← Latihan Dulu

Chapter Thirty Five

Halus

POV: Aurora

Icha bilang aku harus lebih halus.

“Ra, kamu tuh kayak truk.”

“Aku bukan truk.”

“Kamu bilang ke dia ‘gulung lengan baju kamu’ di kosan sendiri jam delapan malam.”

“Itu konteksnya panas.”

“Kipasnya nyala, Ra. Kamu cerita sendiri kipasnya nyala.”

Aku menutup wajah dengan bantal.

“Cha, aku nggak tau caranya.”

“Caranya apa?”

“Halus.” Aku menurunkan bantalnya. “Aku nggak pernah belajar yang itu. Aku belajar cara nyapa, cara manggil nama, cara pegangan tangan. Nggak ada sesi ‘cara ngegoda dengan anggun’.”

“Ya karena gurunya nggak akan sanggup.”

“CHA.”

“Aku cuma nyampein fakta.” Icha menggulung rambutnya. “Coba deh. Seminggu. Kamu jadi cewek misterius yang tenang.”

“Aku bisa.”

“Kamu nggak bisa.”

“Aku BISA.”


Hari pertama misi halus.

Kami di perpustakaan kampusnya, lantai empat, meja ujung dekat rak jurnal.

Aku duduk di kursi kanan dan tidak bicara selama dua puluh menit.

Ini bagian dari strategi. Icha bilang perempuan misterius itu tidak banyak bicara. Perempuan misterius membaca buku dan sesekali tersenyum kecil ke arah tidak ke mana-mana.

Aku membaca buku.

Aku tersenyum kecil ke arah tidak ke mana-mana.

Di menit kedua puluh dua, dia menutup laptopnya.

“Lo kenapa.”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Lo diem dua puluh dua menit.”

“Aku lagi baca.”

“Bukunya kebalik.”

Aku memandangi bukuku.

Bukunya kebalik.

“Aku tau,” kataku.

“Aurora.”

“Aku lagi baca dari arah lain.”

Dia memandangiku selama beberapa detik dengan ekspresi yang sudah kuhafal, yang berarti dia sedang memutuskan apakah akan menyerang atau membiarkan.

“Oke,” katanya, dan kembali ke laptopnya.

Aku duduk di sana dengan buku terbalik dan perasaan kalah yang sangat spesifik.


Hari kedua.

Icha bilang perempuan misterius tidak langsung membalas pesan.

Jadi waktu dia mengirim pesan jam tujuh pagi, aku tidak langsung membalas.

Bumi: Pagi.

Aku menatap layar selama tiga menit sesuai rencana.

Bumi: Lo udah bangun.

Aku menatapnya lagi.

Bumi: Lo online.

Bumi: Aurora, gue bisa liat “sedang mengetik” muncul terus ilang tiga kali.

aku: PAGI

Bumi: Lo lagi apa.

aku: gapapa

aku: lagi sibuk

Bumi: Lo baru bangun dua menit lalu.

aku: kok tau

Bumi: Lo kalau baru bangun, huruf besarnya nggak konsisten.

Aku melempar ponselku ke bantal dan berteriak.


Hari ketiga.

Aku menyerah pada strategi dan kembali jadi truk.

Kami jalan ke halte sore-sore. Dia pindah ke sisi kanan seperti biasa.

“Bum.”

“Hm.”

“Aku gagal jadi misterius.”

“Gue tau.”

“Kamu tau?”

“Lo baca buku kebalik selama dua puluh dua menit.” Dia memindahkan tas. “Terus lo nggak bales pesen gue tiga menit terus lo kirim ‘PAGI’ pakai huruf besar semua.”

“Itu strategi.”

“Itu penderitaan.”

“BUM.”

Dia berhenti jalan.

Kami di trotoar dekat halte, matahari sudah miring, ada tukang gorengan di seberang.

“Aurora.”

“Apa.”

“Kenapa lo mau jadi halus?”

“Karena aku kelewatan.”

“Menurut siapa?”

“Menurut aku.” Aku memegang tali tasku. “Bum, aku nggak berhenti. Aku ngomong hal-hal yang harusnya nggak diomongin di kantin. Aku dateng ke kosan kamu jam sebelas malem. Aku—“

“Aurora.”

“Aku takut kamu capek.”

Dia diam.

Dan aku berdiri di trotoar itu dan menyadari bahwa aku baru saja mengatakan hal yang sebenarnya, yang sudah kusimpan sejak hari pertama, dan aku bahkan tidak merencanakan untuk mengatakannya.

“Aku takut kamu capek sama aku,” kataku. “Kayak, kamu udah enam tahun sabar. Terus sekarang aku dateng dan aku nggak ada remnya sama sekali dan aku takut suatu hari kamu bangun terus mikir ‘kok berisik banget’.”

Dia memandangiku.

Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.

Dia mengangkat tangannya dan meletakkan telapaknya di puncak kepalaku, sekali, dan menekannya sedikit.

“Aurora.”

“Apa.”

“Enam tahun gue duduk di sebelah orang yang berisik,” katanya. “Itu bagian yang gue suka.”

Aku menunduk.

“Bum.”

“Hm.”

“Kamu nggak boleh ngomong gitu di trotoar.”

“Kenapa.”

“Karena ada tukang gorengan.”


Hari keempat.

Aku mencoba sekali lagi, karena aku keras kepala.

Icha bilang perempuan misterius punya “aura tenang”. Jadi aku datang ke kampusnya dengan aura tenang.

“Hai,” kataku, dengan suara setengah oktaf lebih rendah.

Dia mengangkat kepalanya dari laptop.

“Lo sakit?”

“Enggak.”

“Suara lo aneh.”

“Ini suara aku.”

“Bukan.”

“Bum, ini suara aku.”

“Aurora, gue hafal suara lo di tujuh puluh sembilan jam rekaman.”

Aku berdiri di depan mejanya dan menyerah untuk selamanya.

“Ya udah,” kataku, dengan suara normal. “Aku gagal.”

“Gagal apa?”

“Nggak usah tau.”

Reno lewat dan berhenti.

“Kak Aurora tadi ngomongnya kenapa?”

“RENO.”


Hari kelima.

Aku akhirnya mengerti sesuatu, dan aku mengerti di tempat yang paling tidak romantis: antrean fotokopi.

Kami mengantre di belakang tujuh orang. Dia memegang setumpuk berkas skripsiku. Aku memegang ponsel.

Dan aku menyadari bahwa aku sedang tidak melakukan apa-apa.

Tidak menyusun kalimat. Tidak memikirkan bagaimana aku terlihat. Tidak mengecek apakah aku sudah bicara terlalu banyak.

Aku cuma berdiri di antrean fotokopi di sebelah seseorang.

“Bum.”

“Hm.”

“Aku baru sadar sesuatu.”

“Apa.”

“Aku nggak pernah gugup sama kamu.”

Dia menoleh.

“Bukan yang itu,” kataku cepat. “Bukan yang kayak Kak Bagas. Itu beda.”

“Beda gimana.”

Aku memikirkannya di antrean fotokopi.

“Sama Kak Bagas aku nggak gugup karena nggak ada taruhannya,” kataku. “Sama kamu aku gugup terus. Tapi gugupnya bukan yang bikin aku nggak bisa ngomong. Gugupnya yang bikin aku ngomong kebanyakan.”

Dia diam.

“Bum?”

“Gue lagi mikir.”

“Mikirin apa?”

“Mikirin bahwa lo baru aja ngejelasin bedanya dua jenis gugup lebih bagus dari semua buku yang pernah gue baca.”

“Kamu selalu bilang buku.”

“Iya,” katanya. “Dan lo nggak pernah nanya buku apa.”

“Buku apa?”

Antrean maju satu.

“Nggak ada,” katanya. “Gue ngarang. Enam tahun.”

Aku menoleh secepat orang yang mendengar kaca pecah.

“KAMU NGARANG?”

“Ssst.”

“BUM, KAMU NGARANG ENAM TAHUN?”

“Aurora, ini fotokopian.”

“Semua yang kamu bilang tentang gugup dan sopan dan kasihan itu—“

“Itu gue mikir sendiri.” Dia menaruh berkasnya di meja fotokopi. “Gue nggak baca buku apa pun soal itu. Gue cuma punya banyak waktu buat mikirin satu orang.”

Mas fotokopi bertanya berapa rangkap.

Aku tidak bisa menjawab.

Dia yang menjawab. Tiga rangkap. Jilid spiral. Dia sudah tahu.


Malamnya aku mengirim pesan ke Icha.

aku: cha
aku: aku gagal jadi halus

Icha: aku tau
Icha: fandi udah cerita

aku: FANDI TAU?

Icha: bumi cerita ke fandi
Icha: dia bilang “dia baca buku kebalik dua puluh dua menit terus dia bilang lagi baca dari arah lain”
Icha: fandi ketawa sampai batuk

aku: aku pengen mati

Icha: ra

aku: apa

Icha: fandi bilang bumi ceritanya sambil senyum
Icha: fandi bilang dia belum pernah liat bumi cerita apa pun sambil senyum

Aku membaca pesan itu dan menaruh ponselku di dada dan berbaring memandangi langit-langit kosan.

Aku tidak pernah perlu latihan untuk yang satu ini.

Aku cuma perlu berhenti mencoba jadi orang yang lebih baik daripada aku.


Aku mengirim satu pesan lagi sebelum tidur.

aku: bum

Bumi: Hm.

aku: aku nggak akan jadi halus

Bumi: Gue tau.

aku: kamu nggak keberatan?

Butuh dua menit.

Bumi: Aurora, gue enam tahun jadi orang yang halus.

Bumi: Gue diem, gue nggak minta apa-apa, gue nggak pernah ngerepotin siapa pun.

Bumi: Dan itu bikin gue kehilangan lo selama enam tahun.

Bumi: Jangan jadi gue.

Aku membaca empat pesan itu dan menaruh ponselku menghadap ke bawah dan menekan dua tangan ke mataku.

Empat kata di baris terakhir.

Aku pernah menulis empat kata untuknya, sekali, enam tahun lalu, dan dia menuliskannya di buku tulis dan menyimpannya di dalam kotak selama enam tahun.

Sekarang dia mengirimkan empat kata kembali padaku, dan artinya kebalikannya persis.