Chapter Forty Three
Tiga Puluh Dua Halaman
POV: Bumi
Kami bertemu Kak Bagas di wisuda.
Bukan wisudaku — wisudanya Reno, dua bulan setelah kami mulai kerja. Reno mengundang setengah kota dan Kak Bagas kebetulan mengenal keluarganya lewat komunitas.
Dia melihat kami dari seberang halaman dan melambai.
Aurora menegang di sebelahku. Aku merasakannya lewat tangan.
“Bum—“
“Nggak apa-apa.”
“Kamu mau pergi?”
“Enggak.”
Kak Bagas datang dengan senyum yang sama seperti enam tahun lalu, dan menyalamiku dengan dua tangan, dan bilang, “Wah. Kalian.”
“Kak.”
“Aku denger dari Fandi.” Dia menoleh ke Aurora. “Ra, apa kabar?”
“Baik, Kak.”
“Kerja di mana sekarang?”
Percakapannya berlangsung enam menit dan seluruhnya sopan dan hangat dan tidak ada satu pun yang aneh.
Sebelum pergi, dia menepuk bahuku.
“Bumi.”
“Iya, Kak.”
“Aku seneng banget,” katanya, dan dia benar-benar terdengar seperti orang yang senang. “Serius. Aku nggak tau kenapa, tapi waktu aku denger, aku ngerasa ‘oh, ya udah bener’.”
Lalu dia pergi mencari keluarga Reno.
Aku berdiri di halaman itu dan Aurora menggenggam tanganku lebih erat, dan aku bilang tidak apa-apa lagi, dan aku benar-benar berpikir aku tidak apa-apa.
Tiga hari kemudian aku tidak bisa tidur.
Bukan karena Kak Bagas. Aku ingin jelas soal itu — aku tidak cemburu, tidak marah, tidak apa pun.
Yang tidak bisa kuusir adalah satu kalimat.
Aku nggak tau kenapa, tapi waktu aku denger, aku ngerasa ‘oh, ya udah bener’.
Ya udah bener.
Seperti sesuatu yang akhirnya kembali ke tempatnya. Seperti barang yang salah taruh dan akhirnya dipindahkan.
Dan aku berbaring di kasur jam dua pagi dan berpikir, dengan sangat jernih dan sangat dingin:
Yang bener itu apa?
Apakah yang bener itu gue, atau yang bener itu gue yang kebagian setelah semuanya selesai.
Aku tidak bercerita.
Empat hari.
Dan aku tahu persis apa yang sedang kulakukan, dan aku bahkan sempat menyadarinya di hari kedua, dan aku tetap tidak bercerita.
Hari kelima dia datang ke kosanku dan berdiri di ambang pintu.
“Bum.”
“Hm.”
“Kamu lagi ngelakuinnya.”
Aku mengangkat kepala dari laptop.
“Ngelakuin apa.”
“Yang kamu janjiin bakal kamu omongin kalau kamu nyadar kamu lagi ngelakuinnya.”
Aku menutup laptopku.
Dia duduk di lantai, di seberangku, dan tidak melepas tasnya.
“Lima hari kamu bales pesen dalam tiga puluh detik,” katanya. “Biasanya lima. Kamu nggak nelepon Jumat malem padahal kamu selalu nelepon Jumat malem. Kemarin kamu bilang ‘nggak apa-apa’ empat kali.”
“Lo ngitung.”
“Bum.”
Aku memandangi lantai.
“Aurora, ini bukan apa-apa.”
“Ya udah, ceritain yang bukan apa-apa.”
Jadi aku bercerita.
Aku menceritakannya dengan buruk, dengan kalimat yang berhenti di tengah, dengan urutan yang salah. Aku tidak biasa melakukan ini.
Aku bilang aku tidak cemburu.
Aku bilang aku percaya padanya.
Aku bilang bahwa yang membuatku tidak bisa tidur bukan Kak Bagas sama sekali, tapi satu pikiran yang selalu ada di belakang kepalaku sejak umur lima belas dan tidak pernah benar-benar hilang:
Bahwa aku adalah hal yang dia temukan, bukan hal yang dia pilih.
“Gue tau itu nggak adil,” kataku. “Gue tau lo dateng ke kampus gue enam bulan. Gue tau semuanya. Gue punya semua datanya.”
“Terus?”
“Terus tetep aja,” kataku. “Jam dua pagi, datanya nggak ngaruh.”
Dia diam cukup lama.
Aku sudah menyiapkan diri untuk dihibur. Itu yang biasanya terjadi. Orang akan bilang tidak, kamu bukan begitu, aku memilihmu, kamu penting.
Kalimat-kalimat yang bagus dan tidak bisa diperiksa.
Dia tidak melakukan itu.
Dia membuka tasnya.
Yang dia keluarkan adalah buku tulis.
Sampulnya biru, sudah lecek, dengan sudut yang tertekuk dan pita perekat di punggungnya yang sudah menguning.
Dia menaruhnya di lantai di antara kami.
“Apa itu.”
“Buka.”
“Aurora—“
“Bum, buka.”
Aku mengambilnya.
Halaman pertama bertanggal. Tulisan tangannya yang enam tahun lebih muda, lebih bulat, dengan huruf yang lebih besar.
Sesi 1.
Bumi dateng duluan. Dia bilang 20 menit tapi kayaknya lebih.
Dia nggak protes sama sekali. Padahal harusnya protes.
Note: cari tau dia suka apa biar aku bisa balas budi.
Aku membalik halaman.
Sesi 2.
Dia inget aku suka roti cokelat. Itu 2 tahun lalu.
Aku nggak inget dia suka apa.
Note: TANYA.
(nggak jadi nanya)
Aku membalik lagi.
Sesi 4.
Dia nulis sesuatu di margin lembar rubrik tiap sesi. Nggak boleh dibaca.
Aku penasaran 1 detik terus lupa.
Kenapa aku selalu lupa penasaran soal dia?
Aku berhenti.
“Berapa halaman ini.”
“Tiga puluh dua.”
Aku mengangkat kepala.
“Tiga puluh dua,” katanya. “Catatan tentang Kak Bagas sembilan halaman dan berhenti di halaman tujuh.”
“Aurora—“
“Icha yang ngitung,” katanya. “Tahun pertama. Dia nunjukin ke aku dan aku bilang ‘itu beda’ dan aku nggak tau bedanya apa.”
Aku membaca sisanya di lantai kosanku selama sekitar empat puluh menit sementara dia duduk di seberangku dan tidak bicara.
Sesi 9.
Aku keceplosan manggil nama tengahnya. Aku nggak tau kenapa itu yang keluar.
Aku minta maaf berkali-kali. Dia bilang nggak apa-apa.
Aku maunya dia marah. Kenapa?
Sesi 14.
Hari ini aku nggak mikirin Kak Bagas sama sekali selama 3 jam.
Aku sadar pas di bus.
Aku nggak nyeritain ini ke Icha.
Sesi 20.
Bumi bilang “gue emang inget hal yang lo bilang” terus dia buru-buru nambahin soal sepatu Fandi.
Kenapa dia buru-buru?
Aku mikirin ini 2 hari.
Sesi 31.
Aku hampir bilang ke Bumi aku nggak yakin lagi sama Kak Bagas.
Terus aku nggak jadi.
Aku nggak tau kenapa aku nggak jadi.
Aku menutup buku itu.
Aku duduk di lantai kosanku dan memegang buku tulis bersampul biru dan tidak bisa bicara selama entah berapa lama.
“Bum.”
“Hm.”
“Aku nggak bawa ini buat bikin kamu terharu,” katanya.
“Gue tau.”
“Aku bawa karena kamu orang yang butuh bukti.” Dia menggeser posisi duduknya. “Kamu bilang jam dua pagi datanya nggak ngaruh. Ya udah. Ini datanya yang lain.”
“Aurora—“
“Bum, aku nulis ini enam tahun lalu.” Suaranya rata dan jelas. “Sebelum aku nemu kotak sepatu. Sebelum aku denger rekaman. Sebelum aku putus. Sebelum aku tau apa-apa.”
Dia menunjuk buku itu.
“Aku nggak lagi bilang aku milih kamu,” katanya. “Aku nunjukin bahwa aku udah milih kamu waktu aku bahkan nggak tau aku lagi milih.”
Aku menaruh buku itu di lantai.
“Kenapa lo nyimpen ini enam tahun?”
“Aku nggak nyimpen,” katanya. “Aku lupa. Ini ada di kardus yang sama sama kotak sepatu.”
“Terus lo nemu pas—“
“Pas kamar aku dicat.” Dia mengangkat bahu. “Aku baca hari itu juga. Habis rubrik.”
“Lo nggak pernah cerita.”
“Enggak.”
“Kenapa?”
Dia memandangi buku biru itu di lantai di antara kami.
“Karena aku nyimpen buat hari kayak hari ini,” katanya.
Aku menoleh.
“Aku tau hari ini bakal dateng, Bum.” Dia menatapku. “Nggak persis. Aku nggak tau bentuknya bakal kayak apa. Tapi aku tau suatu hari kamu bakal bangun jam dua pagi dan mikir kamu cuma kebagian.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Aku enam tahun terlambat,” katanya. “Aku nggak bisa balikin itu. Tapi aku bisa nyiapin satu hal buat hari waktu kamu butuh.”
Aku memegang buku tulis itu dengan dua tangan.
Dan aku menyadari sesuatu yang membuatku hampir tidak bisa bernapas.
Dia menyiapkan sesuatu untukku.
Bertahun-tahun sebelumnya. Untuk hari yang belum datang. Dan dia menyimpannya dan tidak mengatakannya dan menunggu sampai aku membutuhkannya.
Itu hal yang selalu aku lakukan.
Selama enam tahun, itu satu-satunya hal yang aku bisa.
“Aurora.”
“Iya?”
“Lo belajar dari gue.”
Dia menoleh.
Lalu wajahnya berubah, pelan-pelan, seperti orang yang baru menyadari sesuatu bersamaan denganku.
“Ya ampun,” katanya.
“Iya.”
“Aku bawa payung kedua.”
“Iya,” kataku. “Lo bawa payung kedua.”
Dan aku menarik dia ke arahku, dan menciumnya di kening, dan menahan wajahnya di situ cukup lama supaya dia tidak melihat wajahku.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman reading
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu