← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Ten

Klasemen

POV: Alea


Aku tidur sambil memeluk hoodie itu dua malam berturut-turut.

Aku tahu itu memalukan. Aku tahu kalau Kak Shafira tahu, ia akan menertawakanku sampai tersedak. Kalau Kak Celine tahu, ia akan mengangkat satu alisnya dengan cara yang membuatku merasa seperti anak SD yang ketahuan menyontek. Jadi aku tidak memberi tahu siapa-siapa. Aku hanya melipatnya rapi setiap pagi, menyembunyikannya di bawah bantal, dan memeluknya lagi setiap malam.

Wanginya masih sama. Sabun cuci yang murah. Dan sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa kujelaskan, seperti udara dingin di ruangan yang penuh mesin.

Rabu pagi, Mama mengetuk pintu kamarku.

“Le, sarapan.”

“Iya, Ma.”

Pintu terbuka sedikit. Mama melongok, lalu matanya jatuh ke hoodie abu-abu yang belum sempat kusembunyikan. Hoodie itu masih ada di pelukanku, tudungnya menutupi separuh bantal.

Mama menatap hoodie itu. Mama menatapku.

“Itu jaket cowok.”

“Bukan, Ma.”

“Itu jelas jaket cowok, Le. Ukurannya kayak karung beras.” Mama melangkah masuk, matanya berbinar seperti detektif yang baru menemukan sidik jari. “Punya cowok yang dibawain telur dadar?”

“Ma!”

“Jadi bener.” Mama tersenyum lebar, lalu berbalik ke arah ruang makan dan berteriak, “PAAA! ANAKMU PELUK-PELUK JAKET COWOK!”

Dari ruang makan, suara Papa menyahut, “JAKET SIAPA?”

“NGGAK TAHU! DIA NGGAK MAU NGASIH TAHU!”

“SURUH BAWA KE RUMAH! JAKETNYA SAMA ORANGNYA!”

Aku menarik selimut sampai ke atas kepala dan berharap bumi menelanku bulat-bulat.


Grup chat Dewi-Dewi Lembur sudah ramai sejak jam tujuh.

Kak Shafira mengirim foto. Foto tabel yang ia buat di Excel, lengkap dengan warna-warni dan judul besar dengan font yang terlalu mewah untuk sebuah taruhan.

KLASEMEN PROYEK 30 HARI — MINGGU KE-2

Peringkat — Peserta — Poin — Catatan

  • 1 — Alea — 3 — Bekal habis, hoodie dipinjam, diselamatin malam-malam
  • 2 — Shafira — 2 — Makan malam, nomor HP di tangan
  • 3 — Celine — 1 — Laptop (kalah sama slide)

Shafira: Le, kamu unggul. Tapi jangan senang dulu. Masih 3 minggu.

Aku: Hehehe 🥺 aku nggak nyangka

Celine: Kenapa poin aku cuma 1? Pitching-ku sukses.

Shafira: Cel ini klasemen TARGET bukan klasemen KPI 😩

Shafira: Lagian kamu sejak kemarin nggak ada update. Diem-diem aja. Jangan-jangan kamu nyerah?

Celine: Nggak nyerah.

Shafira: Terus?

Celine: Lagi sibuk revisi tagline.

Shafira: Ya ampun. Ini cewek. Lagi taruhan cowok malah sibuk tagline.

Aku tertawa sendiri di meja makan. Papa menatapku curiga dari balik koran.

Lalu Kak Shafira mengetik lagi.

Shafira: Tapi jujur ya. Aku ngechat dia kemarin, nanya dia udah makan belum. Tau dia balas apa?

Shafira: “Sudah.”

Shafira: Titik. Gitu doang. Nggak nanya balik. Nggak ada emoji. Kayak bot.

Shafira: Aku sampai mikir, jangan-jangan selama ini yang ngechat dia cuma server 😂

Shafira: Kasihan juga sih. Kayaknya kita orang pertama yang ngechat dia selain notifikasi error.

Aku tertawa. Tawa refleks, seperti tertawa pada lelucon di televisi. Jariku bergerak sebelum otakku sempat berpikir.

Aku: Wkwk iya kasian 😂😂

Pesan itu terkirim. Dua centang biru.

Lalu aku berhenti tertawa.

Aku menatap pesanku sendiri. Wkwk iya kasian. Dua emoji tertawa sampai menangis. Di atasnya, kayak bot, cuma server, notifikasi error.

Dua malam lalu, laki-laki yang sama duduk di sampingku jam sebelas malam, mencari satu spasi di antara dua ribu tiga ratus baris data. Dua malam lalu ia bilang lain kali kalau ada yang error, telepon saya, jam berapa pun. Dua malam lalu aku menyandarkan kepalaku di bahunya.

Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah dan menghabiskan nasi gorengku tanpa merasakan apa-apa.


Pukul sebelas, aku turun ke lantai 17 dengan alasan yang kubuat-buat.

Alasannya: kabel charger laptopku rusak. Kenyataannya: kabel itu tidak rusak, aku hanya menekuknya di satu titik sampai kelihatan sedikit penyok. Aku juga membawa kotak bekal merah muda lagi. Telur dadar percobaan ketiga. Garam di akhir. Sejumput, bukan segenggam. Aku menghitung butiran garamnya satu per satu tadi pagi, sampai Mama menatapku seperti aku sudah benar-benar kehilangan akal.

Dan aku memakai hoodie itu.

Aku tahu itu terlalu jelas. Aku tahu semua orang di lantai 17 akan melihat. Tapi AC di sana dingin sekali, dan, kalau aku jujur pada diriku sendiri, aku ingin ia melihatku memakainya.

Waktu aku masuk, Bayu langsung berdiri dan menunjukku dengan jari gemetar.

“Bang! Bang! Hoodie Abang! Hoodie Abang datang sendiri!”

Kak Alfa menoleh dari monitornya.

Ia menatap hoodie itu. Lalu menatapku. Lalu menatap kotak bekal di tanganku. Ekspresinya tidak berubah, tapi sesuatu di matanya, sesuatu yang kecil dan hangat, seperti lampu yang dinyalakan di kejauhan.

“Mbak Alea.”

“Kak Alfa.” Aku tersenyum. “Charger-ku rusak.”

Aku menyerahkan kabel yang penyok itu. Ia memeriksanya sebentar, menekuknya, meluruskannya, lalu menatapku.

“Ini nggak rusak, Mbak.”

“Rusak, Kak. Itu penyok.”

“Penyoknya di karet luar. Kabelnya di dalam masih bagus.”

“Oh.” Aku menunduk. “Ya udah. Kalau gitu aku bawa bekal aja.”

Aku meletakkan kotak bekal di mejanya. Lalu, karena lengan hoodie itu terlalu panjang dan terus menutupi tanganku setiap kali aku bergerak, aku mengibaskannya dengan kesal. Lengannya jatuh lagi. Aku mengibaskannya lagi. Jatuh lagi.

Kak Alfa memperhatikan perjuanganku selama beberapa detik.

Lalu ia mengulurkan tangan, meraih pergelangan tanganku, dan mulai menggulung lengan hoodie itu.

Pelan. Satu lipatan. Dua lipatan. Tiga lipatan. Rapi, seperti melipat kertas. Jarinya menyentuh kulit pergelangan tanganku setiap kali ia melipat, dingin dan hati-hati. Lalu ia melepas tangan kananku dan meraih tangan kiriku, dan melakukan hal yang sama.

Aku berhenti bernapas.

Seluruh lantai 17 berhenti bernapas. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu. Suara keyboard berhenti. Suara obrolan berhenti. Bahkan dengung server sepertinya ikut memelan.

Ia selesai melipat lengan kiri. Merapikan lipatannya sekali lagi dengan ujung jari. Lalu melepas tanganku dan kembali menatap monitornya, seolah ia baru saja menyelesaikan pekerjaan teknis kecil yang tidak ada artinya.

“Lengannya kepanjangan, Mbak,” katanya. “Nanti kena kuah.”

Aku menatap kedua pergelangan tanganku. Lipatan-lipatan rapi di ujung lengan hoodie. Kulit di baliknya terasa hangat di tempat-tempat jarinya menyentuh, padahal jarinya dingin.

Di seberang meja, Bayu mengeluarkan suara seperti ketel air yang mendidih.

“Kak,” kataku. Suaraku keluar lebih pelan dari yang kumaksud. “Kalau aku bilang aku kangen Kakak, padahal baru ketemu kemarin, aneh nggak?”

Ia berhenti mengetik. Diam sebentar.

“Aneh,” katanya.

Aku tertawa. Aku tertawa begitu keras sampai Bang Togar menyembulkan kepalanya dari balik partisi dengan wajah panik, mengira ada yang terjatuh.

Ia bilang aneh. Dengan suara datar dan wajah datar. Tapi ujung telinganya, aku melihatnya lagi, ujung telinganya memerah.


Ia membuka kotak bekal itu sambil aku duduk di kursi tamu di sebelahnya.

Telur dadar percobaan ketiga. Bentuknya masih tidak bulat, sekarang lebih mirip pulau Kalimantan. Tapi warnanya kuning keemasan, tidak gosong. Ia memotong sepotong dengan sendok dan memakannya.

Ia mengunyah. Pelan. Aku menahan napas.

“Lebih baik,” katanya.

Dua kata. Hanya dua kata. Aku sudah pernah dipuji ratusan kali dengan kalimat yang jauh lebih panjang dan jauh lebih manis. Enak banget, Le. Kamu jago masak. Ini sih level restoran. Semuanya terasa seperti permen kapas. Manis, lalu hilang di mulut.

Lebih baik.

Dua kata itu terasa seperti medali.

“Garamnya masih sedikit kebanyakan,” tambahnya. “Tapi lebih baik.”

“Aku hitung butirannya, Kak.”

Ia menatapku. Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang mirip senyum benar-benar muncul di wajahnya. Bukan senyum penuh. Hanya sudut bibir yang naik sedikit lebih lama dari biasanya.

“Mbak hitung butiran garam?”

“Iya. Dua puluh tiga butir.”

“Coba delapan belas.”

Aku mencatatnya di ponsel. Delapan belas butir. Bayu, dari seberang meja, juga mencatatnya di papan tulisnya, entah untuk apa.


Pukul dua siang, grup chat Dewi-Dewi Lembur meledak.

Shafira: GUYS

Shafira: GUYS GUYS GUYS

Shafira: AKU SALAH KIRIM STIKER

Celine: Ke mana?

Shafira: KE GRUP TRISTA FAMILY 😭😭😭

Grup Trista Family adalah grup obrolan resmi seluruh karyawan Trista Group. Seribu delapan ratus anggota. Termasuk direksi. Termasuk Pak Hendra Wijaya, Direktur Operasional, yang terkenal membaca semua pesan di grup itu dan membalas dengan stiker jempol.

Aku membuka grup itu dengan tangan gemetar.

Di sana, di antara pengumuman jadwal fogging gedung dan foto ulang tahun staf Legal, ada satu stiker. Stiker kucing oranye gemuk dengan teropong senapan menempel di matanya, berdiri dengan pose siaga. Di bawahnya, tulisan merah besar berkedip:

TARGET TERKUNCI 🎯

Stiker itu dikirim pukul 13.47 oleh Shafira Nadine — BD Manager.

Di bawahnya, balasan-balasan sudah mulai berdatangan.

Pak Hendra Wijaya — Dir. Operasional: Mantap Bu Shafira! Semangat kejar target Q4! 👍

Tim Sales Jakarta Selatan: SIAP TARGET BU!! 🔥🔥🔥

Tim Sales Jakarta Utara: TARGET TERKUNCI!! 💪

Tim Sales Bandung: Bandung siap bu! 🎯

Lalu, satu demi satu, seluruh tim sales di seluruh cabang mulai mengirim stiker yang sama. Kucing oranye. Teropong senapan. Target terkunci. Grup Trista Family berubah jadi lautan kucing bersenjata.

Bahkan Bu Ratna dari resepsionis ikut mengirimkannya, dengan tambahan teks: Lobi juga siap, Nak!

Aku menutup mulutku dengan dua tangan, menahan tawa sampai air mataku keluar.

Shafira: OKE GUYS. TENANG. Mereka kira itu soal target penjualan Q4.

Shafira: Pak Hendra bahkan ngasih jempol.

