Chapter Twelve
Latihan Ditolak
POV: Aurora
Aku tidak jadi menembak hari Sabtu.
Bukan karena aku tidak berani. Karena hari Jumat malam, jam sebelas, aku terbangun dengan satu pikiran yang tidak bisa kuusir sampai subuh:
Aku udah latihan buat ngomong. Aku belum latihan buat denger jawabannya.
Aku mengirim pesan jam setengah dua belas.
aku: bum
aku: masih bangun?
aku: aku butuh satu sesi lagi
Balasannya datang empat menit kemudian.
Bumi: Rabu?
aku: besok
aku: sabtu
aku: sori bum aku tau ini mendadak banget
Tiga menit tanpa balasan. Aku sudah menyiapkan permintaan maaf yang panjang waktu ponselku bergetar.
Bumi: Jam berapa.
Kami bertemu di taman belakang ruko, jam tiga sore, di hari yang seharusnya jadi hari aku menembak Kak Bagas.
“Materinya apa?” tanyanya.
“Ditolak.”
Dia berhenti membuka tasnya.
“Maksudnya?”
“Aku mau latihan ditolak.” Aku duduk di bangku besi dan menaruh tas di pangkuan. “Aku baru sadar aku cuma latihan satu arah. Aku latihan ngomong. Aku nggak pernah latihan denger jawabannya.”
“Aurora—“
“Bum, aku bakal ambruk.” Aku menatapnya. “Kalau dia bilang maaf, aku bakal berdiri di situ dan nggak tau harus ngapain, dan aku bakal nangis di depan dia, dan itu bakal jadi hal terakhir yang dia inget tentang aku sebelum lulus.”
Dia diam.
“Jadi tolong ya,” kataku. “Sekali aja. Kamu jadi dia, terus kamu tolak aku.”
Dia menatap rumput cukup lama.
“Enggak,” katanya.
“Kamu selalu bilang enggak dulu.”
“Yang ini gue serius.”
Aku mengangkat kepala. Nadanya berbeda. Bukan yang datar-menggoda seperti biasa. Yang ini rata dan pendek.
“Kenapa?”
“Karena itu nggak ada gunanya.”
“Ada. Aku jadi siap—“
“Nggak ada yang bisa bikin lo siap buat itu.” Dia masih menatap rumput. “Lo nggak bisa latihan buat sakit, Aurora. Lo cuma bisa ngalamin.”
“Kamu belum coba.”
“Gue udah.”
Aku berhenti.
“Kamu udah apa?”
Dia mengangkat kepalanya, dan aku melihat sesuatu di wajahnya selama sekitar setengah detik sebelum hilang, dan aku menghabiskan tiga tahun berikutnya mencoba mengingat bentuknya dengan tepat.
“Nggak,” katanya. “Nggak apa-apa.”
“Bum.”
“Berapa lama lo mau?”
“Sepuluh menit.”
“Lima.”
“Sepuluh.”
“Lima,” katanya, “dan kalau gue bilang berhenti, kita berhenti.”
“Kenapa kamu yang nentuin berhentinya?”
“Karena lo nggak akan berhenti.”
“Aku bisa berhenti.”
“Aurora.” Dia akhirnya menatapku. “Sebelas bulan lalu lo latihan bilang ‘halo’ sampai dua puluh tiga kali sampai suara lo abis. Lo nggak akan berhenti.”
Aku membuka mulut untuk membantah, dan tidak jadi, karena dua puluh tiga itu angka yang tepat dan aku bahkan tidak ingat aku pernah menghitungnya.
Dia yang menghitungnya.
“Oke,” kataku. “Lima.”
Aku berdiri. Dia berdiri.
Aku menarik napas dan mengucapkan naskahku, dan naskahku keluar sempurna, dan itu tidak mengejutkanku sama sekali karena aku sudah mengucapkannya tujuh belas kali di kafe.
“Kak Bagas, aku suka kamu. Udah lama banget. Aku nggak minta apa-apa dan aku nggak akan aneh kalau kamu nggak ngerasain hal yang sama. Aku cuma nggak mau lulus tanpa pernah ngomong.”
Lalu aku menunggu.
Dia diam agak lama. Aku sempat berpikir dia tidak akan melakukannya.
Lalu dia bicara.
“Aurora.” Suaranya lembut. Itu yang pertama kali membuatku salah. Aku menyiapkan diri untuk sesuatu yang dingin, dan yang datang lembut. “Makasih ya udah ngomong. Serius. Itu berani banget.”
Aku mengangguk.
“Tapi aku nggak bisa,” katanya. “Maaf.”
Dan itu saja.
Tidak ada penjelasan. Tidak ada “kamu terlalu baik buat aku”, tidak ada “aku lagi fokus kuliah”, tidak ada alasan yang bisa kupegang dan kubantah dan kuputar-putar di kepala sampai jadi harapan.
Cuma: aku nggak bisa. Maaf.
“Terus?” tanyaku.
“Terus itu aja.”
“Nggak ada lanjutannya?”
“Nggak ada.” Dia berdiri dengan tangan di saku. “Itu yang orang nggak siap. Bukan penolakannya. Kekosongannya sesudahnya.”
Ada sesuatu yang naik di tenggorokanku.
“Ulang,” kataku.
“Aurora.”
“Ulang. Aku belum siap.”
“Itu poinnya. Lo—“
“ULANG.”
Jadi kami mengulanginya.
Kedua kali, dia menambahkan senyum. Senyum sopan, yang tidak dingin sama sekali, yang justru membuat semuanya seratus kali lebih buruk karena itu senyum orang yang tidak membencimu dan tidak menginginkanmu dan tidak akan berubah.
Ketiga kali, dia bilang, “Kita masih temenan kan?”
Aku terisak sebelum sempat menahannya.
Bukan karena kalimatnya. Karena cara dia mengucapkannya — dengan harapan yang tulus, seperti orang yang benar-benar ingin jawabannya iya, seperti orang yang tidak sadar bahwa pertanyaan itu adalah hal paling kejam yang bisa ditanyakan ke seseorang yang baru saja kau tolak.
“Berhenti,” katanya, langsung.
“Nggak—“
“Aurora, berhenti.”
“Sekali lagi.” Aku mengusap mata dengan lengan. “Sekali lagi aku pasti bisa. Aku selalu bisa kalau diulang. Kan kamu yang bilang. Semua hal bisa dilatih—“
“GUE BILANG BERHENTI.”
Aku belum pernah mendengar dia berteriak.
Dalam dua tahun, dalam sebelas bulan sesi, dalam ratusan jam duduk di sebelah orang ini di perpustakaan dan kafe dan halte, aku belum pernah sekali pun mendengar suaranya naik.
Aku berdiri di rumput itu dengan mata basah dan mulut terbuka.
Dia menutup matanya sebentar.
“Sori,” katanya, jauh lebih pelan. “Sori. Gue nggak—“
Dan aku tidak tahu bagaimana urutannya setelah itu, karena aku menangis, dan menangis dengan cara yang jelek — bukan air mata yang mengalir anggun, tapi yang bahunya berguncang dan napasnya tersendat dan hidungnya bunyi.
Aku menangis untuk penolakan yang tidak pernah terjadi, dari orang yang tidak pernah menolakku, di taman yang bukan taman.
Dan dia memelukku.
Bukan pelukan latihan. Tidak ada hitungan, tidak ada materi, tidak ada aturan sesi. Dia cuma menarikku ke depan dan menaruh satu tangan di belakang kepalaku, dan berdiri di sana, dan membiarkan seragamnya basah.
“Maaf,” kataku ke seragamnya. “Maaf. Aku maksa.”
“Nggak apa-apa.”
“Aku selalu maksa kamu.”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu selalu bilang gitu.”
“Karena itu bener.”
Aku mengangkat kepala. Dari jarak sedekat itu aku bisa melihat rahangnya, dan bekas kacamata di pangkal hidungnya, dan aku bisa melihat bahwa dia tidak melihat ke arahku sama sekali. Dia melihat ke tiang listrik yang lampunya mati sebelah.
“Bum, kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu marah sama aku?”
“Enggak.”
“Terus tadi kenapa teriak?”
Ada jeda yang panjang sekali.
“Karena gue nggak suka liat lo nangis,” katanya. “Itu aja.”
Aku menerima jawaban itu.
Aku menerima jawaban itu, dan aku menyandarkan kepalaku kembali ke dadanya, dan aku menghabiskan sepuluh menit berikutnya merasa lega karena aku punya teman sebaik ini.
Tiga tahun kemudian aku akan berbaring di lantai kamarku dan mengulang percakapan itu di kepalaku, kata per kata, dan aku akan berhenti di kalimat “gue udah” dan aku akan menutup mulutku dengan tangan.
Icha meneleponku dua jam kemudian.
“Kata Fandi kamu nangis di taman.”
“Fandi tau dari mana?”
“Fandi selalu tau.” Icha berhenti. “Kamu nangis kenapa?”
“Latihan ditolak.”
“Latihan apa?”
“Ditolak. Aku minta Bumi meranin Kak Bagas nolak aku, biar aku siap.”
Hening.
“Cha?”
“Kamu minta dia,” kata Icha pelan, “buat nolak kamu.”
“Iya.”
“Berapa kali?”
“Tiga.”
“Aurora.”
“Apa?”
Icha tidak menjawab selama beberapa detik. Waktu dia bicara lagi, suaranya sudah berubah jadi yang biasa.
“Nggak apa-apa. Semangat ya Senin.”
Aku bilang makasih dan menutup telepon, dan aku tidak memikirkan nada suaranya sampai tiga tahun kemudian.
Malam itu dia mengantarku sampai halte seperti biasa dan berdiri di sisi kanan seperti biasa.
“Senin,” kataku.
“Hm?”
“Aku nembak hari Senin. Habis rapat OSIS.”
“Oke.”
“Kamu doain ya.”
“Iya.”
Aku naik bus. Aku melambai. Dia mengangkat tangan setinggi bahu.
Dan tepat sebelum pintunya menutup, aku berteriak — karena aku selalu berteriak sesuatu sebelum pintunya menutup, itu sudah semacam kebiasaan:
“Makasih ya, Bum! Aku sayang banget sama kamu!”
Pintu tertutup.
Lewat kaca, aku melihat dia mengangguk sekali, lalu berbalik, lalu berjalan ke arah yang berlawanan dari rumahnya.
Aku sempat berpikir itu aneh selama sekitar dua detik.
Lalu bus berjalan, dan aku memikirkan hari Senin, dan aku lupa.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak reading
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu