Chapter Six

Pantry Lantai 19

POV: Alfa


Pukul empat lewat dua puluh, Jumat sore, pesan masuk di aplikasi chat internal kantor.

Alea Putri Kinanti (HR): Kak Alfa 🙏 surat resign-nya udah aku proses ya. Tapi yang fisik harus ditandatangani basah, buat arsip. Bisa ke lantai 19 jam setengah lima? Mejaku yang deket jendela, ada kaktusnya 🌵

Aku membaca pesan itu dua kali.

Jadi ia sudah tahu. Tentu saja ia tahu. Pengunduran diri karyawan masuk ke HR, dan Alea adalah HR. Aku sudah memperhitungkannya waktu menekan tombol kirim kemarin malam. Yang tidak kuperhitungkan adalah betapa anehnya rasanya membaca kalimat surat resign-nya udah aku proses dengan emoji kaktus di ujungnya, dari orang yang empat jam sebelumnya menyuapiku telur dadar keasinan.

Aku: Baik, Mbak.

Di seberang meja, Bayu sedang sibuk dengan sesuatu yang membuatnya terkikik-kikik sendiri sejak setelah makan siang. Ia mengetik, mencetak, mengetik lagi, mencetak lagi. Printer lantai 17 sudah memuntahkan kertas lebih banyak hari ini daripada sepanjang bulan lalu.

“Bay, kamu cetak apa?”

“Rahasia, Bang!” Ia memeluk tumpukan kertasnya ke dada seperti induk ayam. “Nanti sore Abang dapat hadiah. Hadiah penting. Hadiah yang bisa menyelamatkan masa depan Abang.”

“Kalau itu log server, jangan dicetak. Sayang kertasnya.”

“Bang, aku nggak sebodoh itu.” Ia berhenti. “Itu kejadian sekali doang, Bang. Dan itu bulan lalu.”

Aku berdiri, mengambil gelas air kosong dari meja, dan berjalan ke lift.


Lantai 19 sepi di Jumat sore.

Sebagian karyawan Finance sudah pulang lebih awal, seperti tradisi tak tertulis setiap akhir pekan. Lampu di beberapa deret meja sudah dimatikan. Meja Alea mudah ditemukan, di dekat jendela, dengan kaktus kecil dalam pot bertuliskan PAK BAMBANG dengan spidol hitam, dan foto seekor kucing putih gendut.

Alea tidak ada di sana.

“Cari Alea, Mas?” Seorang perempuan paruh baya dari meja sebelah, kacamatanya tergantung di rantai manik-manik, menoleh dari layar. “Lagi di pantry. Jumat sore mereka bertiga suka ngumpul di situ. Ritual.”

“Bertiga?”

“Itu, Alea, Mbak Celine, sama Mbak Shafira. Tiap Jumat sore bawa kue, ngopi, ngegosip. Kami di sini sudah hafal suaranya.” Ia tersenyum penuh arti. “Tunggu aja di mejanya, Mas, sebentar lagi juga balik.”

Aku mengangguk. Gelas kosong di tanganku mengingatkanku bahwa aku memang haus. Dispenser terdekat ada di pantry. Pantry lantai 19 ada di ujung koridor, di balik pintu kayu dengan kaca buram berbentuk persegi panjang.

Aku berjalan ke sana.

Pintunya tidak tertutup rapat. Ada celah selebar telapak tangan, cukup untuk suara keluar dengan jelas. Aku sudah mengangkat tangan untuk mendorongnya ketika suara pertama terdengar.

“...besok jam tujuh aku jemput.”

Shafira. Suaranya keras dan riang seperti biasa, suara orang yang terbiasa didengar.

“Tebak dia bakal pakai baju apa?”

“Kemeja, kan? Kamu nyuruh dia pakai kemeja,” jawab suara lain. Celine. Lebih pelan, lebih rendah.

“Itu kalau dia punya kemeja. Aku curiga dia cuma punya kaos. Tiga warna. Hitam, abu, navy.” Ada jeda, lalu Shafira menambahkan dengan nada yang dibuat-buat serius: “Kayak bendera negara yang lagi berkabung.”

Tawa meledak dari balik pintu. Tawa Alea yang paling tinggi, seperti lonceng kecil. Tawa Shafira yang paling keras.

Tanganku masih terangkat di depan pintu. Aku menurunkannya pelan-pelan.

Aku bisa pergi. Aku tahu aku bisa pergi. Langkah pertama ke belakang, langkah kedua ke koridor, dan semua yang kudengar setelah itu hanya akan jadi gumam yang tidak jelas.

Aku tidak bergerak.

“Eh tapi serius, ya,” kata Alea, suaranya masih bergetar sisa tawa. “Tadi siang waktu aku suapin, kupingnya merah. Merah, Kak. Kayak kepiting rebus. Aku taruhan dia belum pernah dipegang cewek sama sekali.”

“Belum pernah pegang tangan cewek, maksudmu,” sahut Shafira.

“Itu juga! Aku taruhan lagi! Sepuluh ribu!”

“Le, kamu nggak bisa taruhan di dalam taruhan.”

“Bisa dong, namanya taruhan bertingkat!”

Tawa lagi. Dan di antara tawa-tawa itu, satu tawa yang lebih pelan. Tawa yang ditahan, seperti orang yang tahu ia tidak seharusnya tertawa tapi tidak bisa menahannya.

Celine.

“Kalian jahat,” katanya. Tapi suaranya sedang tersenyum.

“Kamu juga ketawa, Cel. Nggak usah sok suci,” kata Shafira. “Lagian ini kan cuma bercanda. Dia nggak bakal dengar.”

Aku berdiri di koridor dengan gelas kosong di tangan.

Ada sesuatu yang lucu dari semua ini. Kalimat dia nggak bakal dengar diucapkan dengan sangat yakin, sementara orangnya berdiri satu meter dari pintu. Seperti sistem yang mengira dirinya aman karena tidak ada yang pernah mencoba mengujinya.

Aku tidak tersenyum.


“Eh,” kata Alea. Suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih bersemangat dengan cara yang berbeda, cara orang yang akan menyampaikan sesuatu yang tidak seharusnya ia sampaikan. “Aku punya bocoran. Tapi rahasia, ya. Serius. Ini data HR.”

“Ooh,” Shafira. “Data HR. Aku suka data HR.”

“Janji dulu nggak bilang siapa-siapa.”

“Janji.”

“Kak Cel?”

Hening sebentar. “Le, kalau itu data HR, mending jangan...”

“Ini soal target!”

Hening yang lebih panjang. Lalu: “...ya udah. Janji.”

Aku menatap kaca buram di pintu. Di baliknya, tiga bayangan samar duduk di sekeliling meja kecil. Bayangan paling kecil mencondongkan tubuh ke tengah.

“Dia resign.”

“Hah?”

“Tadi siang surat resign-nya masuk ke sistemku. Efektif empat puluh hari lagi. Kalau dihitung dari hari pertama taruhan, pas hari keempat puluh lima. Alasannya lanjut karier di luar negeri. Statusnya rahasia, dia minta nggak diumumkan sampai hari terakhir.”

Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.

Lalu Shafira tertawa. Bukan tawa terkejut. Tawa orang yang baru saja menerima kabar baik.

“Le. Itu sempurna.”

“Sempurna gimana?” Suara Celine.

“Ya sempurna! Kita punya tiga puluh hari, dia pergi di hari keempat puluh lima. Siapa pun yang menang, dua minggu kemudian dia hilang. Ke luar negeri pula. Nggak ada canggung di lift, nggak ada drama ditolak, nggak ada yang perlu ngehindarin dia di kantin.” Ada suara kertas dibuka. “Ini makin aman. Bener-bener deterjen.”

“Itu yang aku pikirin tadi!” seru Alea. “Nggak ada yang sakit!”

“Tulis, Le. Biar arsipnya lengkap.”

“Tulis di mana?”

“Di sini. Di bawah catatan Celine.”

Bunyi pulpen digeser di atas meja. Bunyi tutup pulpen dibuka. Lalu bunyi yang sangat kecil, hampir tidak terdengar: ujung pulpen menggores kertas.

Aku tidak perlu melihat untuk tahu apa yang sedang ditulis. Aku tidak tahu persis kata-katanya. Aku hanya tahu bahwa di suatu tempat di balik pintu itu, ada selembar kertas dengan namaku di atasnya, dan seseorang baru saja menambahkan satu baris lagi tentangku. Baris tentang kepergianku. Ditulis sebagai kabar baik.

“Le,” suara Celine, pelan. “Itu beneran nggak boleh, lho. Kode etik HR.”

“Ups.” Alea terkikik. “Ya udah, rahasia kita bertiga. Kayak taruhannya.”

“Rahasia kita bertiga,” ulang Shafira, seperti bersulang.

Aku mundur satu langkah dari pintu.

Lalu satu langkah lagi.

Lalu aku berbalik dan berjalan kembali ke koridor, melewati deretan meja Finance yang sudah gelap, sampai ke meja di dekat jendela dengan kaktus bernama Pak Bambang.

Aku duduk di kursi tamu di samping meja itu. Meletakkan gelas kosong di pangkuan.

Aku tidak minum air hari itu.


Alea kembali delapan menit kemudian, dengan sisa krim kue di sudut bibirnya dan senyum yang sama cerahnya seperti waktu ia menaruh stiker kucing di monitorku.

“Kak Alfa! Udah lama? Maaf, maaf, aku tadi di pantry.” Ia duduk di kursinya, membuka laci, mengeluarkan map biru. “Ini, Kak. Tinggal tanda tangan di tiga tempat. Yang ada stiker panahnya.”

Ia membuka map itu dan memutarnya ke arahku. Surat pengunduran diriku, dicetak di kertas berkop Trista Group. Tiga stiker panah kuning kecil menunjuk ke tiga garis kosong.

Aku mengambil pulpen dari gelas di mejanya.

“Di sini, Kak.” Alea mencondongkan tubuh, meletakkan tangannya di atas punggung tanganku, dan menggesernya ke garis pertama. Tangannya kecil dan hangat. Masih ada sedikit gula halus di ujung jarinya. “Terus di sini. Terus yang terakhir di halaman belakang.”

Aku menandatangani tiga kali. Tanda tangan kecil, rapi, yang tidak memakan banyak tempat.

Alea menutup map itu. Lalu ia menatapku dengan dagu bertumpu di kedua tangannya, matanya bulat dan berbinar.

“Kak,” katanya. “Kalau Kakak pergi, nanti yang makan telur keasinanku siapa?”

Aku menatapnya.

Ia mengatakannya dengan manis. Dengan bibir sedikit maju, seperti anak kecil yang protes karena mainannya akan diambil. Seperti kalimat yang dibuat untuk membuat laki-laki tersenyum dan merasa dibutuhkan.

Delapan menit lalu, mulut yang sama berkata nggak ada yang sakit.

“Bayu,” kataku. “Dia sudah pesan.”

Alea tertawa. “Ih, Kakak. Aku serius.” Lalu ia menyentuh lenganku sekali lagi, ringan, seperti menyentuh kucing di jalan. “Semangat, ya, Kak. Kakak pasti sukses di luar negeri. Aku yakin.”

“Terima kasih, Mbak.”

Aku berdiri. Ia melambai. Perempuan berkacamata rantai manik di meja sebelah tersenyum padaku dengan wajah penuh pengertian, seperti ia baru saja menyaksikan awal sebuah kisah cinta.

Mungkin dari tempatnya duduk, memang terlihat seperti itu.


Lantai 17 sudah setengah kosong ketika aku kembali.

Bang Togar sudah pulang. Tim network sudah pulang. Hanya Bayu yang masih di sana, duduk tegak di kursinya dengan tumpukan kertas di pangkuan, menungguku seperti anak yang menunggu ayahnya pulang kerja.

“Bang! Abang dari mana? Lama banget! Aku nungguin!”

“HR.”

“HR? Ngapain ke HR? Abang dipecat?” Wajahnya mendadak pucat. “Bang, jangan bilang Abang dipecat gara-gara aku cetak log server bulan lalu...”

“Bukan, Bay. Tanda tangan dokumen.”

“Oh.” Ia menghembuskan napas lega. “Oke. Bagus. Kalau gitu, ini.” Ia berdiri dan menyerahkan tumpukan kertasnya padaku dengan dua tangan, seperti menyerahkan ijazah. “Hadiah dariku. Untuk besok malam.”

Di halaman pertama, dengan huruf besar-besar dan font yang jelas dipilih dengan penuh perasaan:

PANDUAN MEMBALAS CHAT CEWEK UNTUK PEMULA
Edisi Khusus Bang Alfa
Disusun oleh: Bayu Pradana (pengalaman: banyak, berhasil: sedang dihitung)

Aku membalik halaman.

BAB 1: JANGAN BALAS “OK”.
“Ok” itu dingin. “Ok” itu kayak robot. Cewek benci robot. Kecuali robotnya ganteng (Abang bukan robot ganteng, Abang manusia biasa).
Ganti dengan: “Ok 😊” atau “Siap, Mbak 🙏” atau “Hehe oke deh”.

BAB 2: PAKAI EMOJI.
Emoji yang aman: 😊 🙏 😂
Emoji yang JANGAN: 🍆 🍑 (Bang, aku serius, JANGAN).

BAB 3: KALAU DIA BILANG “WKWK”, ABANG HARUS BALAS “WKWKWK”. SATU “WK” LEBIH BANYAK. INI HUKUM ALAM.

BAB 4: KALAU BINGUNG MAU BALAS APA, TANYA BALIK. CONTOH: “Kamu sendiri gimana?” Ini jurus pamungkas. Bisa dipakai untuk semua pertanyaan, termasuk “Kamu udah makan?” (Jawaban yang benar: “Udah, kamu sendiri gimana?”) (Jawaban yang SALAH: “Udah.”)

Panduannya dua belas halaman. Halaman terakhir berisi diagram alir dengan kotak-kotak dan panah, berjudul KALAU DIA NGGAK BALAS LEBIH DARI 3 JAM, yang ujung-ujungnya semua bermuara ke satu kotak bertuliskan SABAR, BANG. MUNGKIN DIA LAGI MANDI.

Aku membaca semuanya. Halaman demi halaman. Bayu berdiri di sampingku, menunggu reaksi dengan wajah penuh harapan.

“Gimana, Bang?”

“Bab tiga,” kataku. “Kalau dia balas ‘wkwkwk’, terus aku balas ‘wkwkwkwk’, terus dia balas lagi?”

Bayu terdiam. Matanya membesar. Ia merebut panduan itu dariku, membalik-balik halaman dengan panik.

“Aku... aku belum mikirin itu, Bang. Itu bisa jadi infinite loop.” Ia memegangi kepalanya. “Ya ampun. Aku bikin bug.”

“Nanti di-patch.”

“Iya, Bang. Iya. Versi dua. Senin aku rilis.” Ia memeluk panduannya, lalu menatapku dengan wajah serius. “Bang. Besok Abang jangan grogi, ya. Abang ganteng kok. Ya nggak ganteng-ganteng amat. Tapi Abang punya... aura.”

“Aura apa?”

“Aura orang yang nggak bakal nyakitin orang lain.” Bayu mengangguk, puas dengan kalimatnya sendiri. “Itu jarang, Bang. Cewek suka.”

Ia pulang tak lama kemudian. Lantai 17 tinggal aku dan dengung server.


Aku duduk di depan monitor yang sudah mati. Kucing oranye di sudutnya masih memegang papan SEMANGAT KERJA! dengan pipi merah mudanya.

Kayak bendera negara yang lagi berkabung.

Aku taruhan dia belum pernah dipegang cewek sama sekali.

Ini makin aman.

Nggak ada yang sakit.

Aku sudah tahu sejak hari kedua. Aku tahu namaku ada di atas kertas itu. Aku tahu aku dipilih bukan karena aku diinginkan. Semua itu sudah kumasukkan ke dalam perhitungan sejak awal, seperti risiko yang dicatat sebelum sistem dijalankan.

Jadi tidak seharusnya ada yang berubah.

Tidak seharusnya ada rasa seperti ini.

Aku menatap telapak tangan kiriku. Nomor yang ditulis Shafira tiga hari lalu sudah benar-benar hilang. Tinta biru murahan itu akhirnya kalah juga oleh sabun dan waktu.

Aman. Aku sudah biasa.

Aku menyalakan ponsel. Ada satu pesan baru dari nomor yang kusimpan tanpa tanda kurung.

Shafira: Besok jam 7 aku jemput. Kirim alamat. Pakai kemeja. Jangan telat. Jangan kabur. 😘

Aku menatap pesan itu lama. Lalu mengetik.

Ok.

Aku menatap dua huruf itu. Teringat bab satu dari panduan dua belas halaman. “Ok” itu dingin. “Ok” itu kayak robot.

Aku menghapusnya. Mengetik lagi.

Baik, Mbak. Sampai besok.

Lalu, setelah ragu cukup lama sampai layar hampir meredup, aku menambahkan satu emoji dari daftar yang aman. Satu saja.

🙏

Kirim.

Di catatan ponselku, lima aturan yang kutulis tiga hari lalu masih ada di sana. Aku membukanya dan membaca baris terakhir.

5. Jangan berharap.

Aku menambahkan satu baris di bawahnya.

6. Jangan masuk pantry lantai 19 hari Jumat sore.

Lalu aku mematikan lampu meja, mengambil helm, dan pulang.