Shafira: Aku barusan dapat email dari Direktur Sales. Dia bilang inisiatif motivasi tim aku bagus banget dan mau bikin stiker itu jadi stiker resmi kampanye Q4.

Celine: ...kamu dapat pujian dari kesalahan.

Shafira: AKU SELALU DAPAT PUJIAN, CEL. ITU BAKAT.

Aku tertawa terus sampai perutku sakit. Lalu aku menggulir ke bawah, di grup Trista Family, dan tawaku berhenti di satu balasan.

Dion Saputra — Sales: Target apa nih, Bu Shafira? 👀 Yang di lantai 17 ya? 😏

Tidak ada yang membalas pesan Dion. Pesan itu tenggelam dengan cepat di bawah puluhan stiker kucing lainnya. Tapi aku membacanya dua kali, dan sesuatu yang dingin merayap di tengkukku.

Aku tidak memberi tahu Kak Shafira dan Kak Celine soal pesan itu.

Mungkin aku seharusnya memberi tahu.


Malam itu, di kamar, aku berbaring memeluk hoodie abu-abu dengan lengan yang masih tergulung rapi tiga lipatan.

Aku tidak berani membuka lipatannya. Aku takut kalau aku membukanya, aku tidak bisa melipatnya kembali serapi itu.

Aku membuka ponsel. Membuka galeri. Membuka satu album tersembunyi yang kubuat kemarin, yang kuberi nama Kucing Lucu supaya kalau ada yang tidak sengaja melihat galeriku, mereka tidak curiga.

Di dalamnya, hanya ada dua tangkapan layar.

Yang pertama, dari Senin malam, pukul dua belas lewat dua puluh:

Lain kali kalau ada yang error, telepon saya. Jam berapa pun.

Yang kedua, dari semalam. Aku lembur sampai jam sembilan untuk merapikan berkas cuti, dan sebelum pulang aku iseng mengirim pesan ke Kak Alfa, Kak aku pulang dulu ya, lembur dikit hari ini 🥲, tanpa berharap dibalas. Ia membalas dalam satu menit.

Hati-hati pulangnya, Mbak.

Hanya empat kata. Tidak ada emoji. Tidak ada tanda seru. Kalimat yang mungkin diketik ribuan orang setiap malam di seluruh Jakarta, kepada ribuan orang lain, tanpa makna khusus.

Aku menatap tangkapan layar itu lama sekali.

Lalu aku keluar dari album Kucing Lucu dan membuka grup Dewi-Dewi Lembur. Aku menggulir ke atas, ke pesan-pesan tadi pagi. Kayak bot. Cuma server. Notifikasi error. Kasihan juga sih.

Dan di bawahnya, pesanku sendiri.

Wkwk iya kasian 😂😂

Aku menatapnya. Aku menatapnya sampai huruf-hurufnya tidak lagi terlihat seperti kata, hanya seperti bentuk-bentuk aneh di layar.

Lalu aku menekan pesan itu lama, memilih Hapus untuk semua orang, dan menekan Ya.

Pesan ini telah dihapus.

Kalimat abu-abu miring itu muncul di tempatnya. Kak Shafira dan Kak Celine pasti sudah membacanya tadi pagi. Menghapusnya sekarang tidak mengubah apa pun. Kata-kata itu sudah keluar. Sudah terbaca. Sudah tertawa bersama yang lain.

Tapi setidaknya, kalimat itu tidak lagi ada di sana, di bawah namaku.

Aku memeluk hoodie itu lebih erat dan menghitung di kepala.

Hari ini hari kesepuluh. Ia pergi di hari keempat puluh lima. Tiga puluh lima hari lagi.

Lima hari lalu, di meja HR yang dingin itu, aku berpikir toh dia pergi, dan pikiran itu terasa ringan. Seperti kabar baik. Seperti deterjen.

Malam ini, kalimat yang sama terasa berbeda di dalam dadaku. Lebih berat. Seperti telur dadar yang terlalu banyak garam, yang tetap harus kutelan sampai habis karena aku sendiri yang memasaknya.

Toh dia pergi.

Aku menutup mata. Wangi sabun cuci yang murah. Udara dingin di ruangan penuh mesin.

Tiga puluh lima hari ternyata tidak terlalu lama untuk jatuh cinta.

Aku hanya belum tahu itu.