Chapter Forty Six
Tidak Pernah Aman
POV: Alfa
Kantor Kaizen Labs Jakarta dibuka hari Senin, tiga minggu setelah malam di atap.
Bukan kantor besar. Tiga ruangan di lantai 16 Trista Tower, satu lantai di bawah lantai 17, disewa dari Trista Group dengan harga yang menurut Haruto terlalu murah dan menurut Pak Hendra sudah seharusnya. Satu ruang kerja dengan enam meja. Satu ruang rapat kecil berdinding kaca. Satu ruang server yang AC-nya disetel delapan belas derajat.
Haruto terbang dari Tokyo untuk peresmiannya. Ia berdiri di depan pintu kaca dengan logo Kaizen yang baru ditempel, memegang gunting, menatap pita merah yang dibentangkan Bayu dari satu sisi pintu ke sisi lain.
“Alfa-san,” katanya pelan. “Di Jepang kami tidak memotong pita.”
“Di sini juga jarang, Mori-san,” kataku. “Bayu yang beli pitanya.”
Haruto menatap Bayu, yang berdiri di samping pintu dengan kemeja batik baru dan wajah penuh harapan.
Lalu Haruto memotong pita itu.
Bayu bertepuk tangan. Bang Togar bertepuk tangan lebih keras. Tim network bersiul. Bu Ratna, yang turun dari lobi khusus untuk acara ini, menangis sambil memegang kantong plastik berisi kue lapis legit tujuh belas lapis dari istri Bang Togar.
Haruto menatap semua itu dengan wajah orang yang sedang mempelajari budaya asing dengan sangat serius.
“Alfa-san,” katanya. “Apakah semua orang di sini menangis di setiap acara?”
“Hampir semua, Mori-san.”
Haruto mengangguk pelan, seperti mencatat sesuatu.
“Kurasa aku mengerti,” katanya, “kenapa kau tidak bisa pergi.”
Pukul sepuluh, setelah kue lapis dibagi dan teh manis dituang dan Haruto diajak Bang Togar berfoto di depan Dinding Kehormatan Lantai 17, Bayu menyeretku ke ruang server Kaizen yang baru.
Ia mengunci pintu. Lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Dokumen. Dijilid dengan penjepit hitam. Tebal.
PANDUAN v5.0 — CARA PACARAN
Edisi Khusus Bang Alfa
Disusun oleh: Bayu Pradana (pengalaman: 1 bulan, berhasil: SEDANG BERLANGSUNG)
Aku menatap sampul itu. Lalu menatap Bayu.
“Sedang berlangsung, Bay?”
Telinga Bayu memerah sampai ke leher. “Mbak Laras, Bang. Dua minggu lalu. Habis kelas baca log. Dia bilang spidolku kebalik lagi, terus aku bilang aku sengaja biar dia ketawa, terus dia bilang itu gombalan paling jelek yang pernah dia dengar, terus...” Ia menunduk. “Terus dia bilang iya.”
Aku menatapnya.
“Selamat, Bay.”
“Makasih, Bang.” Bayu menyodorkan dokumen itu dengan dua tangan, seperti menyerahkan bendera pusaka. “Empat puluh dua halaman. Aku riset sama Mbak Laras. Dia yang kasih masukan bab sembilan sampai dua belas.”
Aku membuka halaman pertama.
BAB 1: JANGAN PANGGIL DIA “MBAK” LAGI.
(Aku tahu Abang udah nggak. Tapi Bang Togar bilang tulis aja buat jaga-jaga.)
BAB 2: KALAU DIA BILANG “NGGAK APA-APA”, TANYA LAGI.
(Ini dari Mbak Laras. Dia bilang cewek bilang nggak apa-apa itu 87% bohong. Aku tanya dari mana angka 87%. Dia bilang dari log.)
BAB 3: BAWA TISU.
(Masih berlaku, Bang. Bab ini abadi.)
Aku menutup dokumen itu.
“Bay.”
“Ya, Bang?”
“Bab tiga.”
“Kenapa, Bang?”
“Paling berguna.”
Bayu menatapku. Lalu tersenyum. Senyum yang lebar, yang membuat matanya hilang, yang membuatnya terlihat seperti anak kecil yang baru diberi tahu bahwa ia tidak dihukum.
Pukul dua belas, aku naik ke atap.
Tidak sendirian. Tidak lagi.
Ia sudah di tangga darurat lantai 32 ketika aku sampai. Duduk di anak tangga paling atas. Blus putih hari ini, bukan abu-abu. Lipstik nude. Rambut tergerai. Dua kantong kertas cokelat di sampingnya, dengan stiker bunga matahari.
Ia sudah menempelkan kartunya. Pintu besi sudah terbuka. Ia menahannya dengan satu kaki.
“Aku nebak kamu bakal naik,” katanya.
“Kamu nebak terus.”
“Kamu gampang ditebak.”
Ia tersenyum. Senyum yang tidak dihitung. Senyum yang membuat ujung matanya berkerut dan memperlihatkan gigi taringnya yang sedikit lebih panjang, yang dulu selalu ia sembunyikan di foto karena katanya membuatnya terlihat seperti vampir.
Ia tidak menyembunyikannya lagi.
Kami duduk di bangku papan kayu yang miring. Roti lapis. Ayam suwir, telur, selada, tomat. Ia membelinya di toko bunga matahari setiap pagi sekarang, dua bungkus, sebelum naik lift ke lantai 22.
“Tadi pagi,” katanya, mengunyah, “di lift.”
“Kenapa di lift?”
“Ada tiga orang dari Sales. Mereka bisik-bisik waktu aku masuk. Kayak biasa.” Ia menatap langit. “Itu yang nulis di GitHub. Itu yang nulis aman.”
Aku berhenti mengunyah.
“Terus aku bilang pagi,” katanya.
Aku menatapnya.
“Aku senyum, terus aku bilang pagi. Ke mereka bertiga.” Ia tertawa kecil. “Mereka bengong. Kayak Bayu waktu pertama lihat aku di lantai 17. Hang. Perlu di-restart.”
Ia menatapku.
“Enam bulan aku cuma bisa natap angka di atas pintu,” katanya. “Tadi pagi pertama kalinya aku bisa bilang pagi.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Aku hanya mengulurkan tangan dan menyibakkan rambutnya yang jatuh ke depan wajah karena angin, dan menyelipkannya di belakang telinganya. Seperti malam itu. Tanganku tidak turun. Tetap di sana, di sisi wajahnya, sebentar.
Ia memejamkan mata.
“Itu bukan bab di panduan Bayu, kan?” tanyanya.
“Bukan.”
“Bagus.” Ia membuka mata. “Itu punyamu.”
Pukul empat sore, Bang Togar memanggilku ke mejanya di lantai 17.
Ia membuka laci bawah mejanya. Laci yang selama empat tahun kukira berisi berkas-berkas lama dan kabel-kabel cadangan. Ia mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kantong plastik bening.
Hoodie abu-abu.
Dilipat rapi. Lengannya masih tergulung tiga lipatan.
“Mbak Alea taruh ini di mejamu hari terakhir,” kata Bang Togar. “Di depan monitor. Di bawah kucing. Aku simpan. Aku takut tim gedung buang.”
Ia menyerahkannya padaku.
“Enam bulan aku simpan di laci,” katanya. “Istriku nemu waktu bersihin tas kerjaku. Dia tanya ini hoodie siapa. Aku bilang punya anakku. Dia bilang anak kita perempuan, Togar, dan umurnya sembilan tahun. Aku bilang anak yang lain.” Bang Togar mengusap matanya dengan punggung tangan. “Dia nggak tanya lagi. Dia malah setrika plastiknya.”
Aku menatap hoodie di tanganku.
Lipatan tiga di setiap lengan. Rapi. Seperti melipat kertas. Aku yang melipatnya, di lantai 17, di pergelangan tangan perempuan yang membawakanku telur dadar keasinan, dua minggu sebelum aku tahu ia menangis di toilet.
Alea tidak membukanya. Tujuh bulan. Ia bilang ia takut kalau ia buka, ia tidak bisa melipatnya kembali serapi itu.
“Bang,” kataku. “Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Simpan ini.”
Bang Togar menatapku. Lalu menepuk bahuku dengan tangan seberat palu.
“Kau ini,” katanya. Suaranya pecah. “Kau ini kenapa selalu bilang terima kasih buat hal-hal kecil?”
“Karena nggak ada yang kecil, Bang.”
Bang Togar diam lama. Lalu menoleh ke partisinya. Ke bingkai kayu cokelat dengan email Pak Wibisono di dalamnya. Di atasnya, kertas HVS yang baru, ditulis tangan dengan spidol merah, ditempel tiga minggu lalu ketika aku kembali.
DINDING KEHORMATAN LANTAI 17
Anggota pertama: Bang Alfa
Anggota kedua: Pak Udin (lobi). Karena teh manisnya selalu dua.
Malam itu, ia datang ke apartemenku di Kalibata.
Aku sudah pindah kembali dua minggu lalu. Bayu menyerahkan kuncinya di bandara, bersama kaktus kecil di pot plastik yang ia beli supaya ada yang disiram. Kaktus itu sekarang di jendela, di samping laptop. Bayu menamainya Pak Bambang Junior.
Rak buku masih di dinding. Hujan Bulan Juni masih sedikit miring, di posisi yang sama seperti ketika Celine mengembalikannya tujuh bulan lalu. Aku tidak meluruskannya.
Kami memasak sup ayam.
Dapur sempit. Bahu kami bertabrakan setiap kali salah satu dari kami bergerak. Ia memotong ayam, ukuran yang sama persis, seperti diukur dengan penggaris. Ia memotong wortel dadu. Ia menumis bawang putih sampai harum tanpa kusuruh.
Lalu jahe.
Ia mengupasnya dengan sendok. Meletakkannya di talenan. Mengambil ulekan batu kecil.
Satu pukulan. Tepat. Jahe itu pecah, tidak hancur, mengeluarkan wangi tajam yang langsung memenuhi dapur sempit.
Ia menoleh padaku. Tersenyum.
“Masukin di akhir,” katanya. “Biar wanginya nggak hilang.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya berdiri di depan kompor dua tungku, di dapur sempit di Kalibata, menatap perempuan yang memegang ulekan batu kecil dan mengatakan kalimat yang diucapkan ibuku di dapur di Purwokerto, sebelas tahun lalu, tiga bulan sebelum ia pergi.
“Kenapa?” tanya Celine. Senyumnya memudar sedikit. “Aku salah?”
“Nggak,” kataku. Suaraku keluar serak. “Kamu benar. Persis.”
Kami makan di meja kecil di samping jendela. Ia di kursi kerjaku. Aku di kursi plastik lipat dari balkon.
Setelah makan, ketika aku mencuci mangkuk di dapur, aku mendengar suara kantong plastik dibuka di belakangku. Lalu suara kain.
Aku berbalik.
Ia berdiri di tengah ruangan, di depan rak buku. Memakai hoodie abu-abu.
Hoodie itu menelannya. Tidak sebesar menelan Alea, karena ia lebih tinggi. Tapi tetap kebesaran. Ujungnya jatuh di bawah pinggul. Tudungnya menggantung di punggung.
Dan lengannya.
Ia tidak membuka lipatan itu. Tiga lipatan di setiap pergelangan tangan. Rapi. Seperti melipat kertas.
“Alea bilang aku boleh pakai,” katanya. “Tadi siang. Aku telepon dia. Aku bilang Bang Togar simpan hoodie-nya enam bulan, terus kasih ke kamu, terus...”
Ia berhenti.
“Alea bilang, pakai aja, Kak. Tapi jangan buka lipatannya. Itu bukan punyaku. Itu punya dia.”
Aku berdiri di depan bak cuci piring dengan mangkuk basah di tangan.
Celine menatap lipatan di pergelangan tangannya.
“Waktu Alea bilang itu,” katanya pelan, “aku nangis. Di toilet lantai 22. Lima belas menit.”
Ia mengangkat kepalanya. Menatapku.
“Bahkan Alea,” katanya, “Alea yang paling imut, yang semua orang selalu turutin, yang semua orang takut bikin nangis. Bahkan dia lihat kamu dengan cara yang nggak bisa aku lihat dari awal.”
Ia melangkah mendekat.
“Aku nulis aman di bawah namamu,” katanya. “Karena aku pikir kamu nggak bisa sakit.”
Satu langkah lagi.
“Aku salah ukur. Aku udah bilang itu. Di issue. Di atap.”
Satu langkah lagi. Sekarang ia berdiri tepat di depanku, di dapur sempit, dengan hoodie abu-abu yang lengannya terlipat tiga kali.
“Tapi aku belum bilang yang sebenarnya,” katanya.
Ia meletakkan kedua tangannya di dadaku. Tepat di atas jantung. Seperti tangan Shafira di pantry lantai 17. Tapi tangan ini tidak mendorong. Tidak menekan. Tangan ini hanya diam di sana, merasakan detak yang sekarang terlalu cepat untuk disembunyikan di balik wajah datar mana pun.
“Kamu nggak pernah aman,” katanya. “Kamu cuma nggak pernah teriak.”
Mangkuk basah di tanganku jatuh ke bak cuci piring. Bunyinya keras di dapur sempit.
Aku tidak memungutnya.
Aku menatap perempuan di depanku. Perempuan yang menulis kata itu di bawah namaku, dan yang sekarang mengembalikannya dengan arti yang lain. Bukan tidak berisiko. Bukan tidak bisa sakit. Bukan tidak akan ngadu.
Kamu cuma nggak pernah teriak.
Dua puluh delapan tahun, tidak ada yang pernah mengatakannya. Tidak Ibu, yang bilang anak pintar, nggak nangis. Tidak perawat di puskesmas yang menjahit daguku. Tidak teman-teman sekolah yang menulis namaku di bawah dan lain-lain. Tidak Bang Togar, yang selama empat tahun tahu aku membaca semua log tapi tidak tahu aku tidak pernah membaca log diriku sendiri.
Ia mengatakannya.
Dengan wajahnya sendiri. Di dapur sempit di Kalibata. Dengan hoodie abu-abu yang lengannya terlipat tiga kali.
Aku mengangkat tanganku. Yang masih basah dari air cucian. Menyentuh sisi wajahnya.
Ia tidak berjengit karena tanganku basah. Ia memejamkan mata.
Lalu aku menciumnya.
Bukan seperti di atap. Di atap, aku tidak tahu caranya. Aku belajar di sana, dalam hitungan detik, dengan mata terpejam dan tangan yang gemetar.
Malam ini aku tidak ragu.
Ia membalas. Tangannya naik dari dadaku ke leherku, ke belakang kepalaku, jari-jarinya tenggelam di rambutku seperti dulu jari-jariku tenggelam di rambutnya yang basah di bawah hujan. Ia menarikku lebih dekat. Lebih dalam. Napasnya bercampur dengan napasku. Wangi jahe dari panci yang masih hangat di kompor. Wangi sabun cuci yang murah dari hoodie yang ia pakai. Wangi kayu manis dari rambutnya.
Punggungku menempel ke tepi bak cuci piring. Lipatan lengan hoodie di pergelangan tangannya menyentuh pipiku.
Aku tidak menghitung detiknya. Untuk pertama kalinya, aku tidak menghitung apa pun.
Ketika akhirnya kami berhenti, napas kami sama-sama berat. Dahinya menempel di dahiku. Matanya masih terpejam. Pipinya merah. Bibirnya sedikit bengkak.
“Kamu belajar dari mana?” bisiknya, terengah, setengah tertawa.
“Nggak dari panduan Bayu.”
Ia tertawa. Tawa yang keras, yang memantul di dinding keramik dapur, terlalu besar untuk ruangan sekecil itu.
Lalu ia membuka mata dan menatapku dari jarak yang tidak sampai satu jengkal.
“Teriak,” katanya.
“Apa?”
“Sekali aja. Di sini. Nggak ada yang dengar. Teriak.”
Aku menatapnya.
Aku tidak tahu caranya. Dua puluh delapan tahun aku tidak pernah tahu caranya.
Ia menunggu. Sabar. Seperti ia menunggu di tangga darurat lantai 32 dari jam dua belas sampai jam tiga. Seperti ia menunggu seratus delapan puluh hari.
Aku membuka mulut.
Yang keluar bukan teriakan. Yang keluar adalah tawa. Tawa yang keras, pecah, yang datang dari tempat yang sangat dalam, tempat yang tidak pernah kubuka, tempat di mana anak lima tahun menunggu di teras dan anak sepuluh tahun berjalan dua kilometer ke puskesmas dan anak tujuh belas tahun memasak sup di dapur yang terlalu besar.
Aku tertawa sampai mataku berair. Sampai harus berpegangan pada bahunya. Sampai ia ikut tertawa, dan kami berdua tertawa di dapur sempit di Kalibata, dengan mangkuk di bak cuci yang belum dicuci dan panci sup yang masih hangat di kompor.
“Itu bukan teriak,” katanya di antara tawa.
“Itu yang paling dekat,” kataku.
Ia memelukku. Erat. Hoodie abu-abu yang kebesaran. Lipatan tiga di lengannya.
“Cukup,” bisiknya di bahuku. “Itu cukup.”
Pukul sebelas malam, setelah ia pulang dengan ojek online dan hoodie abu-abu yang tidak ia kembalikan, aku membuka catatan di ponsel.
Sembilan aturan. Yang kutulis tujuh bulan lalu, di malam hari ketiga, setelah Shafira menulis nomornya di telapak tanganku.
Aku membacanya dari atas ke bawah.
1. Jangan bohong soal perasaan. Kalau tidak suka, jangan bilang suka.
2. Jangan mempermalukan siapa pun.
3. Jangan bilang kalau sudah tahu, sampai waktunya.
4. Kalau ada yang benar-benar terluka, berhenti.
5. Jangan berharap.
6. Jangan masuk pantry lantai 19 hari Jumat sore.
7. Sudah terlambat buat nomor 5.
8. Hari ke-30. Bilang semuanya. Ke Celine dulu.
9. Jangan takut.
Aku menatap aturan nomor lima lama.
Lalu aku menghapusnya.
Lalu nomor tujuh, yang hanya ada karena nomor lima.
Lalu nomor enam. Pantry lantai 19 sekarang tidak lagi menyeramkan. Alea kembali ke HR minggu lalu. Ia mengirimiku foto kotak bekal merah muda di atas meja barunya, dengan Pak Bambang si kaktus di sampingnya. Kak, Jumat sore aku bikin ritual baru di pantry. Telur dadar buat satu lantai. Kakak boleh datang.
Lalu nomor delapan. Hari ketiga puluh sudah lewat. Aku tidak bilang semuanya di hari itu. Aku bilang semuanya enam bulan kemudian, di atap, ke perempuan yang sudah bilang semuanya lebih dulu, seratus delapan puluh kali.
Lalu nomor tiga.
Lalu nomor empat. Semua orang sudah terluka. Semua orang sudah berhenti. Semua orang sudah mulai lagi.
Yang tersisa hanya dua.
1. Jangan bohong soal perasaan.
9. Jangan takut.
Aku menatap dua baris itu.
Lalu aku menambahkan satu di bawahnya.
10. Sesekali, teriak.
Aku menyimpan catatan itu.
Di jendela, di samping laptop, Pak Bambang Junior si kaktus berdiri di pot plastiknya, menunggu disiram minggu depan.
Di dapur, panci sup ayam masih menyisakan wangi jahe di udara.
Wangi yang tidak hilang.
Karena dimasukkan paling akhir.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman reading
- 47 Epilog — Jepang