← Latihan Dulu

Chapter Eleven

Tujuh Belas Kali

POV: Bumi

“Materi terakhir,” katanya.

Aku sedang minum, dan aku menyelesaikan tegukan itu sebelum menaruh gelas.

“Terakhir?”

“Iya. Habis ini aku beneran nembak.” Dia membuka buku catatannya. “Pendaftaran kuliah udah mulai. Kak Bagas lulus tiga bulan lagi. Kalau aku nggak sekarang, ya nggak pernah.”

Tiga bulan.

Aku sudah tahu angka itu. Aku tahu angka itu sejak Januari. Aku bahkan menghitungnya — dua belas Rabu, kalau tidak ada yang batal.

Ternyata sisanya cuma satu.

“Oke,” kataku.

“Kamu nggak nanya apa-apa?”

“Nggak.”

“Biasanya kamu bilang ‘enggak’ dulu.”

“Hari ini enggak.”

Dia menatapku agak lama, dan aku menahan wajahku sekuat yang aku bisa, dan akhirnya dia mengangkat bahu dan membuka halaman baru.

Ini bagian yang tidak akan aku ceritakan ke Fandi: aku sempat bersyukur. Selama sekitar dua detik, aku merasa lega, karena ini artinya selesai. Karena setiap Rabu selama sebelas bulan aku pulang dengan sesuatu yang harus kutelan, dan sekarang akan berhenti.

Lalu detik ketiga datang, dan aku sadar “berhenti” itu artinya apa.


“Aku udah nulis naskahnya,” katanya, menaruh selembar kertas di meja.

Aku membacanya.

Empat paragraf. Ada pembukaan, ada isi, ada penutup. Ada dua kalimat yang dicoret dan ditulis ulang di margin. Di bawah paragraf ketiga ada catatan kecil untuk dirinya sendiri: (tarik napas di sini).

“Ini bagus,” kataku.

“Serius?”

“Serius. Ini bagus banget.”

“Kamu nggak bohong?”

“Gue nggak pernah bohong soal yang beginian.”

Dia tersenyum, dan senyumnya yang itu — yang lepas, yang tidak dia pakai di depan orang lain — dan aku menaruh kertas itu kembali ke meja dan minum lagi.

“Oke,” katanya. “Latihan.”

Dan begitulah aku menghabiskan Rabu terakhirku, di kafe berkopi buruk, mendengarkan seseorang mengucapkan kalimat cinta ke arahku sebanyak tujuh belas kali.

Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.


Satu.

“Kak Bagas, aku—“ Dia berhenti. “Duh.”

“Belum apa-apa.”

“Aku tau.”

Dua.

“Kak Bagas. Aku suka kamu.”

“Terlalu cepat. Lo ngomongnya kayak baca nomor antrean.”

Tiga.

Lebih pelan. Terlalu pelan. Dia berhenti sendiri di tengah dan bilang, “Ini kayak orang mau minta pinjem uang.”

Empat.

“Kak Bagas, aku suka kamu. Udah lama. Aku nggak minta apa-apa, aku cuma pengen kamu tau.”

Aku diam beberapa detik.

“Bagus.”

“Beneran?”

“Bagian ‘aku nggak minta apa-apa’ itu bagus. Itu jujur.”

“Itu emang jujur.”

Aku tahu.

Lima sampai delapan.

Kami mengulanginya dengan variasi. Sambil berdiri. Sambil duduk. Sambil dia menatapku, dan sambil dia menatap meja karena dia bilang menatap mata itu terlalu susah.

“Lo harus natap mata.”

“Kenapa?”

“Karena kalau lo ngomong ke meja, mejanya yang bakal jadian sama lo.”

“BUM.”

Sembilan.

Kali ini dia berhasil menatap mataku dari awal sampai akhir.

“Kak Bagas, aku suka kamu.”

Aku menahan pandanganku di matanya selama empat detik penuh, karena itu yang akan dilakukan orang yang sungguhan, karena itu tugasku.

“Bagus,” kataku.

“Kok muka kamu gitu?”

“Muka gue selalu gini.”

Sepuluh sampai empat belas.

Fandi datang di percobaan kesebelas, tanpa diundang, dengan keripik. Dia duduk di meja sebelah dan mendengarkan tiga percobaan berturut-turut tanpa berkomentar sama sekali — yang untuk Fandi setara dengan berteriak.

Di percobaan kedua belas, Aurora menoleh ke arahnya.

“Fan, menurut kamu gimana?”

“Bagus.”

“Cuma itu?”

“Bagus banget.”

“Kamu biasanya cerewet.”

“Gue lagi khusyuk.”

Aurora tertawa dan kembali ke naskahnya, dan Fandi menatapku dari meja sebelah dengan wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya di wajah Fandi.

Di percobaan keempat belas, dia berdiri dan pergi.

“Fandi mau ke mana?” tanya Aurora.

“Nggak tau.”

“Dia nggak komentar sama sekali.”

“Dia lagi nggak enak badan.”

Aku melihat lewat jendela. Fandi berdiri di trotoar seberang, memegang bungkus keripiknya, tidak makan.

Lima belas.

“Kak Bagas, aku suka kamu. Udah lama banget. Aku nggak minta apa-apa dan aku nggak akan aneh kalau kamu nggak ngerasain hal yang sama. Aku cuma nggak mau lulus tanpa pernah ngomong.”

Kafe itu sunyi selama beberapa detik.

Bapak-bapak koran menurunkan korannya.

Mbak kasir berhenti mengelap gelas.

Ada pasangan di meja pojok yang saling melirik, dan si cewek menyikut si cowok dengan tatapan yang jelas berarti tuh, contoh.

Aku memandangi mereka semua satu per satu, dan aku sadar bahwa mereka semua mengira mereka sedang menonton sesuatu yang manis.

“Itu,” kataku, “sepuluh.”

“Beneran?”

“Sepuluh dari sepuluh. Kalau ada sebelas, gue kasih sebelas.”

Dia menutup wajah dengan dua tangan dan menjerit kecil ke telapaknya sendiri, dan bahunya naik turun, dan aku duduk di depannya dan merasa bangga dengan cara yang tidak bisa kujelaskan ke siapa pun tanpa terdengar seperti orang gila.

Aku yang melatihnya. Sebelas bulan. Dari orang yang rontok di kalimat ketiga.

Dan sekarang dia sempurna, dan kalimat sempurna itu akan diucapkan hari Sabtu, di lapangan basket, ke orang lain.

Enam belas.

“Sekali lagi.”

“Lo udah bisa.”

“Sekali lagi, biar aman.”

Jadi sekali lagi.

Tujuh belas.

Yang terakhir tidak direncanakan.

Kami sudah membereskan tas. Perekam sudah dimatikan — dia mematikannya sendiri, aku melihatnya. Kertas naskahnya sudah dilipat dan dimasukkan ke tas.

Lalu dia berdiri di depanku, dan bilang, dengan suara biasa, tanpa naskah:

“Aku suka kamu.”

Aku berhenti bergerak.

“...Apa?”

“Latihan terakhir.” Dia mengangkat bahu. “Yang ini tanpa nama. Soalnya kata kamu kalau aku terlalu fokus ke namanya, aku bakal kaku. Jadi aku coba tanpa nama.”

“Oh.”

“Gimana?”

Aku memasukkan buku terakhir ke dalam tas dan menutup ritsletingnya, dan aku butuh waktu lebih lama dari yang dibutuhkan untuk menutup ritsleting.

“Bagus,” kataku.

“Cuma bagus?”

“Sempurna.”

“Bum, kamu nggak keliatan seneng.”

“Gue seneng.”

“Muka kamu nggak.”

“Muka gue emang gitu kalau seneng.” Aku menyampirkan tas. “Lo mau gue senyum? Gue bisa senyum.”

“Jangan. Serem.”

“Nah.”

Dia tertawa dan menyampirkan tasnya dan bilang sesuatu tentang doakan aku, dan aku bilang iya, dan dia keluar dari kafe itu dengan langkah yang lebih ringan daripada waktu dia masuk.

Di pintu dia berbalik sekali.

“Bum!”

“Hm.”

“Sebelas bulan ya. Kamu nemenin aku sebelas bulan.”

“Empat puluh tiga sesi.”

“Kamu ngitung?”

“Gue tau.”

Dia menggeleng sambil tersenyum, dan pergi.

Aku duduk di sana sepuluh menit lebih lama.


Fandi masuk dan duduk di kursi yang baru saja kosong.

“Tujuh belas,” katanya.

“Lo ngitung?”

“Gue ngitung.”

Kami duduk berdua di kafe berkopi buruk itu tanpa bicara selama mungkin dua menit.

“Bum.”

“Jangan.”

“Gue belum ngomong apa-apa.”

“Gue tau lo mau ngomong apa.”

“Terus jawabannya apa?”

Aku memandangi meja. Ada bekas cincin gelas di kayunya, dua lingkaran yang saling menimpa di sisi yang sama.

“Sabtu dia nembak,” kataku. “Dan dia bakal diterima. Karena dia dia, dan karena dia latihan sebelas bulan, dan karena Kak Bagas bukan orang bodoh.”

“Terus lo?”

“Terus gue jadi orang yang bikin itu kejadian.”

Fandi membuka bungkus keripiknya, melihat isinya, lalu menutupnya lagi.

“Lo tau nggak sih,” katanya, “kalau yang lo lakuin ini itu nggak mulia. Semua orang bakal ngira ini mulia. Ini enggak. Ini lo ngerusak diri lo sendiri terus lo kasih nama bagus.”

“Gue tau.”

“Lo tau?”

“Gue selalu tau.” Aku menyampirkan tasku. “Itu bagian yang paling nggak enak.”

Kami keluar dari kafe. Ramalannya cerah. Hujan turun sepuluh menit kemudian dan aku punya dua payung, dan yang kedua tidak terpakai, dan aku membawanya pulang basah di tangan yang salah.

Fandi jalan di sebelahku di bawah payung pertama.

“Bum.”

“Hm.”

“Kalau dia diterima Sabtu,” katanya, “lo mau ngapain hari Rabu?”

Aku tidak menjawab.

Karena aku sudah memikirkannya. Aku sudah memikirkannya sejak Januari, setiap malam, dengan cara yang sama seperti aku memikirkan soal fisika.

Rabu adalah blok tiga jam di spreadsheet versi lima, warna hijau muda, dari jam empat sampai jam tujuh, berulang setiap minggu sejak bulan Juni tahun lalu.

Aku belum menghapusnya.

Aku bahkan belum tahu bagaimana caranya menghapus sesuatu yang sudah berulang empat puluh tiga kali tanpa membuat seluruh kalender itu kelihatan kosong.

“Gue belajar,” kataku.

“Belajar apa?”

“Apa aja.”

Fandi tidak bertanya lagi, dan kami jalan sampai perempatan tanpa bicara, dan di perempatan dia belok kiri dan aku belok kanan seperti biasa.