Chapter Thirty Seven
Hujan Sampai Pagi
POV: Aurora
Hujan mulai jam delapan malam dan tidak berhenti.
Kami di kosannya, mengerjakan revisi bab tiga skripsiku, pintu terbuka sesuai aturan kosan, kipas menyala.
Jam sembilan aku mengecek aplikasi ojek.
Tidak ada driver.
Jam setengah sepuluh, masih tidak ada.
Jam sepuluh aku menutup aplikasi itu dan menaruh ponselku dan tidak bilang apa-apa.
“Aurora.”
“Hm?”
“Berapa lama lo nunggu driver.”
“Nggak lama.”
“Lo buka tutup aplikasi tujuh kali.”
“Kamu ngitung?”
“Gue tau.”
Dia menutup laptopnya dan berdiri dan melihat ke luar jendela, dan aku bisa mendengar air di talang yang bunyinya seperti seseorang menuang beras.
“Jalan depan banjir,” katanya.
“Sedikit?”
“Setengah ban.”
Aku duduk di lantai kosan cowok jam sepuluh malam dengan hujan yang tidak berhenti dan jalan yang banjir setengah ban, dan aku menyadari sesuatu, dan wajahku mulai panas sebelum aku sempat memutuskan apa pun.
“Bum.”
“Lo tidur di sini.”
“BUM.”
“Gue di lantai.” Dia sudah membuka lemari dan mengeluarkan selimut. “Lo di kasur. Pintu tetep kebuka. Gue kirim pesen ke Icha sekarang biar ada yang tau.”
“Kamu—“ Aku memandanginya. “Kamu udah nyiapin skenarionya ya.”
“Gue mikirin dari jam sembilan.”
“Jam sembilan?”
“Waktu lo buka aplikasi ketiga kali.”
Aku mengirim pesan ke Icha.
aku: cha aku nginep di kosan bumi
aku: hujan, banjir, nggak ada ojek
Icha: OKE
Icha: RA
Icha: RA JAWAB AKU
aku: cha kita nggak ngapa-ngapain
aku: dia tidur di lantai
Icha: bohong
aku: SUMPAH
Icha: bukan itu yang aku nggak percaya
Icha: aku nggak percaya kamu bakal tahan
Aku mengunci ponselku dan menaruhnya menghadap ke bawah.
Dia benar-benar tidur di lantai.
Dia menggelar dua selimut sebagai alas, memakai satu tas sebagai bantal, dan berbaring menghadap tembok dengan posisi yang kelihatan sangat tidak nyaman.
Aku di kasurnya. Lampu mati. Kipas masih menyala. Hujan masih di talang.
“Bum.”
“Hm.”
“Kasurnya besar.”
“Gue tau.”
“Maksud aku—“
“Aurora.”
“Iya?”
Hening beberapa detik.
“Gue tau maksud lo,” katanya. “Gue tetep di lantai.”
Aku berbalik menghadap dinding.
“Kamu nggak mau?”
“Bukan gue nggak mau.”
“Terus?”
Aku mendengar dia mengubah posisi.
“Aurora, gue enam tahun ngitungin jarak sama lo.” Suaranya pelan dan tidak bercanda sama sekali. “Sepuluh senti di bioskop. Dua jengkal di bangku. Satu setengah orang di foto magang. Gue hafal semua angkanya.”
Aku diam.
“Kalau gue naik ke situ sekarang,” katanya, “gue nggak akan bisa berhenti ngitung dari arah sebaliknya.”
“Maksudnya?”
“Maksudnya gue bakal mulai ngitung berapa deket, dan itu lebih bahaya.”
Aku menekan wajahku ke bantalnya, yang baunya seperti deterjen dan sedikit seperti kertas, dan yang aku ingat dari halte enam tahun lalu.
“Bum.”
“Hm.”
“Kamu tuh romantis banget dan kamu nggak sadar.”
“Gue lagi jelasin logistik.”
“Iya,” kataku. “Itu masalahnya.”
Aku tidak bisa tidur.
Jam sebelas aku masih bangun. Jam dua belas juga.
Jam setengah satu aku bicara ke gelap.
“Bum.”
“Hm.”
“Kamu belum tidur juga.”
“Gue tidur.”
“Orang tidur nggak jawab dalam satu detik.”
Hening.
“Iya,” katanya.
Aku bergeser ke pinggir kasur dan menggantungkan tanganku ke bawah.
“Bum.”
“Apa.”
“Pegang tangan aku.”
Aku mendengar dia bergerak.
Lalu ada tangan yang naik dari lantai dan menemukan tanganku dalam gelap, dan menutup jarinya.
Dan kami tidur seperti itu — dia di lantai, aku di kasur, tangan bertaut menggantung di antara keduanya, dengan posisi yang pasti membuat bahu kami sakit besok pagi.
“Aurora.”
“Hm.”
“Ini nggak nyaman.”
“Aku tau.”
“Bahu gue bakal remuk.”
“Aku tau.”
“Oke.”
Dia tidak melepaskan.
Aku bangun jam empat pagi karena hujan berhenti.
Kesunyiannya yang membangunkanku. Bukan suara.
Tanganku masih di tangannya. Dia sudah tidur — napasnya berat dan teratur, dan kepalanya miring ke arah kasur.
Aku memandanginya dari atas dalam gelap.
Enam tahun.
Aku duduk di sebelah orang ini di perpustakaan, di kafe, di bangku besi, di ruang rapat, di lantai empat perpustakaan kampus utara. Aku menghitung jedanya. Aku merekam suaranya. Aku menilai performanya dengan tiga warna spidol.
Dan aku belum pernah sekali pun melihatnya tidur.
Aku menyadari itu jam empat pagi dan sesuatu di dadaku menekan dengan cara yang tidak enak.
Aku melepaskan tanganku pelan-pelan.
Dia langsung terbangun.
“Aurora?”
“Nggak apa-apa. Tidur lagi.”
“Lo mau ke mana.”
“Nggak ke mana-mana.”
Dia bangkit setengah, dengan rambut yang berdiri di satu sisi dan mata yang belum fokus dan suara yang serak.
“Lo kenapa.”
“Aku nggak kenapa-kenapa.”
“Aurora.”
Aku duduk di tepi kasur.
“Bum, aku baru sadar aku belum pernah liat kamu tidur.”
Dia diam.
“Enam tahun,” kataku. “Dan aku baru liat sekarang.”
“Aurora—“
“Aku nggak nangis. Aku cuma—“ Aku menekan mataku. “Kamu tidur pakai tas sebagai bantal.”
“Itu tas empuk.”
“BUM.”
“Aurora, ini jam empat pagi.”
“Aku tau.”
Dia mengusap wajahnya dengan satu tangan.
Lalu dia bergeser, duduk bersandar ke sisi kasur, dan menepuk lantai di sebelahnya.
“Turun.”
“Hah?”
“Turun sini.”
Aku turun dari kasur dan duduk di lantai di sebelahnya, di atas selimut yang digelar, dengan punggung bersandar ke ranjang.
Dia menarik selimut satunya dan menutupi kaki kami berdua.
“Gini,” katanya. “Sekarang kita berdua di lantai. Nggak ada yang lebih menderita.”
“Itu solusi paling Bumi yang pernah aku denger.”
“Makasih.”
“Itu bukan pujian.”
“Gue tau.”
Kami duduk di lantai dengan punggung ke ranjang dan selimut di kaki dan tidak tidur sampai subuh.
Kami mengobrol soal hal-hal yang tidak penting sama sekali.
Soal apakah kucing bisa dilatih — dia mengulang argumen yang sama persis dari enam tahun lalu dan aku memberitahunya itu, dan dia bilang “karena argumennya masih bener”.
Soal Reno, yang ternyata sudah menembak anak tim empat dan ditolak dan sekarang jadi temannya.
“Dia ditolak?”
“Iya.”
“Kok dia keliatan seneng terus?”
“Karena dia ngomong langsung,” kata Bumi. “Orang yang ngomong langsung terus ditolak itu sedih tiga bulan. Orang yang nggak ngomong itu—“
Dia berhenti.
“Itu apa?”
“Nggak jadi.”
“Bum.”
“Enam tahun,” katanya. “Itu jawabannya.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat dan tidak berkomentar.
Kami tidak melakukan apa-apa.
Aku ingin mencatat itu, karena aku ingat semua yang tidak terjadi dengan jelas sekali.
Kepalaku di bahunya. Tangannya di tanganku. Napasnya di rambutku dua kali waktu dia berbicara. Sekali dia menoleh dan bibirnya menyentuh keningku, dan berhenti di situ, dan itu saja.
Aku ingin lebih.
Aku memikirkannya sepanjang dua jam itu, dengan jujur dan berulang-ulang, dan aku tahu dia juga memikirkannya karena aku bisa merasakan bahwa tubuhnya tidak santai sedikit pun.
Dan tidak ada yang bergerak.
Dan itu — entah bagaimana — jadi dua jam paling panas dalam hidupku, tanpa satu pun hal yang bisa kuceritakan ke Icha.
Jam enam kurang, langit mulai abu-abu.
“Bum.”
“Hm.”
“Kenapa kamu nggak?”
Dia diam agak lama.
“Karena kalau gue mulai,” katanya, “gue nggak mau ada satu bagian pun dari lo yang bisa mikir ‘ini karena banjir’.”
Aku menutup mataku.
“Kamu tuh,” kataku ke bahunya, “orang paling nyebelin sedunia.”
“Gue tau.”
“Kamu selalu punya alasan yang bener.”
“Iya.”
“Aku benci itu.”
“Gue tau.”
Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya di cahaya abu-abu jam enam kurang, dengan rambut yang berdiri di satu sisi dan kacamata yang sudah dilepas sejak semalam.
“Bum, aku nggak akan mikir gitu.”
“Lo nggak tau.”
“Aku tau.”
“Aurora, lo nggak bisa tau apa yang bakal lo pikirin di masa depan.” Dia mengusap wajahnya. “Gue juga enam tahun lalu ngira gue bakal baik-baik aja.”
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Jadi aku menyandarkan kepalaku kembali ke bahunya dan membiarkan langit terus terang.
“Aku sayang kamu.”
“Aku sayang kamu.”
Empat detik.
Dan kali ini aku tidak menghitungnya karena aku ingin tahu berapa lama.
Aku menghitungnya karena aku ingin menyimpannya.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi reading
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu