Chapter Six
Dua Belas Menit
POV: Aurora
Aku mendengarkan rekaman sesi keenam malamnya, di kasur, dengan lampu mati dan earphone terpasang.
Bagian awalnya biasa saja. Aku mendengar suaraku sendiri terlalu cepat dan terlalu tinggi, dan aku mencatat itu di buku: ngomong lebih pelan.
Lalu sampai di bagian pegangan tangan.
Ada jeda empat detik sebelum dia menjawab “ya udah”. Empat detik. Aku memutarnya tiga kali untuk memastikan aku tidak salah hitung.
Kenapa lama?
Aku menulis di buku: Bumi jeda 4 detik. Ragu? Nggak nyaman? dan langsung merasa bersalah, karena tentu saja dia tidak nyaman, siapa yang nyaman disuruh pegangan tangan sama teman sendiri di kafe.
Aku menghapusnya dan menulis ulang: Jangan kelewatan. Dia baik banget dan aku manfaatin.
Lalu aku memutar bagian itu sekali lagi, dan sekali lagi, dan aku bilang ke diriku sendiri bahwa aku sedang mengevaluasi teknik.
Icha menelepon di tengah-tengah.
“Kamu lagi apa?”
“Dengerin rekaman.”
“Rekaman apa?”
“Sesi.”
Hening di seberang.
“Aurora.”
“Apa?”
“Ini rekaman ke berapa yang kamu dengerin malam ini?”
“...Ketiga.”
“Yang beda-beda?”
“Yang sama.”
Icha menghela napas panjang sekali, seperti orang yang sedang menimbang apakah mau bicara atau tidak.
“Cha?”
“Nggak apa-apa. Lanjutin evaluasi kamu.”
“Kamu nyindir.”
“Aku nggak nyindir. Aku nguap.” Dia menguap, terlalu jelas, terlalu dibuat-buat. “Udah ya. Ngantuk.”
Aku menutup telepon dan memutar bagian itu untuk keempat kalinya.
Rabu berikutnya aku datang tiga menit lebih awal, dan dia sudah di sana.
“Kamu dateng jam berapa?”
“Setengah empat.”
“Sesinya jam empat.”
“Gue tau.”
“Terus kamu ngapain setengah jam?”
“Ngerjain tugas.” Dia menutup bukunya. Aku sempat melihat halamannya kosong. “Duduk.”
Aku duduk dan menaruh ponsel di tengah meja, menyalakan perekam. Dia meliriknya seperti biasa — lirikan cepat, setengah detik, lalu kembali. Dia selalu melakukan itu dan aku selalu menganggapnya kebiasaan orang yang tidak suka direkam.
“Materi hari ini,” kataku, “masih pegangan tangan.”
“Masih.”
“Empat menit kemarin kurang.”
“Kurang buat apa.”
“Buat aku nggak panik.” Aku menaruh tanganku di meja, telapak ke atas, dan berusaha kelihatan santai. “Kalau nanti sama Kak Bagas kejadiannya lima menit, aku bakal ambruk di menit keempat.”
“Lo ngomongin pegangan tangan kayak ngomongin lari maraton.”
“Emang mirip.”
“Enggak.”
“Bum.”
Dia menghela napas dan menaruh tangannya di atas tanganku.
Kali ini aku tidak menarik napas kaget. Aku hitung itu sebagai kemajuan. Aku bahkan sempat bilang di dalam hati: tuh kan, latihan itu berhasil, tinggal diulang aja sampai biasa.
Yang tidak kuperhitungkan adalah bahwa “biasa” bukan berarti “tidak terasa apa-apa”.
Tanganku berhenti gemetar di menit kedua. Di menit ketiga, aku sudah bisa bicara normal. Di menit keempat, aku menyadari bahwa aku sudah tidak memikirkan Kak Bagas sama sekali sejak sesi dimulai, dan aku buru-buru memikirkannya, dan itu terasa seperti mengingat PR di tengah film.
Di menit keenam dia bertanya, “Udah?”
“Belum.”
Menit kedelapan.
“Aurora.”
“Bentar.”
Di menit kedelapan dia bertanya sesuatu.
“Lo takut apa, sih?”
“Maksudnya?”
“Kalau lo nembak dia terus ditolak. Lo takut apa. Yang beneran.”
Aku memikirkannya. Tanganku masih di bawah tangannya dan entah kenapa itu membuat pertanyaannya lebih gampang dijawab.
“Aku takut dia bakal ngomong ‘maaf ya’ terus tetep baik ke aku,” kataku. “Terus tiap ketemu dia bakal senyum sopan. Terus aku bakal jadi orang yang dia kasihanin.”
“Itu bukan kasihan. Itu sopan.”
“Sama aja rasanya.”
“Enggak.” Tangannya tidak bergerak. “Kasihan itu dari atas ke bawah. Sopan itu sejajar. Kalau dia nolak lo terus tetep sopan, itu artinya dia nggak nganggep lo lebih rendah gara-gara lo berani.”
“Kamu kok tau banget.”
“Gue baca.”
“Buku.”
“Buku.”
Menit kesepuluh, aku sadar aku sudah lupa kenapa kami memulai hitungannya.
Aku juga sadar — dan ini yang bikin aku menutup mata sekarang setiap kali mengingatnya — bahwa entah kapan, di suatu titik yang tidak kucatat, jempolku mulai bergerak. Pelan, kecil, ke depan dan ke belakang di punggung tangannya. Aku tidak menyuruhnya bergerak. Dia bergerak sendiri.
Dan dia tidak menghentikanku.
“Dua belas menit,” katanya akhirnya.
Aku menarik tanganku secepat orang yang menyentuh panci panas.
“Ya ampun. Kok bisa selama itu.”
“Gue nggak tau.”
“Kamu kan yang ngitung!”
“Gue ngitung. Gue nggak bilang gue ngingetin.”
“Kenapa nggak diingetin?!”
Dia mengambil gelasnya dan minum, dan dia butuh waktu lebih lama dari yang dibutuhkan untuk minum.
“Karena lo lagi nggak gemeteran,” katanya. “Gue nggak mau ngerusak.”
“Oh.”
Aku menggenggam tanganku sendiri di pangkuan. Rasanya masih hangat di satu sisi.
Aku menaruh tangan itu di paha dan menekannya, seolah dengan menekan aku bisa membuat hangatnya berhenti lebih cepat. Tidak berhasil. Hangatnya bertahan lebih lama dari yang masuk akal untuk sesuatu yang cuma dua belas menit.
“Ini latihan doang, kan?” tanyaku.
Aku tidak tahu kenapa aku menanyakannya. Aku bahkan tidak berencana mengucapkannya. Kalimat itu keluar sendiri, seperti orang yang tiba-tiba mengecek apakah pintu rumahnya sudah dikunci padahal sudah tiga kali dicek.
Dia menaruh gelasnya kembali ke meja. Pelan. Bunyinya nyaris tidak ada.
“Iya,” katanya. “Latihan doang.”
“Iya kan?”
“Iya.”
“Soalnya aku takut kamu nggak enak.”
“Gue nggak apa-apa.”
“Kamu selalu bilang nggak apa-apa.”
“Karena gue emang nggak apa-apa.” Dia mengambil pulpen dan menarik lembar rubrik ke arahnya, lalu menulis sesuatu kecil-kecil di margin. “Catet punya lo. Sepuluh.”
“Aku belum ngasih nilai.”
“Gue tau nilainya sepuluh.”
Aku tertawa dan menulis sepuluh, dan aku tidak melihat ke margin sama sekali.
Di halte, hujan turun tiba-tiba. Bukan gerimis — langsung deras, dari nol ke seratus, khas kota ini.
Aku berdiri di bawah atap halte sambil mengibaskan lengan seragamku yang basah dan mengeluh, dan dia berdiri di sebelahku sambil tidak mengeluh sama sekali.
“Ramalannya cerah, lho,” kataku.
“Ramalan di kota ini bohong terus.”
“Kamu tau dari mana?”
“Gue ngecek.”
“Kamu ngecek ramalan cuaca?”
“Tiap hari.”
“Buat apa?”
Dia mengangkat bahu, dan tidak menjawab, dan aku menganggap itu bagian dari kenerdan umumnya seperti spreadsheet dan nomor sepatu Fandi.
Angin masuk ke halte dan aku menggigil, dan tanganku otomatis menggosok lengan sendiri.
“Tangan lo dingin lagi?”
“Iya.”
“Dingin beneran atau dingin gugup?”
“Beneran.” Aku mengangkat tangan. “Ini karena angin. Bukan karena tadi.”
Aku sadar kalimat itu aneh setengah detik setelah keluar. Tidak ada yang menuduhku apa-apa. Aku sedang membela diri dari pertanyaan yang tidak ditanyakan.
Dia tidak menanggapinya. Dia cuma melepas jaket seragamnya dan menyodorkannya ke arahku.
“Pakai.”
“Nanti kamu—“
“Gue nggak dingin.”
“Bum—“
“Aurora.” Dia masih menyodorkan jaket itu tanpa melihat ke arahku, matanya lurus ke jalan. “Sepuluh detik lagi gue taruh di kepala lo.”
Aku mengambil jaketnya.
Baunya seperti deterjen dan sedikit seperti kertas, dan kalau kutulis begitu sekarang rasanya sepele, tapi malam itu aku menyimpan detail itu tanpa alasan yang jelas, dan aku masih ingat sampai sekarang.
Busnya datang. Aku naik dengan jaket yang tidak muat di bahuku dan melambai dari balik kaca, dan dia berdiri di halte itu dengan lengan seragam putih yang basah di bagian bahu kanan.
Aku baru menyadari bagian bahu kanan itu tiga tahun kemudian, waktu aku memutar rekaman lain dan mendengar suara hujan di latar dan suaranya bilang “gue nggak dingin” dengan gigi yang jelas-jelas gemeletuk.
Malam itu aku pulang, menggantung jaketnya di belakang pintu kamar, dan menulis di buku catatan:
Sesi 7. Total 30/30. Progres bagus.
Catatan: jangan kelamaan. Kasihan Bumi.
Aku menatap kalimat terakhir itu agak lama, lalu menambahkan satu baris lagi di bawahnya, lebih kecil, seperti orang yang menulis sesuatu supaya bisa berhenti memikirkannya.
Kalau dia keberatan, dia pasti bilang. Dia selalu bilang.
Lalu aku tidur memakai jaket itu, dan aku bilang ke diriku sendiri bahwa itu karena kamarku dingin.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit reading
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu