← Latihan Dulu

Chapter Thirty

Enam Bulan, Versi Aku

POV: Aurora

Magang selesai lima minggu setelah malam itu.

Lima minggu yang sopan. Kami menyelesaikan modul integrasi tepat waktu, kami presentasi bersama di hari terakhir, dan pembimbing bilang tim tiga adalah tim terbaik angkatan ini.

Kami bahkan foto bersama.

Aku menyimpan foto itu. Di dalamnya kami berdiri berjarak satu setengah orang.

Hari terakhir, di lobi, dia mengulurkan tangan.

“Sukses ya, Aurora.”

Aku menjabat tangannya.

Dan waktu dia mau melepas, aku tidak melepas.

“Aurora.”

“Bum, aku nggak akan berhenti.”

Dia diam.

“Aku cuma mau kamu tau itu dari sekarang,” kataku, “biar kamu nggak kaget.”

Dia menarik tangannya pelan-pelan.

“Oke,” katanya.

Dan dia keluar dari gedung itu, dan aku berdiri di lobi memandangi pintu kaca, dan aku sudah punya rencana untuk hari Senin.


Bulan pertama.

Kampus utara dari kosanku empat puluh lima menit kalau tidak macet.

Aku hitung sekali dan setelah itu tidak pernah kuhitung lagi, karena aku sadar menghitungnya cuma akan membuatku mempertanyakan diriku sendiri.

Aku datang pertama kali hari Rabu.

Aku berdiri di lobi lab lantai dua dengan dua gelas kopi, dan waktu dia keluar dari pintu bersama empat orang lain, dia berhenti di tempat.

“Aurora.”

“Hai.”

“Lo ngapain di sini.”

“Bawain kopi.”

Empat orang di belakangnya diam.

“Kenapa lo bawain gue kopi.”

“Karena kamu suka kopi.” Aku menyerahkan satu. “Dan karena aku pengen ketemu kamu.”

Salah satu dari empat orang itu — cowok berkacamata, jurusan yang sama — mengeluarkan suara pendek seperti orang tersedak.

“Bum,” katanya. “Ini siapa?”

“Bukan siapa-siapa.”

“AKU AURORA,” kataku, mengulurkan tangan ke cowok itu. “Aku suka sama dia.”

Ada keheningan sekitar dua detik yang akan kuingat seumur hidup.

Lalu cowok berkacamata itu menjabat tanganku dengan sangat resmi dan bilang, “Halo Kak Aurora. Saya Reno. Saya mendukung.”

“Reno,” kata Bumi.

“Saya mendukung, Bum.”


Aku ingin mencatat bahwa aku tidak punya strategi.

Itu bukan kerendahan hati. Itu fakta yang menyakitkan.

Selama enam tahun aku adalah orang yang menyusun dua belas nomor daftar topik. Dan sekarang, waktu benar-benar penting, aku tidak punya apa-apa.

Jadi aku melakukan hal yang paling bodoh yang bisa dilakukan orang: aku jujur, terus-terusan, tanpa saringan.

“Bum, kamu keliatan capek. Kamu tidur jam berapa?”

“Kenapa lo nanya.”

“Karena aku mikirin kamu sebelum tidur dan aku pengen tau kamu udah tidur atau belum.”

Dia menjatuhkan pulpennya.

Reno memungutnya.

“Kak Aurora,” katanya sambil menyerahkan pulpen itu ke Bumi, “Kakak nggak bisa ngomong gitu di lorong.”

“Kenapa?”

“Karena dia bakal ngedrop.” Reno menunjuk. “Liat. Dia lagi mikirin cara jawab yang aman. Dia bakal jawab ‘oke’.”

“Oke,” kata Bumi.

“NAH.”

“Reno.”

“Saya cuma menyampaikan hasil observasi, Bum.”

Aku tertawa sampai ada orang lewat yang menoleh.

Dan waktu aku berhenti tertawa, aku melihat Bumi sudah memasukkan pulpen itu ke saku bajunya, padahal dia punya tempat pensil, dan padahal dia tidak sedang menulis apa-apa.


Bulan kedua.

Aku mulai hafal jadwalnya lagi, dan kali ini aku menuliskannya, dan aku menuliskannya di aplikasi yang sama tempat aku dulu menyimpan file bernama “referensi”.

Aku beri nama foldernya: v6.

Aku tidak menunjukkannya ke siapa pun. Belum.

Hari Selasa hujan turun waktu dia keluar dari gedung.

Aku sudah berdiri di kanopi.

“Aurora.”

“Hai.”

“Lo—“ Dia melihat tanganku. “Lo bawa dua payung.”

“Iya.”

Dia berdiri di situ dan tidak bergerak.

“Aurora.”

“Ambil.”

“Gue bawa payung.”

“Aku tau. Kamu selalu bawa satu.” Aku menyodorkan yang kedua. “Ini yang kedua. Buat kamu.”

“Gue udah punya.”

“Ya udah, berarti kamu punya dua.” Aku menaruhnya di tangannya. “Enak kan, punya dua.”

Dia memandangi payung itu di tangannya, dan aku memandangi wajahnya, dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun aku melihat Bumi Asher Arsenio tidak punya satu pun kalimat.

“Gue nggak butuh dua,” katanya akhirnya.

“Aku juga dulu nggak butuh,” kataku. “Kamu tetep bawa.”

Dia berbalik dan jalan ke halte dengan dua payung di tangan, dan dia cuma membuka satu, dan aku tetap menghitung itu sebagai kemenangan.


Bulan ketiga.

Aku mulai kelewatan.

Aku tahu itu, dan aku tetap melakukannya, dan sekarang kalau kuingat aku ingin menutup wajah dengan bantal.

Aku mengirim pesan jam dua pagi: bum kamu udah tidur? — lalu langsung menghapusnya, dan dia sudah keburu membacanya, dan dia membalas: iya.

Aku mengirim: bohong. centangnya biru.

Dia tidak membalas selama empat puluh menit.

Lalu: Aurora, tidur.

Aku membalas: kamu duluan.

Lalu: Gue nggak bisa tidur kalau lo masih ngirim pesan.

Dan aku duduk di kasur jam tiga pagi menatap kalimat itu selama dua puluh menit, karena kalimat itu bisa berarti dua hal, dan salah satunya membuatku tidak bisa tidur sampai subuh.


Aku juga mulai bilang hal-hal yang tidak seharusnya kubilang di tempat umum.

“Bum, kamu tau nggak kamu ganteng banget kalau lagi kesel?”

“Aurora.”

“Serius. Rahang kamu jadi—“

“Ini kantin.”

“Ya makanya aku ngomong pelan.”

“Lo nggak pelan.”

Di meja seberang ada empat orang yang sudah berhenti makan.

“Bum, kalau kamu lepas kacamata sekarang aku bakal ambruk beneran.”

Dia melepas kacamatanya untuk mengusap lensanya — refleks, karena dia memang selalu melakukan itu, karena dia bahkan tidak mendengar kalimatku dengan benar.

Aku menaruh kepala di meja.

“Aurora?”

“Bentar.”

“Lo kenapa.”

“Kamu nggak ngerti dan itu bagus,” kataku ke permukaan meja. “Tolong pakai lagi.”


Aku datang ke sidang proposalnya.

Aku duduk di barisan belakang bersama Reno dan Fandi, yang entah bagaimana sudah jadi dua orang yang paling sering kuhubungi dalam tiga bulan terakhir.

“Kak Aurora,” bisik Reno. “Serius nih Kakak dateng?”

“Iya.”

“Kakak bukan anak sini.”

“Iya.”

“Kakak nggak ngerti materinya.”

“Iya.”

Fandi mengunyah keripik di dalam ruang sidang, yang seharusnya tidak boleh.

“Dia liat lo dari tadi,” kata Fandi.

“Mana?”

“Barusan. Waktu lo duduk.” Dia menelan. “Dia berhenti nyusun kertas selama dua detik.”

Aku menoleh ke depan.

Bumi sedang menyusun kertas dengan sangat rapi dan sangat fokus dan tidak melihat ke arah mana pun.

“Fan.”

“Hm.”

“Dua detik itu banyak nggak?”

Fandi memandangiku dari samping cukup lama.

“Kak,” katanya, dan itu pertama kalinya dia memanggilku Kak padahal kami seangkatan. “Buat orang itu, dua detik itu banyak banget.”


Bulan keempat.

Aku mulai lelah.

Aku ingin jujur soal itu juga. Ada minggu di bulan keempat waktu aku tidak datang sama sekali, dan aku berbaring di kosan tiga hari dan bertanya ke diriku sendiri apa yang sedang kulakukan.

Icha datang hari Sabtu.

“Kamu udah empat bulan, Ra.”

“Aku tau.”

“Kamu nggak capek?”

“Capek banget.”

“Terus?”

Aku memandangi langit-langit.

“Cha, dia nunggu enam tahun.”

“Itu bukan alasan buat kamu nyiksa diri sendiri.”

“Bukan,” kataku. “Itu bukan alasan. Itu ukuran.”

Icha diam.

“Aku bukan lagi bayar utang,” kataku. “Aku bukan lagi nebus dosa. Aku cuma—“ Aku duduk. “Cha, aku pengen tau seberapa jauh aku sanggup jalan buat satu orang. Dan ternyata aku belum nemu batasnya. Empat bulan dan aku belum nemu.”

“Terus kalau ketemu?”

“Ya berarti aku berhenti.” Aku mengangkat bahu. “Tapi aku belum ketemu.”

Hari Senin aku kembali ke kampus utara dengan dua gelas kopi.


Bulan kelima.

Ada satu hari yang mengubah segalanya, dan itu bukan hari yang kurencanakan.

Aku sakit. Demam, jelek, tiga hari.

Hari kedua ada ketukan di pintu kosan jam delapan malam.

Aku membuka pintu dengan rambut berantakan dan piyama dan wajah yang tidak boleh dilihat siapa pun.

Dia berdiri di situ dengan kantong plastik.

“Bum—“

“Reno bilang lo nggak masuk kelas.” Dia menyerahkan kantong itu tanpa masuk. “Ada bubur. Sama obat. Sama air.”

“Kamu—“ Aku memegang pintu. “Kampus utara ke sini empat puluh lima menit.”

“Lima puluh. Macet.”

“Bum.”

“Gue balik.”

“Bum.”

Dia sudah setengah berbalik.

“Kenapa kamu ke sini?” tanyaku.

Dia berhenti di anak tangga pertama.

Dan aku berdiri di ambang pintu kosan dengan demam tiga puluh delapan derajat, dan aku melihat punggungnya, dan aku menghitung.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Enam detik.

“Gue nggak tau,” katanya.

Lalu dia turun tangga dan pergi.

Aku menutup pintu dan menyandarkan punggung ke pintu itu dan duduk di lantai dengan kantong plastik di pangkuan.

Enam detik.

Selama enam tahun aku menghitung jeda orang, dan aku tidak pernah sekali pun menghitung yang lebih dari empat.