Chapter Twenty Eight
Empat Puluh Tiga File
POV: Aurora
Aku pulang ke kosan jam delapan, mengunci pintu, duduk di lantai dengan punggung ke ranjang, dan membuka folder bernama “sesi”.
Empat puluh tiga file.
Nomor urut dan tanggal. Durasi rata-rata satu jam empat puluh menit. Total tujuh puluh sembilan jam.
Aku menekan file nomor satu.
Suaraku enam tahun lalu terdengar seperti orang lain.
Lebih tinggi. Lebih cepat. Setiap kalimat naik di akhir seperti pertanyaan, bahkan yang bukan pertanyaan.
“Halo. Eh. Hai. Hai, Kak.”
“Hai.”
“...Terus?”
“Terus lo ngomong.”
Aku menekan pause dan menutup mata.
Suaranya juga terdengar seperti orang lain. Lebih muda. Lebih pelan.
Sabar sekali.
Aku memutar ulang bagian itu dan mendengarkannya lagi, dan aku menghitung: dua puluh tiga kali dia menyuruhku mengulang di sesi pertama, dan dua puluh tiga kali suaranya tidak berubah sedikit pun.
Aku memutar file dua. Lalu tiga.
Aku tidak melewati satu pun.
Di file tiga ada bagian yang membuatku menekan pause dan duduk tegak.
“Kamu pernah suka sama orang nggak?”
Jeda. Panjang sekali. Aku menghitungnya dengan stopwatch: sebelas detik.
Sebelas detik, dengan suara langkah kaki di latar dan motor lewat sekali.
“Pernah.”
“Serius? Siapa?”
“Nggak penting.”
“Bum!”
“Nggak penting karena udah lewat.”
Aku menekan pause.
Enam tahun lalu aku mendengar kalimat itu dan langsung percaya. Aku bahkan ingat aku merasa sedikit sedih untuknya, dengan cara yang sopan dan cepat berlalu, seperti orang yang mendengar kabar buruk tentang orang yang tidak dia kenal.
Sekarang aku memutarnya kembali dan mendengar sebelas detik itu.
Sebelas detik untuk menyusun kebohongan.
Dia bukan orang yang butuh waktu untuk berbohong. Dia orang yang butuh waktu untuk memutuskan seberapa banyak yang boleh dia keluarkan.
Aku melanjutkan ke file empat.
Jam sebelas malam aku sampai di file tujuh.
“Tangan lo dingin.”
“Aku selalu dingin.”
“Enggak. Ini dingin gugup.”
Aku menekan pause dan mengangkat tanganku sendiri dan memandanginya.
Dingin.
Aku menekan play lagi.
“Dua belas menit.”
“Ya ampun. Kok bisa selama itu.”
“Gue nggak tau.”
“Kamu kan yang ngitung!”
“Gue ngitung. Gue nggak bilang gue ngingetin.”
“Kenapa nggak diingetin?!”
Ada jeda di rekaman itu. Suara gelas diangkat. Suara orang minum, terlalu lama.
“Karena lo lagi nggak gemeteran. Gue nggak mau ngerusak.”
Aku menekan tombol mundur lima belas detik dan mendengarkannya lagi.
Dan lagi.
Yang tidak bisa kutangkap enam tahun lalu — yang sekarang begitu jelas sampai aku tidak mengerti bagaimana aku bisa melewatkannya — bukan kalimatnya.
Suaranya.
Suaranya turun setengah nada di kalimat terakhir itu.
File sepuluh durasinya tiga jam lima puluh menit.
Aku ingat kenapa. Aku lupa mematikan perekamnya. Aku tidur di bahunya selama tiga jam empat puluh menit dan perekamnya menyala terus.
Aku hampir melewatinya. Aku sudah menggeser jempolku ke file sebelas.
Lalu aku ingat sesuatu dari margin kiri kertas itu.
Sesi 10. Tiga jam empat puluh menit. Dia tidur. Gue nggak bangunin. Bahu kiri.
Aku menekan play.
Empat puluh menit pertama isinya percakapan. Lalu suaraku berhenti.
Lalu tidak ada apa-apa.
Aku mendengarkan tidak-ada-apa-apa itu selama dua puluh menit sambil duduk di lantai. Suara angin. Motor lewat. Anjing menggonggong dua rumah dari situ. Sekali ada suara sandal orang lewat.
Jam satu pagi aku menaikkan volume ke maksimum dan memasang earphone dan melanjutkan.
Di menit ke seratus empat belas, ada suara.
Sangat pelan. Nyaris tidak ada. Kalau aku tidak sedang mencari, aku tidak akan pernah mendengarnya.
Empat suku kata.
Aku memutarnya lagi.
Dan lagi.
Aku memutarnya dua puluh kali dan aku tidak bisa memastikan, dan aku masih tidak bisa memastikan sampai sekarang. Suku kata terakhirnya panjang. Itu saja yang bisa kupastikan.
Setelah itu tidak ada apa-apa lagi selama dua jam sampai suaraku terdengar bangun dan panik soal jam.
Dia duduk di bangku besi selama dua jam setelah mengucapkan itu, dan tidak mengucapkannya lagi.
Aku melepas earphone dan meletakkan kepalaku di lutut.
Jam tiga pagi aku sampai di file tiga belas.
Sebelum itu ada file dua belas, dan aku hampir tidak sanggup memutarnya.
Itu sesi latihan ditolak.
Aku mendengar suaraku memaksa. Aku mendengar dia bilang enggak, dua kali, dengan nada yang sekarang jelas sekali artinya apa. Aku mendengar diriku sendiri bilang “kamu belum coba” dan aku mendengar jawabannya —
“Gue udah.”
Dua kata. Datar. Dan langsung disusul jeda enam detik sebelum aku bertanya “kamu udah apa” dan dia bilang tidak apa-apa.
Enam detik.
Enam detik dia berdiri di rumput itu memutuskan apakah akan mengatakannya, dan memilih tidak.
Lalu aku memutar bagian akhirnya, dan aku mendengar diriku menangis, dan aku mendengar suaranya naik untuk satu-satunya kali dalam enam tahun.
“GUE BILANG BERHENTI.”
Aku menekan pause dan berdiri dan berjalan ke wastafel dan membasuh muka dengan air dingin sebelum melanjutkan.
Aku sudah tahu apa isi file tiga belas.
Itu bagian yang paling tidak masuk akal dari seluruh malam itu: aku sudah tahu. Aku sudah membacanya di aplikasi catatan, di file bernama “referensi”, dua minggu lalu. Aku sudah hafal kalimatnya.
Aku menekan play.
Suaraku mengucapkan naskah. Sempurna, seperti yang kulatih empat puluh tiga kali.
“...Aku cuma nggak mau lulus tanpa pernah ngomong.”
Lalu hening.
Aku menghitung. Satu. Dua. Tiga.
Lalu suaranya.
“Aku sayang kamu.”
Aku menekan pause.
Aku duduk di lantai kosan jam tiga pagi dengan earphone masih terpasang dan layar ponsel yang menyala di tanganku.
Aku.
Bukan “gue”.
Enam tahun dia bicara denganku pakai “gue”. Setiap hari, setiap sesi, tanpa kecuali. Di seluruh empat puluh tiga file ini, dua belas jam yang sudah kudengar malam ini, tidak ada satu pun “aku” yang keluar dari mulutnya.
Kecuali di sini.
Kecuali di empat kata ini.
Aku menekan play.
“Aku sayang kamu. Udah lama. Lebih lama dari yang bakal aku bilang. Dan aku nggak pernah ngomong karena aku takut kalau aku ngomong, aku nggak bisa duduk di sebelah kamu lagi.”
Suaranya pecah sedikit di kata “lama”.
Aku tidak mendengar itu enam tahun lalu.
Aku duduk tiga meter dari orang itu, di bangku besi, di bawah tiang listrik yang lampunya mati sebelah, dan aku tidak mendengarnya.
Lalu suaraku masuk.
“Ya ampun.”
“Bum, itu—“
“—itu bagus banget.”
Aku mendengar suaraku sendiri mengatakan itu, dari enam tahun lalu, dengan nada riang orang yang baru menemukan bahan referensi yang bagus.
Lalu ada suara ketikan. Dua jempol di layar.
Aku bisa mendengar diriku mengetik. Perekamnya menangkap itu. Bunyinya kecil dan cepat dan berlangsung sekitar dua puluh detik.
Dan selama dua puluh detik itu, tidak ada suara lain sama sekali.
Aku menekan pause dan menekan tanganku ke mulut.
Aku menangis dengan cara yang jelek dan panjang dan tidak ada yang melihat, dan waktu selesai, hidungku tersumbat dan mataku tidak bisa dibuka lebar dan langit sudah mulai abu-abu di balik gorden.
Aku memutar sisanya.
Sampai habis.
“Kamu tuh kayaknya bakal jadi pacar yang bagus banget buat seseorang nanti.”
Hening.
Lalu suaranya, dari enam tahun lalu, pelan dan rata:
“Ini latihan doang, kan?”
Dan suaraku, langsung, tanpa jeda sedetik pun, dengan nada orang yang menjawab pertanyaan paling mudah di dunia:
“Iya lah. Emang kenapa?”
Hening dua detik.
“Nggak. Nggak kenapa-kenapa.”
Rekamannya berhenti di situ.
Aku duduk di lantai sampai jam enam pagi.
Aku tidak menyusun rencana. Aku tidak membuat daftar. Aku tidak mengetik satu pun kalimat di aplikasi catatan.
Aku cuma duduk di sana dan mengulang satu hal di kepalaku, berulang-ulang, sampai matahari naik:
Aku pernah bertanya kepadanya kenapa dia tidak pernah bilang ke orang yang dia suka.
Dan dia menjawab: karena kalau gue bilang, gue nggak bisa duduk di sebelah dia lagi.
Dan aku bilang: itu logika paling aneh yang pernah aku denger.
Dan dia bilang: gue tau.
Dia sudah menjawab pertanyaanku di sesi ketiga.
Aku menghabiskan enam tahun berikutnya untuk tidak mendengarnya.
Jam tujuh pagi aku mandi dengan air dingin sampai kepalaku bisa berpikir.
Jam delapan aku sampai di kantor.
Dia sudah di mejanya, seperti biasa, dengan laptop terbuka dan kacamata dipakai dan gelas kopi yang masih penuh.
Dia mengangkat kepalanya waktu aku masuk.
Dan dia melihat wajahku, dan aku tahu dia melihat semuanya — mata yang bengkak, tangan yang gemetar, orang yang tidak tidur — karena dia adalah orang yang memperhatikan suhu tangan seseorang di kafe enam tahun lalu dan menuliskannya di margin.
“Aurora.”
“Bum, nanti sore aku mau ngomong.”
Dia diam.
Empat detik.
“Oke,” katanya.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File reading
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu