Chapter Thirty Four
Kalah
POV: Bumi
Aku ingin mencatat, untuk keperluan dokumentasi, bahwa aku kalah setiap hari selama dua minggu berturut-turut.
Bukan kalah debat. Aku masih menang debat. Kami berdebat soal apakah nasi goreng harus pakai telur mata sapi atau telur orak-arik dan aku menang dalam empat kalimat.
Yang kumaksud kalah adalah yang lain.
Hari kedua.
Kami di kantin kampusnya. Ada delapan orang di meja sekitar kami, termasuk Reno, yang sekarang menganggap dirinya semacam pengurus resmi.
“Bum.”
“Hm.”
“Kamu kalau lagi ngunyah, rahang kamu gerak dan itu masalah buat aku.”
Aku berhenti mengunyah.
“Aurora.”
“Ya kenapa? Aku cuma ngasih informasi.”
“Ini kantin.”
“Aku ngomong pelan.”
“Reno denger.”
“SAYA DENGAR,” kata Reno dari ujung meja.
Aku menaruh sendokku.
“Aurora, gue mau makan.”
“Ya makan aja.”
“Gue nggak bisa makan kalau lo ngomong gitu.”
Dia menopang dagu dengan dua tangan dan tersenyum ke arahku dengan cara yang membuatku memutuskan untuk memandang meja.
“Nah,” katanya. “Itu.”
“Itu apa.”
“Kamu jadi liat meja.” Dia menunjuk. “Kamu selalu liat meja atau tiang listrik atau jalan. Kamu nggak pernah liat aku.”
“Gue liat lo.”
“Berapa detik?”
Aku tidak menjawab.
“Berapa detik, Bum?”
“Gue nggak ngitung.”
“Bohong.”
“Gue nggak ngitung,” kataku lagi, dan itu benar, dan itu juga hal paling baru dalam hidupku.
Dia berhenti tersenyum.
“Serius?”
“Gue berhenti ngitung dari hari Rabu.”
Dia menaruh kepalanya di meja.
“Kak Aurora kenapa?” tanya Reno.
“Nggak apa-apa,” katanya, ke permukaan meja. “Aku lagi kalah.”
Hari kelima.
Fandi datang ke kosanku dan berhenti di ambang pintu.
“Apa itu.”
“Gelas.”
“Bum, itu gelas ada gambar kelinci.”
“Iya.”
“Kenapa ada gelas gambar kelinci di kosan lo.”
“Karena dia sering ke sini dan dia nggak mau minum pakai gelas yang sama sama gue.”
“Kenapa?”
“Katanya gelas gue rasanya kayak ngoding.”
Fandi masuk dan duduk di lantai dan memandangi gelas itu cukup lama.
“Terus itu apa.”
“Yang mana.”
“Yang di paku.” Dia menunjuk dinding. “Itu bungkus roti.”
Aku tidak menjawab.
“Bum, itu bungkus roti cokelat digantung di paku.”
“Iya.”
“Kenapa.”
“Dia yang gantung.”
“Kenapa dia gantung bungkus roti di dinding kosan lo?”
“Gue nggak nanya.”
Fandi memandangi bungkus itu, lalu memandangi aku, lalu memandangi bungkus itu lagi.
“Lo tau kan itu artinya apa.”
“Enggak.”
“Lo tau.”
“Fan, gue nggak nanya karena kalau gue nanya dia bakal jelasin,” kataku. “Dan kalau dia jelasin, gue nggak bisa pura-pura gue nggak tau.”
“Kenapa lo mau pura-pura nggak tau?”
Aku memandangi bungkus plastik yang tergantung di paku di dinding kosanku.
“Karena kalau gue tau,” kataku, “gue bakal ngitungin lagi.”
Fandi berbaring telentang di lantai.
“Bum.”
“Hm.”
“Gue seneng buat lo.”
“Makasih.”
“Tapi gue juga mau lo tau bahwa gue muak.”
“Baru lima hari.”
“Lima hari, dan gue udah liat lo ngirim foto langit ke seseorang.” Dia menunjuk. “Lo. Ngirim foto. Langit.”
“Dia yang minta.”
“Dia minta foto langit?”
“Dia bilang langit di kampus dia jelek dan dia mau liat langit di sini.”
“Dan lo langsung motret.”
“Iya.”
Fandi berbaring telentang di lantai dan menutup matanya dengan lengan.
“Enam tahun gue nungguin ini,” katanya. “Enam tahun. Dan sekarang gue pengen pindah kota.”
Hari kedelapan.
Ini yang paling parah dan aku akan menuliskannya lengkap sebagai peringatan untuk diriku sendiri.
Kami di kosannya, mengerjakan skripsinya, jam delapan malam, pintu terbuka sesuai aturan kosan.
Dia sedang membaca sesuatu di laptop dan aku sedang memperbaiki tabelnya, dan tiba-tiba dia bicara tanpa mengangkat kepala.
“Bum.”
“Hm.”
“Gulung lengan baju kamu.”
Aku berhenti mengetik.
“Kenapa.”
“Panas.”
“Kipasnya nyala.”
“Aku yang panas.”
“Aurora.”
“Gulung aja, Bum. Sepuluh detik. Terus aku diem.”
Dan aku — dan ini bagian yang tidak bisa kujelaskan ke siapa pun — aku menggulung lengan bajuku.
Dia menutup laptopnya.
“Lo bilang sepuluh detik.”
“Aku bohong.”
“Aurora—“
“Kamu tau nggak sih kamu tuh gimana?” Dia berbalik menghadapku dengan seluruh badan. “Kamu nggak tau. Itu masalahnya. Enam tahun kamu jalan-jalan sambil nggak tau.”
“Gue tau gue gimana.”
“Kamu tau kamu gimana secara teknis.” Dia menunjuk lenganku. “Kamu nggak tau efeknya.”
“Efek apa.”
“BUM.”
Aku menurunkan lengan bajuku kembali.
“Jangan diturunin.”
“Lo bilang panas.”
“Aku bohong soal itu juga.”
Aku menaruh laptopku di kasur dan menghadapnya.
“Aurora, ini skripsi lo deadline-nya Jumat.”
“Aku tau.”
“Dan lo baru ngerjain empat puluh persen.”
“Empat puluh dua.”
“Empat puluh dua.”
“Iya.” Dia bersandar ke tembok. “Dan aku nggak akan bisa naik dari empat puluh dua kalau kamu duduk di sini.”
“Ya udah gue pulang.”
“JANGAN.”
Aku duduk kembali.
Dia menekan wajahnya ke lutut dan mengeluarkan suara panjang.
“Bum, ini nggak adil.”
“Apanya.”
“Enam tahun kamu suka aku dan aku nggak tau apa-apa dan kamu tetep bisa fungsi.” Dia mengangkat kepalanya. “Aku baru dua minggu dan aku nggak bisa ngerjain apa-apa.”
Aku memandanginya.
“Aurora.”
“Apa.”
“Gue nggak bisa fungsi.”
Dia berhenti.
“Enam tahun gue nggak bisa fungsi,” kataku. “Gue cuma jago keliatan fungsi. Itu keahlian yang beda.”
Hari kesebelas.
Dia menciumku di lorong kampusnya.
Cepat, di pipi, sambil lewat, tanpa berhenti jalan.
Aku berdiri di lorong itu selama sekitar delapan detik.
Reno lewat.
“Kak Bumi kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kakak berdiri di tengah lorong.”
“Iya.”
“Orang mau lewat, Kak.”
Aku pindah ke sisi kiri lorong.
Reno berdiri di sebelahku dan ikut memandangi ujung lorong yang sudah kosong.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak tau nggak Kak Aurora dulu cerita apa ke saya bulan ketiga?”
“Apa.”
“Dia bilang dia nggak yakin Kakak bakal bilang iya.” Reno menyandarkan tasnya ke dinding. “Dia bilang dia siap kalau sampai lulus Kakak tetep enggak. Dia bilang dia bakal tetep dateng tiap Rabu sampai dia lulus, terus habis itu dia berhenti, karena habis lulus dia nggak punya alasan lagi buat ke kampus ini.”
Aku menoleh.
“Dia bilang gitu?”
“Bulan ketiga, Kak. Di kantin.”
Reno mengangkat tasnya.
“Saya cuma mikir Kakak perlu tau,” katanya. “Soalnya Kakak keliatannya masih mikir Kakak yang paling banyak nunggu.”
Dia pergi.
Aku berdiri di lorong itu lebih lama lagi.
Hari keempat belas.
Aku mengirim pesan jam sebelas malam.
aku: Aurora.
Aurora: iya?
aku: Gue mau ngomong sesuatu dan gue nggak akan ngulangin karena gue malu.
Aurora: bum
aku: Gue seneng.
aku: Itu aja. Gue nggak punya kalimat yang lebih bagus. Gue udah nyoba nyusun dua puluh menit.
Centangnya biru.
Tidak ada balasan selama empat menit.
Lalu:
Aurora: bum aku lagi di jalan ke kosan kamu
aku: Ini jam sebelas.
Aurora: iya
aku: Kosan gue lima puluh menit dari sana.
Aurora: iya
aku: Aurora.
Aurora: bum aku udah di depan
Aku membuka pintu.
Dia berdiri di situ dengan jaket dan rambut berantakan dan ojek yang baru saja pergi, dan dia bilang, “Kamu bilang kamu seneng.”
“Iya.”
“Kamu nggak pernah bilang gitu.”
“Gue tau.”
“Enam tahun.”
“Aurora, ini jam sebelas.”
“Aku tau.” Dia mengangkat bahu, dan matanya basah, dan dia sedang tersenyum. “Aku nggak punya rencana. Aku cuma naik ojek.”
Aku berdiri di ambang pintu kosan.
Dan aku menyadari, dengan sangat tenang, bahwa ini adalah pertama kalinya dalam hidupku seseorang datang lima puluh menit hanya karena aku bilang aku senang.
“Masuk,” kataku.
“Bum, ini kosan cowok.”
“Gue tau.”
“Aku cuma sepuluh menit ya.”
Dia pulang jam satu.
Dan sebelum pulang, dia berdiri di depan dinding dan memandangi bungkus roti yang tergantung di paku.
“Kamu belum nanya,” katanya.
“Enggak.”
“Kenapa?”
Aku berdiri di ambang pintu dengan tangan di saku.
“Karena gue takut jawabannya bagus,” kataku.
Dia menoleh.
“Bum.”
“Hm.”
“Ini bungkus roti yang kamu beliin aku di perpustakaan,” katanya. “Setahun lalu. Waktu kita ketemu lagi pertama kali.”
“Gue tau.”
“Kamu tau?”
“Gue liat lo masukin ke tas.”
Dia menatapku beberapa detik.
Lalu dia tertawa — satu tarikan napas, pendek, dengan mata yang basah.
“Kita berdua parah banget ya,” katanya.
“Iya.”
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah reading
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu