Chapter Seventeen
Malam Krisis
POV: Celine
Peluncuran pre-order Trista Home dijadwalkan tepat tengah malam, Senin malam menuju Selasa.
Tiga ratus produk. Diskon empat puluh persen untuk seribu pembeli pertama. Kampanye digital yang sudah berjalan dua minggu dengan tagline baru, tagline yang kuubah di lift setelah turun dari atap: Tempat kamu tidak perlu terlihat sempurna.
Direktur Marketing, Pak Wibisono, awalnya menolak tagline itu. Terlalu sederhana, Bu Celine. Kurang aspiratif. Aku mempertahankannya dalam tiga rapat berturut-turut. Di rapat ketiga, aku menunjukkan data uji coba iklan: tingkat klik tagline baru tiga kali lipat dari yang lama. Komentar-komentar di media sosial penuh dengan kalimat seperti ini aku banget dan akhirnya ada iklan rumah yang nggak bikin minder.
Pak Wibisono akhirnya setuju. Ia bilang, kalau malam peluncuran sukses, posisi Head of Brand yang kosong sejak bulan lalu kemungkinan besar akan jadi milikku.
Jadi pukul sebelas malam, aku masih di lantai 22. Ruang rapat besar yang kami sebut war room setiap ada peluncuran. Delapan orang dari timku duduk di depan laptop masing-masing. Layar besar di dinding menampilkan dashboard situs: jumlah pengunjung, jumlah orang di antrean, hitung mundur menuju tengah malam.
Pukul sebelas lewat dua puluh, jumlah pengunjung sudah dua puluh ribu.
Pukul sebelas lewat tiga puluh, empat puluh ribu.
Pukul sebelas lewat tiga puluh delapan menit, angkanya melompat ke tiga ratus ribu dalam satu detik.
Lalu situsnya mati.
“Bu, situsnya down!”
“Bu, halaman checkout nggak bisa dibuka!”
“Bu, komentar di Instagram udah dua ribu, semuanya nanya kenapa error!”
Aku berdiri di tengah ruangan dengan ponsel di tangan, menatap layar besar di dinding. Grafik pengunjung yang tadinya naik dengan rapi sekarang berbentuk seperti jarum seismograf saat gempa. Ratusan ribu permintaan setiap detik, dari ribuan alamat yang berbeda.
“Bot,” kata Rendi, suaranya gemetar. Rendi yang sama yang mengejek lagu error 404 di karaoke minggu lalu. “Ini bot, Bu. Kayak tahun lalu.”
Tahun lalu.
Aku ingat tahun lalu. Malam peluncuran produk Trista Lifestyle yang nyaris hancur karena serangan bot yang sama. Aku ingat duduk di ruangan ini sampai jam tiga pagi, menangis diam-diam di toilet, sampai seseorang dari tim IT eksternal memasang perangkat keamanan buatan developer anonim, dan serangan itu berhenti dalam lima belas menit.
Developer anonim yang kemudian kukirimi pesan terima kasih yang terlalu panjang. Yang kemudian jadi satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara dengan jujur.
“Telepon vendor IT eksternal,” kataku.
“Udah, Bu. Nggak diangkat. Kantor mereka tutup jam sembilan.”
“Telepon lagi.”
“Bu, udah lima kali.”
Hitung mundur di layar menunjukkan dua puluh menit menuju tengah malam. Dua puluh menit sebelum seribu orang pertama yang sudah menunggu dua minggu akan mencoba membeli, dan menemukan situs yang mati. Dua puluh menit sebelum semua kerja timku, semua rapat dengan Pak Wibisono, semua data uji coba, berubah jadi tangkapan layar halaman error yang tersebar di media sosial.
Aku membuka aplikasi chat internal kantor.
Aku tidak berpikir. Kalau aku berpikir, aku akan ragu. Aku akan memikirkan jam berapa sekarang, apakah ia sudah tidur, apakah ini urusan divisinya, apakah aku berhak meminta.
Aku mengetik namanya di kolom pencarian dan mengirim satu pesan.
Aku: Situs Trista Home diserang bot. Launch 20 menit lagi. Vendor nggak bisa dihubungi. Tolong.
Dua centang abu-abu.
Satu menit. Aku menatap layar.
Dua centang biru.
Alfa: Lantai berapa?
Aku: 22. War room.
Alfa: Lima menit.
Ia datang dalam empat menit.
Rambutnya basah. Kaos hitam dan celana olahraga, seperti baru selesai mandi dan langsung memakai baju apa pun yang ada di dekat pintu. Ransel laptop di satu bahu. Napasnya sedikit terengah, seperti ia naik dari basement lewat tangga darurat karena lift terlalu lambat.
Kemudian aku sadar. Ia tinggal di Kalibata. Dua puluh menit dengan motor, kalau jalanan kosong. Ia tidak mungkin sampai dalam empat menit dari rumah.
Ia belum pulang. Jam sebelas malam, ia masih di gedung ini.
Timku menatapnya. Rendi menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. Delapan orang yang minggu lalu menertawakan lagu error 404 sekarang menatap laki-laki dengan rambut basah dan celana olahraga yang berjalan masuk ke war room mereka seperti pemadam kebakaran.
“Boleh saya duduk di mana, Mbak?”
Aku menarik kursi di sebelahku. “Sini.”
Ia duduk. Membuka laptop. Jarinya mulai bergerak sebelum layarnya selesai menyala.
“Saya butuh akses ke server situs. Akun admin vendor.”
Aku menyebutkan kata sandinya. Ia mengetiknya tanpa menatapku. Jendela-jendela hitam mulai terbuka di layarnya, satu demi satu, seperti tirai yang disibak.
Lima belas menit menuju tengah malam.
Aku tidak mengerti apa yang ia lakukan.
Aku hanya bisa menonton. Jendela hitam dengan teks hijau dan putih yang bergulir begitu cepat sampai mataku tidak bisa mengikutinya. Jarinya bergerak tenang, tidak terburu-buru, seperti orang yang sedang menyusun puzzle yang sudah ia susun ratusan kali. Sesekali ia berhenti, membaca sesuatu, mengetik lagi.
Di layar besar di dinding, grafik pengunjung masih bergerak seperti seismograf.
Sepuluh menit menuju tengah malam.
“Mereka pakai jaringan botnet yang sama kayak tahun lalu,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku. “Polanya mirip. Rotasi alamat tiap tiga detik.”
“Kamu tahu soal tahun lalu?”
Ia berhenti mengetik. Hanya sepersekian detik.
“Saya baca laporan insidennya, Mbak. Arsip IT.”
Ia melanjutkan.
Lalu, di salah satu jendela hitam di layarnya, sesuatu muncul. Sebuah gambar yang terbentuk dari huruf dan simbol. Lingkaran sederhana dengan garis miring di tengahnya, seperti angka nol yang dicoret. Di bawahnya, satu baris teks kecil yang terlalu cepat menghilang untuk kubaca.
Aku menatap gambar itu.
Ada sesuatu yang akrab dari bentuknya. Seperti wajah orang yang pernah kulihat sekilas di keramaian dan tidak bisa kuingat namanya. Aku pernah melihat lingkaran itu. Di suatu tempat. Di suatu waktu.
Tapi gambar itu sudah hilang, digantikan barisan teks lain, dan kepalaku terlalu penuh dengan hitung mundur dan grafik seismograf dan rasa takut untuk mengejar ingatan itu.
Banyak alat keamanan punya logo yang mirip, pikirku. Mungkin semua orang IT pakai lingkaran.
Lima menit menuju tengah malam.
Grafik di dinding mulai berubah.
Garis-garis yang tadinya liar seperti seismograf mulai turun. Pelan, lalu lebih cepat. Tiga ratus ribu permintaan per detik. Dua ratus ribu. Delapan puluh ribu. Lalu turun drastis ke angka yang masuk akal, angka yang terlihat seperti manusia sungguhan, bukan mesin.
“Situsnya up, Bu!” teriak salah satu timku. “Halaman checkout bisa dibuka!”
Seluruh ruangan bersorak.
Hitung mundur di layar: 00:00:47.
Ia tidak bersorak. Ia masih mengetik, memeriksa sesuatu, mengawasi grafik. Wajahnya tidak berubah.
00:00:03. 00:00:02. 00:00:01.
00:00:00.
Halaman pre-order Trista Home terbuka untuk publik. Dalam lima menit pertama, empat ratus produk terjual. Dalam lima belas menit, seribu. Kuota diskon habis dalam dua puluh tiga menit.
Timku berpelukan. Rendi menangis. Seseorang membuka botol minuman bersoda dan menyemprotkannya ke langit-langit.
Aku tidak bergerak dari kursiku. Aku menatap laki-laki di sebelahku, yang masih menatap grafik, yang rambutnya mulai kering dan berantakan, yang baru saja menyelamatkan karierku dalam sembilan belas menit tanpa menaikkan suaranya sekali pun.
Serangan itu tidak berhenti total.
Gelombang kedua datang pukul satu pagi. Gelombang ketiga pukul dua lewat dua puluh. Lebih kecil, tapi tetap ada, seperti ombak yang terus memukul tanggul. Setiap kali, ia menangkisnya. Mengetik, membaca, mengetik lagi. Sesekali minum kopi dingin dari gelas kertas yang kuambilkan dari pantry.
Pukul tiga, timku sudah pulang satu per satu. Aku menyuruh mereka pulang. Rendi yang terakhir. Sebelum keluar, ia berdiri di ambang pintu war room, menatap Alfa dengan wajah orang yang sedang menelan sesuatu yang pahit.
“Mas,” katanya. “Soal karaoke kemarin. Soal lagu error. Saya... saya minta maaf.”
Alfa menoleh. “Nggak apa-apa, Mas.”
“Mas beneran nyelametin kami malam ini.”
“Itu kerjaan saya, Mas.”
Rendi mengangguk dan pergi. Pintu war room tertutup.
Tinggal kami berdua.
Aku tidak ingat kapan aku tertidur.
Aku ingat duduk di sebelahnya, menonton grafik yang sekarang sudah tenang, mendengarkan bunyi keyboard-nya yang pelan dan teratur seperti hujan. Aku ingat mataku berat. Aku ingat kepalaku terasa terlalu penuh dan terlalu kosong di waktu yang sama.
Lalu aku membuka mata, dan dunia miring.
Pipiku menempel di sesuatu yang hangat. Kain kaos yang lembut, sedikit wangi sabun cuci yang murah. Bahu. Bahunya. Kepalaku bersandar di bahunya, dan ia tidak bergerak. Tangannya masih di atas keyboard, tapi tidak mengetik. Hanya diam di sana, seperti ia sudah berhenti mengetik sejak lama supaya gerakan bahunya tidak membangunkanku.
Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat sepuluh.
Di luar jendela war room, langit Jakarta mulai berubah warna. Hitam ke biru tua. Biru tua ke ungu pucat. Garis tipis jingga di cakrawala, di antara gedung-gedung yang masih menyala.
Aku tidak bergerak. Aku takut kalau aku bergerak, ia akan bergerak juga, dan momen ini akan hilang.
“Sudah bangun, Mbak?” Suaranya pelan. Serak, seperti orang yang belum bicara berjam-jam.
“Belum,” bisikku.
Hembusan napas dari hidungnya. Hampir tawa.
Aku memejamkan mata lagi. Lalu, tanpa memutuskannya, tanpa merencanakannya, tanpa menghitung apa pun, tanganku bergerak. Menyusuri pangkuanku, menyeberangi celah kecil di antara kursi kami, sampai menemukan tangannya yang diam di atas keyboard.
Aku menggenggamnya.
Jari-jarinya dingin. Ujungnya sedikit kasar, mungkin dari bertahun-tahun mengetik. Aku menyusupkan jari-jariku di antara jari-jarinya, pelan, seperti mencoba memasukkan kunci ke lubang yang belum pernah kubuka.
Ia tidak menarik tangannya.
Ia juga tidak membalas genggamanku.
Ia hanya diam. Lama. Lalu, sangat pelan, sangat hati-hati, seperti seseorang yang baru belajar cara melakukannya, jari-jarinya menekuk. Membalas genggamanku. Tidak erat. Hanya cukup untuk aku tahu bahwa ia ada di sana.
Langit di luar jendela berubah dari ungu pucat ke merah muda.
“Jangan pulang dulu,” bisikku.
“Saya nggak ke mana-mana, Mbak.”
Kami duduk seperti itu sampai azan subuh terdengar samar dari masjid di belakang gedung. Kepalaku di bahunya. Tangan kami di atas keyboard laptopnya, jari-jari bertautan. Grafik di layar besar di dinding sudah datar dan tenang seperti permukaan danau.
Ia tidak bergerak sekali pun. Bahunya pasti pegal. Tangannya pasti kesemutan. Ia tidak bergerak.
Pukul enam, aku akhirnya menegakkan tubuh. Pelan. Melepaskan tangannya. Merapikan rambutku yang pasti berantakan, mengusap bekas air liur yang semoga tidak ada di sudut bibirku.
Ia meregangkan bahunya pelan-pelan. Aku mendengar bunyi krek kecil dari lehernya.
“Maaf,” kataku. “Bahumu.”
“Nggak apa-apa, Mbak.”
Aku menatapnya.
“Sedikit pegal,” ralatnya.
Aku tertawa. Tawa kecil, serak, tawa orang yang tidak tidur semalaman dan baru saja melewati sesuatu yang tidak bisa ia namai.
Pukul sembilan pagi, Pak Wibisono memanggilku ke ruangannya.
Ia memuji peluncuran semalam. Ia memuji tagline-nya. Ia memuji kecepatan timku menangani serangan bot. Lalu ia menyodorkan draf laporan insiden yang akan dikirim ke direksi.
Serangan berhasil diatasi dalam 19 menit oleh tim IT.
“Tim IT eksternal, kan?” tanya Pak Wibisono. “Vendor kita?”
“Bukan, Pak. Vendornya nggak bisa dihubungi.” Aku menarik napas. “Yang ngatasi itu Alfa Danuarta. IT Infrastructure internal. Lantai 17. Dia datang jam sebelas malam dan nggak pulang sampai pagi. Saya mau namanya dicantumkan di laporan, Pak. Lengkap. Sama ucapan terima kasih resmi dari divisi kita.”
Pak Wibisono mengangguk dan mencatatnya.
Siangnya, aku turun ke lantai 17 untuk memberitahunya.
Ia sedang duduk di mejanya, kaos navy hari ini, mata sedikit merah karena kurang tidur, tapi selain itu tidak ada yang berbeda. Bang Togar baru saja memaksanya pulang setengah hari dan ia baru saja menolak dengan alasan backup jam dua.
“Namamu masuk laporan direksi,” kataku. “Lengkap. Pak Wibisono mau kirim surat terima kasih resmi.”
Ia menatapku. Lalu menggeleng pelan.
“Nggak usah, Mbak.”
“Kenapa?”
“Tulis aja ‘tim IT’. Cukup.”
“Kamu yang ngerjain sendirian. Semalaman.”
“Tetap tim IT, Mbak.”
Aku menatapnya. Rasanya seperti ada sesuatu yang panas naik dari perutku ke tenggorokan. Marah. Bingung. Sesuatu yang lain di bawahnya, lebih lembut, yang tidak mau kuakui.
“Kamu tahu nggak,” kataku, suaraku sedikit bergetar, “semalam aku nggak takut situsnya mati. Aku takut kamu nggak datang.”
Ia diam.
“Dan kamu datang. Dalam empat menit. Dan kamu nggak mau ada yang tahu.”
Aku berbalik sebelum ia bisa melihat mataku mulai basah. Aku berjalan ke lift dengan langkah cepat, dan di belakangku, aku mendengar Bayu berbisik, “Bang, Mbak Celine kenapa?” dan Bang Togar menjawab dengan suara yang tidak berbisik sama sekali, “Bayu, kau ini. Itu namanya perempuan yang marah karena laki-lakinya terlalu baik. Itu jenis marah yang paling berbahaya.”
Pintu lift tertutup.
Aku menyandarkan kepala ke dinding lift dan menatap angka yang naik. 18. 19. 20.
Lingkaran dengan garis miring di tengahnya. Seperti angka nol yang dicoret.
Aku masih tidak bisa mengingat di mana aku pernah melihatnya.
Aku terlalu sibuk mengingat jari-jari yang dingin dan kasar di ujungnya, yang menekuk pelan dan hati-hati untuk membalas genggamanku, seperti seseorang yang baru belajar cara melakukannya.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis reading
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang