Chapter Nine
Yang Suka Tempat Sepi
POV: Celine
Semalam, pukul dua belas lewat sepuluh, Alea mengunggah story di Instagram.
Foto cermin. Ia memakai hoodie abu-abu yang terlalu besar, tudungnya terpasang, lengannya menjuntai melewati ujung jari. Hanya separuh wajahnya yang terlihat, matanya sedikit sembap seperti habis menangis, tapi bibirnya tersenyum. Di bawah foto itu, tulisan kecil dengan font tulisan tangan:
thank you, hero 🦸♂️🩶
Aku tahu hoodie siapa itu. Aku melihatnya di lift, di lobi, di lantai 17. Hoodie yang selalu tersampir di lengan atau terpasang di badan laki-laki yang tidak menoleh untuk melihatku pergi.
Aku menatap story itu sampai habis. Lalu menontonnya sekali lagi.
Lalu aku mematikan ponsel dan berbaring menatap langit-langit kamar, mencoba memahami kenapa ada rasa seperti tergores di dadaku. Kecil. Tipis. Seperti kertas yang menyayat jari tanpa sengaja.
Itu taruhan. Alea sedang bermain dengan baik. Aku seharusnya kagum pada strateginya, bukan merasa seperti ini.
Aku tidak tahu harus menamai perasaan itu apa. Jadi aku tidak menamainya, dan tidur dengan perasaan itu tetap di sana.
Rencanaku hari Selasa: tempat makan siangnya.
Laki-laki itu tidak pernah terlihat di kantin. Tidak di food court lantai dasar. Tidak di kafe-kafe kecil di sekitar Trista Tower. Alea bilang ia makan roti tawar polos di mejanya, tapi itu hanya terjadi sekali. Di hari-hari lain, setiap jam dua belas, mejanya kosong.
Ia pergi ke suatu tempat.
Aku butuh informan. Bayu jelas pilihan paling mudah, tapi Bayu berubah jadi patung setiap kali aku muncul, dan aku tidak punya waktu menunggu ia di-restart. Jadi aku memilih orang yang lebih senior.
Pukul sebelas, aku mengetuk partisi meja Bang Togar.
Togar Simanjuntak, Head of IT Infrastructure, menoleh dari layar. Lalu ia melihatku. Lalu ia berdiri begitu cepat sampai lututnya membentur laci meja dan sebuah mug bertuliskan WORLD’S BEST BAPAK jatuh ke lantai.
“Bu Celine!” Suaranya terlalu keras. Seluruh lantai 17 menoleh. “Selamat siang! Ada yang bisa saya bantu? Laptop? Wifi? Proyektor? Apa pun! Divisi kami siap melayani!”
“Bukan soal kerjaan, Pak.” Aku memelankan suara. “Aku mau tanya. Alfa biasanya makan siang di mana?”
Bang Togar menatapku. Lama. Matanya pelan-pelan membesar. Kumisnya bergerak-gerak seperti antena yang menangkap sinyal.
Lalu ia menoleh ke kanan. Ke kiri. Mencondongkan tubuh ke depan dan berbisik dengan volume yang masih bisa terdengar sampai tim network:
“Atap.”
“Atap?”
“Lantai tiga puluh dua. Dia pikir nggak ada yang tahu. Semua orang di lantai ini tahu, Bu. Tapi kami pura-pura nggak tahu, karena kalau ketahuan, nanti dia cari tempat lain yang lebih susah ditemukan.” Ia mengangguk dalam-dalam. “Pintunya dikunci. Dia punya akses. Ibu tunggu aja di tangga darurat, jam dua belas tepat dia naik.”
“Makasih, Pak.”
“Bu Celine.” Bang Togar mencengkeram ujung partisi dengan kedua tangan. Wajahnya serius sekali, seperti jenderal yang menyerahkan peta rahasia. “Jangan bilang saya yang kasih tahu.”
“Oke.”
“Tapi kalau berhasil, bilang ke dia saya yang kasih tahu.”
Aku tersenyum dan berjalan ke lift. Di belakangku, aku mendengar Bayu berbisik dengan suara serak, “Bang, Abang barusan jual rahasia Bang Alfa?” dan Bang Togar menjawab, “Bukan jual, Bayu. Investasi.”
Pukul dua belas kurang lima, aku berdiri di tangga darurat lantai tiga puluh dua.
Tempat ini lebih panas dari yang kukira. Udara pengap, lampu neon berkedip, dinding beton tanpa cat. Pintu besi di ujung tangga bertuliskan AREA TERBATAS — HANYA PETUGAS. Di sampingnya, panel akses kartu dengan lampu merah kecil.
Aku merapikan rambut. Merapikan blus. Menyiapkan wajah kebetulan.
Pukul dua belas tepat, langkah kaki terdengar dari tangga di bawah.
Ia muncul di belokan tangga, membawa sebungkus roti tawar dan botol air mineral. Dan ia memakai jaket parasut oranye terang. Jaket yang terlalu besar, dengan lengan yang digulung tiga kali. Di bagian dadanya, sablon putih berbentuk lambang keluarga dengan tulisan melengkung.
Ia berhenti di anak tangga terakhir ketika melihatku.
Kami saling menatap.
“Mbak,” katanya.
“Hai.” Aku tersenyum. Senyum yang dihitung. “Kebetulan lewat.”
Ia menatap tangga darurat yang sempit, panas, dan sepi. Lalu menatap pintu besi bertuliskan HANYA PETUGAS. Lalu menatapku lagi.
“Lewat lantai tiga puluh dua, Mbak?”
“Iya.”
“Lewat tangga darurat.”
“Iya.”
“Ke mana, Mbak?”
Aku membuka mulut. Menutupnya. Aku memikirkan semua jawaban yang mungkin, dan semuanya terdengar lebih bodoh dari yang lain. Olahraga. Cari sinyal. Tersesat.
“Ke atap,” kataku akhirnya. “Bang Togar yang kasih tahu.”
Sudut bibirnya bergerak. Sedikit. Seperti kemarin-kemarin, seperti mau tersenyum tapi menahannya di detik terakhir.
“Bang Togar bilang jangan bilang dia yang kasih tahu, ya, Mbak?”
“Iya.”
“Terus Mbak bilang.”
“Dia juga bilang kalau berhasil, bilang ke kamu dia yang kasih tahu.”
Ia menghembuskan napas dari hidung. Hampir seperti tawa. Lalu ia menempelkan kartu aksesnya ke panel. Lampu merah berubah hijau. Ia mendorong pintu besi itu dan menahannya terbuka.
“Silakan, Mbak.”
Atap Trista Tower tidak seperti yang kubayangkan.
Aku membayangkan sesuatu yang sinematik. Taman kecil, mungkin. Kursi santai. Pemandangan yang membuat napas tertahan. Yang kutemukan adalah lantai beton luas dengan bercak-bercak noda air hujan, pipa-pipa besar yang merayap di mana-mana, unit AC raksasa yang berdengung seperti hewan tidur, dan tiang antena yang menjulang di sudut.
Tapi anginnya.
Anginnya bersih. Tidak berbau knalpot, tidak berbau AC kantor, tidak berbau parfum orang lain. Hanya angin. Dan langit di atas kepala terlihat lebih besar dari biasanya, biru pucat dengan awan tipis yang bergerak pelan.
Ia berjalan ke balik unit AC terbesar, ke satu sudut di mana ada sepotong papan kayu bekas yang diletakkan di atas dua balok beton, membentuk bangku seadanya. Ia duduk di satu ujungnya. Setelah ragu sejenak, ia bergeser sedikit, memberi ruang di ujung lainnya.
Aku duduk. Bangku itu bergoyang. Aku memegang lengan jaketnya untuk menjaga keseimbangan, lalu buru-buru melepasnya.
Dari sudut ini, kamera keamanan di tiang tidak bisa melihat kami. Dari sudut ini, yang terlihat hanya langit dan puncak-puncak gedung lain di sekitar Sudirman, seperti pulau-pulau kaca di tengah lautan kabut.
“Kamu tiap hari ke sini?” tanyaku.
“Tiap siang. Empat tahun.”
“Sendirian?”
“Sampai hari ini.”
Ia membuka bungkus roti tawarnya. Roti tawar polos, tanpa selai, tanpa apa-apa. Ia mengambil satu lembar dan menawarkannya padaku. Aku menatapnya seperti ia baru menawariku kertas.
“Kamu makan ini tiap hari?”
“Kenyang, Mbak.”
“Itu bukan makanan. Itu... kertas yang bisa dimakan.”
Ia mengangkat bahu dan mulai makan. Aku mengamatinya dari samping. Jaket oranye itu terlalu besar untuknya, kerahnya miring ke satu sisi, dan di punggungnya, aku bisa membaca tulisan sablon: KELUARGA BESAR SIMANJUNTAK — REUNI AKBAR 2019.
“Hoodie kamu mana?” tanyaku. Aku tahu jawabannya. Aku tetap bertanya.
“Dipinjam.”
Ia tidak menyebut nama. Ia tidak menjelaskan. Hanya satu kata, lalu kembali mengunyah roti.
Tergores lagi. Di tempat yang sama.
Aku tidak berencana membicarakan pekerjaan. Rencanaku adalah membicarakan hal-hal ringan, membuatnya merasa nyaman, membiarkannya melihatku di bawah langit biru dengan rambut tertiup angin. Tapi ia bertanya lebih dulu.
“Pitching minggu lalu gimana, Mbak?”
“Berhasil.” Aku tersenyum. “CFO-nya bilang angkaku konsisten. Itu karena kamu.”
“Karena Mbak periksa ulang semua.”
“Karena kamu nunjuk.”
“Saya cuma nunjuk satu. Mbak periksa dua puluh tiga slide.”
Aku tidak tahu kenapa, tapi itu membuatku senang. Ia ingat jumlah slide-nya.
“Sekarang aku lagi pegang kampanye baru,” kataku. “Trista Home. Lini perabot rumah tangga. Rilis bulan depan.”
“Tagline-nya apa?”
Aku ragu sebentar. Lalu membuka ponsel dan menunjukkan mood board yang kubuat minggu lalu. Foto-foto ruang tamu dengan sofa krem, rak buku putih yang tertata sempurna, vas bunga di meja kopi yang tidak pernah dipakai untuk minum kopi. Di tengahnya, tulisan besar dengan font serif yang elegan:
TRISTA HOME — Rumah yang Terlihat Sempurna.
Timku menyukainya. Direktur Marketing menyukainya. Semua orang bilang tagline itu elegan, aspiratif, khas kamu banget.
Alfa menatap layar ponselku lama.
“Boleh saya bilang sesuatu yang mungkin Mbak nggak suka?”
Aku menegakkan punggung. “Boleh.”
“Orang nggak beli rumah supaya dilihat, Mbak.” Ia masih menatap layar, bukan menatapku. “Mereka beli rumah supaya bisa pulang.”
Aku menatapnya.
“Rumah yang terlihat sempurna itu buat tamu,” lanjutnya. “Buat difoto. Buat dipamerin. Tapi orang yang tinggal di dalamnya, yang pulang kerja jam sembilan malam, capek, nggak pengin rumahnya kelihatan sempurna. Mereka pengin rumah yang nggak marah kalau mereka taruh sepatu sembarangan.”
Ada sesuatu yang panas naik ke wajahku. Malu, tersinggung, atau keduanya. Aku membuka mulut untuk membela diri. Untuk menjelaskan soal riset pasar, soal brand positioning, soal segmen kelas menengah atas yang aspiratif.
Lalu aku memikirkan apartemenku sendiri di Kuningan. Sofa krem yang terlalu bagus untuk diduduki. Rak buku putih yang tertata sempurna, berisi buku-buku yang tidak pernah kubaca. Aku memikirkan berapa malam aku pulang jam sepuluh dan langsung tidur di sofa itu dengan sepatu masih terpasang, merasa seperti tamu di rumahku sendiri.
Aku menutup mulut.
“Kamu benar,” kataku pelan.
Ia akhirnya menoleh padaku. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya. Mungkin ia mengira aku akan marah.
“Nggak ada yang pernah bilang gitu ke aku,” kataku. “Timku bilang ini bagus. Atasanku bilang ini bagus. Semua orang bilang semua yang aku buat selalu bagus.”
“Mungkin karena mereka takut, Mbak.”
“Takut apa?”
Ia diam sebentar. “Takut bikin Mbak sedih. Orang biasanya takut bikin orang cantik sedih.”
Angin bertiup lebih kencang. Rambutku berantakan di depan wajah. Aku membiarkannya.
“Kamu nggak takut?”
“Saya takut, Mbak.” Ia kembali menatap langit. “Tapi saya lebih takut Mbak rilis kampanye yang nggak jujur, terus nanti Mbak sendiri yang nggak suka.”
Kami duduk di sana lebih lama dari yang kurencanakan.
Ia tidak banyak bicara. Aku yang lebih banyak bicara, dan itu aneh, karena biasanya aku yang mendengarkan laki-laki bicara tentang diri mereka sendiri sementara aku mengangguk dan tersenyum. Kali ini aku bercerita tentang pekerjaan. Tentang kampanye-kampanye yang kubanggakan dan yang diam-diam kubenci. Tentang bagaimana rasanya selalu dipuji untuk hal yang bukan dirimu.
Ia mendengarkan. Sesekali bertanya. Pertanyaan-pertanyaan kecil yang tepat sasaran, seperti di lantai 17 minggu lalu.
“Aku punya teman,” kataku tiba-tiba. Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. “Teman online. Aku nggak pernah ketemu dia. Nggak tahu namanya, nggak tahu mukanya. Tapi dia satu-satunya orang yang ngomong jujur ke aku. Kayak kamu barusan.”
Ia berhenti mengunyah.
Hanya sedetik. Lalu ia melanjutkan, pelan, dan menelan.
“Kedengarannya teman yang baik, Mbak.”
“Dia memang baik.” Aku tersenyum ke langit. “Kadang aku mikir, kalau aku ketemu dia di dunia nyata, mungkin aku malah nggak berani ngomong sejujur itu. Lucu, ya? Kita lebih jujur ke orang yang nggak bisa lihat muka kita.”
Ia tidak menjawab. Ia menatap sisa roti di tangannya, lama, seperti sedang membaca sesuatu yang tertulis di sana.
Angin bertiup lagi, kali ini lebih kencang, dan kerah jaket oranye itu terlipat ke dalam, menekuk aneh di sisi lehernya. Aku mengulurkan tangan tanpa berpikir. Membetulkan kerah itu. Melipatnya keluar, merapikannya, menekannya pelan dengan ujung jariku supaya tidak terlipat lagi.
Jariku menyentuh kulit lehernya. Hangat.
Ia tidak bergerak. Napasnya, kalau aku tidak salah, tertahan sesaat.
“Aku suka tempat yang sepi,” kataku pelan, tanganku masih di kerahnya. “Ternyata kamu juga.”
Ia menoleh. Wajah kami dekat. Lebih dekat dari yang pernah terjadi di lantai 17, di lift, di mana pun. Aku bisa melihat bekas luka kecil di dagunya dengan jelas sekarang. Aku bisa melihat bulu matanya bergerak waktu ia berkedip.
“Sebelumnya sepi,” katanya. “Sekarang ada Mbak.”
Aku menarik tanganku kembali.
Aku tidak tahu apakah itu gombalan. Ia mengatakannya dengan suara datar, seperti membacakan fakta. Sebelumnya sepi. Sekarang ada Mbak. Seperti laporan status. Tidak ada senyum, tidak ada kedipan, tidak ada nada menggoda.
Tapi jantungku berdetak salah ritme, dan aku tidak bisa membuatnya kembali normal.
Aku turun pukul satu kurang sepuluh. Ia bilang akan turun lima menit setelahku, supaya tidak ada yang melihat kami keluar bersama. Aku tidak tahu apakah itu untuk melindungiku atau melindunginya.
Di lift, sendirian, aku membuka laptop dan membuka file mood board Trista Home.
Aku menghapus tagline lama.
Lalu aku mengetik yang baru. Menghapusnya. Mengetik lagi. Pintu lift terbuka di lantai 22, dan aku masih berdiri di dalam, mengetik dengan satu tangan sambil memegangi laptop dengan tangan lainnya, sampai pintu tertutup lagi dan lift turun ke lobi, lalu naik lagi.
Di percobaan ketujuh, aku berhenti.
TRISTA HOME — Tempat kamu tidak perlu terlihat sempurna.
Aku menatap kalimat itu. Kalimat yang lebih sederhana. Kalimat yang tidak akan disukai Direktur Marketing pada pandangan pertama. Kalimat yang, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun karierku, terasa seperti sesuatu yang benar-benar ingin kukatakan.
Di grup chat Dewi-Dewi Lembur, Shafira sudah bertanya.
Shafira: Cel, update. Kamu sejak kemarin diem aja. Kalah sama hoodie Alea ya? 😏
Alea: Hehehe 🥺🩶
Shafira: Cel?
Aku mengetik.
Aku ketemu dia di atap. Dia punya tempat rahasia. Dia bilang taglineku nggak jujur dan dia benar. Terus aku betulin kerahnya, terus dia bilang...
Aku berhenti. Menatap kalimat-kalimat itu.
Lalu aku menghapus semuanya.
Aku: Belum ada update.
Shafira: Payah. Minggu depan Alea menang, aku runner up, kamu cuci mobilku 🚗🧽
Aku menaruh ponsel di meja dengan layar menghadap ke bawah.
Itu pertama kalinya, dalam lima tahun persahabatan kami, aku menyimpan sesuatu dari Shafira dan Alea.
Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya tahu bahwa atap itu, dan angin itu, dan kalimat datar sebelumnya sepi, sekarang ada Mbak, terasa seperti sesuatu yang tidak ingin kubagi dengan siapa pun.
Bahkan dengan sahabatku sendiri.
Bahkan sebagai bagian dari taruhan.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi reading
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang