Chapter Forty One
Kereta
POV: Aurora
Sidangku lolos hari Kamis dengan revisi minor.
Hari Jumat aku mengirim pesan.
aku: bum
aku: sabtu minggu kosong?
Bumi: Iya.
aku: kita pergi
Bumi: Ke mana.
aku: nggak tau
aku: aku udah beli tiket kereta
Bumi: Lo beli tiket ke tempat yang lo nggak tau?
aku: aku tau tempatnya
aku: aku cuma nggak mau ngasih tau kamu
Bumi: Aurora.
aku: kamu bilang mau aku yang atur
aku: aku yang atur
Butuh empat menit.
Bumi: Gue bawa apa.
aku: baju
aku: satu payung
Bumi: Kenapa satu?
aku: karena yang satunya aku yang bawa
Keretanya berangkat jam tujuh pagi.
Aku memilih kursi berhadapan, bukan bersebelahan, karena aku ingin melihat wajahnya selama empat jam.
Dia menyadarinya di menit kesepuluh.
“Lo sengaja.”
“Iya.”
“Kenapa.”
“Karena kalau duduk sebelahan kamu bakal ngeliatin jendela terus.”
“Gue suka jendela.”
“Kamu nggak suka jendela.” Aku bersandar. “Kamu suka punya tempat buat ngeliat yang bukan aku.”
Dia membuka mulut.
Lalu menutupnya.
Lalu memandangi jendela.
“BUM.”
“Gue lagi mikir.”
“Kamu lagi ngeliatin jendela.”
“Gue bisa dua-duanya.”
Empat jam kereta ternyata waktu yang sangat panjang.
Aku sudah menyiapkan — dan aku akan mengakui ini dengan malu — sebuah daftar.
Bukan daftar topik. Daftar pertanyaan.
Aku menyusunnya selama tiga malam, dan isinya semua hal yang tidak pernah kutanyakan dalam enam tahun.
“Bum.”
“Hm.”
“Aku mau nanya dua puluh pertanyaan.”
“Dua puluh?”
“Iya.”
“Kenapa dua puluh?”
“Karena aku berhenti nulis di dua puluh,” kataku. “Kalau nggak berhenti aku bakal sampai seratus.”
Dia menutup ponselnya dan menaruhnya di meja lipat.
“Tanya.”
Satu. “Kamu suka warna apa?”
“Biru.”
“Biru apa?”
“Biru gelap.”
“Aku nggak tau itu.”
“Lo nggak pernah nanya.”
Empat. “Kamu takut apa?”
Dia diam agak lama.
“Ketinggian.”
“SERIUS?”
“Iya.”
“Kamu naik lantai empat perpus tiap hari.”
“Itu bukan ketinggian, itu tangga.”
Tujuh. “Kamu pengen kerja di mana?”
“Gue udah dapet.”
Aku duduk tegak.
“APA?”
“Tempat magang. Mereka nawarin bulan lalu.”
“BUM, KENAPA KAMU NGGAK CERITA?”
“Gue nunggu lo selesai sidang.” Dia mengangkat bahu. “Lo lagi banyak pikiran.”
Aku menaruh dua tangan di meja lipat.
“Bum.”
“Apa.”
“Itu,” kataku, “yang harus kamu berhenti lakuin.”
Dia diam beberapa detik.
“Iya,” katanya. “Sori.”
Dua belas. “Kamu waktu kecil pengen jadi apa?”
“Nggak inget.”
“Bohong.”
“Gue beneran nggak inget.”
“Bum.”
Dia memandangi jendela.
“Gue nggak pernah mikirin,” katanya. “Ibu gue kerja dua tempat waktu itu. Gue mikirinnya gimana caranya nggak nambahin kerjaan dia.”
Aku tidak melanjutkan ke nomor tiga belas selama beberapa menit.
Tiga belas. “Kamu pernah marah sama aku nggak?”
“Pernah.”
Aku duduk tegak. “Kapan?”
“Sekali.”
“Kapan, Bum?”
“Waktu lo minta latihan cium.”
Aku menaruh gelas air mineralku.
“Bukan waktu lo mintanya,” katanya cepat. “Waktu lo bilang ‘kamu selalu mau’.”
“Aku bilang gitu?”
“Lo bilang gitu.”
Aku menutup mataku.
“Dan gue marah,” katanya, “karena itu bener. Gue selalu mau. Lo bener seratus persen dan gue nggak punya bantahan sama sekali.”
“Bum—“
“Dan gue baru sadar dua tahun kemudian,” katanya, “bahwa gue nggak marah sama lo. Gue marah karena lo baru aja ngasih tau gue siapa gue.”
Empat belas. Aku melewatinya. Aku tidak sanggup.
Nomor tujuh belas kutanyakan setelah kereta berhenti di stasiun kecil dan berangkat lagi.
“Bum.”
“Hm.”
“Kalau kamu boleh minta satu hal dari aku, apa?”
Dia menoleh dari jendela.
“Ini pertanyaan jebakan.”
“Bukan.”
“Ini jebakan, Aurora.”
“Bum, jawab aja.”
Dia memandangiku cukup lama.
“Gue nggak bisa jawab,” katanya akhirnya.
“Kenapa?”
“Karena gue nggak pernah minta apa-apa dari siapa pun.” Dia mengetuk meja dengan jempol, sekali, dan berhenti. “Gue nggak punya latihannya.”
Dan aku duduk di kereta itu dan mendengar dia mengatakan kata “latihan” dengan cara yang biasa saja, dan aku merasakan sesuatu yang tidak enak di dada.
“Bum.”
“Hm.”
“Aku mau ngomong sesuatu dan aku nggak mau kamu jawab.”
“Oke.”
Aku menarik napas.
“Aku minta maaf,” kataku. “Bukan buat sesinya. Aku udah minta maaf soal itu tiga kali dan kamu bener, itu buat aku sendiri.”
Dia menunggu.
“Aku minta maaf karena aku nggak pernah nanya kamu mau apa,” kataku. “Enam tahun, Bum. Aku nanya kamu suka roti apa sekali di kelas sepuluh terus aku nggak nanya apa-apa lagi selamanya.”
Kereta berbunyi di sambungan rel.
“Dan aku nggak akan bilang ‘mulai sekarang aku bakal nanya terus’,” kataku. “Karena itu janji yang gampang diucapin dan susah dijalanin, dan aku nggak mau kasih kamu kalimat bagus lagi.”
Aku mengangkat daftar pertanyaanku.
“Aku cuma bikin ini,” kataku. “Dua puluh. Sabtu depan aku bikin dua puluh lagi.”
Dia memandangi kertas itu di tanganku.
Lalu dia memandangi wajahku.
Dan dia tidak mengatakan apa-apa, sesuai permintaanku, dan itu membuat semuanya jauh lebih berat.
Kami sampai jam sebelas.
Tempatnya kota kecil di pesisir, empat jam dari kota kami, dengan satu jalan utama dan pantai yang tidak bagus dan tidak ramai.
Aku memilihnya karena satu alasan yang tidak kuceritakan sampai sore hari.
Kami jalan di jalan utama, dan dia pindah ke sisi kanan seperti biasa, dan aku menahan tangannya.
“Nggak usah.”
“Ada motor.”
“Bum, ini jam sebelas siang di kota yang isinya tiga motor.”
“Tetep ada.”
“BUM.”
Dia berhenti.
“Aurora.”
“Iya?”
“Gue nggak bisa berhenti,” katanya. “Gue udah coba. Minggu lalu gue coba jalan di kiri dan gue nggak bisa konsentrasi ngomong.”
Aku memandanginya di tengah jalan utama kota kecil.
Lalu aku pindah.
Aku berjalan mengitarinya dan berdiri di sisi kanannya, dan aku memegang tangannya dari sisi itu.
“Aurora—“
“Ya udah,” kataku. “Sekarang aku yang di kanan.”
“Itu bukan—“
“Bum, aku tau itu bukan solusi.” Aku menggenggam tangannya lebih erat dan mulai jalan. “Tapi kamu harus tau rasanya.”
Dia berjalan di sisi kiri jalan utama kota kecil itu selama sekitar dua ratus meter tanpa bicara sama sekali.
“Gimana rasanya?” tanyaku.
“Nggak enak.”
“Kenapa?”
Dia butuh waktu.
“Karena gue nggak ada gunanya,” katanya.
Aku berhenti jalan.
Sore hari kami duduk di pantai yang tidak bagus dan tidak ramai, di pasir yang lebih banyak kerikilnya daripada pasirnya.
“Bum.”
“Hm.”
“Aku mau cerita kenapa aku milih tempat ini.”
Dia menoleh.
“Aku googling ‘kota kecil empat jam dari sini’,” kataku. “Terus aku pilih yang paling nggak ada apa-apanya.”
“Kenapa?”
“Karena aku pengen tau kita bisa nggak,” kataku. “Kalau nggak ada bioskop. Nggak ada mal. Nggak ada tugas, nggak ada modul integrasi, nggak ada skripsi.”
Aku memungut kerikil.
“Enam tahun kita selalu punya alasan buat ketemu,” kataku. “Sesi. Perpus. Magang. Skripsi. Selalu ada tugas.”
Aku melempar kerikilnya ke air dan tidak sampai.
“Aku pengen tau kita masih ada nggak kalau tugasnya diambil.”
Dia tidak menjawab selama beberapa saat.
Lalu dia memungut kerikil, melempar, dan sampai ke air.
“Bum, itu curang.”
“Gue main lempar batu dari kelas empat.”
“Kamu nggak pernah cerita.”
“Lo nggak pernah—“
“AKU TAU,” kataku. “Aku tau, aku tau.”
Dia tertawa.
Dan matahari mulai turun di pantai yang tidak bagus, dan dia menyandarkan lengannya ke lututnya, dan dia bilang, tanpa aku minta:
“Kita masih ada.”
Aku menoleh.
“Kamu udah tau?”
“Gue tau dari kereta.”
“Kereta yang mana?”
“Yang jam tujuh pagi.” Dia melempar kerikil lagi. “Empat jam, Aurora. Nggak ada tugas. Nggak ada laptop. Lo nanya dua puluh pertanyaan dan gue jawab semuanya dan gue nggak mikirin apa pun yang lain.”
Aku memeluk lututku.
“Bum.”
“Hm.”
“Kalau nanti aku lupa lagi,” kataku, “kamu bilang ya.”
“Lupa apa?”
“Lupa nanya.” Aku memandangi air. “Aku bakal lupa, Bum. Bukan karena aku jahat. Karena orang emang lupa. Nanti ada kerjaan, nanti ada capek, nanti ada hari-hari yang biasa aja.”
Dia melempar kerikil lagi.
“Oke,” katanya.
“Kamu janji?”
“Gue janji.”
“Bum, kamu nggak pernah nagih apa-apa seumur hidup. Aku nggak percaya.”
Dia menoleh ke arahku, dan matahari sudah cukup rendah untuk membuat setengah wajahnya oranye.
“Gue nggak pernah nagih,” katanya, “karena gue nggak pernah dikasih izin.”
“Sekarang aku kasih.”
“Ya udah.” Dia mengangkat bahu. “Berarti gue nagih.”
Aku memeluk lututku lebih erat.
“Asher.”
Dia menoleh.
Dan aku memakainya lagi, penuh, tanpa alasan, tanpa keceplosan, tanpa izin.
“Aku sayang kamu.”
“Aku sayang kamu.”
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta reading
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu