← Latihan Dulu

Chapter Twenty Four

Restoran

POV: Aurora

Kak Bagas mengajakku makan malam hari Sabtu di tempat yang agak mahal, dan aku sempat berpikir dia akan melamar.

Aku menuliskan itu dengan jujur karena aku ingin jelas: aku benar-benar berpikir begitu, dan waktu aku berpikir begitu, hal pertama yang kurasakan bukan senang.

Yang kurasakan adalah panik.

Dan aku menekan panik itu, dan aku memakai gaun yang dia suka, dan aku datang tepat waktu.


Kami memesan. Kami makan. Dia bercerita tentang kantornya dan aku tertawa di tempat yang benar.

Lalu setelah piring diangkat, dia menaruh tangannya di meja dan bilang:

“Ra, aku mau ngomong sesuatu.”

“Iya?”

“Aku pikir kita udahan.”

Aku menaruh gelasku.

“Apa?”

“Aku pikir kita berhenti aja.” Dia bilang itu dengan tenang. Tidak ada gemetar. Tidak ada mata yang basah. “Bukan karena kamu salah. Beneran. Kamu nggak pernah salah apa-apa selama tiga tahun.”

“Kak—“

“Boleh aku selesaiin dulu?”

Aku mengangguk.

Dia menarik napas.

“Kamu inget waktu aku nanya kamu takut nggak sama aku?”

“Iya.”

“Kamu bilang enggak. Nggak pernah.” Dia tersenyum sedikit. “Aku pulang malam itu dan aku seneng banget. Aku pikir artinya aku bikin kamu nyaman. Aku cerita ke temenku dan temenku bilang aku beruntung.”

Ada sesuatu yang mulai naik di dadaku.

“Terus dua minggu kemudian aku sadar,” katanya. “Aku juga nggak pernah takut. Sama kamu. Nggak sekali pun dalam tiga tahun.”

“Itu bagus kan?”

“Aku juga mikir gitu.” Dia memutar gelasnya. “Sampai aku nyadar aku juga nggak pernah takut kehilangan kamu.”

Restoran itu ramai. Ada bunyi sendok. Ada tawa dari meja seberang.

“Ra, aku sayang kamu,” katanya. “Aku nggak bohong soal itu. Tiga tahun aku sayang sama kamu dan aku nggak nyesel sedetik pun.”

“Terus kenapa—“

“Karena aku nggak pernah gugup nungguin balesan kamu.” Dia menatapku. “Nggak pernah sekali pun aku ngecek HP terus mikir ‘kenapa dia lama’. Aku selalu tenang. Selalu.”

“Itu artinya kita dewasa.”

“Itu artinya nggak ada yang dipertaruhin.”

Aku berhenti bernapas selama satu detik.

Kalimat itu.

Aku pernah mendengar bentuk lain dari kalimat itu, dari orang lain, di suatu tempat, dan aku tidak bisa mengingat di mana.

“Ra.”

“Hm.”

“Kamu nggak pernah bener-bener ada di sini.”

Aku membuka mulut untuk membantah.

Dan tidak ada yang keluar.

Aku duduk di restoran itu selama entah berapa lama dengan mulut yang sudah terbuka dan tidak ada kalimat di belakangnya, dan aku menyadari bahwa ini kedua kalinya bulan ini hal yang persis sama terjadi padaku.

Yang pertama di ruang rapat kecil, tiga minggu lalu, waktu seseorang bertanya kenapa aku mengingat nomor sesi.

“Kak.”

“Hm.”

“Aku pengen bilang kamu salah,” kataku. “Aku pengen banget.”

“Aku tau.”

“Tapi aku nggak punya buktinya.”

Kak Bagas tersenyum, dan senyumnya itu — hangat, tanpa kepahitan sedikit pun — adalah hal yang membuat seluruh malam itu jauh lebih buruk daripada kalau dia marah.

“Ra, kamu orang baik,” katanya. “Kamu cuma lagi nyimpen tempat buat sesuatu, dan aku nggak tau buat apa, dan aku rasa kamu juga nggak tau.”

“Itu nggak masuk akal.”

“Iya.” Dia mengangkat tangan minta bill. “Tapi aku udah tiga tahun tinggal di sebelahnya.”


Dia mengantarku pulang. Tentu saja dia mengantarku pulang. Itu yang paling khas darinya — mengakhiri hubungan tiga tahun lalu tetap membukakan pintu mobil.

Di depan kosan dia mematikan mesin.

“Aku boleh nanya satu hal terakhir?” katanya.

“Boleh.”

“Kamu marah?”

Aku memikirkannya.

Aku memikirkannya dengan sungguh-sungguh, di dalam mobil, di depan kosan, jam sepuluh malam.

“Enggak,” kataku.

Dia mengangguk pelan.

“Nah,” katanya. “Itu.”


Aku tidak menangis malam itu.

Itu yang membuatku duduk di lantai kamar sampai jam satu pagi.

Bukan karena hubungan tiga tahun berakhir. Karena hubungan tiga tahun berakhir dan aku duduk di lantai kamar dengan perasaan yang paling mirip dengan... lega.

Aku mencoba memaksa diriku sedih. Sungguh. Aku duduk di sana dan mengingat hal-hal baik — dan ada banyak, ada sangat banyak, tiga tahun penuh hal baik. Ulang tahun ibuku. Dia menunggu di parkiran waktu hujan. Dia menghafal nama dosenku.

Semua ingatan itu bagus, dan tidak satu pun dari ingatan itu menyakitkan.

Aku menelepon Icha jam setengah dua.

“Ra?”

“Kami putus.”

Icha langsung bangun. Aku bisa mendengar dia duduk.

“Kamu di mana?”

“Kosan.”

“Aku ke sana sekarang.”

“Cha, nggak usah. Aku nggak apa-apa.”

“Kamu baru putus sama pacar tiga tahun.”

“Iya.”

“Ra.”

“Cha, aku beneran nggak apa-apa.” Aku menekan telepon ke telinga. “Itu masalahnya. Aku nggak apa-apa dan aku nggak ngerti kenapa.”

Icha diam agak lama.

“Dia bilang apa?”

“Dia bilang aku nggak pernah bener-bener ada di situ.”

Icha diam lebih lama lagi.

“Cha.”

“Hm.”

“Kamu nggak kaget.”

“Aku kaget.”

“Kamu bohong.”

“Aurora—“

“Kamu nggak kaget dan kamu nggak nanya kenapa dan kamu langsung nanya dia bilang apa.” Aku menekan mataku dengan tangan. “Kamu udah tau.”

“Aku nggak tau apa-apa.”

“Cha.”

Ada suara napas panjang di seberang.

“Ra, aku nggak tau apa-apa,” katanya. “Aku cuma pernah liat sesuatu bertahun-tahun lalu dan aku janji ke diri aku sendiri buat nggak ngomong. Dan aku masih pegang janji itu.”

“Janji apa?”

“Kalau nanti kamu nyesel, aku nggak akan bilang ‘kan aku udah bilang’.”

Aku menutup mata.

“Aku belum nyesel apa-apa.”

“Aku tau,” kata Icha. “Makanya aku belum ngomong apa-apa.”


Senin pagi aku datang ke kantor jam delapan kurang lima seperti biasa.

Bumi sudah di mejanya seperti biasa.

Aku tidak memberitahunya. Aku tidak memberitahu siapa pun di kantor. Bukan karena rahasia — karena tidak ada urgensinya, karena aku belum tahu bagaimana mengucapkannya tanpa terdengar seperti orang yang mengumumkan sesuatu.

Kami tidak bicara soal apa pun kecuali modul integrasi bagian tujuh, dan kami menyelesaikannya lebih cepat dari jadwal, dan hari itu berjalan dengan sangat normal.

Kecuali satu hal.

Jam sebelas, waktu aku sedang membuka file, dia menaruh gelas air di sebelah laptopku.

Aku tidak memintanya. Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma menaruhnya dan kembali ke mejanya dan melanjutkan mengetik.

Aku memandangi gelas itu.

Dia tau.

Bukan tahu soal putusnya. Dia tidak mungkin tahu. Tidak ada yang tahu.

Tapi dia tahu sesuatu — bahwa ada yang berbeda, bahwa aku duduk dengan cara yang lain, bahwa aku mengecek ponsel lebih sedikit dari biasanya — dan responsnya bukan bertanya.

Responsnya adalah menaruh gelas air.

Jam lima sore dia berdiri untuk mengambil air.

Dan waktu dia lewat di belakang kursiku, dia berhenti.

Setengah detik. Mungkin kurang.

Lalu dia melanjutkan jalan.

Aku duduk di kursiku dan tidak menoleh, dan aku menghitung sesuatu yang tidak pernah kuhitung sebelumnya: berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk melewati kursi tanpa berhenti.

Jawabannya, ternyata, kurang dari setengah detik.

Dan aku duduk di sana dengan tangan di keyboard dan menyadari bahwa aku baru saja mengukur jeda seseorang dari suara langkah kakinya, dan bahwa aku sudah melakukan hal semacam ini selama enam tahun, dan bahwa tidak ada satu orang pun di dunia ini yang kuukur seperti itu selain dia.

Aku pulang jam enam.

Di kamar, aku duduk di kasur dan membuka ponselku dan scroll ke folder bernama “sesi”.

Empat puluh tiga file.

Jempolku berhenti di atas yang pertama.

Aku menatapnya selama mungkin lima menit.

Lalu aku menutup aplikasinya, meletakkan ponsel itu di meja, dan tidur menghadap dinding.

Belum.

Aku tidak tahu apa yang sedang kutunggu. Tapi aku tahu, dengan cara yang tidak bisa kujelaskan, bahwa kalau aku memutar file itu malam ini — dua hari setelah putus, dua hari — maka apa pun yang kutemukan di dalamnya akan jadi salah.

Aku butuh alasan yang bukan kesepian.

Aku menemukannya dua minggu kemudian, di lantai kamarku, di dalam kotak sepatu.