← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Thirty One

Aman

POV: Alfa


Selasa, hari ketiga puluh, aku datang ke kantor pukul enam lewat lima puluh.

Kemeja flanel hijau. Yang dicuci dengan tangan dan disetrika dua kali. Di saku kirinya, selembar kertas log printer, terlipat dua kali. Di saku kanannya, catatan kuning kecil yang jatuh dari lipatan kemeja itu hari Jumat lalu. Mau ikut? — C.

Lantai 17 masih kosong. Lampu-lampu kecil hijau di rak server berkedip pelan. Kucing oranye di sudut monitor tersenyum dengan papan SEMANGAT KERJA!-nya.

Aku menyalakan komputer. Membuka dashboard monitoring. Tidak ada peringatan. Server B normal. Semuanya hijau.

Pukul tujuh lewat dua belas menit, ponselku bergetar.

Bayu: BANG

Bayu: BANG JANGAN BUKA GRUP TRISTA FAMILY

Bayu: BANG AKU SERIUS

Bayu: BANG PLIS

Aku menatap empat pesan itu.

Lalu aku membuka grup Trista Family.


Pesan teratas dikirim pukul tujuh tepat. Oleh Dion Saputra — Sales.

Satu foto. Satu keterangan.

📢 PENGUMUMAN PENTING 📢
Ternyata selama sebulan ini Tiga Dewi Trista lagi TARUHAN. Hadiahnya liburan ke JEPANG 🇯🇵🌸 Targetnya? Mas IT lantai 17 😂 Hari ini hari terakhir. Siapa pemenangnya, guys? 🎯
#TargetJepang #ProgramSosialTernyataTaruhan

Aku membuka fotonya.

Selembar kertas HVS di atas meja kayu. Dilipat dua, lalu dibuka lagi, sehingga ada garis lipatan di tengahnya. Diambil dari atas, sedikit miring, dengan kecerahan yang dinaikkan sampai tulisan tangan di bagian bawah terbaca jelas.

Bagian atasnya dicetak. Huruf Arial dua belas poin.

TARGET JEPANG — PROYEK 30 HARI
Peserta: Celine, Alea, Shafira.
Target: Alfa Danuarta (IT, Lt. 17).
Menang: yang pertama bikin target nyatain cinta (ada saksi / rekaman).
Dilarang: kasih tahu target. Dilarang: ciuman di bibir sebelum menang (Alea, ini buat kamu).
Hadiah: 10 hari Jepang. Yang kalah: cuci mobil Shafira sebulan.

Aku sudah tahu bagian itu. Aku sudah tahu sejak hari kedua, dari satu baris di log printer. Nama file. Jumlah halaman. Akun pengirim. Aku tidak pernah membaca isinya, tapi aku tahu bentuknya. Seperti tahu bentuk sebuah rumah dari bayangannya di tanah.

Yang tidak kuketahui adalah bagian bawahnya.

Di bawah namaku, tulisan tangan.

Huruf-huruf yang miring ke kanan dengan sudut yang sama. Huruf g dengan ekor melingkar. Huruf k dengan kaki yang sedikit lebih panjang dari seharusnya.

Aku memasukkan tangan ke saku kanan kemeja. Mengeluarkan catatan kuning itu. Membukanya. Meletakkannya di samping ponselku.

Huruf yang sama. Sudut yang sama. Tangan yang sama.

Nggak bakal baper, nggak bakal ngadu. Aman.

Kata terakhir itu digarisbawahi. Dua kali.

Dan di bawahnya, tulisan tangan yang lain. Bulat-bulat, sedikit miring ke kanan, dengan gambar hati kecil di ujungnya.

Resign tgl 45 — makin aman ♡


Aku menatap foto itu lama.

Aku tidak tahu berapa lama. Dashboard monitoring di monitorku masih hijau semua. Kipas server di belakangku masih berdengung pelan. Di luar jendela, matahari pagi memantul di tembok gedung sebelah.

Aman.

Aku sudah tahu aku target. Itu sudah kumasukkan ke dalam perhitungan sejak awal, seperti risiko yang dicatat sebelum sistem dijalankan. Aku tahu aku dipilih. Aku tahu namaku ada di kertas.

Aku tidak tahu kenapa aku dipilih.

Sekarang aku tahu.

Aku dipilih karena aku tidak akan baper. Karena aku tidak akan mengadu. Karena kalau aku sakit, tidak akan ada yang perlu repot. Karena perasaanku, apa pun itu, tidak dihitung. Dan setelah hari keenam, ada satu alasan lagi: karena aku akan pergi, jadi sakitnya, kalau ada, akan kubawa jauh dan tidak akan mengganggu siapa pun.

Aman.

Kata yang kuketik ratusan kali di chat kerja. Kata yang kupakai untuk menjawab Bang Togar setiap pagi. Backup DB semalam aman? Aman. Kata yang tepat seminggu lalu keluar dari mulutku di atap, di bawah langit yang terbakar, dan untuk pertama kalinya terasa hangat. Sama kamu, aku ngerasa aman.

Kata yang sama, ditulis tangan yang sama yang menulis Mau ikut? — C., empat minggu sebelumnya, tentangku.

Kata itu kembali ke arti asalnya.

Aku melipat catatan kuning itu. Memasukkannya kembali ke saku kanan.


Komentar di bawah foto itu bertambah setiap detik.

Aku tidak berniat membacanya. Mataku membacanya sendiri, seperti mata membaca papan iklan di pinggir jalan tanpa diminta.

HAHAHAHA PANTESAN

Pantesan tiga dewi tiba-tiba turun ke lantai 17 semua 😭😭

Program sosial ternyata taruhan wkwkwk

Kasian Mas IT-nya, pasti udah baper beneran 🥲

“Nggak bakal baper” katanya, padahal kemarin dikasih tumpeng langsung senyum-senyum 😂

Resign tgl 45?? Oh dia mau resign? Pantes “makin aman” HAHAHA

Mr. Aman 🔐😂

MR. AMAN WKWKWK

Siapa yang bikin stiker Mr. Aman, cepet

Tujuh menit kemudian, seseorang mengunggah stiker. Foto profilku dari direktori karyawan, kaos abu-abu, headphone di leher, ekspresi orang yang dipaksa berdiri di depan kamera di hari yang salah. Dipotong. Diberi bingkai gembok emas. Di bawahnya, tulisan merah besar berkedip:

MR. AMAN 🔐

Stiker itu dikirim ke grup tiga puluh dua kali dalam sepuluh menit berikutnya.

Aku menutup grup itu.


Pukul tujuh lewat tiga puluh, Bayu datang.

Ia keluar dari lift dengan napas terengah-engah, hoodie biru muda polos, bukan yang bergambar anime. Biar Abang kelihatan lebih keren kalau aku berdiri di sebelah Abang, katanya kemarin. Matanya merah. Pipinya basah.

Ia berhenti di depan mejaku. Melihat ponselku di atas meja, layarnya masih menyala dengan foto itu.

“Bang,” katanya. Suaranya pecah. “Abang udah buka.”

“Udah, Bay.”

“Aku bilang jangan.”

“Iya.”

Bayu menatapku. Lalu menatap foto di layar ponselku. Lalu menatapku lagi. Wajahnya berubah dari sedih ke sesuatu yang lebih rumit. Bingung, mungkin. Atau takut.

“Bang,” bisiknya. “Abang nggak kaget.”

Aku diam.

“Abang nggak kaget, Bang.” Suara Bayu bergetar. “Muka Abang. Abang nggak kaget sama sekali.”

Aku menatap monitor. Dashboard monitoring masih hijau semua.

“Aku tahu sejak hari kedua, Bay,” kataku.

Bayu tidak bergerak.

Lalu, pelan, ia menarik kursinya dari mejanya sendiri, menggelindingkannya ke samping mejaku, dan duduk. Ia tidak bicara. Ia tidak menulis apa pun di papan tulis kecilnya. Ia hanya duduk di sampingku, bahunya hampir menyentuh bahuku, dan menangis tanpa suara.

Aku membiarkannya.


Pukul tujuh lewat empat puluh lima, aku berdiri.

Aku tidak tahu persis kenapa. Aku hanya tahu bahwa pukul delapan, di Ruang Kyoto lantai 21, tiga perempuan akan bertemu untuk mengumumkan pemenang. Bahwa di grup Trista Family, Dion baru saja menulis Pengumuman pemenangnya jam 8 di Ruang Kyoto lantai 21, guys! Siapa mau nonton? 🍿. Bahwa puluhan orang membalasnya dengan emoji berlari.

Bahwa salah satu dari tiga perempuan itu sudah berjanji akan mengatakan sesuatu padaku hari ini, di atap, jam dua belas.

Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan di lantai 21. Mungkin berdiri di sana. Mungkin bilang ke kerumunan itu untuk pergi. Mungkin bilang ke tiga perempuan itu bahwa aku sudah tahu, bahwa mereka tidak perlu mengumumkan apa pun, bahwa permainan ini sudah selesai.

Aturan nomor dua. Jangan mempermalukan siapa pun.

Aku menaiki tangga darurat. Empat lantai. Lantai 18. 19. 20. 21.

Aku membuka pintu tangga darurat lantai 21.


Lobi lift lantai 21 penuh.

Dua puluh orang. Mungkin tiga puluh. Sebagian besar dari lantai Sales, aku mengenali kemeja-kemeja ungu dan biru tua mereka. Beberapa dari Finance. Beberapa dari Legal. Ponsel-ponsel teracung, kamera menyala, siap merekam. Seseorang memutar lagu dari ponselnya. Melodi yang ringan dan riang, seperti hujan bunga.

Sakura.

Di tengah kerumunan itu, Dion berdiri dengan senyum yang naik terlalu tinggi di satu sisi.

Aku berdiri di ambang pintu tangga darurat, di belakang kerumunan. Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang melihatku. Aku sudah empat tahun berlatih untuk tidak terlihat.

Pintu lift berbunyi. Terbuka.

Celine.

Blus putih. Rambut tergerai. Di lengannya, kemeja flanel biru tua yang terlipat rapi. Kemejaku. Yang ia bawa untuk dikembalikan, di atap, jam dua belas, setelah tiga kalimatnya.

Wajahnya pucat. Ia pasti sudah melihat foto itu di jalan. Matanya bergerak cepat, ke kerumunan, ke ponsel-ponsel yang teracung, ke Dion. Matanya tidak sampai ke pintu tangga darurat di belakang. Aku sudah empat tahun berlatih.

“Mbak Celine!” seru Dion. Kerumunan bersorak. “Akhirnya! Jadi gimana, Mbak? Siapa yang menang?”

Celine tidak menjawab. Ia menggenggam kemeja flanel biru tua di lengannya lebih erat.

“Mbak kan yang paling unggul,” lanjut Dion. Ia memutar ponselnya, menunjukkan sesuatu ke kerumunan. Video pucuk tumpeng. “Sampai kasih tumpeng segala. Satu gedung lihat. Jangan-jangan...” Ia menyeringai. “Jangan-jangan Mbak beneran baper sama Mr. Aman?”

Kerumunan tertawa. Seseorang berteriak cieee. Seseorang lain berteriak dewi turun kasta!. Lagu Sakura masih diputar dari ponsel di belakang.

Aku melihat wajah Celine berubah.

Aku mengenal perubahan itu. Aku sudah memperhatikan wajahnya selama tiga minggu. Senyum yang dihitung, senyum di lobi, senyum di lift. Senyum yang tidak terkendali di bawah hujan. Wajah yang menangis di Kota Tua karena diajari naik sepeda.

Ini wajah yang lain. Wajah yang menutup. Seperti jendela yang tirainya ditarik.

Ia menegakkan punggung. Mengangkat dagu. Menatap Dion. Menatap kerumunan. Menatap semua kamera ponsel yang teracung ke arahnya.

Lalu ia bicara dengan suara yang jelas. Suara yang ia pakai di ruang rapat. Suara yang membuat CFO Grup Matahari Lestari berkata angka Anda konsisten.

“Saya kalah.”

Kerumunan diam.

“Dia nggak pernah tertarik sama saya,” kata Celine. “Dari awal. Semua yang kalian lihat, tumpeng, atap, apa pun, itu saya yang ngejar. Dia cuma sopan. Dia nggak pernah suka.”

Ia berhenti sebentar. Tangannya yang memegang kemeja flanel biru tua gemetar sedikit. Hanya sedikit. Hanya aku yang bisa melihatnya, dari belakang, dari jarak sepuluh meter.

“Saya juga cuma main,” katanya.


Aku berdiri di ambang pintu tangga darurat.

Aku mendengar setiap kata. Jelas. Seperti membaca log yang dicetak dengan huruf besar.

Dia nggak pernah tertarik sama saya.

Saya juga cuma main.

Aku tahu ia berbohong soal yang pertama. Aku tahu, karena aku yang tertarik. Aku yang memeluknya balik di bawah hujan. Aku yang memegangi sadel sepeda ontel warna mint. Aku yang menyentuh ujung hidungnya kemarin sore, setengah senti dari sesuatu yang belum pernah kulakukan seumur hidupku.

Jadi aku tahu ia berbohong.

Dan karena aku tahu ia berbohong soal yang pertama, aku tidak tahu apakah ia berbohong soal yang kedua.

Aku memikirkan semua yang ia tulis pada mr_zero. Aku takut aku kalah. Bukan taruhannya. Aku nggak mau dia jadi poin di tabel Excel. Kalau taruhannya selesai besok, aku masih mau naik ke atap itu.

Semua kalimat itu ia tulis pada seseorang yang tidak punya wajah. Pada nama di layar. Pada orang yang tidak pernah bisa dilihat bersamanya di lobi, di lift, di depan kerumunan dengan kamera ponsel yang teracung.

Dan di depan orang-orang yang punya wajah, di depan dua puluh kamera, di depan seluruh gedung, ia memilih kalimat yang lain.

Saya juga cuma main.

Di atap, di bawah langit yang terbakar, ia pernah bilang di depan aku, kamu kelihatan. Di depan orang lain, aku nggak bisa ngatur itu.

Ternyata itu bukan kalimat penghiburan. Itu penjelasan.

Di depan orang lain, aku tetap orang yang tidak boleh terlihat bersamanya.


Pintu lift kedua terbuka. Shafira keluar seperti badai.

Ia tidak berhenti. Ia berjalan menembus kerumunan, merebut ponsel dari tangan Dion, dan suaranya memenuhi lobi lift lantai 21 dengan volume yang belum pernah kudengar darinya, bahkan di Ruang Kyoto.

“DARI MANA KAMU DAPAT FOTO ITU? KAMU BUKA LACI AKU? KAMU BUKA LACI AKU, DION?”

Kerumunan mundur. Lagu Sakura berhenti. Seseorang menurunkan kamera ponselnya.

Di belakang Shafira, pintu lift ketiga terbuka. Alea berdiri di dalamnya. Wajahnya putih seperti kertas. Hoodie abu-abuku di badannya. Ia tidak keluar. Ia hanya berdiri di dalam lift yang terbuka, menatap kerumunan, menatap Celine, menatap Shafira yang berteriak.

Lalu matanya bergerak. Melewati kerumunan. Sampai ke pintu tangga darurat di belakang.

Sampai ke aku.

Alea melihatku.

Mulutnya terbuka. Tangannya terangkat ke depan, seperti hendak memanggil, seperti hendak menunjuk, seperti hendak mengatakan sesuatu yang besar.

Aku menggeleng. Pelan. Satu kali.

Jangan.

Alea menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Aku melangkah mundur ke tangga darurat. Menutup pintunya pelan, supaya tidak berbunyi.

Aku menuruni tangga. Lantai 20. 19. 18. 17.

Aku tidak berlari. Aku berjalan dengan kecepatan yang sama seperti setiap hari. Tangan kiriku memegang pegangan tangga. Tangan kananku di saku kemeja, di atas catatan kuning kecil yang terlipat.

Di saku kiri, kertas log printer masih terlipat dua kali.

Aku tidak akan membutuhkannya hari ini.


Bang Togar sudah di lantai 17 ketika aku kembali.

Wajahnya merah. Bukan merah biasa. Merah yang sampai ke lehernya, ke telinganya, ke ujung kumisnya. Ia berdiri di depan Dinding Kehormatan Lantai 17 dengan kedua tangan terkepal.

“Aku turun ke lantai sembilan,” katanya. “Sekarang.”

“Jangan, Bang.”

“Aku turun, Alfa. Anak itu sudah keterlaluan. Kemarin foto, sekarang ini. Aku laporkan ke Pak Hendra. Aku laporkan ke HR. Aku...”

“Bang.” Aku berdiri di depannya. “Kalau Abang turun, yang diingat orang bukan Dion. Yang diingat orang Head of IT ngamuk gara-gara anak buahnya jadi bahan taruhan.”

Bang Togar menatapku.

“Nanti Abang yang kena,” kataku. “Bukan dia. Abang.”

Bang Togar diam lama. Napasnya berat. Kepalan tangannya pelan-pelan terbuka.

“Kau ini,” katanya, suaranya pecah. “Kau ini kenapa selalu mikirin orang lain dulu?”

Aku tidak menjawab.

Aku duduk di mejaku. Menatap dashboard monitoring. Semuanya hijau.

Bang Togar berdiri di belakangku lama sekali. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia meletakkan tangannya di bahuku. Berat. Hangat. Seperti tiang yang ditancapkan ke tanah.

Lalu ia kembali ke mejanya, dan aku mendengar suara laci dibuka, dan suara sesuatu yang dirobek. Belakangan Bayu memberitahuku: Bang Togar merobek kertas HVS bertuliskan DINDING KEHORMATAN LANTAI 17 dari atas bingkai, karena katanya ia tidak mau ada orang lantai lain yang datang memotret bingkai itu hari ini dan menertawakannya.

Bingkai email Pak Wibisono tetap di sana. Hanya tulisannya yang dicabut.


Pukul dua belas, aku tidak naik ke atap.

Aku duduk di mejaku. Menatap jam di sudut kanan bawah layar. 12:00. Lalu 12:01. Lalu 12:15.

Ponselku bergetar di atas meja. Berkali-kali. Aku membalik layarnya ke bawah setelah getaran ketujuh.

Bayu, yang tidak pergi makan siang, duduk di kursinya tanpa bergerak. Sesekali ia menatapku. Sesekali menatap jendela, ke arah atap yang tidak bisa dilihat dari lantai 17.

“Bang,” katanya pukul dua belas lewat dua puluh. “Mbak Celine di tangga darurat lantai 32. Gilang dari network lihat waktu ngecek CCTV. Dia duduk di anak tangga paling atas. Bawa kemeja Abang.”

Aku menatap monitor.

“Dia nggak bisa buka pintunya, Bang. Dia nggak punya kartu.”

Aku menatap monitor.

Bayu tidak berkata apa-apa lagi.

Pukul satu, Gilang melapor ke Bayu: masih di sana.

Pukul dua: masih di sana.

Pukul tiga lewat sepuluh: sudah tidak ada.

Aku tidak menoleh dari monitor sekali pun.

Di layar, dashboard monitoring masih hijau semua. Semua sistem berjalan normal. Tidak ada peringatan. Tidak ada error. Tidak ada yang perlu diperbaiki.

Kalau ada yang bertanya hari itu, aku akan bilang aku baik-baik saja.

Hanya satu hal yang tidak bisa kubuat hijau hari itu, dan aku tidak punya dashboard untuknya.


Pukul sepuluh malam, lantai 17 kosong.

Aku masih di sana. Lampu meja menyala. Kucing oranye tersenyum di sudut monitor.

Aku membuka email Haruto Mori. Yang kukirim kemarin malam, pukul sebelas lewat empat menit. Saya ingin tahu yang ini. Dan balasannya. Pintu kami tetap terbuka sampai hari ke-45. Karena hidup kadang berubah lebih cepat dari keputusan kita.

Hidup berubah dalam sembilan jam.

Aku menekan Balas.

Mori-san,

Mohon maaf atas email saya semalam.

Kalau pintunya masih terbuka, saya terima.

Alfa Danuarta

Aku tidak membacanya ulang. Aku tidak memeriksa kesalahannya. Tiga baris. Tidak ada celah untuk diperiksa.

Kirim.

Pukul sepuluh lewat empat puluh dua.

Lalu aku membuka email baru ke hr.ops@tristagroup.co.id.

Mohon abaikan email saya sebelumnya. Pengunduran diri saya tetap berjalan sesuai tanggal semula.

Aku tidak menulis nama siapa pun di dalamnya. Tidak ada terima kasih, Mbak Alea.

Kirim.


Pukul sebelas lewat tiga puluh, aku membuka forum developer.

Akun mr_zero. Enam tahun. Ribuan utas. Puluhan percakapan DM dengan orang-orang dari negara yang tidak pernah kukunjungi. Satu percakapan di bagian paling atas, dengan celestial_c, setahun lamanya.

Ada tujuh belas pesan baru di percakapan itu. Dikirim sepanjang hari, dari pukul tujuh lewat dua puluh pagi sampai pukul sebelas lewat dua puluh malam.

Aku tidak membukanya.

Aku tahu, kalau aku membukanya, aku akan membacanya sampai habis. Dan kalau aku membacanya sampai habis, aku akan percaya. Dan kalau aku percaya, aku akan naik ke atap besok, dan duduk di bangku papan kayu, dan menunggu, dan menjadi orang yang terlihat di atap tapi tidak terlihat di lobi.

Aku sudah dua puluh delapan tahun menjadi orang seperti itu. Aku tidak mau lagi.

Aku membuka pengaturan akun.

Hapus akun secara permanen? Semua pesan, utas, dan riwayat akan dihapus. Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

Repo zero-guard tidak ada di forum ini. Repo itu ada di tempat lain, dan akan tetap ada. Kode tidak bersalah. Ribuan orang memakainya. Aku tidak punya hak menghapusnya hanya karena aku tidak ingin lagi menjadi nama di baliknya.

Tapi akun ini milikku. Dan percakapan di bagian paling atas itu milikku juga, setengahnya.

Aku menekan Ya.

Akun Anda telah dihapus.

Pukul sebelas lewat tiga puluh empat menit.


Aku membuka catatan di ponselku. Sembilan aturan.

Aku membaca aturan nomor sembilan, yang kutulis tadi malam, kurang dari dua puluh empat jam yang lalu.

9. Jangan takut.

Aku menatapnya lama.

Aku tidak menghapusnya. Aku tidak menambahkan apa-apa di bawahnya.

Aku hanya mematikan layar ponsel, mengambil helm, mematikan lampu meja, dan berjalan ke lift.

Di sudut monitor yang sudah gelap, kucing oranye masih memegang papan kecilnya. Aku tidak bisa membaca tulisannya lagi dalam gelap.

Tapi aku tahu apa yang tertulis di sana.

Aku sudah tahu semuanya sejak hari kedua.

Kecuali satu kata.