Chapter Forty Seven
Epilog — Jepang
POV: Celine
Aku memesan tiketnya sendiri.
Dua tiket. Jakarta–Tokyo. Pulang-pergi. Sepuluh hari di awal April, ketika kata Haruto Mori bunga sakura di sepanjang Sungai Meguro sedang mekar penuh.
Di kolom nama penumpang pertama, aku mengetik namaku sendiri.
Di kolom nama penumpang kedua, aku berhenti.
Nama depan. Nama tengah (opsional). Nama belakang.
Aku menatap kolom nama tengah lama.
Shafira pernah mengosongkan kolom ini, berbulan-bulan lalu, di dua tiket yang kemudian ia batalkan dan uangnya ia berikan kepada dua puluh perempuan yang sekarang bisa membaca log. Nama dia aku kosongin, soalnya aku nggak tahu nama tengahnya.
Aku mengirim pesan ke laki-laki yang sedang duduk di kantor kecil di lantai 16, satu lantai di bawah meja lamanya.
Aku: Nama tengahmu apa?
Balasannya datang dalam sepuluh detik.
Alfa: Nggak punya.
Aku: Serius?
Alfa: Ibu bilang nama itu harus pendek. Biar gampang dipanggil dari teras.
Aku menatap pesan itu.
Lalu aku mengosongkan kolom nama tengah, dan menekan Pesan.
Tokyo di bulan April berwarna merah muda.
Bukan merah muda yang mencolok, seperti kotak bekal Alea atau topi berenda di Kota Tua. Merah muda yang pucat, hampir putih, seperti seseorang menuang susu ke dalam cat dan mengaduknya terlalu lama. Bunga-bunga kecil bergerombol di setiap dahan, begitu banyak sampai dahannya sendiri tidak terlihat, begitu ringan sampai setiap angin kecil membuat ratusan kelopak melayang turun seperti salju yang tidak dingin.
Sungai Meguro di sore hari. Kanal sempit yang airnya tenang, diapit dua jalur pejalan kaki, dinaungi pohon-pohon sakura dari kedua sisi yang dahannya bertemu di tengah, membentuk lorong merah muda sepanjang hampir empat kilometer.
Ratusan orang berjalan pelan di bawahnya. Pasangan muda. Keluarga dengan anak-anak kecil. Nenek-nenek yang memotret dengan ponsel. Turis yang berhenti setiap tiga langkah untuk berfoto.
Kami berjalan di antara mereka.
Bukan bergandengan. Belum. Ia berjalan sedikit di depan, menoleh setiap beberapa langkah untuk memastikan aku masih di belakangnya, seperti ia menoleh dari depan lift lantai 17 setiap kali pintu hampir tertutup. Ia memakai kemeja flanel hijau, karena ia bilang di Tokyo bulan April masih dingin. Ia memakai kaos navy di baliknya.
Aku memakai hoodie abu-abu.
Lengannya masih terlipat tiga kali. Aku tidak pernah membukanya.
“Ini apartemenmu yang dulu?” tanyaku, ketika ia berhenti di depan gedung tua di gang sempit, sepuluh menit jalan kaki dari stasiun.
Gedung empat lantai dengan cat yang mulai mengelupas. Jendela-jendela kecil. Jalur kereta tepat di belakangnya.
“Lantai empat,” katanya. “Jendela yang paling kanan.”
Aku mendongak. Jendela kecil. Tirai putih yang sudah menguning. Seseorang tinggal di sana sekarang. Ada pot tanaman di ambang jendela.
Kereta lewat. Seluruh gedung bergetar pelan.
“Setiap empat menit,” katanya. “Dari jam lima pagi sampai tengah malam.”
“Kamu tidur di sini enam bulan?”
“Lima.” Ia menatap jendela itu. “Bulan keenam aku pindah. Waktu Haruto bilang soal Jakarta.”
Ia diam sebentar.
“Aku baca issue-mu di jendela itu,” katanya. “Setiap pagi. Jam lima lewat empat. Kereta pertama. Ruangannya bergetar. Aku baca hari ke-119 waktu ruangannya bergetar.”
Aku menatap jendela kecil di lantai empat.
Di sana, setiap pagi selama dua bulan, laki-laki ini duduk di atas tikar tatami yang menguning dan membaca kalimat-kalimatku sambil ruangannya bergetar. Tidak membalas. Tidak menulis apa-apa. Hanya membaca. Seperti log.
Aku meraih tangannya.
Ia tidak terkejut. Ia hanya menekuk jari-jarinya, menyusupkannya di antara jari-jariku, dengan cara yang sekarang sudah ia kenal. Tidak lagi seperti orang yang baru belajar.
Haruto Mori menjamu kami makan malam di restoran kecil dekat stasiun Nakameguro.
Restoran dengan delapan kursi di depan meja panjang, koki tua yang memanggang ikan di atas arang tepat di depan kami, dan teh hijau yang terus dituang ke cangkir tanah liat tanpa diminta.
Haruto ternyata lucu. Ia tidak terlihat lucu, dengan kacamata tipis dan kemeja yang selalu disetrika rapi dan cara bicara yang lambat dan sangat formal. Tapi ia lucu dengan cara yang sama seperti Alfa lucu. Datar. Kena.
“Celine-san,” katanya, setelah ikan pertama dihidangkan. “Saya membaca issue Anda.”
Aku tersedak teh.
“Semuanya,” lanjut Haruto dengan wajah serius. “Menggunakan alat penerjemah. Hari ke-1 sampai hari ke-180. Saya membacanya di kereta, saat pulang kantor, selama dua minggu.”
“Mori-san...”
“Tim saya juga membacanya,” kata Haruto. “Rapat Senin pagi kami selama tiga bulan selalu dimulai dengan satu pertanyaan. Sudah hari ke berapa?”
Aku menutup wajahku dengan dua tangan.
Di sampingku, Alfa tertawa. Tawa yang keluar dari hidung, pendek, tapi tidak ditahan.
“Saya mau mengucapkan terima kasih,” kata Haruto. “Anda mengembalikan orang yang kami cari selama dua tahun. Lalu Anda mengambilnya lagi.”
Aku menurunkan tangan.
“Maaf, Mori-san.”
“Tidak perlu.” Haruto menyesap tehnya. “Kami sekarang punya kantor di Jakarta. Tim di sana menangis di setiap acara. Saya belajar banyak.” Ia meletakkan cangkirnya. “Dan README kami sekarang tidak ada salah ketik.”
Koki tua di depan kami meletakkan ikan kedua di atas piring. Ia menatapku, lalu menatap Alfa, lalu menatap tangan kami yang bertaut di atas meja, dan mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang.
Haruto menerjemahkannya.
“Ia bilang, ikan ini untuk orang yang sudah menunggu terlalu lama.”
Kami berjalan pulang di sepanjang Sungai Meguro pukul sembilan malam.
Lentera-lentera kertas digantung di antara pohon-pohon sakura, menyala jingga dan merah muda, membuat bunga-bunga di atas kami terlihat seperti terbakar pelan. Air kanal memantulkan semua itu. Kelopak-kelopak yang jatuh mengapung di permukaannya, bergerak pelan ke arah hilir, seperti ribuan surat kecil yang dikirim ke alamat yang tidak diketahui.
Kami berhenti di tengah jembatan kecil. Jembatan batu dengan pagar besi rendah. Di bawah kami, kanal. Di atas kami, dahan-dahan sakura yang bertemu di tengah.
Aku bersandar ke pagar besi.
Ia berdiri di sampingku.
“Celine,” katanya.
“Hmm.”
“Kamu menang.”
Aku menoleh. Ia menatap kanal di bawah kami, ke kelopak-kelopak yang mengapung.
“Taruhannya,” katanya. “Sepuluh hari di Jepang. Hadiah buat yang pertama bikin target nyatain cinta.”
Ia berhenti.
“Aku nyatain cinta di atap,” katanya. “Hari ke-180. Kamu yang pertama.”
Aku menatapnya lama.
Lalu aku tertawa. Tawa yang keras, yang membuat sepasang turis di ujung jembatan menoleh, yang membuat kelopak sakura di rambutku jatuh ke kanal.
“Kamu nggak nyatain cinta di atap,” kataku.
“Aku bilang sekarang bisa.”
“Itu bukan nyatain cinta. Itu laporan status.”
Ia menatapku. Sudut bibirnya bergerak.
“Iya,” katanya. “Kayaknya iya.”
Aku menggeleng, masih tertawa.
“Nggak,” kataku. “Aku nggak menang.”
Ia menunggu.
“Kita berdua yang menang,” kataku. “Itu satu-satunya cara biar nggak ada yang cuci mobil Shafira sebulan.”
Ia menciumku di tengah jembatan batu di atas Sungai Meguro.
Di bawah lentera-lentera kertas. Di bawah lorong merah muda. Dengan kelopak-kelopak sakura yang jatuh di rambutku, di bahunya, di antara wajah kami.
Pelan. Tidak ragu. Seperti seseorang yang sudah tahu caranya, dan memilih untuk melakukannya dengan hati-hati karena ia ingin, bukan karena ia takut.
Sepasang turis di ujung jembatan bertepuk tangan. Seorang nenek yang sedang memotret bunga sakura berbalik, memotret kami, lalu tersenyum dan membungkuk.
Kami tertawa di tengah ciuman itu. Dahinya menempel di dahiku.
“Bayu bakal minta fotonya,” bisikku.
“Bayu bakal bikin panduan v6.”
“Judulnya?”
“Cara ciuman di Jepang.”
“Bab satu?”
Ia diam sebentar.
“Bawa tisu,” katanya.
Di lobi hotel, malam itu, sebelum kami naik ke kamar masing-masing, aku membuka ponsel.
Grup chat. Bukan lagi Dewi-Dewi Lembur. Sekarang namanya Baca Log. Tiga anggota. Kadang empat, ketika Bayu menyusup lewat Alea dan dikeluarkan lagi oleh Shafira.
Alea: KAK!!! FOTONYA!!! 📸🌸
Shafira: Cel aku minta foto jembatan. Bayu udah ngirim ke semua orang. Nenek-nenek Jepang itu posting di Instagram. Dia tag lokasi Meguro. Foto kalian udah 4000 like.
Alea: Kak Cel kok bisa ciuman sambil ketawa 😭😭😭
Shafira: Itu namanya bahagia, Le. Kamu nanti juga tahu.
Alea: Aku udah tahu, Kak. Anak baru di Finance. Namanya Raka. Dia bilang telurku keasinan kemarin.
Shafira: Le. Itu tanda bahaya.
Alea: Aku tahu, Kak. Aku tahu banget 🥺
Aku tertawa sendirian di sofa lobi hotel, dengan hoodie abu-abu yang belum kulepas.
Aku: Shaf. Mas Danu gimana?
Tiga titik. Lama. Menghilang. Muncul lagi.
Shafira: Dia nolak proposal ekspansi tahun depan. Katanya kebesaran. Katanya fokus ke angkatan keempat dulu.
Shafira: Aku bilang dia orang paling menyebalkan di dunia.
Shafira: Terus dia ngajak makan malam. Katanya biar aku nggak ngomel di kantor.
Shafira: Aku bilang iya.
Alea: KAK SHAFIRA!!!!!!
Shafira: Bukan apa-apa, Le. Cuma makan.
Shafira: Dia bawa aku ke warung pecel lele di pinggir jalan. Bukan restoran lantai 46. Dia bilang aku nggak perlu dibikin terkesan.
Shafira: Aku nggak tahu kenapa, tapi itu kencan paling enak yang pernah aku punya.
Aku menatap pesan itu.
Shafira, yang dulu memilih restoran lantai empat puluh enam untuk membuat laki-laki merasa kecil. Yang mengikat dasi dengan simpul Windsor sambil menghitung denyut nadi. Yang tertawa paling keras di pantry. Yang mencabut tiket palsu setiap subuh dan tidak pernah memberi tahu siapa pun kenapa.
Pecel lele di pinggir jalan.
Dengan laki-laki yang tidak takut padanya, dan tidak ingin menaklukkannya.
Aku: Shaf. Aku seneng banget.
Shafira: Aku juga, Cel.
Shafira: Aku juga.
Pesan lain masuk. Bukan dari grup. Dari Bayu, ke Alfa, yang Alfa teruskan padaku dengan satu kata: Lihat.
Foto. Lantai 17 Trista Tower. Partisi Bang Togar. Bingkai kayu cokelat dengan email Pak Wibisono. Di atasnya, kertas HVS dengan tulisan spidol merah.
DINDING KEHORMATAN LANTAI 17
Anggota pertama: Bang Alfa
Anggota kedua: Pak Udin (lobi). Karena teh manisnya selalu dua.
Dan di bawahnya, tulisan baru. Tulisan tangan yang kukenali. Kecil dan rapi. Seperti tulisan orang yang tidak ingin terlalu banyak memakan tempat.
Anggota ketiga: celestial_c. Karena dia baca log sekarang.
Di bawah foto itu, pesan dari Bayu.
Bayu: Bang Togar yang suruh Bang Alfa nulis sebelum berangkat. Katanya ini urusan divisi.
Bayu: Bang Togar juga bilang, kalau kalian nggak bawa oleh-oleh Kit Kat rasa matcha, dia bakal nyanyi lagu Batak di depan meja Bang Alfa sebulan. Pakai gitar.
Bayu: Bang, dia serius. Dia udah beli gitarnya.
Aku tertawa sampai air mataku keluar.
Di sofa di sampingku, Alfa membaca pesan yang sama dari ponselnya sendiri. Ia tidak tertawa keras. Tapi bahunya bergetar.
“Kit Kat matcha,” katanya.
“Berapa?”
Ia diam sebentar, menghitung.
“Tujuh belas,” katanya. “Satu buat tiap lapis kue lapis legit.”
Hari terakhir di Tokyo, pagi-pagi sekali, aku terbangun dan keluar ke balkon kecil kamarku.
Ia sudah di balkon kamar sebelah. Dua balkon yang hanya dipisahkan pagar besi rendah setinggi pinggang. Ia duduk di kursi rotan dengan laptop di pangkuan. Langit di luar masih abu-abu kebiruan. Di kejauhan, di antara gedung-gedung, deretan pohon sakura di sepanjang kanal terlihat seperti garis merah muda pucat yang dilukis dengan cat air.
“Kamu ngapain?” tanyaku dari pintu balkon, masih dengan hoodie abu-abu.
“Baca log,” katanya.
Aku menyeret kursi rotan di balkonku sampai menempel ke pagar besi, tepat di sampingnya. Menatap layarnya dari balik pagar.
Bukan log server. Repo zero-guard. Tab Issues. Filter label:letters.
Seratus delapan puluh issue. Seratus tujuh puluh sembilan hijau. Satu ungu.
“Kamu masih baca ini?” tanyaku.
“Tiap pagi.”
“Kamu udah hafal.”
“Aku tahu.” Ia menggulir pelan. Hari ke-7. Hari ke-18. Hari ke-92. Hari ke-118. “Tapi log yang bagus itu dibaca ulang. Biar nggak ada yang terlewat.”
Ia berhenti di satu issue. Hari ke-1.
Aku masih naik ke atap tiap jam dua belas. Pintunya kebuka pakai kartuku. Aku tahu itu kamu.
Terima kasih.
Ia menatap kalimat itu lama.
Lalu ia menggulir ke paling bawah halaman. Menekan satu tombol. Kotak komentar terbuka di bawah issue hari ke-1.
Ia mengetik.
Aku tidak membaca apa yang ia ketik. Aku menatap pohon-pohon sakura di kejauhan, membiarkannya menulis dalam diam, seperti dulu ia membiarkanku menulis di atap tanpa bertanya.
Ia menekan tombol hijau. Lalu tombol lain.
Lalu ia menutup laptopnya dan menyandarkan kepalanya ke kursi rotan, menatap langit yang mulai berubah warna.
Aku meraih ponselku. Membuka repo itu. Issue hari ke-1.
Statusnya sudah tidak hijau lagi. Ungu. Closed.
Di bawahnya, satu komentar baru. Dari pemilik repo.
Sama-sama.
Aku menatap dua kata itu.
Lalu aku menggulir ke issue hari ke-2. Ungu. Closed. Satu komentar.
Rafa minta maaf. Aku juga.
Hari ke-3. Ungu. Sudah kubaca.
Hari ke-4. Hari ke-5. Hari ke-6. Hari ke-7.
Pagi itu susah. Kamu belajar lebih cepat dari aku.
Aku menggulir dan menggulir. Seratus tujuh puluh sembilan issue, semuanya ungu sekarang. Semuanya Closed. Semuanya dengan satu komentar pendek dari pemilik repo. Kadang satu kata. Kadang satu kalimat. Kadang hanya Sudah kubaca.
Ia pasti menulisnya sejak sebelum subuh. Satu per satu. Seperti membaca log. Seperti menutup tiket yang sudah lama menunggu.
Hari ke-92. Huruf N-nya sudah di-merge. Terima kasih sudah nunjuk.
Hari ke-118. Lain kali bawa payung. Atau bawa aku.
Hari ke-179. Besok.
Aku mengangkat kepala.
Ia masih menatap langit. Tapi tangannya, di atas pagar besi rendah di antara kami, terulur ke arahku. Telapak menghadap ke atas. Menunggu.
Aku meletakkan tanganku di atasnya.
Jari-jarinya menekuk. Menyusup di antara jari-jariku.
Langit di atas Tokyo berubah dari abu-abu ke biru pucat ke merah muda, warna yang sama dengan bunga-bunga di sepanjang kanal. Di kejauhan, kereta pertama melintas di atas rel, dan aku membayangkan, di sebuah apartemen kecil di gang sempit di Nakameguro, seseorang yang lain sedang duduk di atas tikar tatami, merasakan ruangannya bergetar.
“Alfa,” kataku.
“Hmm.”
“Hari ke berapa sekarang?”
Ia menoleh padaku. Tersenyum. Senyum penuh, yang membuat matanya menyipit dan memperlihatkan gigi depannya yang sedikit tidak rata. Senyum yang dulu hanya kulihat sekali, di tengah hujan, di atap Trista Tower.
Sekarang aku melihatnya setiap pagi.
“Nggak dihitung lagi,” katanya.
Kelopak sakura terbang masuk ke balkon, terbawa angin pagi, dan mendarat di atas lipatan lengan hoodie abu-abu di pergelangan tanganku.
Aku tidak menyingkirkannya.
Biar wanginya nggak hilang.
— TAMAT —
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang reading