← Latihan Dulu

Chapter Thirty Nine

Giliranku Kalah

POV: Aurora

Aku punya reputasi.

Bukan reputasi yang bagus. Reno menyebutnya “Kak Aurora mode serang”. Icha menyebutnya “truk”. Fandi pernah bilang, di grup chat yang seharusnya tidak ada, bahwa aku “nggak punya rem dan itu bukan metafora”.

Selama tiga minggu, akulah yang membuat Bumi Asher Arsenio kehilangan kalimat.

Aku menikmatinya. Aku akan jujur soal itu. Setelah enam tahun jadi orang yang tidak bisa mengucapkan “halo”, ada sesuatu yang sangat memuaskan dari melihat orang paling tenang di dunia menjatuhkan pulpennya karena satu kalimat.

Hari Jumat itu semuanya berbalik dalam waktu sekitar sembilan detik.

Dan aku ingin mencatat satu hal sebelum masuk ke bagian itu, karena penting: aku sudah diperingatkan.

Fandi mengirim pesan hari Rabu.

Fandi: kak

aku: apa

Fandi: gue mau ngasih tau sesuatu sebagai temen

aku: apa fan

Fandi: bumi tuh diem bukan karena dia nggak mikir

aku: aku tau

Fandi: enggak kak lo nggak tau

Fandi: gue sekamar sama dia pas study tour kelas sebelas
Fandi: dia ngigau

aku: FAN

Fandi: gue nggak akan cerita isinya
Fandi: gue cuma mau bilang jangan kaget aja nanti

Aku membaca pesan itu, tertawa, dan melupakannya dalam dua puluh menit.

Dua hari kemudian aku mengingatnya lagi, dengan punggung menempel di tembok kosanku sendiri.


Kami di kosanku. Sore. Pintu terbuka.

Aku sedang duduk di kursi meja belajar dan dia berdiri di belakangku membaca layar, karena revisi bab empat berantakan dan dia lebih cepat menemukan masalahnya kalau membaca langsung.

“Di sini,” katanya, menunjuk. “Kalimat ini kontradiksi sama paragraf atas.”

“Yang mana?”

“Yang ini.”

Dia mencondongkan badan untuk menunjuk.

Dan waktu dia mencondongkan badan, tangannya bertumpu di sandaran kursiku, dan wajahnya jadi sekitar dua puluh sentimeter dari sisi kepalaku, dan aku bisa merasakan napasnya di telinga.

Aku berhenti membaca.

“Aurora.”

“Hm.”

“Yang ini.”

“Iya.”

“Lo baca nggak?”

“Iya.”

“Lo nggak baca.”

Aku menoleh untuk protes.

Dan dengan menoleh, jarak dua puluh sentimeter itu jadi sekitar delapan.

Dia tidak mundur.

Itu bagian pertama yang salah. Enam tahun, dan selama enam tahun, setiap kali jarak jadi kurang dari lima belas sentimeter, dia selalu yang mundur duluan.

Dia tidak mundur.

“Bum.”

“Hm.”

“Kamu—“ Suaraku keluar salah. “Kamu deket banget.”

“Iya.”

“Kamu tau?”

“Gue tau.”

Dan dia mengangkat tangannya dari sandaran kursi dan menyelipkan rambut di sisi wajahku ke belakang telinga, pelan, dengan punggung jari.

Aku berhenti bernapas.


Aku ingin mencatat, secara ilmiah, bahwa aku sudah menyiapkan diri untuk berbagai hal dalam hidup ini dan tidak satu pun dari persiapan itu berguna.

“Aurora.”

“Iya?”

“Kemarin lo bilang apa di kantin.”

“Aku bilang banyak hal di kantin.”

“Yang soal rahang gue.”

Aku menutup mataku.

“Aku nggak inget.”

“Lo inget.”

“Bum—“

“Lo bilang,” katanya, dan suaranya sekarang berada di dekat telingaku, “‘kamu kalau lagi ngunyah, rahang kamu gerak dan itu masalah buat aku’.”

“Kamu hafal?”

“Gue hafal semuanya. Lo tau itu.”

Aku memegang tepi meja belajarku dengan dua tangan.

“Terus minggu lalu lo bilang gulung lengan baju.” Dia berdiri tegak dan menggulung lengan bajunya, dua kali, dengan sangat sengaja. “Terus lo bilang gue nggak tau efeknya.”

“Bum.”

“Gue tau efeknya sekarang.”

“Kamu—“ Aku berbalik di kursi. “Siapa yang ngajarin kamu?”

“Nggak ada.”

“BOHONG.”

“Aurora, gue enam tahun merhatiin lo.” Dia menaruh dua tangan di sandaran kursi, di kiri dan kanan bahuku, dan mencondongkan badan sampai aku harus mendongak. “Gue tau lo napas lebih pendek kalau gue diem lebih dari empat detik. Gue tau telinga lo merah duluan sebelum pipi. Gue tau lo pegangan sama benda terdekat kalau lo panik.”

Aku melepaskan tepi meja.

“Nah,” katanya.


Aku tidak punya kalimat.

Untuk pertama kalinya sejak kami jadian, untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, aku duduk di kursi meja belajarku sendiri dan tidak punya satu pun kalimat.

“Aurora.”

“Hm.”

“Lo mau gue berhenti?”

Dan itu yang paling tidak adil. Dia bertanya. Dia benar-benar bertanya, dengan suara yang tenang, dengan wajah yang sudah delapan sentimeter dari wajahku, dan dia benar-benar akan berhenti kalau aku bilang iya.

“Enggak,” kataku.

Suaraku keluar seperti bisikan orang sakit.

Dia menunduk dan mencium sudut rahangku.

Lalu di bawahnya.

Lalu di leherku.

Dan aku — yang tiga minggu terakhir ini adalah orang yang mengatakan hal-hal tidak pantas di kantin, yang datang ke kosan cowok jam sebelas malam, yang menyuruh orang menggulung lengan baju — aku mengeluarkan suara yang membuatku ingin masuk ke dalam tanah.

Dia berhenti.

“Jangan berhenti,” kataku.

“Gue nggak berhenti.” Dia bilang itu di leherku. “Gue cuma mau denger lagi.”

“BUM.”


Aku tidak tahu berapa lama.

Aku tahu bahwa di suatu titik aku berdiri, dan aku tidak ingat memutuskan untuk berdiri.

Aku tahu bahwa punggungku berakhir di tembok, dan bahwa tangannya ada di pinggangku, dan bahwa aku memegang kerah bajunya dengan dua tangan seperti orang yang takut jatuh dari sesuatu.

Aku tahu bahwa dia menciumku — di pipi, di rahang, di leher, di tulang selangka — dan tidak sekali pun di bibir.

Aku menyadari itu setelah entah berapa lama, dan aku menariknya lebih dekat, dan dia tidak melakukannya.

“Bum.”

“Hm.”

“Kenapa nggak—“

“Karena kalau gue mulai,” katanya, “gue nggak bisa berhenti di sini.”

Aku menekan dahiku ke bahunya.

“Kamu kejam.”

“Iya.”

“Kamu tuh dulu orang paling baik yang aku kenal.”

“Iya,” katanya. “Lo yang ngerusak.”

Aku memukul bahunya dan dia tertawa — beneran tertawa, dengan suara, di leherku — dan aku merasakannya di seluruh tubuh dan harus memejamkan mata.


Kami akhirnya duduk di lantai kosanku dengan punggung ke tembok, dua puluh menit kemudian, dengan napas yang belum normal dan revisi bab empat yang belum tersentuh.

“Bum.”

“Hm.”

“Aku pengen ngomong sesuatu tapi aku malu.”

“Ngomong.”

“Kamu—“ Aku menekan wajahku ke lutut. “Kamu ternyata gitu ya.”

“Gitu gimana.”

“Nggak usah tau.”

“Aurora.”

“BUM, NGGAK USAH TAU.”

Dia diam beberapa detik.

“Aurora.”

“Apa.”

“Gue mau ngomong sesuatu dan gue nggak akan ngulangin.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Enam tahun gue mikirin ini,” katanya, dan dia memandang lurus ke depan, ke arah lemari, seperti orang yang sedang membaca sesuatu yang tidak ada. “Bukan yang barusan doang. Semuanya. Gue mikirin gimana kalau gue boleh.”

“Bum—“

“Dan gue selalu berhenti mikirinnya di tengah,” katanya. “Karena gue nggak punya hak.”

Aku menggenggam tangannya.

“Sekarang gue punya,” katanya. “Dan gue nggak tau harus ngapain sama semua yang gue simpen selama enam tahun.”

Kosan itu sunyi.

“Bum.”

“Hm.”

“Nggak usah buru-buru dikeluarin semua.”

Dia menoleh.

“Kita punya waktu,” kataku. “Kan?”

Dan dia memandangiku cukup lama, dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang tidak pernah kulihat dalam enam tahun — bukan tenang, bukan sabar, bukan datar.

Lega.

“Iya,” katanya.


Icha menelepon jam sepuluh malam.

“Ra, revisi bab empat udah?”

“Belum.”

“Kamu ngapain aja dari sore?”

Aku menatap langit-langit kosan.

“Cha.”

“Apa?”

“Aku kalah.”

“Kalah apa?”

“Nggak usah tau.”

“RA.”

“Cha, aku kalah telak dan aku nggak mau ngomongin ini.” Aku menarik selimut sampai wajah. “Tapi aku mau kamu tau bahwa reputasi aku udah selesai.”

Icha diam.

Lalu dia mulai tertawa, dan dia tertawa selama hampir dua menit penuh, dan aku menutup telepon di tengah-tengahnya.

Dia mengirim pesan tiga menit kemudian.

Icha: ra

aku: apa

Icha: aku mau bilang satu hal terus aku berhenti ngeledek

aku: apa

Icha: enam tahun lalu kamu bilang ke aku kamu nol

Icha: kamu inget?

Aku ingat.

Kantin, kelas sebelas, es yang ditusuk-tusuk pakai sedotan. Kamu tuh sebenernya pernah ngobrol sama cowok nggak, sih?

aku: aku inget

Icha: kamu bukan nol, ra

Icha: kamu cuma belum ketemu orang yang mau nunggu kamu belajar

Aku membaca pesan itu di bawah selimut dengan wajah yang masih panas.

Lalu aku membalas satu kalimat dan mematikan ponselku.

aku: cha dia nungguin enam tahun

aku: dan dia nggak pernah sekalipun bilang aku lambat