Chapter Ten
Bahu Kiri
POV: Aurora
Bulan itu aku tidur empat jam semalam.
Ada tiga alasan: ujian tengah semester, tugas kelompok yang anggotanya menghilang semua, dan kebiasaan baru mendengarkan rekaman sampai jam satu pagi yang kusebut “evaluasi” di depan Icha dan tidak kusebut apa pun di dalam kepalaku.
Jadi waktu Rabu datang, aku sampai di taman belakang ruko dengan mata yang terasa seperti diisi pasir.
Dia sudah di sana. Tentu saja dia sudah di sana. Dia selalu sudah di sana.
Yang tidak biasa hari itu adalah dia sedang berdiri, bukan duduk, dan dia sedang mengelap bangku besi dengan tisu.
“Ngapain?”
“Basah.”
“Kan bisa duduk aja.”
“Rok lo putih.”
Aku memandangi bangku itu, lalu memandangi dia, lalu memandangi tisu yang sudah kotor di tangannya.
“Bum.”
“Apa.”
“Nggak. Nggak apa-apa.”
Aku tidak tahu kenapa aku hampir bilang sesuatu waktu itu. Aku bahkan tidak tahu apa yang mau kubilang. Kalimatnya sudah setengah jalan di tenggorokanku dan aku menelannya kembali, dan aku duduk, dan bangkunya kering.
“Lo keliatan kayak orang yang tiga hari nggak tidur,” katanya.
“Empat.”
“Empat hari?”
“Empat jam. Semalem.”
Dia menaruh tasnya di bangku.
“Sesi dibatalin.”
“Nggak boleh.”
“Aurora.”
“Nggak. Boleh.” Aku duduk di bangku besi dan mengangkat satu jari. “Kalau dibatalin sekarang, minggu depan bakal ada alasan lain, terus minggu depannya lagi, terus tau-tau udah kelas dua belas dan aku masih belum bisa ngomong ke dia.”
Dia diam sebentar.
“Itu argumen yang bagus.”
“Aku belajar dari kamu.”
“Itu bukan pujian buat gue.”
Dia duduk di bangku, sekitar satu setengah jengkal dariku, dengan tas di pangkuannya seperti orang yang siap pergi kapan saja.
“Materi hari ini masih pelukan,” kataku.
“Minggu lalu udah.”
“Minggu lalu tiga menit. Kata kamu tiga menit itu belum ke mana-mana.”
“Gue nggak pernah bilang gitu.”
“Kamu bilang empat menit pegangan tangan itu udah lama banget. Berarti tiga menit peluk itu belum apa-apa.”
“Itu logika yang salah.”
“Kamu ngajarin aku bikin argumen dan sekarang kamu nyesel.”
“Iya,” katanya. “Gue nyesel.”
Kami melakukannya di bangku, karena aku terlalu lelah untuk berdiri.
Itu keputusanku, dan aku ingin mencatat di sini bahwa itu keputusanku, karena tiga tahun kemudian aku akan berusaha keras mengingat siapa yang memutuskan apa dan aku akan menemukan bahwa jawabannya hampir selalu aku.
Aku duduk menghadapnya, memeluknya dari samping, dengan tangan kanan melingkar di depan dan kepala di bahu kirinya.
“Ini posisi apa,” katanya.
“Posisi capek.”
“Ini nggak ada di materi.”
“Sekarang ada.”
Dia tidak protes lagi.
Bahunya keras dan tidak nyaman, sejujurnya. Ada tulang di situ. Kalau ini dinilai dengan rubrik, kenyamanan fisiknya mungkin enam dari sepuluh.
Tapi dia tidak bergerak sedikit pun. Itu yang aneh. Orang biasanya bergerak — menyesuaikan, menggeser, batuk kecil. Dia tidak. Dia duduk dengan bahu yang sama persis selama entah berapa lama, seperti orang yang takut kalau dia bergerak, sesuatu akan tumpah.
Aku memejamkan mata.
“Bum.”
“Hm.”
“Kalau Kak Bagas peluk aku kayak gini, aku bakal nangis nggak sih?”
Jeda.
“Nggak tau.”
“Aku takut aku nangis. Itu memalukan banget.”
“Nangis nggak memalukan.”
“Nangis di pelukan orang yang baru jadian sama kamu itu memalukan.”
“Kalau dia orangnya kayak yang lo bilang,” katanya, “dia nggak akan nganggep itu memalukan.”
Aku membuka mata sedikit. Dari posisiku aku cuma bisa melihat kerah seragamnya dan sedikit rahangnya dari bawah.
“Kamu selalu belain dia.”
“Gue nggak belain. Gue ngasih penilaian objektif.”
“Kamu tuh kadang nyebelin banget, tau nggak.”
“Gue tau.”
“Bum.”
“Hm.”
“Kalau nanti aku jadian,” kataku, dengan mata masih tertutup, “hari Rabu kita gimana?”
Aku merasakan bahunya bergerak sedikit. Cuma sedikit. Pertama kalinya sejak aku bersandar.
“Ya udahan,” katanya.
“Kok udahan?”
“Karena sesinya selesai. Itu tujuannya.”
“Bukan gitu maksud aku.” Aku membuka mata sedikit. “Maksud aku kita tetep ketemu kan? Bukan sesi. Cuma ketemu.”
Jeda.
“Kalau lo mau.”
“Ya aku mau lah. Masa enggak.”
“Ya udah.”
“Janji ya.”
“Iya.”
Aku menutup mata lagi.
Aku ingat berpikir: lima menit lagi, terus aku pulang.
Aku bangun karena ada suara motor.
Langit sudah gelap. Bukan oranye — gelap. Lampu tiang listrik yang mati sebelah sudah menyala di sisi yang hidup, dan ada nyamuk, dan pipiku terasa aneh karena tertekan sesuatu terlalu lama.
Aku masih di bahunya.
Aku duduk tegak secepat mungkin.
“Ya ampun. Jam berapa ini.”
“Delapan lewat dua puluh.”
“DELAPAN?”
“Iya.”
“Kita mulai jam setengah lima!”
“Iya.”
Aku meraba-raba mencari ponselku. Enam panggilan tak terjawab dari ibuku. Aku mengetik pesan dengan tangan yang tidak stabil dan hampir menjatuhkan ponselku ke rumput.
“Kenapa kamu nggak bangunin aku?!”
Dia tidak menjawab.
“Bum. Kenapa kamu nggak bangunin aku?”
“Lo tidur empat jam semalem.”
“Itu bukan alasan!”
“Itu alasan yang cukup.”
“Kamu duduk di bangku besi selama tiga setengah jam!”
“Tiga jam empat puluh menit.”
“BUMI.”
Dia berdiri, dan aku melihat dia melakukannya dengan hati-hati, dan aku melihat dia menggerakkan bahu kirinya satu kali dengan cara yang jelas-jelas sakit, dan dia langsung berhenti begitu sadar aku melihat.
“Bahu kamu—“
“Nggak apa-apa.”
“Bum.”
“Aurora, nggak apa-apa.”
Aku berdiri dan mengambil tasku, dan aku merasa bersalah dengan cara yang panas dan tidak nyaman, dan aku bicara terlalu cepat sepanjang jalan ke halte.
“Aku beneran minta maaf. Aku nggak niat. Kamu harusnya tepuk aja bahu aku, atau geser, atau apa kek—“
“Udah.”
“Kamu tuh kebaikan sampe ngerugiin diri sendiri.”
“Itu bukan kerugian.”
“Ya terus apa?”
“Itu pilihan.”
“Pilihan yang bego.”
“Iya,” katanya. “Tapi tetep pilihan.”
“Bum, orang normal bakal bangunin.”
“Gue tau.”
“Terus kenapa nggak?”
Dia berjalan beberapa langkah tanpa menjawab. Motor lewat. Dia bergeser setengah langkah ke kanan.
“Karena lo tidur empat jam semalem,” katanya lagi, dan kali ini nadanya lebih pendek, seperti orang yang menutup pintu.
Aku berhenti bertanya.
“Ini latihan doang, kan?” katanya.
Aku menoleh.
Aku ingat aku menoleh. Aku ingat aku melihat sisi wajahnya di bawah lampu jalan, dan aku ingat ada sesuatu di nada suaranya yang tidak seperti biasanya — lebih rendah, lebih pelan, dengan jeda kecil sebelum kata terakhir.
Dan aku ingat bahwa aku terlalu ngantuk, dan terlalu panik soal ibuku, dan terlalu sibuk merasa bersalah.
“Iya,” kataku. “Latihan doang. Kenapa?”
Ada jeda.
“Nggak,” katanya. “Nggak kenapa-kenapa.”
Aku menerima itu. Aku benar-benar menerima itu, secepat orang menerima kembalian.
Bus datang. Aku naik. Aku melambai dari balik kaca dan dia mengangkat tangan setinggi bahu seperti biasa, dan aku tertidur lagi di bus dan hampir kelewatan halte.
Malam itu aku terlalu lelah untuk mendengarkan rekamannya.
File-nya tersimpan seperti biasa, dengan nomor urut dan tanggal, tiga jam lima puluh menit panjangnya karena aku lupa mematikan perekamnya.
Tiga jam lima puluh menit. Sebagian besar isinya cuma suara nyamuk dan motor lewat dan angin.
Tiga tahun kemudian aku akan memutar file itu dari awal sampai akhir dalam satu malam, semuanya, termasuk bagian yang isinya cuma suara angin selama dua jam. Dan aku akan menemukan bahwa di menit ke seratus empat belas, ada suara. Pelan sekali. Nyaris tidak terdengar kalau volume tidak dinaikkan sampai maksimum.
Suaranya bilang sesuatu yang pendek, dan berhenti, dan tidak mengulanginya.
Aku tidak akan bisa memastikan apa isinya. Aku sudah memutarnya lebih dari seratus kali dan aku masih tidak bisa memastikan.
Tapi aku tahu ada empat suku kata, dan aku tahu suku kata terakhirnya panjang, dan aku tahu setelah itu dia diam selama dua jam lebih sampai aku bangun.
Dan aku tahu satu hal lagi, yang lebih menyakitkan dari isinya:
Perekamnya masih menyala waktu dia mengucapkannya.
Dia tahu itu. Dia selalu melirik layar ponselku setiap sesi — lirikan setengah detik yang kukira kebiasaan orang yang tidak suka direkam. Dia tahu persis benda itu menyala.
Dia mengucapkannya di depan alat perekam, ke orang yang sedang tidur, dan dia tetap mengucapkannya sepelan itu.
Bukan supaya didengar.
Cuma supaya keluar.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri reading
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu