Chapter Thirty Eight
Rumah
POV: Bumi
Ibuku menelepon hari Selasa.
“Bum, kamu pacaran ya?”
Aku hampir menjatuhkan gelas.
“Dari mana Ibu tau.”
“Ibu tau.”
“Bu.”
“Fandi cerita.”
Fandi.
“Bawa ke sini hari Minggu ya,” katanya, dengan nada yang bukan permintaan. “Ibu masak.”
“Bu, ini masih baru—“
“Berapa lama?”
“Tiga minggu.”
“Kamu kenal dia berapa lama?”
Aku diam.
“Bumi.”
“Enam tahun,” kataku.
“Nah.” Aku bisa mendengar dia menutup kulkas di seberang. “Hari Minggu. Jam sebelas.”
Aku menjemputnya jam sembilan.
Dia berdiri di depan kosan dengan rok dan kemeja lengan panjang dan rambut yang jelas-jelas disisir lebih dari sekali, memegang kotak kue yang dibungkus rapi.
“Aurora.”
“Iya?”
“Lo bawa kue.”
“Iya.”
“Lo nggak perlu bawa kue.”
“Bum, aku baca artikel.” Dia menaikkan kotak itu. “Ada tiga artikel dan semuanya bilang bawa sesuatu.”
“Lo baca artikel?”
“Aku baca sebelas artikel.”
Aku memandanginya.
“Sebelas.”
“Bum, ini ibu kamu.”
“Iya, tapi—“
“Aku juga udah nyiapin topik.” Dia mengeluarkan ponselnya. “Ada delapan. Sama cabangnya.”
Dan aku berdiri di depan kosan jam sembilan pagi dan tertawa untuk pertama kalinya di depan orang lain dalam entah berapa lama.
“Kenapa ketawa?”
“Nggak.”
“BUM.”
“Aurora, lo bikin daftar topik lagi.”
Dia menatap ponselnya.
Lalu wajahnya berubah.
“Ya ampun,” katanya.
“Iya.”
“Aku bikin daftar topik.”
“Iya.”
“Aku nggak sadar.”
“Gue tau.” Aku mengambil kotak kue itu dari tangannya. “Simpen ponselnya. Ibu gue nggak akan nanya soal poin tiga.”
Ibuku membuka pintu, melihat Aurora, dan langsung memeluknya.
Aurora tidak siap. Aku bisa melihat dia tidak siap. Tangannya menggantung di udara selama satu detik penuh sebelum akhirnya membalas.
“Aduh, cantiknya,” kata ibuku. “Bumi, kenapa nggak dari dulu?”
“Bu.”
“Masuk, masuk. Ibu masak banyak.”
Rumah itu berbau bawang dan santan dan ada kipas angin tua yang bunyinya bergetar di sudut.
Aurora duduk di ruang tamu dengan punggung sangat tegak.
“Nggak usah tegang,” kata ibuku sambil menuang teh. “Bumi juga tegang kok.”
“Gue nggak tegang.”
“Kaki kamu goyang dari tadi.”
Aku menghentikan kakiku.
Aurora menoleh ke arahku dengan ekspresi yang akan dia bawa ke mana-mana selama enam bulan berikutnya.
Makan siangnya berlangsung dua jam.
Ibuku bertanya soal kuliahnya, soal keluarganya, soal skripsinya, dan Aurora menjawab semuanya dengan sopan dan cukup lancar sampai sekitar menit keempat puluh, waktu dia mulai lupa bahwa dia sedang menjaga sikap dan mulai jadi dirinya sendiri.
Aku bisa menunjuk momen persisnya.
Ibuku bertanya apakah dia suka pedas, dan Aurora bilang “suka banget, Bu”, dan ibuku menyodorkan sambal, dan Aurora mengambil satu sendok penuh.
Empat puluh detik kemudian mukanya merah dan matanya berair dan dia sedang minum air gelas kedua sambil bilang “enak banget, Bu” dengan suara orang tercekik.
“Aurora.”
“Aku nggak apa-apa.”
“Lo nggak suka pedas.”
“AKU SUKA PEDAS.”
“Lo nangis.”
“Ini bumbunya bagus,” katanya ke ibuku, sambil mengelap mata. “Serius, Bu.”
Ibuku tertawa sampai harus memegang meja, dan setelah itu tidak ada lagi yang tegang di ruangan itu.
Dia menceritakan soal Reno.
Dia menceritakan soal kencan bus yang gagal total dan taman yang ditutup.
Dia menceritakan soal aku yang menghapus dokumen rencana enam kali, yang seharusnya tidak dia ceritakan.
Ibuku tertawa sampai harus menaruh sendoknya.
“Bumi dari kecil begitu,” katanya. “Kalau mau ngapa-ngapain harus ada daftarnya. Mau beli sandal aja dia bikin perbandingan.”
“Bu.”
“Ibu masih simpen kertasnya. Ada kolom harga sama kolom awet.”
“BU.”
Aurora sudah menutup mulut dengan dua tangan.
Yang tidak kuperhitungkan datang di menit keseratus sepuluh.
Ibuku sedang membereskan piring dan Aurora membantunya, dan aku di dapur mencuci, dan percakapan itu terjadi di belakangku.
“Aurora ini yang mana ya,” kata ibuku. “Ibu lupa.”
“Yang mana gimana, Bu?”
“Yang dulu itu.”
Aku mematikan keran.
“Bu.”
“Apa?”
“Nggak jadi.”
Tapi ibuku sudah melanjutkan, karena ibuku adalah orang yang selalu melanjutkan.
“Waktu SMA,” katanya ke Aurora. “Bumi tuh tiap Rabu pulang malam terus. Ibu tanya ke mana, dia bilang belajar kelompok.”
Aurora berhenti menumpuk piring.
“Terus Ibu tanya belajar kelompok kok tiap minggu di kafe,” kata ibuku. “Dia bilang tempatnya enak.”
“Bu, piringnya gue—“
“Terus ada satu hari dia pulang basah kuyup.” Ibuku mengelap meja. “Hujan deres banget. Ibu tanya kok nggak pakai payung, kan tiap hari kamu bawa dua.”
Dapur itu sunyi kecuali bunyi kipas tua.
“Dia bilang yang satu ketinggalan,” kata ibuku. “Yang satunya lagi dia bilang... apa ya. Ibu lupa persisnya. Pokoknya dia bilang dia kasih ke orang.”
Aurora tidak bergerak.
“Ibu tanya siapa,” kata ibuku. “Dia nggak jawab. Terus dia ke kamar.”
Ibuku menaruh lapnya dan menoleh ke Aurora dengan wajah yang sepenuhnya polos.
“Itu kamu ya?”
Aurora menaruh piring terakhir.
“Iya, Bu,” katanya.
“Ya ampun.” Ibuku menepuk lengannya. “Ibu kira itu anak lain. Bumi nggak pernah cerita apa-apa.”
“Iya, Bu.”
“Anak Ibu emang gitu. Dari kecil nggak pernah minta apa-apa. Nggak pernah bilang kalau lagi susah.” Ibuku mengangkat bahu dan berjalan ke kulkas. “Ibu sampai bingung harus ngasih apa. Dia nggak pernah bilang mau apa.”
Aku berdiri di depan wastafel dengan tangan basah.
Dan aku mendengar Aurora bicara di belakangku, dengan suara yang cukup normal untuk siapa pun kecuali aku.
“Bu.”
“Hm?”
“Dia sekarang udah mulai bilang.”
Ibuku menutup kulkas.
“Serius?”
“Iya, Bu. Baru-baru ini.”
“Ya ampun.” Aku mendengar ibuku tertawa. “Berarti bener kamu orangnya.”
Kami pulang jam empat sore.
Di bus, dia tidak bicara selama sepuluh menit.
“Aurora.”
“Hm.”
“Lo diem.”
“Aku lagi mikir.”
“Mikirin apa.”
Dia menoleh ke arahku, dan matanya merah, dan dia sedang tersenyum dengan cara yang tidak cocok dengan matanya.
“Bum, hari itu hujan,” katanya.
“Hari yang mana.”
“Yang kamu pulang basah kuyup.” Dia menggenggam tali tasnya. “Aku nggak inget hari yang mana. Aku nggak bisa inget. Aku udah muter di kepala aku dari tadi dan aku nggak tau itu hari apa.”
“Aurora—“
“Berapa kali, Bum?”
“Apa?”
“Berapa kali kamu pulang basah kuyup gara-gara aku?”
Aku memandangi jendela bus.
Aku tahu angkanya. Tentu saja aku tahu angkanya. Aku tahu angka semua hal.
“Aurora.”
“Berapa kali.”
“Gue nggak akan jawab itu.”
“Kenapa?”
“Karena kalau gue jawab, lo bakal nyimpen angkanya,” kataku. “Dan lo bakal ngitungin diri lo sendiri pakai angka itu selama sepuluh tahun.”
Dia diam.
Bus berhenti di halte. Orang naik, orang turun.
“Bum.”
“Hm.”
“Kamu tau nggak sih kamu tuh selalu ngelindungin aku bahkan dari hal yang harusnya aku tanggung.”
“Iya,” kataku. “Gue tau.”
“Itu nggak sehat.”
“Gue tau.”
“Kamu bilang kamu bakal ngomong kalau kamu nyadar lagi ngelakuinnya.”
Aku menoleh.
Dia sedang menatapku, dan dia benar, dan aku baru saja melanggar satu-satunya janji yang kubuat di taman itu tiga minggu lalu.
Aku menarik napas.
“Dua puluh satu,” kataku.
Dia menutup mulutnya.
“Dua puluh satu kali gue pulang basah,” kataku, “karena payung kedua udah nggak ada.”
Dia menangis di bus.
Dan aku memegang tangannya dan tidak minta maaf, karena dia yang minta angkanya, dan karena mulai sekarang aku akan memberikan yang dia minta.
Ibuku mengirim pesan malam itu.
Ibu: Bum
Ibu: Aurora tadi bantuin Ibu cuci piring
Ibu: Dia nanya kamu waktu kecil suka apa
aku: Ibu jawab apa
Ibu: Ibu bilang Ibu nggak tau
Ibu: Terus dia diem lama
Ibu: Terus dia bilang “nggak apa-apa Bu, aku juga baru mulai belajar”
Aku membaca pesan itu tiga kali.
Ibu: Bum
Ibu: Kamu jangan kayak Ibu ya
Ibu: Ibu dua puluh dua tahun nggak tau anak Ibu sendiri mau apa karena Ibu nggak pernah nanya
Ibu: Jangan sampai dia harus nebak juga
Aku menaruh ponselku di kasur.
Dan aku duduk di kosan itu cukup lama, dan aku mencoba mengingat kapan terakhir kali ada orang yang menanyakan apa yang kumau, dan jawabannya adalah tiga bulan lalu, di kanopi lab, waktu hujan.
Satu kali. Dua puluh dua tahun.
Aku mengetik balasan dan menghapusnya empat kali sebelum akhirnya mengirim yang paling pendek.
aku: Iya, Bu.
aku: Makasih ya.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah reading
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu