← Latihan Dulu

Chapter Fourteen

Yang Tidak Dia Mau

POV: Aurora

Aku berhasil hari Senin.

Aku ingat detailnya sedikit sekali, yang aneh, karena aku menyiapkannya selama sebelas bulan. Aku ingat lantai koridor depan ruang OSIS. Aku ingat aku mengucapkan naskahku persis seperti yang kulatih, tanpa satu kata pun meleset. Aku ingat Kak Bagas diam sekitar dua detik.

Lalu dia tertawa — dari perut, seperti catatan di halaman ketiga bukuku — dan bilang dia sebenarnya sudah mau bilang duluan dari bulan lalu tapi takut mengganggu ujianku.

Dan itu saja. Sebelas bulan, empat puluh tiga sesi, dan penyelesaiannya cuma butuh empat puluh detik.

Aku menelepon Bumi jam lima sore.

“Diterima,” kataku.

“Selamat.”

“Bum, aku—“ Aku tertawa dan hampir menabrak orang di trotoar. “Aku nggak ambruk! Aku berdiri terus sampai selesai! Aku bahkan nggak lupa napas di paragraf ketiga!”

“Bagus.”

“Kamu di mana? Aku mau traktir.”

“Lagi di rumah.”

“Besok?”

“Besok gue ada les.”

“Lusa?”

Ada jeda kecil.

“Nanti gue kabarin,” katanya.

Aku menutup telepon sambil masih tersenyum, dan aku tidak memikirkan jeda kecil itu sama sekali, dan aku baru menghitungnya tiga tahun kemudian: dua puluh dua hari. Itu jarak dari telepon itu sampai aku bertemu dia lagi.

Dua puluh dua hari, dan aku tidak menyadarinya waktu itu, karena aku sedang sibuk berpacaran.


Bulan pertama itu bagus.

Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena nanti akan ada bagian yang tidak bagus dan aku tidak mau curang. Kak Bagas orang yang menyenangkan. Dia mengantar, dia menunggu, dia mengirim pesan selamat pagi yang tidak dibuat-buat. Dia mengenalkanku ke teman-temannya dan mereka semua menerimaku dengan hangat.

Semua orang bilang kami serasi.

Yang tidak kuceritakan ke siapa pun adalah bahwa aku tidak pernah gugup.

Sekali pun. Bukan waktu pertama kali dia menggenggam tanganku di parkiran, bukan waktu kami nonton berdua, bukan waktu dia mengantarku sampai depan rumah dan berdiri agak lama di gerbang.

Aku menganggap itu bukti latihanku berhasil.

Empat puluh tiga sesi. Tentu saja aku nggak gugup. Aku udah kebal.

Itu penjelasan yang kupakai selama tiga tahun, dan itu penjelasan yang paling nyaman yang pernah kubuat untuk diriku sendiri.


Masalahnya datang di minggu kelima.

Kak Bagas mengantarku pulang, berhenti di gerbang, dan berdiri agak lama. Lebih lama dari biasanya. Dan aku tahu — semua orang tahu — apa artinya berdiri lebih lama dari biasanya di gerbang.

Aku bilang selamat malam dan masuk ke rumah dengan kecepatan yang tidak wajar.

Malamnya aku tidak bisa tidur.

Bukan karena aku tidak mau. Karena aku tidak tahu caranya, dan aku belum pernah, dan pikiran bahwa aku akan berdiri di sana dan salah — salah miring, salah waktu, salah cara — membuatku ingin masuk ke dalam lemari.

Aku mengambil ponselku jam setengah dua belas.

Aku ingin menuliskan di sini bahwa aku berpikir panjang. Aku ingin menuliskan bahwa aku menimbang-nimbang, bahwa aku sempat ragu.

Aku tidak.

Aku mengetik pesannya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, karena selama sebelas bulan setiap kali ada hal yang tidak kubisa, ada satu orang yang kuhubungi, dan tanganku sudah hafal.

aku: bum
aku: aku butuh satu sesi lagi

Balasannya datang dua puluh menit kemudian. Lama sekali untuk ukuran dia.

Bumi: Materi apa.

aku: ciuman

Aku menatap layar itu selama sepuluh menit.

Centangnya biru. Tidak ada yang mengetik.


Dia membalas pagi harinya dengan satu kata.

Bumi: Enggak.

Aku mengetik cepat.

aku: kamu selalu bilang enggak dulu
aku: terus alasannya apa?

Butuh satu jam sebelum ada balasan.

Bumi: Nggak ada.

aku: nah kalau nggak ada alasannya berarti bisa dong

Bumi: Enggak.


Aku mencegatnya hari Kamis di perpustakaan.

Dia sedang duduk di kursi kiri, meja ujung dekat rak referensi, dan kursi kanan kosong seperti sudah kosong selama satu bulan.

Aku duduk di situ.

“Bum.”

“Hm.”

“Kenapa enggak?”

Dia menutup bukunya. Aku menunggu penjelasan panjang — dia selalu punya penjelasan panjang, tiga kalimat yang menghancurkan argumenku dari akarnya, aku sudah menyiapkan diri untuk itu.

“Nggak kenapa-kenapa,” katanya. “Gue nggak mau.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban.”

“Bum, ini sama kayak yang lain. Kamu mau pegangan tangan, kamu mau peluk, kamu mau meranin dia nolak aku sampe aku nangis—“

“Iya.”

“Terus kenapa yang ini enggak?”

Dia tidak menjawab.

Dan aku — dan aku ingin sekali menulis bagian berikutnya dengan cara lain, tapi aku sudah janji ke diriku sendiri untuk tidak curang — aku marah.

“Kamu tau nggak sih aku sepanik apa?” Suaraku naik, dan penjaga perpustakaan melihat ke arah kami. “Aku nggak bisa tidur tiga malem. Aku beneran nggak tau harus gimana. Kamu satu-satunya orang yang bisa aku mintain tolong dan kamu—“

“Aurora.”

“Kenapa yang ini enggak?!”

“Karena gue bukan dia,” katanya.

Aku berhenti.

Suaranya tidak naik. Itu yang membuatku berhenti. Suaranya rata dan pendek dan pelan, dan dia mengucapkannya sambil menatap meja.

“Aku tau kamu bukan dia,” kataku. “Ini kan latihan.”

“Iya.”

“Ini latihan doang, kan? Kayak yang lain.”

Dia mengangkat kepalanya.

Dan aku melihatnya — aku bersumpah aku melihatnya, dan selama tiga tahun aku meyakinkan diriku bahwa aku salah lihat — ada satu detik di mana dia hampir mengatakan sesuatu. Mulutnya terbuka sedikit. Dadanya naik.

Lalu dia menutupnya.

“Iya,” katanya. “Latihan doang.”

“Terus kenapa—“

“Gue nggak mau, Aurora.” Dia memasukkan bukunya ke tas. “Gue nggak punya alasan yang bisa gue kasih ke lo. Gue cuma nggak mau.”

“Kamu selalu mau.”

“Iya,” katanya. “Gue tau.”

Dia berdiri.

“Bum.”

“Selamat ya. Sama Kak Bagas.”

“Bumi—“

Dia sudah jalan ke pintu.


Aku menangis di kamar mandi perpustakaan selama sekitar sepuluh menit, dan yang paling membuatku marah adalah bahwa aku tidak tahu kenapa aku menangis.

Dia menolak satu permintaan. Satu. Dari puluhan yang dia kabulkan.

Aku menghitungnya waktu itu, di lantai kamar mandi, dengan cara yang paling tidak adil: empat puluh tiga sesi, dan aku menangis karena yang keempat puluh empat ditolak.

Icha menemukanku dan duduk di lantai di sebelahku dan tidak bertanya apa-apa selama lima menit.

“Dia nolak,” kataku akhirnya.

“Aku denger.”

“Aku cuma minta bantuan.”

Icha tidak menjawab.

“Cha.”

“Hm.”

“Kamu nggak mau bilang apa-apa?”

Dia memandangi ubin di depan kami.

“Nggak,” katanya. “Aku janji sesuatu ke diri aku sendiri.”


Kami tidak berbaikan.

Bukan karena bertengkar besar. Justru karena tidak. Kalau kami bertengkar, akan ada yang harus diselesaikan, akan ada permintaan maaf, akan ada momen di mana salah satu mengirim pesan panjang jam dua pagi.

Yang terjadi adalah kami jadi sopan.

Aku menyapa dia di koridor dan dia membalas. Aku duduk di kursi kanan sekali lagi di bulan Mei dan kami mengobrol dua puluh menit tentang ujian, dan itu obrolan yang baik-baik saja, dan itu obrolan orang yang tidak saling kenal.

Dua bulan terakhir SMA lewat seperti itu.


Hari kelulusan, aku mencarinya.

Aku mencarinya selama empat puluh menit di antara ratusan orang berkebaya dan berjas dan orang tua yang memotret, dan aku menemukannya di belakang gedung, sendirian, sedang melepas dasi.

“Bum.”

“Hai.”

“Kamu ke mana aja? Aku nyariin.”

“Di sini.”

Kami berdiri di situ. Ada suara musik dari lapangan. Ada orang berteriak nama seseorang dari jauh.

“Kamu masuk mana?” tanyaku.

“Teknik. Yang di utara.”

“Aku di timur.”

“Gue tau.”

“Kamu tau dari mana?”

“Fandi.”

Bohong. Aku tahu itu bohong tiga tahun kemudian, waktu aku melihat sebuah file bernama JADWAL MINGGUAN — v5.

“Bum.” Aku menggenggam tali tasku dengan dua tangan. “Aku minta maaf soal yang waktu itu.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku maksa. Aku selalu maksa kamu.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu selalu bilang gitu.”

“Karena itu bener.”

Aku menunggu dia mengatakan sesuatu yang lain. Aku berdiri di sana dan menunggu, dan aku tidak tahu apa yang kutunggu, dan dia tidak mengatakannya.

“Kita masih temenan kan?” tanyaku.

Dan aku melihat wajahnya berubah — cepat sekali, setengah detik, lalu kembali.

Aku baru mengerti kenapa tiga tahun kemudian. Aku mengucapkan kalimat yang persis sama dengan kalimat yang dia ucapkan padaku di taman, waktu dia memerankan orang yang menolakku.

“Iya,” katanya.

Lalu dia mengangguk sekali, dan berbalik, dan berjalan ke arah lapangan.

Aku tidak melihatnya lagi selama tiga tahun.