← Latihan Dulu

Chapter Forty Six

Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu

POV: Aurora

Aku juga menghitung.

Dia tidak tahu itu. Selama dua ratus tiga puluh hari dia mengira dialah satu-satunya yang menghitung, dan aku membiarkannya, karena itu satu-satunya hal yang bisa kuberikan.

Aku menghitungnya di aplikasi catatan. Satu baris per hari. Tidak ada isinya, cuma tanggal.

Aku tidak menulis apa-apa di sebelahnya karena aku takut kalau aku menulis, aku akan mulai menyusun kalimat, dan kalau aku mulai menyusun kalimat maka aku sedang berlatih, dan aku sudah berjanji ke diriku sendiri bahwa yang satu ini tidak akan kulatih.


Aku tidak menunggu hari yang tepat.

Aku ingin mencatat itu, karena orang akan mengira begitu.

Tidak ada hari yang tepat. Aku sudah memeriksa semuanya. Ulang tahunnya salah — terlalu jelas. Hari jadi kami salah — terlalu rapi. Tahun baru salah. Hari Rabu, ya ampun, hari Rabu paling salah dari semuanya.

Aku ingin hari yang tidak berarti apa-apa.

Karena selama enam tahun setiap hal yang dia dapat selalu punya jadwal. Sesi hari Rabu, jam empat sampai jam tujuh. Magang enam bulan. Semuanya punya jam selesai yang sudah ditentukan sebelum acaranya mulai.

Aku ingin memberinya satu hari yang tidak ada di kalender siapa pun.


Icha bertanya sekali, sekitar hari keseratus.

“Ra, kamu belum bales?”

“Belum.”

“Seratus hari?”

“Iya.”

“Kamu jahat.”

“Aku tau.” Aku memandangi ponselku. “Cha, kalau aku bales sekarang, itu jadi balasan. Aku nggak mau dia dapet balasan. Aku mau dia dapet sesuatu yang aku kasih.”

Icha diam agak lama.

“Ra.”

“Apa?”

“Kamu tau nggak sih kamu udah berubah banget.”

“Berubah gimana?”

“Dulu kamu orang yang latihan empat puluh tiga kali biar bisa ngomong empat kata,” katanya. “Sekarang kamu nahan satu kata seratus hari biar artinya bener.”

Aku tidak menjawab.

“Siapa yang ngajarin kamu?” tanya Icha.

Dan aku tertawa, karena kami berdua sudah tahu jawabannya.


Hari itu hari Kamis.

Aku pulang jam delapan karena macet. Unitnya gelap, dan waktu aku masuk ke unitku sendiri, lampunya menyala.

Dia di kursi kiri, tertidur.

Dengan kepala di lengan, di atas meja, di depan laptop yang layarnya sudah mati. Kacamatanya masih terpasang dan miring. Ada dua gelas di meja — satu punyanya, satu yang bergambar kelinci, yang sudah kosong dan sudah dicuci dan sudah ditaruh kembali di tempat yang benar.

Dia menungguku dan tertidur.

Dan aku berdiri di ambang pintu unitku dengan tas masih di bahu, dan aku tahu.

Bukan dengan dramatis. Tidak ada apa pun yang bergerak di dadaku. Aku cuma berdiri di situ dan tahu, sejelas orang tahu berat badannya sendiri.

Oh.

Hari ini.


Aku menaruh tasku dan melepas sepatuku dan tidak membangunkannya.

Aku duduk di kursi kanan.

Dan aku memutar kepalaku ke kiri dan memandanginya selama mungkin dua puluh menit, seperti orang bodoh, di unit apartemen sendiri jam setengah sembilan malam.

Delapan tahun aku duduk di sebelah orang ini.

Kafe berkopi buruk. Perpustakaan dengan rak yang baunya seperti kertas menyerah. Bangku besi di taman yang bukan taman. Halte dengan atap bocor. Ruang rapat kecil. Lantai empat perpustakaan kampus utara. Kereta empat jam. Pantai yang tidak bagus. Lantai kosan. Dan sekarang meja panjang menghadap jendela dengan dua kursi yang kubeli sendiri.

Dan tidak sekali pun, dalam delapan tahun, dia meminta apa pun.

Kecuali dua kali.

Aku memikirkannya di kursi kanan itu dan aku bisa menyebutkan keduanya dengan tepat.

Yang pertama: “Anggap aja gue jadi dia. Tapi ada aturannya.” Sesi pertama. Dia meminta ada mulai dan selesainya — dan aku baru mengerti bertahun-tahun kemudian bahwa itu bukan permintaan, itu perlindungan diri.

Yang kedua: “Kasih gue seminggu.”

Dua kali. Delapan tahun.

Dan yang kedua pun bukan permintaan untuk dirinya sendiri. Dia meminta waktu supaya dia bisa memberiku jawaban yang benar.

Dia bangun jam sembilan kurang.

“Aurora?”

“Hai.”

“Lo pulang jam berapa.”

“Setengah sembilan.”

Dia duduk tegak dan membetulkan kacamatanya. “Kenapa nggak bangunin.”

“Karena aku mau.”

Dia berhenti.

Itu kalimatnya. Dia mengatakannya ke aku di dak beton jam setengah enam pagi, dan aku menangis, dan sekarang aku mengembalikannya.

“Oke,” katanya.


Kami makan malam terlambat.

Aku tidak masak. Kami memesan sesuatu yang datang jam sepuluh dan memakannya di lantai karena mejanya penuh berkas.

Dia bercerita soal proyek yang berantakan. Aku bercerita soal Icha yang menikah bulan depan dan sudah mengganti gedung tiga kali.

Kami mencuci piring bersama dan dia menyentuh punggungku waktu lewat, ringan, tanpa berhenti jalan.

Jam sebelas kami di kamar.

Dan aku belum mengatakannya.

Aku ingin jujur soal ini: aku hampir tidak jadi.

Bukan karena aku ragu. Karena aku sadar, sekitar jam setengah sebelas, bahwa aku sedang menyusun kalimat di kepalaku — bagaimana bunyinya, kapan waktunya, apa yang harus kulakukan setelahnya.

Aku sedang berlatih.

Aku duduk di tepi kasur dan hampir tertawa, karena delapan tahun dan aku masih orang yang sama, dan karena satu-satunya hal yang tidak boleh kulatih hampir kulatih juga.

Jadi aku membuang semuanya.


Dia berbaring di sisi kanan dan aku di kiri, seperti biasa, dengan lampu meja yang masih menyala.

Aku berbalik menghadapnya.

Dia sudah menghadapku.

“Lo mau ngomong sesuatu,” katanya.

“Kok tau.”

“Lo napas lebih pendek dari tadi.”

“Bum, itu serem.”

“Gue tau.”

Aku memandanginya. Tanpa kacamata. Dengan rambut yang berantakan di satu sisi. Dengan wajah yang selama delapan tahun tidak pernah menunjukkan apa pun kecuali kalau aku memperhatikan sangat dekat.

Aku mengangkat tanganku dan meletakkannya di rahangnya.

Dia tidak bergerak.

“Aurora.”

“Sebentar.”

“Oke.”

Dan aku tersenyum, karena aku tidak bisa menahannya, dan karena tiba-tiba semuanya terasa ringan.

“Bum.”

“Hm.”

“Ini latihan doang, kan?”

Dia diam.

Satu detik.

Dua.

Tiga.

Empat.

“Bukan,” katanya.


Aku menciumnya.

Dan kali ini tidak ada yang berantakan.

Tidak ada kacamata yang menabrak pipi. Tidak ada hidung yang bertabrakan. Tidak ada tangan yang tidak tahu harus di mana.

Delapan tahun aku melatih segalanya dan tidak satu pun latihan itu berguna, dan ternyata yang berguna cuma satu hal yang tidak bisa dilatih siapa pun: waktu.

Tangannya di belakang kepalaku. Napasnya berhenti sekali di tengah dan aku merasakannya. Lampu meja masih menyala dan tidak ada yang peduli.

Aku menarik diriku mundur beberapa sentimeter, cukup untuk melihat wajahnya.

Dan dia sedang menatapku dengan mata yang tidak menghitung apa pun.

“Bum.”

“Hm.”

“Dua ratus tiga puluh satu hari.”

Dia berhenti bernapas.

“Kamu ngitung,” kataku, “dan kamu nggak pernah nagih sekali pun.”

“Aurora—“

“Aku juga ngitung.” Aku menekan dahiku ke dahinya. “Tiap hari. Aku tulis tanggalnya. Aku nggak nulis apa-apa selain tanggal karena aku takut aku mulai nyusun kalimat.”

Dia memejamkan matanya.

“Bum, aku mau kamu tau kenapa aku nunggu selama ini,” kataku. “Bukan karena aku nggak yakin.”

“Gue tau.”

“Kamu tau?”

“Gue tau dari hari kedua,” katanya. “Lo bilang lo mau itu jadi punya lo sendiri.”

“Terus kenapa kamu tetep ngitung?”

Dia membuka matanya.

“Karena gue selalu ngitung,” katanya. “Tapi ini yang pertama kali gue ngitung sesuatu yang gue tau bakal dateng.”


Aku menekan wajahku ke lehernya dan tertawa dan menangis bersamaan, dengan cara yang jelek dan berisik, dan dia memelukku dengan dua tangan dan tidak bilang apa-apa.

Dan waktu aku selesai, aku mengangkat kepalaku.

Lampu mejanya masih menyala. Jam sebelas lewat. Hari Kamis yang tidak ada apa-apanya, di bulan yang biasa, di tahun kedelapan sejak seorang perempuan berumur enam belas tahun duduk di kafe berkopi buruk dan meminta seseorang untuk berpura-pura jadi orang lain.

Anggap aja kamu dia. Jangan jadi kamu.

Aku menatap wajahnya — wajahnya sendiri, tanpa nama orang lain di depannya, tanpa naskah, tanpa rubrik, tanpa perekam yang menyala di tengah meja.

Dan aku mengucapkannya.

“Aku cinta kamu, Asher.”

— TAMAT —