← Latihan Dulu

Chapter Thirty Two

Rabu

POV: Bumi

Aku mengirim satu pesan hari Selasa malam.

aku: Besok Rabu.
aku: Jam empat. Taman belakang ruko.

Butuh dua menit sebelum centangnya biru.

Butuh dua puluh menit lagi sebelum ada balasan.

Aurora: taman yang mana

aku: Lo tau yang mana.

Tidak ada balasan setelah itu.


Aku sampai jam setengah empat.

Tempatnya berubah. Ruko yang dulu kosong sekarang jadi laundry. Rumputnya lebih pendek, ada yang merawat. Bangku besinya masih ada — dua, sama, dengan cat yang sudah mengelupas lebih parah.

Tiang listriknya sudah diganti.

Lampunya menyala penuh, dua-duanya.

Aku berdiri memandangi tiang itu selama mungkin dua menit, dan aku merasakan sesuatu yang tidak bisa kunamai, dan aku memutuskan untuk tidak menamainya.

Aku duduk di bangku dan menunggu.

Ini bukan latihan. Nggak ada aturan sesi. Nggak ada margin, nggak ada rubrik, nggak ada perekam di tengah meja.

Gue nggak punya naskah.

Aku sudah menyusun rencana selama seminggu. Aku ingin jelas soal itu — aku menyusun rencana, karena aku memang orang yang menyusun rencana, dan berpura-pura tidak melakukannya adalah bentuk kebohongan yang paling tidak berguna.

Rencananya ada di kepalaku. Empat poin. Urut.

Aku membuangnya jam empat kurang lima.


Dia datang jam empat lewat tujuh.

Tujuh menit. Tentu saja tujuh menit.

Dia berhenti di ujung rumput.

“Maaf telat.”

“Tujuh menit.”

“Kamu ngitung?”

“Gue nggak ngitung,” kataku. “Gue tau.”

Dia berdiri di situ dan tidak bergerak.

Aku sudah menyiapkan diri untuk banyak hal, tapi tidak untuk melihat wajahnya seperti itu — bukan berharap, bukan takut. Lelah. Enam bulan, empat puluh lima menit sekali jalan, sembilan puluh jam.

“Duduk,” kataku.

Dia duduk. Di ujung bangku yang lain, dengan tas di pangkuan, seperti orang yang siap pergi kapan saja.

Aku ingat pernah duduk seperti itu.


“Gue mau ngomong empat hal,” kataku, “terus abis itu lo yang ngomong.”

“Oke.”

“Yang pertama. Gue minta maaf.”

Dia mengangkat kepalanya.

“Bum, kamu nggak—“

“Gue minta maaf karena gue nyuruh lo nunggu enam bulan,” kataku. “Bukan karena gue nolak. Gue masih ngerasa nolak itu bener. Tapi enam bulan itu bukan mikir. Empat bulan terakhirnya itu gue lagi ngukur lo.”

Dia diam.

“Yang kedua.” Aku memandang rumput. “Lo nanya minggu lalu apa yang gue mau. Gue nggak bisa jawab.”

“Aku tau.”

“Gue nggak bisa jawab karena nggak ada yang pernah nanya itu ke gue.” Aku menarik napas. “Bukan lo. Nggak ada. Seumur hidup. Gue dua puluh dua tahun dan itu pertanyaan paling susah yang pernah gue dapet.”

“Bum—“

“Sebentar.” Aku mengangkat tangan. “Yang ketiga.”

Aku diam beberapa detik.

“Gue salah soal bukti,” kataku.

Dia menoleh.

“Gue bilang lo jatuh cinta sama bukti. Itu argumen yang bagus dan gue bangga banget waktu gue ngomongnya.” Aku mengetuk lutut dengan jempol, dan berhenti waktu aku sadar aku melakukannya. “Tapi itu salah. Karena bukti nggak butuh sembilan puluh jam di jalan. Bukti bisa dibaca sekali terus selesai.”

“Sembilan puluh jam?”

“Empat puluh lima menit sekali jalan. Dua kali seminggu. Enam bulan.” Aku mengangkat bahu. “Gue selalu ngitung.”

Dia menutup mulutnya dengan tangan, dan aku melihat matanya, dan aku hampir berhenti di situ.

“Yang keempat,” kataku.

Dan di sini aku berhenti cukup lama, karena poin keempat adalah satu-satunya yang tidak ada di rencana.

“Gue nggak tau caranya berhenti jadi orang yang nunggu,” kataku.

Dia mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

“Enam tahun gue jadi orang yang nunggu. Itu bentuk gue. Itu satu-satunya cara gue tau buat sayang sama orang.” Aku memandanginya. “Kalau kita mulai sekarang, gue nggak otomatis jadi orang lain. Gue bakal tetep jadi orang yang bawa dua payung dan nggak bilang siapa-siapa. Gue bakal tetep ngerjain hal buat lo terus nggak ngaku.”

“Bum, itu—“

“Itu bukan hal manis, Aurora. Itu penyakit.” Aku menaruh tanganku di lutut. “Dan gue nggak bisa janji gue sembuh. Gue cuma bisa janji gue bakal ngomong kalau gue nyadar gue lagi ngelakuinnya.”

Hening.

Ada suara mesin cuci dari laundry di belakang.

“Udah,” kataku. “Empat.”


Dia tidak langsung bicara.

Dia duduk di ujung bangku yang lain dan menunduk, dan aku melihat air jatuh ke tasnya, dan aku duduk di sana dan tidak melakukan apa-apa.

Lalu dia menghapus mukanya dengan lengan, satu kali, dengan gerakan yang kasar dan tidak anggun sama sekali.

Dan dia bicara.

“Aku juga punya empat,” katanya.

“Oke.”

“Yang pertama, aku sayang kamu.”

Aku berhenti bernapas.

“Bukan suka. Aku udah bilang suka enam bulan lalu dan kamu bener, waktu itu aku belum yakin.” Suaranya bergetar dan dia melanjutkan. “Sekarang aku yakin. Dan aku nggak punya buktinya, dan aku nggak bisa nunjukin apa-apa, dan aku nggak akan pernah bisa. Jadi kamu harus percaya aku atau enggak.”

“Aurora—“

“Yang kedua.” Dia mengangkat satu jari, dan tangannya gemetar. “Aku nggak akan minta maaf lagi. Aku udah minta maaf lima puluh kali dalam enam bulan dan itu bukan buat kamu, itu buat aku sendiri biar aku ngerasa lebih baik. Jadi aku berhenti.”

Aku mengangguk.

“Yang ketiga.” Dia menarik napas. “Aku nggak akan pernah bisa mengembalikan enam tahun itu. Aku udah coba mikirin caranya selama enam bulan dan nggak ada. Jadi aku berhenti mikirin itu juga.”

Dia berhenti.

“Yang keempat,” katanya.

Dan dia menoleh ke arahku, dan dia melihat langsung ke mataku, dan dia tidak berkedip.

“Kamu bilang kamu nggak tau caranya berhenti jadi orang yang nunggu.”

“Iya.”

“Ya udah, nggak usah berhenti.”

Aku mengerutkan kening.

“Aurora—“

“Kamu tetep bawa dua payung,” katanya. “Kamu tetep jalan di sebelah kanan. Kamu tetep ngerjain hal buat orang terus nggak ngaku. Kamu tetep jadi kamu.”

Suaranya pecah di kalimat terakhir.

“Aku cuma mau kamu berhenti ngelakuin itu buat orang yang nggak nyadar.”


Aku duduk di bangku besi itu selama entah berapa lama.

Ada mesin cuci dari laundry. Ada anak kecil yang lewat naik sepeda. Ada lampu tiang listrik yang menyala penuh, dua-duanya, untuk pertama kalinya.

Aku menoleh ke arahnya.

“Aurora.”

“Iya.”

Aku mengulurkan tangan kananku. Telapak ke atas.

Dia memandangi tanganku.

Lalu dia memandangi wajahku.

Lalu dia memandangi tanganku lagi.

“Bum.”

“Hm.”

“Kamu... “ Dia menutup mulut. “Kamu serius?”

“Gue nggak akan ngulangin.”

“Bum, kalau ini latihan aku—“

“Aurora.” Aku tidak menurunkan tanganku. “Gue nggak pernah latihan buat yang ini.”

Dia menutup matanya sebentar.

Lalu dia menaruh tangannya di tanganku.

Dan aku menutup jariku.


Tangannya dingin.

“Tangan lo dingin,” kataku.

“Aku selalu dingin.”

“Enggak,” kataku. “Ini dingin gugup.”

Dan dia menangis dengan cara yang jelek dan tidak ada yang melihat kecuali aku, dan aku duduk di sebelahnya di bangku besi yang catnya mengelupas, dan aku memegang tangannya, dan aku tidak menghitung berapa lama.

Untuk pertama kalinya dalam enam tahun.

Setelah cukup lama, dia bicara ke arah rumput.

“Asher.”

Aku menoleh.

Dia tidak menoleh balik. Dia menatap lurus ke depan dengan hidung merah dan mata bengkak dan tangan yang masih di tanganku.

“Aku nggak akan minta izin kali ini,” katanya.

“Oke.”

“Aku bakal pakai terus.”

“Oke.”

“Kamu nggak keberatan?”

Aku memandangi tiang listrik yang lampunya menyala penuh.

“Enggak,” kataku.

Dan untuk pertama kalinya sejak umur lima belas tahun, waktu aku bilang tidak apa-apa, aku sedang mengatakan yang sebenarnya.


Kami duduk di bangku itu sampai jam tujuh.

Bukan bicara. Kami mencoba bicara dan gagal dua kali, karena setiap kali salah satu memulai kalimat, yang lain akan menoleh, dan kalimatnya rontok.

Jam tujuh dia berdiri.

“Aku harus pulang.”

“Gue anterin.”

“Bum, kosanku empat puluh lima menit.”

“Lima puluh. Macet.”

Dia berdiri di rumput dan menatapku dengan mulut setengah terbuka.

“Kamu udah nyiapin jawaban itu ya.”

“Enggak.”

“Bohong.”

“Iya,” kataku. “Gue nyiapin.”

Dia tertawa — lepas, terlalu keras untuk taman sekecil itu, dan ibu-ibu dari laundry menoleh.

Kami jalan ke jalan besar, dan aku pindah ke sisi kanan, dan kali ini dia menoleh dan melihatku melakukannya dan tidak bilang apa-apa.

Dia cuma memindahkan tangannya ke tangan yang lebih dekat denganku.