← Latihan Dulu

Chapter Twenty

Kursi Kanan

POV: Aurora

Perpustakaan pusat kampus utara punya lantai empat yang hampir tidak pernah dipakai orang, karena isinya jurnal cetak tahun sembilan puluhan dan liftnya sering rusak.

Aku tahu ini karena dia yang memberitahuku, lewat pesan, dua hari sebelumnya.

Bumi: Lantai 4, meja dekat rak jurnal.
Bumi: Sepi. Enak buat kerja.

aku: oke

aku: kamu sering ke situ?

Butuh sepuluh menit sebelum balasannya masuk.

Bumi: Iya.

Aku menatap balasan itu lebih lama dari yang wajar untuk sebuah kata.


Aku naik tangga karena liftnya memang rusak, dan sampai di lantai empat dengan napas yang tidak enak, dan langsung tahu meja yang dia maksud.

Ada dua meja di dekat rak jurnal. Yang satu di tengah, yang satu di ujung.

Dia di yang ujung.

Dua kursi. Dia di kiri.

Aku berdiri di ujung tangga selama sekitar tiga detik memandangi susunan itu, dan aku tidak berpikir apa-apa, sungguh, aku bahkan tidak menyadari bahwa aku sedang memandangi apa pun.

Lalu aku jalan ke sana dan duduk di kursi kanan.

“Hai.”

“Hai.”

Aku mengeluarkan laptop. Dia sudah punya dua dokumen terbuka di layarnya dan sedang membandingkan keduanya.

“Ini yang kemarin?”

“Iya. Gue rapiin semalem.”

“Semalem?”

“Iya.”

“Ini panjang banget.”

“Nggak juga.”

Aku scroll. Enam belas halaman.

“Bum, ini enam belas halaman.”

“Sebagian besar diagram.”

“Kamu ngerjain ini semalem?”

“Iya.”

“Sendirian?”

“Iya.” Dia mengetik sesuatu. “Kalau kalian nunggu ini dari tim teknis, baru selesai minggu depan. Terus dokumentasi molor, terus deadline lo yang kena.”

Aku memandanginya dari samping.

Deadline lo yang kena.

Bukan “deadline tim”. Bukan “deadline kita”.

“Makasih,” kataku.

“Nggak usah.”

“Kamu selalu bilang nggak usah.”

“Karena emang nggak usah.”


Kami kerja selama dua jam tanpa banyak bicara.

Dan itu bagian yang paling aneh dari seluruh hari itu, karena dua jam tanpa banyak bicara seharusnya canggung. Kami tiga tahun tidak bertemu. Kami berpisah dalam keadaan yang tidak selesai. Seharusnya ada rasa kaku.

Tidak ada.

Aku mengetik. Dia mengetik. Sekali dia menggeser botol minumku sedikit ke kiri karena posisinya terlalu dekat dengan siku dan hampir tumpah, dan dia melakukannya tanpa berhenti mengetik dengan tangan yang lain, dan aku bahkan tidak bilang terima kasih karena rasanya seperti berterima kasih untuk gravitasi.

Sekitar jam satu dia berdiri dan turun ke lantai bawah tanpa bilang apa-apa.

Dia kembali sepuluh menit kemudian dan menaruh sesuatu di sebelah laptopku.

Roti cokelat.

Aku memandangi roti itu.

“Bum.”

“Lo belum makan.”

“Kamu tau dari mana?”

“Lo dateng jam sepuluh dan lo nggak bawa apa-apa dan sekarang jam satu.”

“Aku bisa aja udah sarapan.”

“Lo nggak sarapan.”

“Kok tau?”

Dia sudah duduk lagi dan sudah mengetik lagi.

“Gue nggak tau,” katanya. “Gue nebak.”

Bohong.

Aku tidak tahu bagaimana aku bisa seyakin itu bahwa dia bohong, tapi aku yakin, dan aku membuka roti itu dan memakannya dan tidak bertanya lagi.

Rasanya sama seperti dulu. Tentu saja sama. Rotinya memang roti yang sama, merek yang sama, yang dijual di mana-mana di seluruh kota ini.

Aku menghabiskannya dalam empat gigitan dan menyimpan bungkusnya di kantong tas.

Aku tidak tahu kenapa aku menyimpan bungkusnya.

Jam dua siang aku sadar bahuku pegal dan aku merentangkan tangan ke atas.

Dan waktu aku menurunkan tangan, aku melihat dia sedang memandangi kursi.

Bukan aku. Kursinya.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Bum.”

“Nggak apa-apa.”

Dia kembali ke layarnya, dan telinganya — aku tidak tahu apakah aku mengarang bagian ini, aku sudah mengulang ingatan ini terlalu banyak kali — telinganya kelihatan sedikit merah di ujung.

“Kamu kenapa sih?”

“Aurora.”

“Apa?”

“Nggak apa-apa.”

Dan karena dia bilang begitu dengan nada yang menutup pintu, aku berhenti bertanya, dan kembali mengetik.

Tiga puluh menit kemudian aku sadar sendiri.

Aku sedang mengambil botol minum dan tanganku bergerak ke arah kiri, dan aku berhenti dengan tangan menggantung di udara.

Kursi kanan.

Aku selalu duduk di kursi kanan. Selama dua tahun, di perpustakaan SMA, di meja ujung dekat rak referensi. Aku tidak pernah membicarakannya dengan siapa pun. Aku bahkan tidak pernah memikirkannya sebagai sesuatu.

Dan tadi aku naik tangga, melihat dua meja, melihat dia duduk di kiri, dan berjalan lurus ke kursi kanan tanpa berhenti sedetik pun.

Aku menaruh botol minumku kembali ke meja.

Pelan.

Dan yang paling membuatku diam bukan bahwa aku duduk di kursi kanan.

Yang membuatku diam adalah bahwa dia duduk di kiri.

Ada dua kursi kosong di lantai empat perpustakaan sebuah kampus yang aku tidak pernah datangi sebelumnya, dan dia memilih kiri, dan dia sudah duduk di sana satu jam sebelum aku datang.

“Bum.”

“Hm.”

Aku membuka mulut.

Kamu masih duduk di kiri.

Itu kalimatnya. Enam kata. Aku sudah menyusunnya di kepala dan aku sudah tahu bagaimana bunyinya.

Aku juga tahu — dan aku baru sadar ini sekarang, tiga tahun setelah tiga tahun itu — bahwa aku tahu persis apa yang akan terjadi kalau aku mengucapkannya. Dia akan mengangkat kepala. Dia akan diam dua atau tiga atau empat detik. Dan sesuatu akan berubah di ruangan itu dan tidak bisa dikembalikan.

Aku menutup mulutku.

“Nggak,” kataku. “Aku mau nanya soal bagian empat.”

Dia menjelaskan bagian empat.


Kami turun bareng jam lima karena perpustakaan tutup.

Empat lantai, tangga darurat, dan dia jalan di sebelah kananku sepanjang tangga meskipun tidak ada motor di dalam gedung.

Di lantai dua ada anak tangga yang ubinnya pecah, dan aku hampir tersandung, dan dia sudah mengangkat tangannya setengah jalan ke arah lenganku sebelum aku menyeimbangkan diri sendiri.

Tangannya berhenti di udara.

Lalu turun.

“Sori,” katanya.

“Nggak apa-apa.”

Kami melanjutkan turun dan tidak ada yang membicarakannya, dan aku memegang pegangan tangga dengan tangan kanan sepanjang sisa jalan, dan tanganku dingin.

Di parkiran, Kak Bagas sudah menunggu di mobil.

Dia menurunkan kaca dan melambai. “Bumi! Ikut? Aku bisa anter.”

“Nggak usah, Kak. Halte deket.”

“Beneran? Hujan lho.”

Aku menoleh ke langit. Mendung, tapi belum turun.

“Nggak apa-apa,” kata Bumi.

“Ya udah. Hati-hati.”

Aku masuk ke mobil dan menutup pintu dan memasang sabuk pengaman.

Lewat spion, aku melihat dia berdiri di trotoar, membuka tasnya, dan mengeluarkan payung.

Satu payung.

Aku memandangi spion itu sampai kami belok dan dia hilang.

“Ra?”

“Hm?”

“Kamu ngeliatin apa?”

“Nggak ada.” Aku memalingkan wajah ke depan. “Lampu merahnya lama.”


Hujan turun sepuluh menit kemudian, waktu kami sudah di jalan besar.

Deras. Dari nol ke seratus.

Aku duduk di kursi penumpang dengan pemanas menyala dan wiper bergerak cepat, dan Kak Bagas sedang bercerita tentang sesuatu yang lucu di kantornya, dan aku tertawa di tempat yang benar.

Dan sepanjang jalan itu ada satu kalimat yang berputar di kepalaku, dan aku tidak bisa mengusirnya, dan aku tidak mengerti kenapa kalimat itu terasa seperti sesuatu yang penting.

Dia cuma bawa satu.


Kak Bagas mengantarku sampai depan kosan dan menunggu sampai aku masuk, seperti biasa.

Aku naik ke kamar dan menaruh tas di kasur dan mengeluarkan laptop, dan waktu aku mengeluarkan laptop, bungkus roti cokelat itu ikut jatuh ke lantai.

Aku memungutnya.

Aku berdiri di tengah kamar dengan bungkus plastik kosong di tangan, dan aku berpikir: ini sampah, dan aku berjalan ke tempat sampah, dan aku berdiri di depan tempat sampah selama beberapa detik.

Lalu aku memasukkannya ke laci meja.

Aku menutup lacinya dan menganggap urusan itu selesai dan membuka laptop dan mulai mengerjakan bagian empat.

Sepuluh menit kemudian aku membuka laci itu lagi, mengeluarkan bungkusnya, melipatnya kecil-kecil supaya rapi, dan memasukkannya kembali.

Aku tidak menganalisis kenapa.

Aku sudah mulai berhenti menganalisis hal-hal tertentu, dan aku bahkan belum sadar bahwa aku berhenti, dan itu berlangsung selama enam minggu berikutnya sampai ada seseorang yang mengatakan sesuatu ke aku di sebuah restoran dan seluruhnya runtuh sekaligus.