Chapter Twenty Seven
v5
POV: Aurora
Aku tidak punya rencana.
Itu hal pertama yang harus kucatat, karena selama enam tahun aku adalah orang yang punya rencana untuk segalanya — dua belas nomor daftar topik, naskah empat paragraf, rubrik dengan tiga warna spidol.
Hari Senin itu aku datang ke kantor tanpa satu pun kalimat yang sudah kususun.
Aku cuma datang jam setengah delapan.
Setengah jam lebih awal dari biasanya. Tiga puluh menit lebih awal dari jadwal, di kursi yang sama, dengan laptop yang tidak kubuka.
Dia masuk jam setengah delapan lewat dua.
Dia berhenti di ambang pintu.
“Lo dateng jam berapa?”
“Setengah.”
Hening.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa,” kataku.
Dia berdiri di situ selama sekitar tiga detik. Aku menghitungnya.
Lalu dia berjalan ke mejanya dan duduk dan membuka laptopnya, dan tidak bertanya lagi sepanjang hari.
Aku melakukannya lagi hari Selasa.
Dan hari Rabu.
Hari Kamis dia menaruh gelas air di mejaku jam setengah delapan lewat lima, dan tidak bilang apa-apa, dan aku menghabiskan sepuluh menit berikutnya menatap gelas itu.
Hari Jumat aku menunggunya di lobi lantai bawah jam enam sore.
“Aurora.”
“Bareng ya. Aku juga mau ke halte.”
“Lo naik ojek.”
“Hari ini nggak.”
“Kenapa?”
“Lagi pengen jalan.”
Dia memandangiku beberapa saat.
“Hujan.”
“Nggak apa-apa.”
Kami jalan ke halte, tiga ratus meter, dan dia pindah ke sisi kanan seperti biasa, dan kali ini aku memperhatikannya melakukannya — memperhatikan dengan sengaja, dari samping, seperti orang yang menonton trik sulap yang sudah tahu rahasianya.
Dia melakukannya tanpa berpikir. Aku bisa melihat itu. Tidak ada jeda, tidak ada perhitungan. Kakinya cuma pindah.
Di halte aku berdiri lebih dekat dari yang perlu.
Dia tidak mundur.
Dia juga tidak maju.
Minggu berikutnya aku sudah hafal jadwalnya.
Aku tidak menuliskannya. Aku tidak perlu. Setelah delapan hari aku sudah tahu bahwa dia mengambil kopi jam sepuluh, bahwa dia ke lantai bawah jam satu, bahwa dia melepas kacamatanya rata-rata empat kali sehari dan tiga di antaranya waktu sedang membaca error.
Aku sadar apa yang sedang kulakukan sekitar hari kesembilan.
Aku sedang mengumpulkan data.
Dan waktu aku sadar, aku duduk di kamar mandi kantor selama lima menit dan tertawa sampai mataku basah, karena orang yang mengajariku cara mengumpulkan data adalah orang yang sedang kukumpulkan datanya.
Icha menelepon malam itu.
“Kamu udah ngomong?”
“Belum.”
“Ra, udah dua minggu.”
“Aku tau.”
“Kamu nunggu apa?”
Aku memandangi langit-langit kosan.
“Cha, aku nggak bisa ngomong sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena aku baru putus sebulan lalu.” Aku menekan bantal ke perut. “Kalau aku ngomong sekarang, dia bakal mikir aku lagi kesepian. Dan dia bener. Aku emang kesepian. Dua-duanya bener sekaligus dan aku nggak bisa misahin.”
Icha diam beberapa saat.
“Itu pemikiran yang dewasa banget,” katanya.
“Makasih.”
“Itu juga alasan yang enak banget buat nunda.”
Aku menutup telepon tanpa membalas, karena tidak ada yang bisa dibalas.
Hari kedua belas ada presentasi ke klien.
Laptopku mati total jam delapan pagi. Bukan restart — mati, layar hitam, tidak menyala sama sekali. Presentasi jam sebelas.
“Pakai punya gue,” katanya.
“Bum, file aku semua di—“
“Cloud.”
“Iya, tapi—“
“Aurora, presentasi tiga jam lagi.” Dia sudah berdiri dan mendorong laptopnya ke arahku. “Password-nya empat-dua-tujuh-satu. Gue ke ruang server.”
Dia pergi.
Aku duduk di depan laptop orang lain di jam sembilan pagi dengan tangan agak gemetar karena panik presentasi.
Aku login. Aku buka browser. Aku unduh file-ku.
Dan waktu aku mencari folder untuk menyimpannya, aku salah klik.
Foldernya bernama arsip-lama.
Di dalamnya ada folder lain: backup-2018.
Aku tahu apa yang seharusnya kulakukan. Aku tahu persis. Aku menutup jendela itu dan kembali ke pekerjaanku dan aku bahkan sempat mengerjakan dua slide.
Lalu aku membukanya lagi.
Isinya membosankan. Tugas sekolah. Foto acara OSIS. Instalasi program lama.
Dan satu file bernama:
JADWAL MINGGUAN — v5.xlsx
Aku menatap nama file itu.
Tutup.
Aku membukanya.
Formatnya rapi sekali. Tentu saja rapi. Baris jam di kiri, kolom hari di atas, warna berbeda untuk kategori berbeda. Ada legenda di pojok kanan bawah.
Biru: sekolah.
Abu-abu: les.
Kuning: tugas.
Hijau muda: —
Legendanya kosong.
Aku menggeser layar.
Hijau muda ada di kolom Rabu, dari jam empat sampai jam tujuh, berulang setiap minggu.
Ada tiga puluh dua kotak hijau muda.
Aku menghitungnya dua kali.
Lalu aku scroll ke kanan, ke kolom yang tidak masuk ke tampilan awal, dan menemukan tab kedua di bawah.
Nama tab: lain-lain.
Aku membukanya.
Ada daftar. Dua kolom. Kiri: tanggal. Kanan: keterangan.
7 Maret — ulang tahun
14 April — ujian bahasa, dia panik
2 Mei — pendaftaran kuliah dibuka
19 Mei — pengumuman SNM
3 Juni — kelulusan
Dan di baris paling bawah, dengan tanggal yang jauh lebih belakangan dari semua yang lain:
11 Agustus — orientasi kampus timur
Aku menaruh dua tangan di meja.
Kampus timur.
Enam tahun lalu, di belakang gedung sekolah, di hari kelulusan, aku bertanya bagaimana dia tahu aku diterima di kampus timur.
Dan dia bilang: Fandi.
Aku duduk di kantor jam setengah sepuluh pagi dengan presentasi tiga jam lagi dan laptop orang lain terbuka di depanku, dan aku membaca satu baris di spreadsheet yang dibuat oleh anak berumur tujuh belas tahun, dan aku mengerti dua hal sekaligus.
Yang pertama: dia berbohong padaku sekali seumur hidup, dan itu untuk menutupi bahwa dia mencatat tanggal orientasiku.
Yang kedua: file ini bertanggal Agustus. Dua bulan setelah kelulusan. Dua bulan setelah kami berhenti bicara.
Dia masih memperbarui jadwal itu setelah aku tidak ada lagi di dalamnya.
Ada satu hal lagi yang kulihat sebelum aku menutupnya.
Di tab pertama, di bawah legenda warna yang tidak lengkap, ada satu baris kecil yang ditulis di sel yang salah — jelas tidak sengaja, jelas tidak pernah dirapikan.
Isinya cuma satu kata.
(hapus)
Dengan tanda kurung.
Sebuah pengingat untuk diri sendiri, ditulis oleh anak berumur tujuh belas tahun, di file yang enam tahun kemudian masih ada di folder arsip.
Aku menatap kata itu lebih lama daripada seluruh spreadsheet-nya.
Karena aku tahu apa artinya.
Dia sudah tahu ini salah. Dia sudah tahu dia harus berhenti. Dia menulis pengingat untuk dirinya sendiri.
Dan dia tidak melakukannya.
Aku menutup file itu.
Aku menyelesaikan presentasinya. Aku presentasi jam sebelas dan hasilnya bagus dan klien puas dan pembimbing bilang kerja bagus.
Aku tidak ingat satu pun kalimat yang kuucapkan di ruangan itu.
Jam enam sore ruangan sudah kosong kecuali dua orang.
Dia sedang berdiri di depan mejanya, membereskan kabel, membelakangi aku.
Aku berdiri.
Aku berjalan ke sana.
Dan aku memeluknya dari belakang.
Dua tangan melingkar di depan, dahi di punggungnya, tanpa satu kata pun sebelumnya.
Dia berhenti bergerak.
Total. Seluruh tubuhnya. Seperti orang yang tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang rapuh di dekatnya dan takut kalau bergerak, benda itu jatuh.
Kabel di tangannya masih setengah tergulung.
“Aurora.”
“Sebentar.”
“Aurora.”
“Sebentar. Bentar aja.”
Aku bisa merasakan napasnya. Aku bisa merasakan bahwa dia mengatur napasnya, dengan sengaja, dengan susah payah.
Tangannya tidak bergerak.
Dia tidak melepaskan aku. Aku ingin jelas soal itu — dia tidak mendorong, tidak menarik tanganku, tidak melakukan apa pun untuk mengakhirinya.
Dia cuma tidak membalas.
Dan itu, ternyata, jauh lebih buruk.
Kami berdiri seperti itu selama entah berapa lama. Aku tidak menghitung. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun aku tidak menghitung apa pun.
“Lo lagi kenapa,” katanya akhirnya.
Suaranya rata. Terlalu rata.
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Aurora.”
“Aku cuma—“ Aku menekan dahiku lebih dalam ke punggungnya. “Bum, boleh nggak aku diem aja sebentar.”
Jeda.
Empat detik.
“Boleh,” katanya.
Dan dia berdiri di sana, dengan kabel setengah tergulung di tangan, sampai aku sendiri yang melepaskan.
Waktu aku mundur, dia tidak berbalik.
“Bum.”
“Hm.”
“Kamu marah?”
“Enggak.”
“Kamu selalu bilang enggak.”
“Karena itu bener.”
Aku berdiri di belakangnya dan menatap punggungnya, dan aku ingin sekali dia berbalik, dan dia tidak berbalik.
“Aurora.”
“Iya?”
“Lo pulang.”
“Bum—“
“Gue nggak marah,” katanya. Dan suaranya berubah sedikit, di kata terakhir, dengan cara yang aku kenal karena aku sudah enam tahun menghitung hal-hal semacam itu. “Gue cuma nggak bisa disini sekarang.”
Dia mengambil tasnya dan keluar tanpa menoleh sekali pun.
Aku berdiri di ruangan kosong itu sampai lampu otomatisnya mati sendiri.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5 reading
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu