Chapter Four

Laptop yang Kebetulan Rusak

POV: Celine


Rencanaku sederhana dan elegan. Seperti semua rencanaku.

Aku tidak akan mengejar. Perempuan yang mengejar itu Shafira. Aku tidak akan merengek. Perempuan yang merengek itu Alea. Aku akan menciptakan kebetulan, sesuatu yang terlihat tidak disengaja, sehingga laki-laki itu merasa dialah yang menemukanku, bukan aku yang menemukannya.

Rencananya: laptopku akan “bermasalah” satu jam sebelum pitching ke klien besar. Aku akan turun ke lantai 17 dengan wajah sedikit panik, cukup panik untuk terlihat manusiawi, tidak cukup panik untuk terlihat tidak kompeten. Ia akan memperbaikinya. Aku akan berterima kasih dengan tulus. Ia akan merasa jadi pahlawan.

Laki-laki suka merasa jadi pahlawan. Itu bukan teori. Itu data.

Masalahnya, aku tidak tahu cara merusak laptop.

“Gampang,” kata Shafira semalam di grup chat, setelah dengan bangga mengirim foto telapak tangan Alfa yang ia tulisi nomor teleponnya. Entah dari mana ia dapat fotonya. Mungkin dari Bayu, junior IT yang menurut Alea gampang sekali disogok roti. “Matiin wifi-nya dari setting. Bilang aja nggak bisa connect. Lima menit dia benerin, kamu kasih senyum, beres.”

“Itu terlalu gampang,” balasku. “Dia bakal tahu aku sengaja.”

“Ya ampun, Cel. Cowok kayak gitu nggak bakal mikir sejauh itu.”

“Kemarin dia nego jadwal makan malam sama kamu.”

Shafira mengirim stiker kucing marah tujuh kali berturut-turut.

Jadi aku memutuskan untuk melakukannya dengan cara yang lebih meyakinkan. Pagi itu, pukul delapan lewat sedikit, aku duduk di meja kerjaku di lantai 22, membuka mesin pencari, dan mengetik: cara bikin laptop error sedikit tapi bisa dibenerin.

Hasil pertama menyuruhku masuk ke sesuatu bernama command prompt. Aku mengikutinya. Menyalin satu baris perintah. Menekan enter.

Layar laptopku berubah biru.

Bukan biru yang lucu. Biru yang dalam dan dingin, dengan wajah sedih dari titik dua dan kurung buka, dan tulisan putih yang tidak bisa kubaca karena isinya kode dan persentase yang berhenti di angka nol.

Aku menatapnya.

Pitching ke Grup Matahari Lestari, klien terbesar kuartal ini, dimulai pukul sepuluh tepat. Semua materi presentasi ada di laptop ini. Aku belum menyimpannya di cloud karena aku masih merevisi slide terakhir semalam pukul dua.

Pukul delapan lewat dua puluh tiga menit, aku tidak lagi perlu berpura-pura panik.


Lantai 17 berbau kopi gosong dan kabel baru.

Aku pernah ke sini mungkin dua kali dalam tiga tahun, dua-duanya untuk menyerahkan formulir akses. Ruangannya lebih gelap dari lantai 22, jendelanya menghadap tembok gedung sebelah, dan suara dengung server di ujung ruangan seperti suara laut yang jauh.

Semua kepala menoleh ketika aku masuk.

Satu per satu, laki-laki di depan monitor berhenti mengetik. Tiga detik. Aku bisa merasakannya seperti angin. Seorang laki-laki muda dengan kaos bergambar karakter anime, yang kuduga Bayu, berdiri dari kursinya begitu cepat sampai kursinya menggelinding mundur dan menabrak dispenser air.

Ia tidak bergerak lagi setelah itu. Hanya berdiri, tangan di samping badan, mulut sedikit terbuka. Seperti patung. Aku menunggu tiga detiknya selesai. Tiga detik lewat. Lima. Delapan.

“Halo,” kataku padanya. “Aku cari Alfa.”

Bayu tidak menjawab. Matanya tidak berkedip. Aku mulai sedikit khawatir.

“Dia hang,” kata suara di belakangku. “Kadang perlu di-restart.”

Aku menoleh.

Alfa berdiri di belakangku, memegang gelas kopi dari mesin pantry. Kaos navy hari ini. Headphone di leher. Rambut sedikit lebih rapi dari kemarin, seperti sempat disisir dengan jari tapi menyerah di tengah jalan.

“Bay,” katanya, tanpa menaikkan suara. “Napas.”

Bayu menarik napas panjang seperti baru muncul dari dalam kolam renang, lalu jatuh terduduk di lantai, karena kursinya masih di samping dispenser.

“Maaf, Mbak,” kata Alfa. “Ada yang bisa saya bantu?”

Aku mengangkat laptop di tanganku. “Layarnya biru. Ada muka sedihnya. Aku pitching jam sepuluh. Semua materiku di dalam.”

Ia menatap layar itu sebentar. Lalu menatap jam di dinding. Pukul delapan lewat tiga puluh satu.

“Boleh saya pinjam?”

Aku menyerahkan laptopku. Saat tanganku melepas laptop dan tangannya mengambil, ujung jari kami bersentuhan. Hanya sebentar, jari telunjukku di punggung jari tengahnya. Kulitnya lebih dingin dari yang kuduga, mungkin karena AC ruangan ini yang disetel terlalu rendah demi server.

Aku menunggu reaksinya. Laki-laki selalu bereaksi ketika aku menyentuh mereka, sekecil apa pun sentuhannya. Napas yang tertahan. Tangan yang sedikit gemetar. Pipi yang memerah.

Alfa tidak bereaksi. Ia hanya mengangguk, membawa laptopku ke mejanya, duduk, lalu mulai bekerja.

Aku berdiri di belakangnya, sedikit kikuk, tidak tahu harus melakukan apa dengan kedua tanganku yang tiba-tiba kosong.


Ia tidak bertanya apa yang kulakukan.

Aku sudah menyiapkan cerita. Tiba-tiba aja error, aku cuma buka email. Cerita yang masuk akal. Tapi ia tidak bertanya, dan aku menyadari, dengan sedikit rasa malu, bahwa ia mungkin sudah tahu. Mungkin layar biru itu meninggalkan jejak, seperti sidik jari, dan ia bisa membacanya.

Jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Bukan cepat yang heboh seperti hacker di film, yang mengetik dengan sepuluh jari sambil layar penuh angka hijau berjatuhan. Cepat yang tenang. Seperti orang yang mengetik sesuatu yang sudah ia ketik ribuan kali. Layar biru hilang. Muncul layar hitam dengan tulisan putih. Lalu layar hitam lagi. Lalu logo laptopku.

Lalu desktop-ku. Foto pantai Labuan Bajo yang kujadikan wallpaper. Ikon-ikon file. Folder bernama PITCHING MATAHARI — FINAL — FINAL BENERAN — REVISI 3.

Ia melirik jam. Pukul delapan lewat tiga puluh lima.

Empat menit.

“Sudah, Mbak,” katanya. “File-nya aman. Lain kali jangan jalankan perintah dari internet yang Mbak nggak tahu isinya.”

Pipiku panas. Jadi ia memang tahu.

“Aku...” Aku mencari kalimat yang bisa menyelamatkan harga diriku. “Aku cuma ikutin tutorial buat bersihin cache.”

“Iya, Mbak.” Ia tidak membantah, tapi juga tidak terlihat percaya. Ia hanya menerimanya, seperti menerima tiket masalah yang tidak perlu dipertanyakan.

Ia hendak menutup laptop dan menyerahkannya padaku. Lalu tangannya berhenti.

“Mbak,” katanya. “Boleh saya bilang satu hal yang bukan urusan saya?”

“Apa?”

Ia membuka file presentasiku, menggulir ke slide tujuh, lalu menunjuk satu angka di grafik batang. “Di sini tulisannya proyeksi pertumbuhan dua belas miliar. Tapi di tabel lampiran, slide dua puluh tiga, angkanya satu koma dua miliar. Salah satunya salah ketik.”

Aku membungkuk, menatap layar. Ia benar. Slide tujuh. Rp12 M. Slide dua puluh tiga, kolom ketiga, baris kelima: Rp1,2 M.

Darahku turun ke kaki.

Grup Matahari Lestari dipimpin seorang CFO yang terkenal suka mencari kesalahan angka di presentasi vendor. Kabarnya ia pernah membatalkan kerja sama senilai lima puluh miliar karena ada satu persen yang tidak cocok antara halaman empat dan halaman sembilan. Kalau ia melihat ini, pitching-ku selesai sebelum aku sempat membuka mulut.

“Yang benar satu koma dua,” bisikku. Aku bisa merasakan tanganku sedikit gemetar. “Aku revisi jam dua pagi. Aku pasti salah ketik.”

“Mau saya betulkan, atau Mbak sendiri?”

“Aku sendiri.” Aku menarik kursi kosong di sebelahnya, duduk, dan meraih touchpad. Tanganku masih gemetar. Aku mengedit angka itu. Rp1,2 M. Lalu, karena panik, aku memeriksa semua angka lain di semua slide, satu per satu.

Alfa tidak pergi. Ia duduk di sebelahku, minum kopinya pelan-pelan, sesekali menunjuk satu baris dengan ujung jarinya. “Itu persennya sudah dibulatkan atau belum, Mbak?” “Itu sumber datanya kuartal berapa?” Pertanyaan-pertanyaan kecil. Pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan siapa pun di timku, karena di timku, tidak ada yang berani bertanya apa pun padaku. Mereka bilang presentasiku selalu sempurna. Mereka bilang semuanya bagus.

Dua puluh menit kemudian, semua angka sudah cocok.

Aku menyandarkan punggung ke kursi dan menghembuskan napas panjang. Tanganku sudah berhenti gemetar.

Lalu aku menoleh padanya.

Ia sedang menatap layar laptopku, bukan menatapku. Dari dekat, aku bisa melihat bulu matanya cukup panjang untuk ukuran laki-laki, dan ada bekas luka kecil di dagunya, garis tipis berwarna lebih pucat dari kulitnya. Ia tidak sadar aku sedang memperhatikannya. Atau ia sadar, dan tidak peduli.

Selama dua puluh lima menit di lantai 17, ia tidak pernah sekali pun menatap wajahku lebih dari satu detik.

Ia menatap angka-angkaku. Grafikku. Slide-slide yang kubuat sampai jam dua pagi.

Sesuatu yang aneh terjadi di dadaku. Bukan debar. Lebih seperti sesuatu yang sudah lama kukunci tiba-tiba diketuk dari dalam.

“Kamu tahu nggak,” kataku pelan, lebih pelan dari yang kumaksud. “Kamu satu-satunya orang yang nggak lihat aku kayak lukisan.”

Ia menoleh. Akhirnya. Matanya cokelat gelap, tenang, seperti air di dasar sumur.

“Karena saya lihat laptopnya, Mbak,” katanya.

Aku tertawa. Tawa sungguhan, bukan tawa yang kuatur volumenya. Tawa yang keluar begitu saja dan membuat Bayu, yang sudah duduk kembali di kursinya, menoleh dengan wajah syok.

“Terima kasih,” kataku. “Serius. Kamu nyelametin pitching-ku.”

“Mbak yang nyelametin. Saya cuma nunjuk.”

“Itu namanya nyelametin.”

“Itu namanya baca.” Ia menutup laptopku dan menyerahkannya. Kali ini, aku yang sengaja membiarkan jariku menyentuh jarinya sedikit lebih lama. Satu detik. Dua detik. Ia tidak menarik tangannya, tapi juga tidak membalas. Hanya menunggu, sabar, sampai aku sendiri yang melepas.

“Semangat pitching-nya, Mbak,” katanya.

Aku berdiri. Merapikan rambut. Berjalan ke arah lift.

Di depan pintu lift, aku menoleh.

Ia sudah kembali menatap monitornya. Headphone-nya sudah kembali di telinga. Kucing oranye bertuliskan SEMANGAT KERJA! menempel di sudut layarnya. Itu stiker dari Alea, aku tahu, karena Alea sudah memamerkannya di grup chat dua hari lalu.

Ia tidak menoleh untuk melihatku pergi.

Laki-laki selalu menoleh untuk melihatku pergi.


Pitching-nya berhasil.

CFO Grup Matahari Lestari, laki-laki berumur enam puluhan dengan kacamata setebal pantat botol, membolak-balik lampiran presentasiku di menit ke-empat puluh dengan wajah orang yang sedang mencari kesalahan. Ia membandingkan slide tujuh dengan slide dua puluh tiga. Lama. Lalu ia mengangguk, menutup map, dan berkata, “Angka Anda konsisten, Bu Celine. Itu jarang.”

Kami menandatangani nota kesepahaman sore itu juga.

Di grup chat Dewi-Dewi Lembur, Shafira mengirim deretan emoji api. Alea mengirim foto kue ulang tahun yang entah kenapa ia simpan di galeri, dengan tulisan SELAMAT KAK CEL!!!. Lalu Shafira menulis:

Shafira: Gimana target? Kena nggak?

Aku menatap pertanyaan itu lama.

Aku: Dia benerin laptopku 4 menit.

Shafira: Terus?

Aku: Terus dia nemuin salah angka di slide.

Shafira: Cel aku nanya soal TARGET bukan soal slide 😭 Dia baper nggak? Dia gugup nggak? Dia liatin kamu terus nggak?

Aku: Nggak.

Shafira: Nggak apa?

Aku: Nggak semuanya.

Alea: Kak Cel kalah sama laptop 😭😭😭

Shafira: HAHAHAHA. Satu kosong buat aku. Dia nego jadwal sama aku. Sama kamu dia cuma nge-debug.

Aku tidak membalas lagi.


Malamnya, di apartemenku di Kuningan, aku tidak bisa tidur.

Aku berbaring di sofa dengan lampu dimatikan, hanya cahaya dari kota yang masuk lewat jendela. Ponsel di dadaku. Aku membuka aplikasi forum developer yang hanya kugunakan untuk satu hal.

Satu percakapan. Satu nama di bagian paling atas.

mr_zero

Aku tidak pernah tahu siapa dia. Setahun lalu, kampanye peluncuran produk yang kupimpin nyaris hancur karena serangan bot di malam peluncuran. Seseorang di tim IT eksternal memasang perangkat keamanan buatan seorang developer anonim. Serangannya berhenti dalam lima belas menit. Aku penasaran, mencari nama pembuatnya, menemukan akun ini, lalu mengirim pesan terima kasih yang terlalu panjang jam tiga pagi.

Aku tidak menyangka akan dibalas.

Ia membalas. Singkat, sopan, sedikit lucu. Sejak itu, kami bertukar pesan. Kadang seminggu sekali, kadang tiga hari berturut-turut. Ia tidak pernah bertanya siapa aku. Aku tidak pernah bertanya siapa dia. Ia tidak pernah melihat wajahku, dan karena itu, kepada dia, aku bisa bicara seperti manusia biasa. Bukan lukisan.

Aku mengetik.

celestial_c: Zero. Aku ikut taruhan bodoh sama sahabat-sahabatku.

Aku menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi.

Akhirnya aku mengirimnya juga. Ditambah kalimat-kalimat yang terus keluar tanpa bisa kurem.

celestial_c: Zero. Aku ikut taruhan bodoh sama sahabat-sahabatku. Kami harus bikin satu cowok di kantor jatuh cinta dalam 30 hari. Hadiahnya liburan. Targetnya cowok IT yang pendiam, yang kami pilih karena dia kelihatan “aman”, nggak bakal drama, nggak bakal ngadu. Hari ini aku sengaja rusakin laptopku biar bisa ketemu dia. Ternyata aku beneran ngerusakinnya. Dia benerin dalam empat menit. Terus dia nemu salah angka di presentasiku yang bahkan timku sendiri nggak lihat. Dan dia nggak sekali pun liatin mukaku.

celestial_c: Aku jahat nggak sih?

Aku menatap pesan itu terkirim. Dua centang abu-abu.

Biasanya mr_zero membalas dalam beberapa menit, kalau ia sedang online. Atau keesokan paginya, kalau tidak.

Malam itu, tanda bahwa ia sudah membaca muncul hanya beberapa detik setelah pesanku terkirim.

Lalu tidak ada apa-apa.

Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Tanda sedang mengetik muncul, menghilang. Muncul lagi, menghilang lagi. Aku menatap layar seperti orang bodoh, menunggu.

Empat puluh menit kemudian, balasannya datang. Hanya dua kalimat.

mr_zero: Tergantung. Kamu mau menang, atau kamu mau kenal dia?

Aku membaca kalimat itu berkali-kali sampai layarnya meredup sendiri.

Di luar jendela, Jakarta masih menyala. Di suatu tempat di kota ini, seorang laki-laki dengan kaos tiga warna mungkin sudah tertidur di samping rak server, atau di kamar kosnya, atau di mana pun laki-laki seperti itu tidur.

Aku tidak tahu jawabannya.

Untuk pertama kalinya dalam taruhan yang baru berjalan empat hari ini, aku benar-benar tidak tahu.