Chapter Fifteen
Tiga Tahun, Versi Pendek
POV: Bumi
Orang mengira sembuh itu satu peristiwa. Ada hari tertentu, ada momen, ada sesuatu yang patah lalu tersambung.
Bukan begitu.
Sembuh itu daftar. Dan daftarnya panjang, dan sebagian besar isinya membosankan.
Tahun pertama.
Aku menghapus spreadsheet versi lima di minggu kedua kuliah.
Bukan mengarsipkan. Menghapus. Termasuk dari folder sampah, karena aku tahu diriku sendiri.
Tiga hari kemudian aku sadar aku masih hafal seluruh isinya. Jam masuk hari Senin. Hari libur les. Tanggal ulang tahun. Jadwal rapat OSIS yang sudah tidak ada karena kami sudah lulus.
Ternyata menghapus file tidak menghapus apa pun. Itu pelajaran teknis pertama yang kudapat di jurusan Teknik Informatika, dan tidak ada di silabus.
Aku berhenti membawa payung kedua di bulan ketiga.
Itu lebih berhasil. Tas jadi lebih ringan. Dua kali aku melihat orang kehujanan di halte dan tidak punya apa-apa untuk diberikan, dan dua kali itu aku merasa seperti orang yang lupa membawa bagian dari tubuhnya, dan ketiga kalinya sudah tidak terasa apa-apa.
Fandi masuk kampus yang sama, jurusan berbeda, dan menempel seperti biasa.
“Lo udah oke?”
“Udah.”
“Bum, ini baru tiga bulan.”
“Terus?”
“Orang normal butuh setahun.”
“Gue efisien.”
Fandi tidak percaya, dan Fandi benar, tapi Fandi juga tidak punya bukti, jadi dia berhenti bertanya.
Ada satu hal yang tidak berhasil kuhapus di tahun pertama, dan aku baru menyadarinya di bulan kelima.
Hari Rabu.
Bukan jadwalnya — jadwalnya sudah hilang. Tapi tubuhku belum tahu itu. Setiap Rabu sekitar jam empat sore aku akan berhenti mengerjakan apa pun yang sedang kukerjakan, selama sekitar sepuluh detik, seperti orang yang mendengar namanya dipanggil di keramaian.
Sepuluh detik, lalu selesai, lalu lanjut.
Aku menghitungnya selama tiga bulan sebelum berhenti menghitung. Frekuensinya turun sendiri. Bulan kesembilan sudah tidak terjadi lagi.
Itu satu-satunya bagian dari proses ini yang bisa kusebut menyembuhkan, dan yang menyembuhkannya bukan aku. Cuma waktu, yang bekerja tanpa diminta dan tanpa bertanya apakah aku setuju.
Tahun kedua.
Ada perempuan bernama Tara di kelompok tugas semester tiga.
Dia pintar, lucu, dan blak-blakan. Kami mengerjakan proyek bareng selama empat bulan dan dia tertawa dengan cara yang membuat orang lain ikut tertawa, dan di akhir semester dia bilang dia suka aku, dengan cara paling langsung yang pernah aku dengar dari siapa pun.
Aku bilang iya.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur: aku bilang iya karena aku ingin bilang iya. Bukan karena kasihan, bukan karena eksperimen. Dia orang baik dan aku mau mencoba.
Bertahan lima bulan.
Yang menghancurkannya bukan hal besar. Suatu malam kami sedang menunggu ojek, dan hujan turun, dan dia bilang, “Kamu selalu jalan di sebelah kanan ya.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan aku berdiri di trotoar itu dan tidak bisa menjawab.
Bukan karena aku tidak tahu jawabannya. Karena jawabannya adalah bahwa aku sudah melakukan itu sejak umur lima belas, untuk orang lain, selama dua tahun, dan tubuhku sudah tidak bisa membedakan siapa yang sedang berjalan di sebelahku.
Tara memutuskan hubungan itu tiga minggu kemudian, dengan sangat baik-baik.
“Kamu tuh nggak nutup-nutupin apa-apa,” katanya. “Kamu beneran ada di sini. Cuma... nggak semuanya.”
“Aku minta maaf.”
“Kamu nggak salah.” Dia mengangkat bahu. “Kamu cuma udah ditempatin duluan.”
Kalimat itu bertahan di kepalaku lebih lama daripada hubungannya.
Fandi marah selama seminggu penuh. Bukan ke Tara — ke aku.
“Dia bagus, Bum.”
“Gue tau.”
“Dia bagus banget.”
“Gue tau.”
“Terus kenapa?”
Aku sedang mencuci gelas di wastafel kosan dan aku terus mencucinya sampai selesai sebelum menjawab.
“Karena gue nggak deg-degan,” kataku.
“Lo apa?”
“Gue nggak pernah deg-degan sama dia. Sekali pun.” Aku menaruh gelas itu di rak. “Dan gue kira itu bagus. Gue kira itu artinya gue udah dewasa. Ternyata bukan.”
“Ternyata apa?”
“Ternyata artinya nggak ada yang gue pertaruhin.”
Fandi tidak membalas apa-apa waktu itu, dan aku juga tidak memikirkannya lebih jauh.
Tiga tahun kemudian seseorang akan mengucapkan kalimat yang hampir persis sama ke Aurora, di restoran, waktu memutuskan hubungan mereka. Aku baru tahu itu jauh belakangan, dan waktu aku tahu, aku tidak tahu harus merasa apa.
Tahun ketiga.
Aku baik-baik saja.
Dan aku ingin menekankan ini, karena orang selalu mengira “baik-baik saja” itu kebohongan sopan. Bukan. Aku benar-benar baik-baik saja.
Aku mengerjakan proyek yang menarik. Aku punya empat teman yang bukan Fandi. IPK-ku bagus. Aku tidur cukup. Aku bisa duduk di kantin sepanjang siang tanpa satu pun pikiran mampir ke tempat yang salah.
Aku berhenti menunggu.
Itu bagian yang benar-benar selesai. Aku tidak lagi mengecek apa pun. Aku tidak menyimpan nomor yang sudah ganti. Aku tidak pernah, satu kali pun dalam tiga tahun, membuka daftar kontak dan berhenti di huruf A.
Yang tidak berhenti cuma satu, dan aku bahkan tidak menganggapnya masalah karena tidak ada yang bisa dilakukan terhadapnya.
Aku masih ingat semuanya.
Bukan dengan rindu. Dengan akurat. Empat puluh tiga sesi. Tujuh belas kali di kafe. Dua belas menit di sesi ketujuh. Tiga jam empat puluh menit di bangku besi. Sembilan halaman tentang orang lain dan tiga puluh dua halaman yang tidak pernah kutahu isinya.
Angka-angka itu tidak menyakitkan lagi. Mereka cuma ada, seperti nomor sepatu Fandi.
Itu yang tidak dimengerti Fandi.
“Lo nggak sedih?” tanyanya suatu malam di semester enam, waktu kami begadang ngoding di kosan.
“Enggak.”
“Beneran?”
“Fan, gue udah tiga tahun.” Aku menutup laptop. “Gue nggak nangis. Gue nggak ngecek dia. Gue pernah pacaran. Gue bahkan nggak inget lagi rasanya gimana.”
“Terus masalahnya apa?”
“Nggak ada masalah.”
Fandi memutar kursinya menghadapku.
“Bum, gue nanya satu hal. Jujur.”
“Apa.”
“Kalau besok dia muncul di depan lo, lo bakal ngapain?”
Aku memikirkannya.
Aku memikirkannya dengan cara yang sama seperti aku memikirkan soal fisika dulu: kemungkinan, konsekuensi, kerugian. Aku menyusunnya di kepala, rapi, terstruktur, dengan cabang-cabangnya.
“Gue bakal nyapa,” kataku. “Terus gue tanya kabar. Terus gue pulang.”
“Itu bohong.”
“Itu jawaban paling akurat yang gue punya.”
“Bum.”
“Fan, gue nggak nyimpen apa-apa lagi.” Aku membuka laptop lagi. “Gue nggak nunggu. Gue nggak berharap. Kalau dia muncul, ya muncul. Gue nggak punya rencana buat itu.”
Dan itu benar.
Aku tidak punya rencana.
Itu satu-satunya hal dalam hidupku yang tidak punya rencana, dan aku baru sadar tiga tahun kemudian bahwa itu bukan tanda aku sudah selesai — itu tanda aku tidak berani menyusunnya.
Ada satu hal lagi. Aku menyimpannya untuk akhir karena aku tidak tahu di mana harus menaruhnya.
Bulan ketiga tahun ketiga, aku sedang membereskan kardus lama di kamar, mencari kabel yang hilang.
Aku menemukan buku tulis dengan sampul yang sudah tidak licin lagi.
Halaman pertama, empat kata, tulisanku sendiri.
Jangan jadi kamu.
Aku duduk di lantai dan memandanginya beberapa saat.
Lalu aku merobek halaman itu, meremasnya, dan melemparnya ke tempat sampah, dan aku merasa cukup puas dengan diriku sendiri selama sekitar dua menit.
Lalu aku mengambilnya kembali.
Bukan karena sentimental. Aku ingin jelas soal ini. Aku mengambilnya kembali karena aku sadar aku sedang melakukan sesuatu yang dramatis, dan hal-hal dramatis itu biasanya keputusan yang buruk, dan aku tidak mau tiga tahun lagi menyesali sesuatu yang kulakukan dengan buru-buru di lantai kamar sambil mencari kabel.
Aku melicinkannya, melipatnya, dan menaruhnya di dalam kotak.
Kotak itu masuk ke lemari. Lemari itu ditutup.
Dan aku benar-benar tidak membukanya lagi. Bukan sekali pun. Sampai hari ini aku bisa mengatakan dengan jujur bahwa aku tidak pernah membuka kotak itu lagi.
Aku cuma tahu persis di rak mana kotak itu berada.
Fandi mengirim pesan di bulan September tahun ketiga.
Fandi: bum
Fandi: lo masih ikut komunitas robotik yang gabungan antar kampus itu kan
aku: Iya. Kenapa.
Fandi: nggak
Fandi: nggak apa-apa
aku: Fan.
Fandi: gue serius nggak apa-apa
Fandi: nanti lo tau sendiri
Aku mengetik tanda tanya dan menghapusnya, lalu menutup ponsel dan melanjutkan tugas.
Aku tidak bertanya lagi.
Kalau aku bertanya, dia akan bilang, dan aku akan punya waktu tiga minggu untuk menyusun rencana.
Aku sering memikirkan itu sekarang: apa yang akan berbeda kalau aku punya tiga minggu.
Mungkin tidak ada.
Tapi setidaknya aku tidak akan berdiri di ruangan itu dengan gelas di tangan, tanpa persiapan sama sekali, waktu pintunya terbuka.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek reading
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu