Chapter Two
Anggap Aja Kamu Dia
POV: Aurora
Percobaan kedelapan belas, di depan cermin kamar mandi, jam sebelas malam.
“Kak Bagas, aku suka kamu.”
Wajahku di cermin kelihatan seperti orang yang baru saja disuruh membaca pengumuman kematian. Aku menarik napas dan mengulang, kali ini dengan senyum yang kutempel dari luar.
“Kak Bagas. Aku suka kamu.”
Lebih buruk. Sekarang aku kelihatan seperti orang yang membaca pengumuman kematian sambil berusaha ramah.
Aku menaruh dua tangan di wastafel dan menunduk.
Ini kalimat empat kata. Empat. Anak TK bisa. Kenapa aku nggak bisa.
Yang orang tidak tahu — dan aku sudah menyerah menjelaskannya ke siapa pun — adalah bahwa aku belum pernah melakukan apa pun. Sama sekali. Belum pernah pegangan tangan. Belum pernah ditembak dengan cara yang serius, karena yang mendekat selalu punya urusan lain: mau difoto bareng, mau dikenalin ke temannya, mau bilang ke orang lain bahwa dia pernah ngobrol denganku. Belum pernah ada yang bertanya aku suka apa dan benar-benar menunggu jawabannya.
Semua orang mengira aku sudah lewat semua itu. Mereka menatapku dan langsung memutuskan aku berpengalaman. Mereka tidak pernah cukup dekat untuk tahu bahwa aku ini nol.
Bukan hampir nol. Nol.
Ibuku pernah bilang, waktu aku kelas satu SMP dan pulang menangis karena tidak ada yang mau sekelompok denganku, bahwa orang butuh waktu untuk terbiasa. Aku menunggu bertahun-tahun untuk terbiasa itu datang. Yang datang malah sebaliknya: makin lama, makin banyak orang yang tahu namaku, dan makin sedikit yang bicara denganku lebih dari empat kalimat.
Mereka pikir aku sombong. Aku tidak sombong. Aku cuma tidak pernah tahu apa yang harus dikatakan setelah “hai”, karena tidak ada yang pernah tinggal cukup lama untuk melatihku.
Aku mengangkat kepala dan mencoba sekali lagi.
“Kak Bagas, aku—“
Suaraku hilang di tengah. Bahkan cermin pun tidak menjawab.
“Oke,” kata Icha keesokan harinya, di kantin, sambil menusuk-nusuk es batu di gelasnya. “Aku mau nanya sesuatu dan kamu jangan tersinggung.”
“Aku pasti tersinggung.”
“Bagus, berarti kamu siap.” Dia menaruh gelasnya. “Kamu tuh sebenernya pernah ngobrol sama cowok nggak, sih? Ngobrol beneran. Bukan yang ‘iya’, ‘oh’, ‘makasih’.”
“Aku ngobrol sama cowok tiap hari.”
“Sama Bumi nggak masuk hitungan.”
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
“Kenapa nggak masuk hitungan?”
“Ya karena itu Bumi.” Icha mengangkat bahu seolah dia baru saja menyebutkan hukum alam. “Itu kayak bilang kamu bisa berenang karena kamu pernah mandi.”
Padahal aku ngobrol sama dia dua jam kemarin. Soal spreadsheet nyokapnya. Aku ketawa sampai dikode sama penjaga perpus.
“Terus aku harus gimana?”
“Latihan.”
“Latihan gimana? Aku udah latihan di depan cermin delapan belas kali.”
“Cermin nggak bisa jawab, Aurora.” Icha menunjuk mukaku dengan sedotan. “Kamu bukan gugup sama kalimatnya. Kamu gugup sama orangnya. Jadi yang kamu butuh bukan cermin. Yang kamu butuh cowok beneran yang duduk di depan kamu, terus kamu praktek ke dia.”
“Aku nggak bisa gitu ke orang.”
“Ke orang yang aman bisa.”
“Aman gimana?”
“Yang nggak mungkin baper.” Icha menyeruput esnya sampai bunyi. “Yang kalau kamu peluk, dia bakal ngitungin berat badan kamu.”
Aku diam.
Icha diam.
Kami berdua sampai di kesimpulan yang sama dalam waktu yang sama.
“Nggak,” kataku.
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Kamu udah ngomong di muka kamu.”
“Aurora.” Icha menaruh sedotannya. “Coba pikir. Satu, dia nggak akan nyebarin. Dua, dia nggak akan salah paham. Tiga, dia satu-satunya cowok yang kalau kamu ngomong, dia beneran denger, bukan cuma nunggu giliran ngomong. Kamu sadar nggak sih itu langka?”
“Dia bakal ngerasa direpotin.”
“Dia bakal bikin jadwal.”
Aku membuka mulut untuk membantah dan menemukan bahwa aku tidak punya bantahan, karena dia memang akan bikin jadwal.
“Terus kalau dia nolak?”
“Dia nggak akan nolak.”
“Kok kamu yakin?”
Icha mengangkat bahu dan mengaduk esnya, dan jawabannya keluar dengan nada orang yang menyebutkan cuaca. “Ya karena kamu yang minta.”
Aku ingat aku sempat berpikir: oh, ini gampang banget.
Aku ingat itu sampai sekarang. Bagian “gampang banget”-nya.
Dia lagi di perpustakaan waktu aku datang, di kursi kiri, meja ujung dekat rak referensi. Selalu kiri. Aku tidak pernah bertanya kenapa dan dia tidak pernah menjelaskan, dan entah kenapa itu salah satu hal yang paling kusukai dari duduk di situ.
Aku menaruh tas di kursi kanan dan langsung bicara sebelum keberanianku habis.
“Bum, aku mau minta tolong.”
“Berapa.”
“Bukan uang.”
“Oh.” Dia menutup bukunya. “Yang lebih mahal, berarti.”
“Aku mau kamu bantuin aku latihan.”
“Latihan apa.”
“Latihan... “ Aku memutar gelas minumku di meja. “Latihan ngomong sama Kak Bagas.”
Dia tidak menjawab langsung. Itu biasa. Dia memang selalu jeda sebelum bicara, seperti orang yang mengecek dulu apakah kalimatnya sudah benar sebelum dikeluarkan.
“Maksudnya gimana.”
“Maksudnya kamu jadi dia. Aku ngomong ke kamu, kamu jawab kayak dia bakal jawab, terus aku tau harus gimana.” Aku bicara makin cepat. “Soalnya aku nggak bisa, Bum. Aku beneran nggak bisa. Aku udah coba delapan belas kali di depan cermin dan aku kayak orang bego. Aku suka banget sama dia. Suka banget. Dan aku nggak bisa ngomong empat kata.”
“Empat kata.”
“‘Aku suka kamu.’ Itu tiga. Sama namanya jadi empat.”
“Lima kalau pakai ‘Kak’.”
“Bumi.”
“Sori.”
Dia melepas kacamatanya dan mengusap lensanya dengan ujung seragam. Aku kehilangan kalimat berikutnya dan harus mencarinya lagi, dan aku tidak tahu kenapa, dan aku memutuskan itu karena aku gugup soal Kak Bagas.
Aku memutuskan begitu. Aku ingat memutuskan begitu.
“Kenapa gue?” tanyanya.
“Karena kamu aman.”
Dia memasang kacamatanya kembali.
“Aman.”
“Iya. Kayak—“ Aku mencari kata yang tidak menyinggung dan gagal menemukannya. “Kamu tuh nggak mungkin salah paham. Kalau aku latihan sama cowok lain, besok satu sekolah bakal ngira aku suka sama dia. Kamu enggak. Kamu bakal ngitungin durasi latihannya terus bikin grafik.”
“Gue emang bakal bikin grafik.”
“Kan.”
“Itu bukan pujian.”
“Buat aku iya.”
Dia memandang ke rak referensi cukup lama. Aku sempat berpikir dia akan menolak, dan dadaku turun dengan cara yang tidak kumengerti waktu itu.
“Oke,” katanya.
Aku mengangkat kepala. “Serius?”
“Serius.”
“Nggak mau mikir dulu?”
“Udah.”
“Bum, itu dua detik.”
“Gue mikirnya cepet.”
Aku tertawa, dan meja di seberang mengangkat kepala, dan aku menutup mulut dengan tangan. Waktu aku menurunkan tangan, dia sudah mengeluarkan buku tulis kosong dan pulpen.
“Ada aturannya,” katanya.
“Kamu bikin aturan?”
“Semua sistem butuh aturan. Kalau nggak, nanti rusak di tengah.”
Aku ingat aku mengira itu lucu.
“Aturan pertama,” katanya, “kalau gue jadi dia, gue jadi dia. Lo nggak boleh protes kalau jawabannya nggak sesuai harapan lo.”
“Oke.”
“Kedua, sesinya ada waktunya. Mulai dan selesai. Di luar itu, kita balik jadi kita.”
“Oke.” Aku mencondongkan badan. “Aku juga punya aturan.”
“Silakan.”
“Kamu—“ Aku berhenti, mencari cara mengatakannya. “Selama latihan, kamu jangan jadi kamu. Anggap aja kamu dia. Jangan jadi kamu.”
Dia menulis sesuatu di buku itu. Dari posisiku, tulisannya kelihatan pendek. Tiga atau empat kata.
“Ini latihan doang, kan?” tanyaku, entah kenapa.
Dia tidak mengangkat kepala dari bukunya.
“Iya,” katanya. “Latihan doang.”
“Kamu yakin nggak keberatan?”
“Aurora.”
“Iya?”
“Bel lima menit lagi.”
Aku menyambar tasku dan berdiri, dan setengah jalan ke pintu aku berbalik karena aku ingat aku belum bilang apa-apa.
“Bum.”
“Hm.”
“Makasih ya. Beneran.” Aku memegang tali tas dengan dua tangan. “Kamu tuh temen paling baik yang aku punya. Aku sayang banget sama kamu, tau nggak.”
Dia mengangkat kepalanya, akhirnya.
Ada sesuatu di wajahnya yang tidak sempat kubaca karena aku sudah terlanjur berbalik dan berlari ke koridor, dan karena bel berbunyi, dan karena aku sedang memikirkan Kak Bagas.
Tiga tahun kemudian aku akan memutar ulang detik ini di kepalaku berkali-kali sampai aku hafal, dan aku akan menyadari bahwa aku baru saja mengucapkan kata “sayang” ke orang yang salah, dengan arti yang salah, di hari yang paling salah.
Tapi malam itu aku pulang dengan perasaan ringan.
Aku ingat itu juga.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia reading
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu