← Latihan Dulu

Chapter Nineteen

Sidang

POV: Bumi

Fandi datang ke kosanku hari Rabu malam membawa dua bungkus keripik, satu kantong plastik berisi minuman, dan sebuah papan tulis kecil yang entah dia dapat dari mana.

“Ini apa.”

“Alat bantu visual.”

“Fan.”

“Duduk.”

“Ini kosan gue.”

“Makanya duduk. Lo tuan rumah, jangan berdiri kayak tamu.”

Aku duduk.

Fandi menaruh papan tulis itu di atas meja, menyandarkannya ke dinding, dan mengeluarkan spidol dari kantongnya.

Dia benar-benar membawa spidol.

“Fandi, lo bawa spidol.”

“Gue selalu siap.”

“Lo nggak pernah siap. Lo lupa bawa kartu ujian dua kali.”

“Itu beda. Itu urusan gue.” Dia membuka tutup spidol dengan mulut. “Ini urusan lo. Urusan lo gue seriusin.”


Dia menulis di papan: APA LO UDAH SELESAI?

“Gue udah selesai.”

“Gue belum nanya.”

“Lo nulis pertanyaannya.”

“Itu judul.” Dia menggarisbawahi. “Judul bukan pertanyaan.”

“Fan—“

“Poin satu.” Dia menulis angka satu. “Tiga tahun lo nggak pernah ngecek dia. Bener?”

“Bener.”

“Gue percaya. Poin satu lolos.”

Dia menggambar centang.

“Poin dua.” Angka dua. “Lo pernah pacaran sama Tara lima bulan dan lo beneran usaha. Bener?”

“Bener.”

“Poin dua lolos.” Centang lagi. “Gue objektif, ya. Gue bukan lagi mau ngerjain lo.”

“Lo lagi mau ngerjain gue.”

“Iya, tapi nanti. Sekarang gue objektif.”

Dia menulis angka tiga.

“Poin tiga. Sabtu kemarin lo di acara komunitas satu jam empat puluh menit. Bener?”

Aku berhenti.

“Lo tau dari mana.”

“Icha.”

“Icha tau dari mana?”

“Aurora.”

Aku memandangi papan tulis itu.

“Aurora ngitung durasi gue di acara.”

“Enggak.” Fandi menunjuk dengan spidol. “Aurora bilang ke Icha ‘dia pulang duluan’. Icha nanya jam berapa. Aurora tau jamnya. Itu beda sama ngitung, tapi itu juga bukan nggak ngitung.”

“Itu kalimat yang nggak berarti apa-apa.”

“Itu kalimat yang berarti banyak banget dan lo tau.” Dia menulis sesuatu. “Lanjut.”


“Poin empat,” katanya. “Ini yang penting.”

Dia menulis di papan, besar-besar:

PAYUNG

Aku menghela napas.

“Fan.”

“Ini bukan bercanda. Ini metodologi.”

“Metodologi payung.”

“Bum, gue serius.” Dia mengetuk papan. “Selama dua tahun terakhir SMA lo bawa dua payung tiap hari. Tiap hari. Ujan, nggak ujan, ramalan apa pun. Gue tau karena gue pernah minjem tas lo buat bawa bola dan gue harus ngeluarin dua payung dulu.”

“Terus?”

“Terus itu bukan kebiasaan. Itu monumen.” Dia menggarisbawahi kata PAYUNG. “Orang bisa bohong soal perasaan. Orang nggak bisa bohong soal isi tas.”

Aku tidak menjawab.

“Sabtu kemarin lo bawa berapa payung?”

“Satu.”

“SATU.” Dia menggarisbawahi tiga kali. “Ini poin lo, Bum. Ini poin terbaik lo. Gue bahkan seneng waktu lo jawab.”

“Terus?”

“Terus poin empat lolos.” Dia menggambar centang paling besar. “Empat dari empat. Secara teknis, lo udah selesai.”

Aku bersandar ke dinding.

“Ya udah kalau gitu.”

“Gue belum selesai.”

“Lo bilang tiga dari tiga.”

“Iya. Terus sekarang bagian gue ngerjain lo.”


Dia membalik papan tulis itu.

Di sisi baliknya sudah ada tulisan. Dia menulisnya sebelum datang.

Ada tiga baris.

1. Lo jalan di sebelah kanan trotoar waktu pulang sendirian

Aku duduk tegak.

“Lo dari mana tau.”

“Gue nggak tau. Gue nebak.” Fandi mengangkat bahu. “Gue nulis tiga tebakan sebelum ke sini. Kalau semuanya salah, gue minta maaf dan gue pulang.”

“Fan.”

“Bener nggak?”

Aku tidak menjawab.

Fandi mengetuk baris kedua dengan spidol.

2. Lo mindahin gelas ke tangan kiri

“Ini nggak masuk akal,” kataku.

“Bener nggak?”

“Itu refleks.”

“BENER NGGAK?”

“...Bener.”

Fandi menutup matanya sebentar, seperti orang yang baru saja menerima kabar yang sudah dia duga tapi tetap tidak dia inginkan.

Lalu dia mengetuk baris ketiga.

3. Lo masih nyimpen kotaknya

Kosan itu sunyi.

Ada suara motor lewat di gang. Ada tetangga sebelah yang televisinya terlalu keras.

“Gue nggak pernah bukanya,” kataku.

“Gue nggak nanya lo buka apa enggak.”

“Tiga tahun. Gue nggak pernah buka sekali pun.”

“Bum.” Fandi menaruh spidolnya di meja. “Gue nanya lo masih nyimpen apa enggak.”

Aku memandang lantai.

“Iya,” kataku.


Fandi duduk di lantai dan bersandar ke kaki meja dan membuka bungkus keripiknya, dan untuk waktu yang cukup lama satu-satunya suara di ruangan itu adalah bunyi keripik.

“Gue mau ngomong satu hal,” katanya akhirnya. “Terus gue nggak akan ngungkit lagi.”

“Ngomong.”

“Lo bukan nggak selesai.”

Aku mengangkat kepala.

“Serius. Gue bukan lagi mau bilang lo masih cinta.” Dia mengunyah. “Gue percaya lo udah berhenti nunggu. Gue percaya lo nggak ngarep. Gue percaya lo bisa liat dia gandengan sama orang dan nggak kenapa-kenapa.”

“Terus masalahnya apa.”

“Masalahnya lo nggak pernah marah.”

Aku mengerutkan kening.

“Marah?”

“Iya. Marah.” Fandi menunjuk ke arahku dengan keripik. “Bum, orang yang patah hati itu marah. Dia marah sama orangnya, atau marah sama dirinya sendiri, atau marah sama nasib, terserah. Terus marahnya abis, terus dia selesai.”

“Gue nggak marah karena nggak ada yang salah.”

“NAH.” Fandi menegakkan badan. “Itu. Itu kalimatnya. Itu kalimat yang lo pakai tiga tahun.”

“Karena itu bener. Dia nggak tau. Dia nggak salah apa-apa.”

“Dia nggak salah. Lo yang salah.”

“Gue—“

“Lo yang milih diem, lo yang milih dateng tiap Rabu, lo yang milih ngajarin dia sampai jago, lo yang milih ngomong di malam terakhir waktu lo tau seratus persen dia bakal nganggep itu latihan.” Fandi berhenti untuk bernapas. “Semua itu keputusan lo. Semua. Dan lo nggak pernah sekali pun marah sama diri lo sendiri buat itu.”

Aku tidak menjawab.

“Lo malah bangga,” katanya, lebih pelan. “Lo nyebutnya logis.”

Televisi tetangga sebelah berganti acara.

“Terus gue harus gimana,” kataku.

“Gue nggak tau.”

“Lo bawa papan tulis dan lo nggak tau?”

“Gue bawa papan tulis biar lo nggak bisa ngalihin pembicaraan. Itu doang tujuannya.” Fandi menutup bungkus keripiknya. “Gue nggak punya solusi, Bum. Gue cuma nggak mau lo mikir bahwa nggak sakit itu sama dengan udah sembuh.”

Aku memandangi papan tulis itu. Tiga baris di satu sisi, empat centang di sisi lain.

“Fan.”

“Hm.”

“Kalau gue marah,” kataku, “terus gimana?”

Fandi mengangkat kepalanya.

“Maksudnya?”

“Lo bilang orang patah hati itu marah, terus marahnya abis, terus dia selesai.” Aku menunjuk papan. “Oke. Anggap gue marah sekarang. Anggap gue marah sama diri gue sendiri buat semua keputusan itu. Terus apa? Keadaannya berubah?”

“Enggak.”

“Nah.”

“Tapi lo berubah.”

“Jadi apa?”

Fandi memikirkannya cukup lama, dan itu jarang terjadi.

“Jadi orang yang nggak bakal ngulang,” katanya.

Aku diam.

“Itu bedanya, Bum. Orang yang sembuh sama orang yang cuma kebal.” Dia mengumpulkan spidolnya. “Yang sembuh nggak bakal ngulang. Yang kebal bakal ngulang persis sama, karena dia mikir dia kuat nahan.”

“Gue nggak akan ngulang.”

“Bum, lo semalem ngerjain dokumentasi tim lain sampe jam berapa?”

Aku tidak menjawab.

“Jam berapa.”

“Setengah tiga.”

Fandi menaruh spidol terakhirnya ke dalam kantong, menutup kantongnya, dan menatapku.

“Empat dari empat,” katanya. “Selamat ya.”


Dia menginap malam itu karena hujan.

Sebelum tidur, dari lantai, dia bicara sekali lagi tentang papan tulis.

“Bum, gue mau minta maaf soal satu hal.”

“Yang mana.”

“Poin nomor tiga.” Dia berbalik menghadap tembok. “Yang kotak. Gue nggak berhak nanya itu.”

“Lo nanya, gue jawab.”

“Iya, tapi gue nanya karena gue mau menang debat.” Suaranya makin pelan. “Itu beda sama nanya karena gue peduli. Gue baru sadar pas lo jawab.”

“Nggak apa-apa.”

“Nah itu.”

“Apa?”

“‘Nggak apa-apa’.” Fandi tertawa pendek, tanpa suara. “Lo tau nggak, itu kalimat lo yang paling sering. Gue pernah ngitung sekali. Sehari lo bisa bilang itu enam kali.”

“Lo ngitung?”

“Sekali doang. Gue bosen.” Dia menguap. “Terus gue berhenti karena gue jadi sedih.”


Jam satu pagi, dengan suara orang yang setengah tidur, dia bicara lagi.

“Bum.”

“Hm.”

“Kalau nanti dia dateng ke lo,” katanya, “jangan langsung iya.”

“Dia nggak akan dateng.”

“Gue tau. Gue ngomong seandainya.”

“Kenapa jangan langsung iya?”

Fandi menguap.

“Karena lo udah tiga tahun jadi orang yang selalu bilang iya,” katanya. “Dan gue pengen sekali aja, sekali doang seumur hidup, lo bikin orang lain yang nungguin.”

Dia tertidur sekitar dua menit kemudian.

Aku berbaring menghadap langit-langit dan tidak tidur sampai jam tiga, dan aku memikirkan banyak hal, dan tidak satu pun dari hal-hal itu adalah rencana.