← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Forty One

Issue #1

POV: Celine


Aku menulis issue pertama malam itu juga. Malam setelah tangga darurat lantai 19.

Aku pulang ke apartemen di Kuningan dengan dua lembar kertas yang remuk di tas. Email Senin malam. Email Selasa malam. Dua puluh tiga jam di antaranya. Aku meletakkan keduanya di meja kaca di depan sofa krem, meratakannya dengan telapak tangan, dan menatapnya sampai jam sebelas.

Saya memutuskan untuk tetap bekerja di Trista Group.

Lalu aku membuka laptop.

Halaman repo itu masih terbuka di salah satu tab. zero-guard. Logo kecil di sudut kiri atas. Lingkaran dengan garis miring di tengahnya. Tab bertuliskan Issues. Tombol hijau di pojok kanan atas.

New issue.

Aku menekannya.

Kotak judul. Kotak isi. Kursor berkedip.

Dua minggu aku menatap kursor itu tanpa menulis apa pun. Malam ini, kata-katanya datang sendiri. Seperti air yang sudah terlalu lama ditahan di balik pintu, dan pintunya akhirnya dibuka.

Tapi sebelum aku sempat mengetik judulnya, layar laptopku menampilkan sesuatu.

Anda harus masuk untuk membuat issue.

Aku menatap tulisan itu.

Aku tidak punya akun. Aku bahkan tidak tahu situs ini butuh akun.


“Mbak,” kata Bayu keesokan paginya, menatap layar laptopku di mejanya di lantai 17 dengan wajah orang yang diminta mengajari neneknya memakai ponsel. “Mbak beneran nggak pernah bikin akun GitHub?”

“Aku orang brand, Bayu.”

“Tapi Mbak, ini kayak... ini kayak Instagram buat programmer. Semua orang punya.”

“Semua programmer punya.”

Bayu menghembuskan napas panjang, menggelindingkan kursinya lebih dekat, dan mulai mengajariku. Alamat email. Kata sandi. Verifikasi. Ia bilang aku harus mengaktifkan autentikasi dua faktor, karena kalau Bang Alfa tahu Mbak bikin akun tanpa 2FA, dia bakal kecewa. Aku tidak tahu apa itu autentikasi dua faktor. Bayu bilang tidak apa-apa, ia akan mengaturnya.

Lalu kotak Username.

“Mbak mau pakai nama apa?”

Aku menatap kotak itu.

“Jangan pakai nama asli, Mbak,” kata Bayu. “Nanti orang kantor nemu. Jangan pakai celine atau apa pun yang...”

Aku mengetik.

celestial_c

Bayu berhenti bicara.

Ia menatap layar. Lalu menatapku. Lalu menatap layar lagi.

“Mbak,” katanya pelan. “Itu...”

“Nama yang dia kenal,” kataku. “Setahun dia kenal aku pakai nama itu. Sebelum dia tahu mukaku.”

Bayu diam lama. Lalu, pelan-pelan, ia menekan tombol Daftar.

Akun dibuat. Selamat datang, celestial_c.

Dari balik partisi, kepala Bang Togar menyembul. Ia sudah mendengar semuanya. Bang Togar selalu mendengar semuanya.

“Bu Celine,” katanya. “Kalau Ibu mau nulis di tempat anak saya, Ibu harus ngerti apa yang dia bikin.”

“Saya nggak ngerti kode, Pak.”

“Belum.” Bang Togar mengangkat telunjuknya. “Mulai besok, jam lima sore, setelah Ibu pulang kerja. Ruang server. Satu jam. Saya ajarin Ibu baca log.”

Aku menatapnya.

“Gratis,” tambahnya. “Tapi Ibu bawa gorengan.”


Issue pertama kutulis malam itu, di sofa krem, pukul sebelas lewat dua puluh.

Judulnya, setelah aku mengetik dan menghapus empat kali:

Hari ke-1 setelah kamu pergi

Isinya pendek. Aku menulisnya dalam bahasa Indonesia, karena aku tidak tahu cara bilang maaf dalam bahasa lain yang terasa cukup.

Aku nggak tahu kamu bakal baca ini atau nggak. Mungkin nggak. Kamu bilang jangan datang, dan aku nggak datang. Tapi ini bukan datang. Ini cuma nulis. Setahun aku nulis ke kamu tanpa tahu itu kamu. Sekarang aku tahu, dan aku masih mau nulis.

Kemarin Alea kasih aku dua email. Senin malam, sama Selasa malam. Aku nggak tahu harus bilang apa soal itu. Jadi aku nggak bilang apa-apa dulu.

Hari ini Bayu bikinin aku akun. Bang Togar mau ngajarin aku baca log. Katanya aku harus bawa gorengan.

Aku masih naik ke atap tiap jam dua belas. Pintunya kebuka pakai kartuku. Aku tahu itu kamu.

Terima kasih.

— C.

Aku menatap pesan itu lama. Lalu menekan tombol hijau.

Submit new issue.

Halaman berganti. Issue nomor 847 di repo itu. Statusnya hijau. Open.

Aku menutup laptop dan tidur di sofa, dengan kemeja flanel biru tua yang sekarang selalu ada di sana, di sandaran sofa, seperti selimut.


Hari kedua, seseorang membalas.

Bukan dia. Seseorang bernama rafa_lima. Foto profilnya laki-laki berkacamata dengan latar belakang pantai. Bayu bilang ia salah satu kontributor utama repo itu. Developer dari Brasil. Orang yang dulu mencetak stiker lingkaran dengan garis miring dan mengirimkannya ke alamat email mr_zero.

Balasannya dalam bahasa Inggris. Bayu menerjemahkannya untukku.

Hai. Issue tracker ini untuk laporan bug dan permintaan fitur. Tolong gunakan bahasa Inggris dan sertakan detail teknis. Saya tutup issue ini sebagai off-topic.

Statusnya berubah. Ungu. Closed.

Aku menatap warna ungu itu.

Malam itu, aku menulis issue kedua.

Hari ke-2 setelah kamu pergi

Ada orang Brasil yang nutup issue-ku kemarin. Dia bilang ini bukan tempatnya. Dia benar. Tapi aku nggak tahu tempat lain yang mungkin kamu buka.

Bang Togar ngajarin aku baca log hari ini. Satu jam. Aku cuma ngerti dua baris. Bang Togar bilang itu bagus buat hari pertama. Dia bilang kamu dulu ngerti semua log server yang crash tiga hari dalam empat puluh menit. Waktu wawancara kerja. Pakai kaos.

Aku bawa gorengan. Bayu habisin tempenya.

— C.

Hari ketiga, rafa_lima menutupnya lagi. Dengan komentar yang lebih panjang, yang Bayu terjemahkan dengan wajah tidak nyaman.

Tolong berhenti. Ini repo publik dengan ribuan pengguna. Kalau ini terus berlanjut, saya terpaksa melaporkan akun ini sebagai spam.


Hari kelima, issue-ku ditemukan orang Indonesia.

Aku tidak tahu siapa yang menemukannya pertama kali. Bayu bilang mungkin seseorang yang mencari zero-guard setelah berita Kaizen Labs, dan membuka tab Issues, dan melihat lima judul berbahasa Indonesia di antara ratusan judul berbahasa Inggris. Hari ke-1 setelah kamu pergi. Hari ke-2. Hari ke-3.

Ia mengambil tangkapan layar. Mengunggahnya di media sosial.

Ada yang nulis surat cinta di issue repo legendaris 😭 Ini siapa??? Hari ke-1 setelah kamu pergi??? Bestie ini GITHUB

Dalam satu hari, tangkapan layar itu dibagikan ribuan kali.

Dalam dua hari, seseorang menyambungkan titik-titiknya. Repo zero-guard. Pemiliknya mr_zero. mr_zero adalah Alfa Danuarta. Alfa Danuarta adalah Mas IT lantai 17 di Trista Group yang jadi bahan taruhan dan meme. Utas yang dibagikan puluhan ribu kali sebulan lalu. Kertas dengan tulisan tangan di bawah nama yang diburamkan.

Tunggu. Celestial_c ini... jangan-jangan salah satu dari Tiga Dewi?

YANG NULIS “AMAN” ITU???

Dia nulis surat ke repo cowok yang dia mainin? Ini cringe atau tragis atau dua-duanya?

Yang kayak gini harusnya dari awal, Mbak. Bukan sekarang.

Lol dia pikir cowoknya bakal baca? Cowoknya di Tokyo gaji gede, nggak mungkin buka issue tracker 😂

Simp level dewa

Tolong ini bukan tempat curhat 🙏 kasian maintainer-nya

Akun gosip kantor anonim yang dulu mengunggah video pucuk tumpeng mengunggahnya juga. Dengan keterangan: Plot twist ketiga: Dewi Lantai 22 sekarang nulis surat cinta ke GitHub mantan target taruhannya. Kami kehabisan kata.

Di lift Trista Tower, orang-orang yang berhenti bicara ketika aku masuk sekarang tidak hanya saling melirik. Mereka tertawa. Pelan. Tertahan. Seperti dulu mereka tertawa padanya.

Itu yang nulis di GitHub.

Hari ke berapa sekarang, Mbak?

Seseorang dari tim Sales, laki-laki yang dulu memotret pantry lantai 17 untuk Dion, bertanya langsung padaku di lift suatu pagi. Dengan senyum yang naik di satu sisi.

“Mbak, hari ini hari ke berapa?”

Aku menatap angka di atas pintu.

“Ketujuh,” kataku.

Ia tertawa. Teman-temannya tertawa.

Aku tidak menjawab lagi.

Malam itu, aku menulis issue ketujuh.


Hari ke-7 setelah kamu pergi

Orang-orang nemu issue-ku. Mereka ketawa. Ada yang bilang aku simp. Ada yang bilang aku cringe. Ada yang bilang harusnya dari awal, bukan sekarang.

Yang terakhir itu benar.

Di lift tadi pagi, ada yang nanya hari ini hari ke berapa. Aku jawab ketujuh. Mereka ketawa.

Aku nggak tahu gimana caranya kamu tetap bilang “pagi” ke semua orang, dua minggu. Aku baru seminggu, dan aku cuma bisa natap angka di atas pintu lift.

Aku masih belajar.

— C.

rafa_lima tidak menutupnya.

Ia juga tidak membalasnya. Issue ketujuh tetap hijau. Open. Di antara ratusan issue lain soal bug dan protokol dan modul autentikasi.

Issue kedelapan juga tetap hijau. Dan kesembilan. Dan kesepuluh.

Di bawah issue kesepuluh, ada balasan pertama yang bukan dari rafa_lima. Seseorang dari Jepang. Dalam bahasa Inggris yang patah-patah. Bayu menerjemahkannya dengan suara serak.

Saya tidak bisa baca bahasa Indonesia. Saya pakai Google Translate. Saya baca semua sepuluh. Saya tidak tahu siapa kamu. Tapi saya pikir mr_zero akan baca. Dia selalu baca semuanya.


Bang Togar mengajariku baca log setiap hari, jam lima sore, di ruang server lantai 17.

Delapan belas derajat. Aku memakai kemeja flanel biru tua di atas blusku, karena aku tidak punya jaket, dan karena aku tidak mau punya jaket lain.

Bang Togar duduk di kursi plastik di depan monitor tua di sudut ruangan, monitor yang hanya dipakai untuk membaca log. Aku duduk di sampingnya. Bayu duduk di lantai, memakan gorengan yang kubawa.

“Ini,” kata Bang Togar, menunjuk baris di layar. “Waktu. Ini, alamat. Ini, apa yang terjadi. Ini, berhasil atau gagal.”

“Kenapa semuanya kecil-kecil, Pak?”

“Karena log nggak butuh dilihat cantik, Bu. Log butuh dibaca.”

Aku menatap baris-baris itu. Ribuan. Bergulir pelan.

“Dia baca semua ini tiap pagi?”

“Empat tahun.” Bang Togar menggigit bakwan. “Nggak ada yang nyuruh. Nggak ada yang tahu. Dia bilang, log itu satu-satunya yang jujur di gedung ini. Sayang kalau nggak ada yang baca.”

Aku menatap layar lama.

Lalu aku mulai membaca. Pelan. Satu baris. Dua baris. Waktu. Alamat. Apa yang terjadi. Berhasil atau gagal.

Di hari ke-18, aku menemukan error pertamaku sendiri. Server cadangan yang disk-nya hampir penuh. Bang Togar memeriksanya, lalu menatapku dengan alis terangkat, lalu menepuk bahuku dengan tangan seberat palu.

“Lumayan, Bu,” katanya. “Buat orang brand.”

Malam itu, issue ke-18.

Hari ini aku nemu error pertama. Disk server cadangan hampir penuh. Bang Togar bilang lumayan buat orang brand. Aku senang banget sampai Bayu bilang aku kayak orang yang menang lotre.

Aku jadi ngerti sedikit kenapa kamu bilang log itu satu-satunya yang jujur. Log nggak peduli siapa yang baca. Log nggak bilang bagus cuma karena kamu cantik.

Kamu juga nggak.

— C.


Di hari ke-25, Shafira mengirim pesan.

Shafira: Cel. Aku baca semua.

Shafira: Orang-orang di grup alumni kampusku share issue kamu. Mereka ketawain. Aku keluar dari grup itu.

Shafira: Kamu nggak harus ngelakuin ini.

Aku menatap pesan itu.

Aku: Aku tahu.

Shafira: Terus kenapa?

Aku memikirkan jawabannya lama.

Aku: Karena dia dulu juga nggak harus bilang “pagi” ke orang-orang yang ketawain dia. Dan dia tetap bilang.

Shafira tidak membalas selama sepuluh menit.

Lalu:

Shafira: Hari ke berapa sekarang?

Aku: 25.

Shafira: Oke. Aku baca yang ke-26 besok.


Di hari ke-40, Alea datang ke apartemenku.

Ia membawa kotak bekal merah muda. Telur dadar dengan seledri. Bulat sempurna. Delapan belas butir garam.

Kami makan di lantai, di depan sofa krem, karena sofa itu terlalu bagus untuk diduduki dan kami berdua sekarang lebih suka lantai.

“Kak,” kata Alea, menatap laptopku yang terbuka di meja kaca. Halaman repo. Daftar issue. Empat puluh judul berbahasa Indonesia, berjajar dari atas ke bawah. Hari ke-40. Hari ke-39. Hari ke-38. “Kakak nggak capek?”

“Capek.”

“Terus kenapa terus nulis?”

Aku menatap daftar itu.

“Le,” kataku. “Kamu bangun jam lima berapa kali buat telur?”

Alea diam. Lalu tertawa kecil. “Lima kali. Sampai dia bilang enak.”

“Aku nggak tahu butuh berapa kali sampai dia baca,” kataku. “Mungkin nggak pernah. Tapi kamu bangun jam lima bukan karena kamu tahu dia bakal bilang enak.”

Alea menatapku lama. Lalu meletakkan kepalanya di bahuku.

Kami duduk di lantai, di depan laptop yang menampilkan empat puluh issue yang tidak dibalas, makan telur dadar yang garamnya sedikit kebanyakan.


Di hari ke-60, rafa_lima menambahkan sesuatu.

Bukan balasan. Label. Label berwarna kuning muda, yang sekarang menempel di semua issue-ku, dari hari ke-1 sampai hari ke-60. Label yang tidak ada di issue lain mana pun di repo itu.

letters

Di bawah issue hari ke-60, satu komentar dari rafa_lima. Bahasa Inggris. Pendek. Bayu tidak perlu menerjemahkannya. Aku sudah cukup lama membaca log untuk mengerti kalimat sependek itu.

I closed the first ones. I’m sorry. I added a label so they don’t get lost in the bug reports. He’ll find them. He reads everything.

Aku menatap komentar itu lama.

Lalu aku menulis issue ke-61. Kali ini, di akhir, aku menambahkan satu baris dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggrisku yang rapi, yang kupakai untuk presentasi ke klien internasional, yang selalu dipuji karena elegan.

Aku menulisnya dengan sangat sederhana.

Thank you, Rafa. Obrigada.


Malam itu, di sofa krem, aku menghitung.

Enam puluh satu hari. Enam puluh satu issue. Enam puluh satu kali aku membuka halaman itu, menekan tombol hijau, menulis, dan mengirim ke alamat yang mungkin tidak pernah dibuka.

Di lift, orang-orang masih bertanya hari ke berapa, Mbak? Tidak sesering dulu. Kadang hanya satu orang dalam seminggu. Kadang tidak ada.

Aku masih belum bisa bilang pagi.

Tapi aku sudah bisa menjawab angkanya tanpa menatap pintu lift.

Enam puluh satu.

Aku tidak tahu berapa lama aku akan menulis. Aku tidak menetapkan angka. Aku hanya tahu bahwa di suatu tempat di Tokyo, ada laki-laki yang selama empat tahun membaca semua log di gedung yang tidak pernah berterima kasih padanya.

Ia orang yang membaca semuanya.

Suatu hari, mungkin, ia akan membuka tab yang salah.

Dan kalau hari itu datang, aku ingin ada sesuatu yang bisa ia baca.

Sesuatu yang jujur.

Seperti log.