Chapter Eight
Sepuluh Sentimeter
POV: Aurora
Simulasi bagian kedua seminggu kemudian: makan, lalu pulang bareng.
Aku menyiapkan daftar topik. Sungguhan, ditulis di aplikasi catatan, dua belas nomor. Topik 1: tanya soal basket. Topik 2: tanya rencana kuliah. Topik 3: cerita soal adik. Aku bahkan menyiapkan cabangnya — kalau dia menjawab panjang, lompat ke topik empat; kalau dia menjawab pendek, tanya balik.
Aku menunjukkannya ke Bumi sebelum kami mulai, dan dia membacanya sampai habis tanpa berkomentar sama sekali, yang justru lebih menakutkan daripada kalau dia mengejek.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Kamu diem lama banget.”
“Gue lagi mikirin cara ngomongnya.”
“Ngomong aja.”
Dia menaruh ponselku kembali di meja.
“Ini bagus,” katanya. “Terstruktur. Rapi. Ada cabangnya.”
“Tapi?”
“Tapi kalau lo pakai ini, lo nggak lagi ngobrol sama dia. Lo lagi ngoperasiin dia.”
“Bum.”
“Coba deh.” Dia mendorong ponselku menjauh dari kami berdua. “Sekarang, tanpa daftar. Ngobrol aja sama gue.”
“Ngobrol apa?”
“Apa aja.”
“Aku nggak tau harus ngomong apa kalau nggak ada daftar.”
“Lo ngobrol sama gue dua tahun tanpa daftar.”
“Itu beda.”
“Beda kenapa?”
Aku membuka mulut, dan berhenti.
Beda kenapa, ya.
Aku duduk di sana sekitar lima detik mencoba menyusun jawaban dan tidak menemukan satu pun yang masuk akal, dan akhirnya aku bilang, “Karena kamu Bumi.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban terbaik yang aku punya.”
Dia mengambil pulpen dan menulis di margin lembar rubrik, dan aku ingat kali ini aku sempat penasaran selama satu detik penuh sebelum pelayan datang membawa pesanan dan aku lupa.
Satu detik. Itu jarak terdekat aku dari kebenaran selama sebelas bulan.
Kami makan di tempat murah dekat stasiun, karena “Kak Bagas suka tempat yang nggak ribet” menurut halaman keempat bukuku.
Dan entah bagaimana, dua puluh menit setelah kami duduk, aku sadar aku sudah tidak melihat daftar sama sekali.
Kami sedang membahas apakah kucing bisa dilatih. Aku tidak tahu bagaimana kami sampai di situ. Aku ingat kami mulai dari makanan, lalu ke kantin sekolah, lalu ke kucing kantin, lalu tiba-tiba dia sedang menjelaskan sesuatu tentang penguatan positif dengan tangan bergerak-gerak, kacamatanya sedikit turun, dan aku sedang tertawa dengan mulut penuh sampai harus menutupinya dengan tisu.
“Jadi bisa,” kataku.
“Bisa. Tapi kucing nggak mau.”
“Kenapa nggak mau?”
“Karena kucing tau dia bakal dikasih makan tanpa harus ngelakuin apa-apa.” Dia bersandar. “Nggak ada makhluk yang mau kerja kalau bisa dapet gratis.”
“Kamu kerja.”
“Gue apa?”
“Kamu kerja terus.” Aku menunjuk dia dengan sendok. “Kamu tuh selalu ngelakuin sesuatu buat orang. Kamu bawa payung dua. Kamu inget nomor sepatu Fandi. Kamu—“ Aku berhenti sebentar. “Kamu tiap Rabu dateng setengah jam lebih awal terus pura-pura ngerjain tugas padahal bukunya kosong.”
Dia tidak bergerak.
“Lo liat?”
“Aku liat.”
“Oh.”
“Kenapa sih?”
Ada jeda. Bukan jeda yang panjang, tapi aku sudah cukup lama merekam sesi untuk tahu bahwa jeda dia selalu berarti sesuatu.
“Kalau gue dateng tepat waktu,” katanya, “berarti gue ngitung waktu. Kalau gue ngitung waktu, berarti gue keberatan. Gue nggak keberatan. Jadi gue dateng lebih awal.”
Aku menaruh sendokku.
“Itu logika paling ngaco yang pernah aku denger.”
“Gue tau.”
“Kamu tau tapi kamu tetep ngelakuin.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia mengambil gelasnya.
“Karena gue bego,” katanya.
Aku tertawa. Aku tertawa keras sekali, sampai meja sebelah menoleh, sampai aku harus menahan perut. Karena itu lucu. Karena itu Bumi banget. Karena orang paling logis yang kukenal baru saja menyebut dirinya bego dengan wajah datar.
Aku tertawa selama sekitar lima belas detik, dan dia menunggu sampai aku selesai, dan dia tidak ikut tertawa sama sekali.
Aku tidak memperhatikan itu.
Aku benar-benar tidak memperhatikan itu.
Kami jalan ke stasiun setelahnya, dan dia pindah ke sisi kanan seperti biasa, dan trotoarnya sempit seperti biasa.
Aku sedang bercerita tentang adik sepupuku yang menelan koin, dan aku bercerita dengan tangan, karena aku selalu bercerita dengan tangan.
Dan di tengah cerita itu, punggung tanganku menabrak punggung tangannya.
Aku tidak menarik tanganku.
Aku juga tidak bilang maaf.
Aku terus bercerita — soal koin, soal rumah sakit, soal tante-ku yang menangis di lorong padahal koinnya keluar sendiri sepuluh menit kemudian — dan sementara aku bercerita, jari-jariku menyelip di antara jari-jarinya.
Bukan dia. Aku.
Aku yang melakukan itu, di trotoar sempit, di tengah cerita tentang koin, tanpa sesi, tanpa perekam yang menyala, tanpa lembar rubrik, tanpa satu pun alasan yang bisa kutuliskan di kolom mana pun.
Aku sadar sekitar tiga puluh langkah kemudian.
Aku sadar bukan karena aku merasa aneh. Aku sadar karena aku tidak merasa aneh. Karena tanganku sudah di sana dan rasanya seperti tanganku memang biasanya di sana, dan otakku baru menyusul untuk bertanya sejak kapan.
Aku berhenti jalan.
Dia ikut berhenti, karena tangannya masih di tanganku.
“Ini—“ Aku menarik tanganku. “Sori. Sori, aku nggak sadar.”
“Nggak apa-apa.”
“Aku beneran nggak sadar, Bum. Aku lagi cerita, terus—“
“Aurora.”
“Iya?”
“Nggak apa-apa.”
Aku menggenggam tanganku sendiri dan menggosoknya seperti orang yang kedinginan, padahal malam itu tidak dingin sama sekali.
“Ini kan latihan juga,” kataku. “Kan? Ini bagian dari latihan.”
Dia tidak langsung menjawab.
Aku ingat trotoar itu. Aku ingat ada warung yang lampunya kuning dan ada motor yang lewat terlalu kencang dan dia bergeser setengah langkah ke kanan tanpa memutus pembicaraan, dan aku ingat dia berdiri di sana dengan wajah yang tidak menunjukkan apa pun.
“Iya,” katanya. “Bagian dari latihan.”
“Kamu nggak marah?”
“Enggak.”
“Kamu nggak—“ Aku mencari kata-katanya. “Kamu nggak jadi nggak nyaman kan sama aku?”
“Enggak.”
“Janji?”
“Iya.”
Aku menghembuskan napas lega, dan aku bilang hal berikutnya dengan tulus, dengan sepenuh hati, dengan seluruh rasa terima kasih yang kupunya untuk orang yang selama tiga bulan terakhir menyerahkan setiap hari Rabu-nya untuk melatihku mendekati orang lain.
“Aku sayang banget sama kamu, Bum. Serius. Aku nggak tau aku bakal jadi apa kalau nggak ada kamu.”
Dia mengangguk sekali.
“Keretanya lima menit lagi,” katanya.
Malamnya aku mendengarkan rekaman sesi itu, dan di bagian akhir, setelah aku bilang “karena kamu Bumi”, ada jeda tiga detik sebelum dia menjawab.
Aku menulis di buku: jeda 3 detik lagi. Dia mikir apa?
Icha datang ke rumah hari Minggu dan menemukan buku itu terbuka di meja belajarku.
“Ini apa?”
“Catatan evaluasi.”
“‘Jeda 3 detik’.” Dia membaca. “‘Jeda 4 detik’. ‘Jeda 2 detik, napasnya berat’.” Dia membalik halaman. “Aurora, kamu nyatetin napas orang.”
“Itu buat ngukur seberapa alami percakapannya.”
“Kamu nyatetin. Napas. Orang.”
“Cha—“
“Mana catatan tentang Kak Bagas?”
Aku mengambil buku sembilan halaman itu dan menyerahkannya. Icha membalik-baliknya, cepat, dari depan ke belakang, lalu menaruhnya kembali di meja.
“Sembilan halaman,” katanya. “Ditulis tiga bulan lalu. Nggak ada tambahan sejak halaman tujuh.”
“Aku sibuk.”
“Yang satunya udah tiga puluh dua halaman.”
“Itu beda! Yang itu buat—“
“Buat apa, Aurora?”
Aku membuka mulut.
Aku benar-benar mencoba. Aku duduk di kursi belajarku dengan mulut terbuka dan mencari kalimat yang bisa menutup pertanyaan itu, dan yang keluar akhirnya adalah:
“Buat latihan.”
Icha memandangku beberapa saat. Lalu dia mengangguk, mengambil tasnya, dan bilang dia harus pulang sebelum magrib.
Di pintu, dia berhenti.
“Ra.”
“Hm?”
“Kalau nanti kamu nyesel,” katanya, “aku nggak akan bilang ‘kan aku udah bilang’.”
“Nyesel apa?”
“Nggak tau. Belum ada.” Dia melambai. “Makanya aku bilang sekarang.”
Lalu dia pulang, dan aku menutup buku itu, dan menaruh ponselku di meja, dan tidur.
Aku punya semua bukti. Setiap minggu, dalam file audio bernomor, tersimpan rapi di ponselku. Setiap jeda, setiap napas, setiap kalimat yang sedikit terlalu lama sebelum keluar.
Aku merekam semuanya selama sebelas bulan.
Aku tidak mendengarkan satu pun dari itu sampai tiga tahun kemudian.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter reading
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu