Chapter Forty Two
Latihan Dulu
POV: Aurora
Penginapannya punya dua kamar terpisah karena aku yang memesan dan aku memesannya dua minggu lalu waktu aku masih jadi orang yang berpikir jernih.
“Dua kamar?” katanya, di lobi.
“Iya.”
“Oke.”
“Kamu nggak protes?”
“Kenapa gue protes.”
“Nggak apa-apa.” Aku mengambil kunciku. “Aku cuma mau tau.”
Dia mengambil kuncinya, dan sebelum naik tangga dia berhenti.
“Aurora.”
“Iya?”
“Gue nggak protes karena lo yang mesen,” katanya. “Bukan karena gue nggak mau.”
Lalu dia naik tangga.
Aku berdiri di lobi penginapan kota kecil itu selama sekitar lima belas detik.
Jam sembilan malam ada ketukan di pintuku.
“Bum?”
“Lampu di kamar gue mati.”
Aku membuka pintu.
Dia berdiri di lorong dengan kaus dan celana pendek dan rambut basah dan wajah orang yang sedang menyampaikan laporan teknis.
“Mati gimana?”
“Mati. Sekringnya turun. Gue udah cek.”
“Kamu udah bilang resepsionis?”
“Udah. Katanya tukangnya besok pagi.”
Kami saling memandang di lorong.
“Bum.”
“Gue tidur di lobi.”
“KAMU NGGAK TIDUR DI LOBI.”
“Ada sofa.”
“Sofanya sepanjang satu meter.”
“Gue bisa nekuk.”
“Bumi Asher Arsenio,” kataku, dan aku membuka pintu lebih lebar. “Masuk.”
Dia masuk dan berdiri di tengah kamar dan tidak duduk.
“Bum, duduk.”
“Gue lagi ngukur.”
“Ngukur apa?”
“Lantainya.” Dia menunjuk. “Kalau gue tidur di sini, kepala gue di lemari dan kaki gue di pintu kamar mandi. Itu masih muat.”
“Kamu nggak tidur di lantai.”
“Aurora—“
“Kamu tidur di lantai minggu lalu dan bahu kamu sakit tiga hari dan aku tau karena kamu nggak bisa ngangkat tangan kanan waktu ngambil buku.”
Dia diam.
“Lo merhatiin?”
“Bum.” Aku duduk di tepi kasur. “Aku enam tahun kalah merhatiin sama kamu. Kasih aku kesempatan.”
Kami akhirnya duduk di kasur, dua-duanya, dengan punggung ke kepala ranjang dan jarak yang sangat sopan.
Kami menonton acara televisi lokal yang isinya orang menjual panci.
“Bum.”
“Hm.”
“Ini jam sepuluh malem dan kita lagi nonton orang jualan panci.”
“Iya.”
“Di kota yang nggak ada apa-apanya.”
“Iya.”
“Kamu bosen nggak?”
Dia memikirkannya, yang sudah cukup jadi jawaban.
“Enggak,” katanya.
“Kamu nggak bosen liat orang jualan panci?”
“Gue nggak liat pancinya.”
Aku menoleh.
Dia sedang menatapku, dan sudah menatapku entah sejak kapan, dan aku baru menyadarinya sekarang.
“Bum.”
“Hm.”
“Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu terus muka kamu datar.”
“Muka gue selalu gini.”
“Iya. Itu masalahnya.”
“Aurora.”
“Apa?”
“Lo tau nggak,” katanya, “berapa kali gue kayak gini di perpus SMA?”
Aku berhenti bernapas.
“Kayak gini gimana?”
“Ngeliatin lo dari samping sambil pura-pura baca.” Dia bilang itu dengan nada orang membaca laporan. “Lo selalu duduk di kanan. Gue selalu bawa buku. Bukunya jarang gue baca.”
“Bum.”
“Dua tahun,” katanya. “Tiap hari, jam istirahat kedua.”
Aku memandangi televisi yang masih menjual panci dan tidak melihat apa pun.
“Kamu ngitung?”
“Gue berhenti ngitung di angka tiga ratus,” katanya. “Bukan karena capek. Karena angkanya mulai bikin gue takut sama diri gue sendiri.”
Aku tidak ingat siapa yang bergerak duluan.
Aku benar-benar tidak ingat. Aku sudah mencoba merekonstruksinya berkali-kali dan urutannya selalu berbeda.
Yang kuingat: di suatu titik acara panci itu masih menyala dan aku sudah tidak duduk di sebelahnya lagi.
Aku duduk di pangkuannya.
Dengan dua lutut di kiri kanan dan dua tangan di bahunya dan wajah yang jaraknya kurang dari sepuluh sentimeter, dan tangannya di pinggangku, dan napas kami berdua yang sudah tidak beraturan.
“Aurora.”
“Hm.”
“Gue mau ngomong sesuatu.”
“Jangan.”
“Aurora—“
“Bum, kalau kamu ngomong sekarang kamu bakal ngomong sesuatu yang bener dan aku bakal kalah.”
Dia mengeluarkan suara yang mirip tawa.
“Gue mau bilang lampunya masih nyala.”
Aku menoleh ke lampu.
“Oh.”
“Iya.”
“Aku kira kamu mau ngomong yang bijak.”
“Gue selalu mau ngomong yang bijak,” katanya. “Gue lagi nahan.”
Lampunya dimatikan.
Acara pancinya tidak, karena tidak ada yang ingat.
Dan di tengah kegelapan kamar penginapan kota kecil dengan suara orang menjual panci di latar belakang, aku menempelkan dahiku ke dahinya dan mengucapkan dua kata yang sudah kusimpan selama tiga minggu.
“Latihan dulu?”
Dia berhenti bergerak.
Total.
Dan selama sekitar tiga detik aku benar-benar takut aku sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku.
“Bum—“
“Aurora.”
“Sori. Sori, aku nggak mikir, aku—“
“Ulang.”
Aku berhenti.
“Apa?”
“Ulang,” katanya, dan suaranya sudah berubah jadi sesuatu yang belum pernah kudengar dalam enam tahun. “Bilang lagi.”
Aku menelan.
“Latihan dulu?”
Dan dia bilang, di leherku, dengan suara yang membuat seluruh tubuhku tidak berguna:
“Enggak.”
Aku ingin mencatat, untuk keperluan sejarah pribadi, bahwa aku kalah lagi malam itu dan aku bahkan tidak melawan.
Dan aku juga ingin mencatat bahwa kami tidak melewati batas apa pun.
Itu bagian yang paling tidak masuk akal. Kami di kamar penginapan, di kota yang tidak ada siapa-siapa, dengan pintu terkunci dan lampu mati dan tidak ada satu pun orang di dunia ini yang tahu di mana kami berada.
Dan tidak ada yang terjadi.
Bukan karena dia menahan diri. Bukan karena aku menahan diri.
Karena di suatu titik — aku tidak tahu jam berapa — aku berhenti dan menekan wajahku ke bahunya dan bilang:
“Bum, aku pengen ngomong hal yang nggak seksi sama sekali.”
“Ngomong.”
“Aku pengen nunggu.”
Dia tidak bergerak.
“Bukan karena aturan,” kataku cepat. “Bukan karena orang tua atau agama atau apa pun. Aku bukan lagi ngasih alasan.”
“Terus?”
Aku mengangkat kepalaku.
“Enam tahun kamu nunggu aku dan kamu nggak pernah dapet apa-apa,” kataku. “Aku pengen tau rasanya nunggu sesuatu yang aku yakin bakal aku dapet.”
Kamar itu sunyi kecuali orang yang menjual panci.
“Aurora.”
“Iya?”
“Itu hal paling nggak masuk akal yang pernah gue denger.”
“Aku tau.”
“Dan gue setuju.”
Aku tertawa dan menekan wajahku ke bahunya lagi.
“Bum.”
“Hm.”
“Kamu nggak kecewa?”
“Enggak.”
“Bum, jujur.”
Dia diam beberapa detik.
“Gue kecewa,” katanya.
Aku mengangkat kepalaku.
“Kamu ngaku?”
“Lo nanya langsung.” Dia mengangkat bahu. “Gue selalu ngaku kalau ditanya langsung.”
“Terus kenapa kamu setuju?”
“Karena kecewa itu cuma perasaan,” katanya. “Dan gue udah enam tahun jadi orang yang bisa hidup sama perasaan yang nggak dapet apa-apa. Ini yang paling gampang dari semuanya.”
Aku memukul bahunya.
“Itu nggak lucu.”
“Gue nggak lagi becanda.”
“Aku tau. Makanya nggak lucu.”
Dia memelukku dengan dua tangan, dan kami duduk seperti itu sampai acara pancinya berganti jadi acara lain.
Dia tidur di kasur malam itu, di sisi kanan, dengan jarak satu jengkal dan tangan yang bertaut di antara kami.
Sisi kanan.
Aku menyadarinya waktu dia sudah tidur, dan aku berbaring di gelap dan tertawa tanpa suara sampai bahuku bergetar.
Kasur itu tidak dekat jalan raya. Tidak ada motor di dalam kamar penginapan. Tidak ada apa pun di sisi kanan kecuali dinding dan meja kecil dengan kacamatanya di atasnya.
Dia tetap mengambil sisi kanan.
Aku bangun jam tiga pagi.
Dia sedang tidur menghadapku, dengan mulut sedikit terbuka dan rambut yang berantakan di satu sisi, dan kacamatanya ada di meja.
Aku memandanginya lama sekali.
Dan aku memikirkan satu hal, dengan jelas, di kamar penginapan kota kecil jam tiga pagi:
Enam tahun lalu aku duduk di kafe berkopi buruk dan bertanya kepada orang ini bagaimana caranya membuat seseorang menyukaiku.
Dan dia menjawab semua pertanyaanku, dengan sabar, empat puluh tiga kali.
Dan tidak sekali pun dia bilang: kamu nggak perlu belajar apa-apa. Ada satu orang di kafe ini yang udah suka sama kamu.
Aku menggeser diriku lebih dekat, dan dia bergerak dalam tidurnya, dan tangannya menemukan pinggangku tanpa dia bangun.
“Asher,” bisikku.
Dia tidak bangun.
“Kamu nyebelin banget,” kataku ke orang yang sedang tidur. “Kamu tau nggak sih.”
Dia menarik napas dalam tidurnya dan menarikku lebih dekat.
Aku menutup mataku dan tidur lagi.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu reading
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu