wajahnya berubah. “Ada kolom apa ini?”
Aku menutup laptop.
Terlambat.
“Kenapa jadwal dia ada di spreadsheet lo?”
“Karena gue butuh tau kapan gue kosong.”
“Bum.”
“Kalau gue nggak tau jadwal dia, gue nggak bisa tau kapan sesinya bisa dijadwalin.”
“Ada tiga puluh kolom di situ dan cuma dua yang buat sesi.”
Aku tidak menjawab.
Fandi menarik kursi dan duduk di depanku, dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun dia tidak bercanda.
“Sejak kapan?”
“Kelas sepuluh.”
“Sejak kelas sepuluh lo ngapalin jadwal orang.”
“Gue nggak ngapalin. Gue nyatet.” Aku menarik laptopku lebih dekat. “Bedanya, kalau nyatet itu sistem. Kalau ngapalin itu—“
“Itu apa?”
“Nggak jadi.”
Fandi mengambil satu keripik dari bungkus yang entah dari mana, mengunyahnya, dan menelannya sebelum bicara lagi.
“Lo tau kan,” katanya, “kalau suatu hari nanti dia bakal liat itu.”
“Enggak.”
“Kenapa enggak?”
“Karena gue bakal hapus sebelum lulus.”
“Terus kalau dia liat sebelum lo hapus?”
Aku memikirkan itu selama beberapa detik. Aku memikirkannya dengan serius, dengan cara yang sama seperti aku memikirkan soal fisika: kemungkinan, konsekuensi, kerugian.
“Ya udah,” kataku akhirnya. “Berarti selesai.”
“Selesai gimana?”
“Selesai. Semuanya. Sesi, perpustakaan, roti cokelat.” Aku membuka laptopku lagi dan menutup file itu dengan benar. “Kalau dia tau, dia bakal ngerasa nggak enak. Terus dia bakal jaga jarak, karena dia orangnya begitu. Terus semuanya selesai.”
Fandi menatapku lama sekali.
“Jadi lo lebih milih ini.”
“Iya.”
“Ini yang sekarang. Yang lo dipanggil buat jadi orang lain seminggu sekali.”
“Iya.”
“Bum, itu bukan pilihan. Itu penyanderaan, dan lo nyandera diri lo sendiri.”
Aku menyimpan file-nya dan menutup laptop.
“Versi lima keluar Minggu depan,” kataku. “Gue nambahin kolom cuaca.”
“KOLOM CUACA?”
“Dia nggak bawa payung kalau ramalannya cerah, dan ramalan di kota ini bohong terus.”
Fandi menaruh keripiknya. Dia benar-benar menaruhnya, dan itu, dari Fandi, adalah bentuk keseriusan yang paling tinggi.
“Suatu hari nanti,” katanya, “ada satu momen. Satu doang. Di mana lo bisa ngomong dan semuanya berubah. Dan gue takut lo bakal berdiri di situ terus milih diem, dan lo bakal ngerasa itu keputusan bagus, karena lo emang selalu ngerasa keputusan lo bagus.”
Aku memasukkan laptop ke dalam tas.
“Kalau momen itu dateng,” kataku, “gue kabarin.”
Momen itu datang delapan bulan kemudian, di sebuah kafe dengan kopi buruk, dengan ponsel yang sedang merekam di tengah meja.
Aku tidak mengabari Fandi.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin reading
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu