← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Twenty Five

Kota Tua

POV: Celine


Zero tidak membalas pesanku.

Aku memeriksanya pukul enam pagi, pukul tujuh, pukul delapan sambil memakai maskara dengan tangan yang tidak terlalu stabil. Dua centang biru di bawah pesan terakhirku. Kalau kamu memang kenal dia, bilang ke dia aku minta maaf. Dibaca pukul enam lewat dua menit.

Tidak ada balasan.

Setahun kami bertukar pesan, Zero tidak pernah membiarkan pesanku menggantung lebih dari satu malam. Bahkan pesan-pesanku yang paling bodoh. Bahkan pesan jam tiga pagi soal mimpi aneh tentang kucing yang bisa bicara bahasa Prancis.

Aku menatap layar ponsel di depan cermin kamar mandi.

Kamu ngomong kayak kamu kenal dia.

Aku menulis kalimat itu semalam karena terkejut. Zero tahu terlalu banyak. Zero menebak terlalu tepat. Mungkin dia udah tahu. Dan dia masih naik ke atap itu. Seperti Zero bisa melihat ke dalam kepala laki-laki yang belum pernah ia temui.

Lalu Zero diam. Untuk pertama kalinya.

Aku memikirkan semua kemungkinan. Mungkin Zero kesal karena aku terlalu banyak bercerita. Mungkin Zero sibuk. Mungkin Zero, seperti kebanyakan orang pintar, hanya pandai menebak.

Mungkin Zero bekerja di bidang IT, dan semua laki-laki IT punya cara berpikir yang mirip. Datar tapi kena.

Aku memikirkan logo lingkaran dengan garis miring di tengahnya, di layar war room lantai 22.

Lalu aku menggeleng, menutup aplikasi forum, dan menyelesaikan maskaraku.

Hari ini aku tidak mau memikirkan Zero.

Hari ini Kota Tua.


Ia menunggu di depan lobi Tower C, Kalibata, pukul sembilan kurang lima.

Kemeja flanel hijau. Yang kucuci dengan tangan. Yang kusetrika dua kali karena setrikaan pertama meninggalkan kerutan di bagian kerah. Celana jeans biru tua. Sepatu kets putih yang terlihat baru, atau baru dicuci dengan sangat teliti. Ransel hitam kecil di satu bahu.

Ia melihat mobilku dan berjalan mendekat. Membuka pintu penumpang. Masuk. Kursi Honda HR-V putihku jauh lebih lapang dari Mini Cooper Shafira, dan aku melihat ia sedikit lega ketika lututnya tidak menyentuh dasbor.

“Pagi,” katanya.

“Pagi.”

Ia menatapku. Lalu menatap ke bawah. Ke kakiku di atas pedal gas.

“Sepatumu,” katanya.

Aku menunduk. Sepatu kets kanvas putih, sol datar, yang kubeli tiga tahun lalu dan baru kupakai dua kali.

“Kenapa sepatuku?”

Ia diam sebentar. Seperti sedang mengingat sesuatu. Seperti sedang membaca sesuatu di kepalanya.

“Bagus,” katanya akhirnya. “Rendah. Bisa buat jalan jauh.”

Aku menatapnya. Ia menatap jalan di depan, wajahnya datar, tapi ujung telinganya mulai memerah.

Aku tertawa. Aku tidak tahu kenapa, tapi pujian sepatu yang paling tidak romantis yang pernah kudengar itu membuatku tertawa sampai harus menunggu sebelum menyalakan mesin.

“Siapa yang nyuruh kamu muji sepatuku?”

“Nggak ada.”

“Bohong.”

Ia diam. Lalu menghembuskan napas dari hidung. “Bayu.”

Aku tertawa lebih keras.


Kota Tua di Sabtu pagi sudah ramai.

Taman Fatahillah dipenuhi orang. Keluarga dengan anak-anak kecil. Pasangan muda yang berfoto di depan gedung museum bercat putih. Rombongan pelajar berseragam yang dipandu guru dengan pengeras suara. Penjual es selendang mayang. Penjual kerak telor yang mengipasi arang dengan kipas bambu. Dan di sepanjang pinggir lapangan, deretan sepeda ontel warna-warni, lengkap dengan topi lebar berenda yang bisa disewa dua puluh ribu per jam.

Aku berdiri di tengah lapangan itu, menatap gedung-gedung tua dengan jendela-jendela tinggi, dan menyadari aku belum pernah benar-benar melihat tempat ini.

Aku pernah ke sini tiga kali. Tiga-tiganya untuk pemotretan kampanye. Tiga-tiganya pukul lima pagi, sebelum ada orang, dengan tim produksi yang menutup area dan lampu-lampu besar dan pengarah gaya yang menyuruhku berdiri di sini, menoleh ke sana, tersenyum begini. Tiga kali aku berdiri di lapangan ini, dan tiga kali aku hanya melihat lensa kamera.

“Kamu mau naik ontel?” tanyanya.

Aku menatap deretan sepeda itu. Lalu menatapnya.

“Aku nggak bisa naik sepeda,” kataku.

Ia menatapku. “Nggak bisa?”

“Mamaku bilang nanti lututku lecet. Bekas luka di lutut nggak bagus kalau pakai rok.” Aku mengangkat bahu. “Jadi aku nggak pernah belajar.”

Ia diam sebentar. Wajahnya tidak berubah, tapi aku sudah cukup lama memperhatikannya untuk melihat sesuatu bergerak di matanya. Sesuatu yang mirip dengan apa yang ia tunjukkan di atap, kemarin lusa, ketika aku bilang aku tidak pernah kehujanan.

“Mau belajar?”


Dua puluh menit kemudian, aku duduk di atas sepeda ontel warna mint dengan topi lebar berenda merah muda yang terlalu besar untuk kepalaku, kedua tangan mencengkeram setang seperti mencengkeram tali di tepi jurang.

Ia berdiri di sampingku. Satu tangannya memegang bagian belakang sadel. Tangan lainnya di setang, di samping tanganku.

“Kakimu di pedal,” katanya. “Dua-duanya.”

“Kalau aku jatuh?”

“Aku pegang.”

“Kalau kamu lepas?”

“Aku nggak lepas.”

Aku menatapnya. Dari jarak sedekat ini, di bawah topi berenda merah muda yang konyol, aku bisa melihat garis tipis bekas luka di dagunya. Aku belum pernah bertanya dari mana bekas luka itu. Mungkin dari sepeda.

Aku menginjak pedal.

Sepeda itu bergerak. Oleng ke kiri. Aku menjerit. Tangannya di setang menahan, meluruskan. Sepeda bergerak lagi. Oleng ke kanan. Aku menjerit lagi. Ia berlari kecil di sampingku, satu tangan di sadel, satu tangan di setang, tidak pernah lepas.

Lima putaran mengelilingi lapangan. Aku menjerit di setiap putaran. Beberapa anak kecil yang sedang naik ontel di sekitar kami menatapku dengan wajah kasihan. Seorang bapak-bapak penyewa sepeda bersorak, “Ayo, Neng! Semangat!”

Di putaran keenam, aku tidak menjerit.

Di putaran ketujuh, aku tertawa.

Di putaran kedelapan, aku menyadari tangannya sudah tidak di setang.

Aku menoleh. Ia masih berlari di sampingku, tapi hanya satu tangannya yang masih di sadel. Lalu, saat aku menoleh, tangan itu juga terangkat.

“Kamu lepas!” teriakku.

“Kamu nggak jatuh,” jawabnya.

Aku menatap ke depan. Sepeda bergerak. Lurus. Pelan, oleng sedikit, tapi lurus. Kakiku mengayuh. Angin pagi Kota Tua menerpa wajahku, menerbangkan topi berenda merah muda itu dari kepalaku, dan aku tidak peduli.

Dua puluh tujuh tahun. Aku naik sepeda sendiri untuk pertama kalinya.

Aku tertawa sampai air mataku keluar.


Di sudut lapangan, dekat museum, ada seorang manusia patung.

Laki-laki yang dicat perak dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berpakaian seperti tentara Belanda zaman dulu, lengkap dengan topi dan senapan perak. Berdiri tidak bergerak di atas kotak kayu, dengan kaleng kecil di depannya untuk uang receh. Orang-orang berfoto di sampingnya.

Aku turun dari sepeda dan berjalan mendekat. Membungkuk, menatap wajahnya yang perak dan kaku. Matanya terpejam. Ia benar-benar tidak bergerak. Bahkan napasnya pun tidak terlihat.

“Hebat,” bisikku. “Gimana caranya dia nggak gerak sama sekali?”

Manusia patung itu membuka matanya. Tiba-tiba. Lebar. Menatapku langsung.

Lalu ia berteriak, “DOR!”

Aku menjerit.

Bukan jerit kecil. Jerit yang membuat seluruh Taman Fatahillah menoleh. Aku melompat mundur, tersandung kakiku sendiri, dan tanganku meraih apa pun yang ada di dekatku. Lengannya. Aku mencengkeram lengannya dengan dua tangan, kukuku menancap di kain kemeja flanel hijau, dan bersembunyi di balik bahunya seperti anak kecil yang bersembunyi dari badut.

Manusia patung itu tertawa terbahak-bahak. Orang-orang di sekitar kami tertawa. Seorang anak kecil bertepuk tangan.

Dan laki-laki yang lengannya kucengkeram itu tertawa.

Tawa yang sungguhan. Suara tawa yang belum pernah kudengar darinya. Rendah, pecah, sedikit serak, keluar dari dadanya seperti sesuatu yang sudah lama tertahan dan akhirnya menemukan celah. Bahunya bergetar di bawah pipiku.

Aku mendongak, masih mencengkeram lengannya, dan menatapnya tertawa.

Ia menatapku balik. Matanya basah di ujungnya.

“Maaf,” katanya di antara tawa. “Mukamu...”

“Jangan ketawa!”

“Maaf.”

Ia tidak berhenti tertawa. Aku memukul lengannya. Ia tertawa lebih keras. Manusia patung itu, masih di atas kotaknya, mengacungkan jempol perak ke arah kami.

Aku memasukkan selembar uang dua puluh ribu ke kaleng di depannya. Bukan karena ia pantas mendapatkannya karena membuatku menjerit. Karena ia membuat laki-laki di sampingku tertawa seperti itu.


Kami makan siang di kafe di salah satu gedung tua di sudut lapangan. Jendela tinggi, lantai kayu, kipas angin besar yang berputar pelan di langit-langit. Dari meja kami di dekat jendela, aku bisa melihat Taman Fatahillah dan sepeda-sepeda ontel warna-warni yang bergerak pelan seperti kembang gula.

Aku berkeringat. Pipiku panas karena matahari. Aku meraba-raba tas mencari tisu, dan tidak menemukannya.

“Kamu bawa tisu?” tanyaku.

Ia membuka ranselnya. Mengeluarkan sebungkus tisu. Dan bersamaan dengan bungkus tisu itu, beberapa lembar kertas HVS terlipat jatuh ke meja.

Aku mengambilnya sebelum ia sempat.

PANDUAN KENCAN PERTAMA — v2.0
Edisi Khusus Bang Alfa

Aku membacanya. BAB 1: JANGAN BAHAS SERVER. BAB 2: PUJI SEPATUNYA. BAB 3: KALAU DIA MINTA GANDENG, GANDENG. JANGAN TANYA “KENAPA”.

BAB 5: BAWA TISU. Buat apa? Nggak tahu.

Aku menatapnya dari atas kertas itu.

Ia menatap kipas angin di langit-langit, wajahnya merah dari leher sampai ujung telinga.

Aku tertawa. Aku tertawa begitu keras sampai pelayan kafe menoleh dan seorang ibu di meja sebelah menatapku dengan kening berkerut. Aku tertawa sampai harus memegang perut. Sampai air mataku keluar dan aku harus memakai tisu yang ia bawa karena Bab 5 untuk mengusapnya.

“Bab lima,” kataku di antara tawa, mengangkat tisu itu. “Bayu jenius.”

“Jangan bilang dia.”

“Aku bakal bilang dia.”

“Celine.”

Aku berhenti tertawa.

Ia memanggil namaku. Untuk pertama kalinya. Bukan Mbak. Bukan kamu. Celine.

Ia sendiri sepertinya tidak sadar. Ia masih menatap kipas angin, masih merah, masih berusaha mengambil kembali kertas panduan dari tanganku.

Aku menyerahkannya. Pelan. Tanpa berkata apa-apa. Dan menyimpan suara namaku di mulutnya di tempat yang sama dengan sedikit apa-apa dan sebelumnya sepi, sekarang ada Mbak.


Ia bercerita setelah makan siang.

Aku tidak memintanya. Aku hanya bertanya soal bekas luka di dagunya. Dan ia diam lama, menatap gelas es teh di depannya, lalu mulai bercerita dengan suara datar seperti membacakan cuaca.

Bekas luka itu dari kelas lima SD. Ia jatuh dari sepeda waktu belajar naik sendiri, karena tidak ada yang memegangi sadelnya. Ayahnya sudah pergi waktu ia berumur lima tahun. Pergi, katanya. Tidak meninggal. Pergi. Ibunya bekerja dari pagi sampai malam sebagai penjahit di Purwokerto. Ia belajar naik sepeda sendirian di jalan depan rumah, jatuh, dagunya robek, dan berjalan sendiri ke puskesmas sambil memegangi dagu dengan kaos.

Ia bercerita soal sekolah. Soal tugas kelompok di mana ia selalu dipilih, tapi tidak pernah diajak bicara. Soal ulang tahun teman-teman sekelas yang tidak pernah mengundangnya, tapi selalu memintanya membantu membuat kartu undangan di komputer warnet tempat ia bekerja paruh waktu sejak SMP.

“Mereka milih aku,” katanya, “karena aku nggak berisiko. Nggak ngerepotin. Nggak bakal protes kalau disuruh ngerjain semua. Nggak bakal ngadu ke guru kalau nama mereka ditulis padahal mereka nggak ngerjain apa-apa.”

Ia menyesap es tehnya.

“Dipilih karena nggak berisiko. Itu yang aku tahu soal dipilih.”

Aku tidak bisa bernapas.

Nggak bakal baper, nggak bakal ngadu.

Tulisan tanganku sendiri. Miring. Rapi. Di bawah namanya, di atas kertas yang dicetak Shafira di Ruang Kyoto.

Aman.

Digarisbawahi dua kali.

Aku menatapnya. Laki-laki di seberang meja, dengan kemeja flanel yang kucuci dengan tangan, yang baru saja mengajariku naik sepeda tanpa pernah melepas pegangannya sampai aku siap. Yang belajar naik sepeda sendirian dan jatuh dan berjalan ke puskesmas dengan dagu yang robek.

Yang dipilih karena tidak berisiko. Seumur hidupnya.

Yang kupilih karena tidak berisiko. Tiga minggu lalu.

Aku memaksa kata itu keluar dari kepalaku. Aku mengusirnya, seperti mengusir lalat dari meja. Tidak sekarang. Tidak di sini. Tidak hari ini, ketika ia akhirnya tertawa dan memanggil namaku dan bercerita soal bekas luka yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

Tapi kata itu tidak mau pergi. Kata itu duduk di sudut kepalaku seperti duri kecil di sepatu, yang sekarang bukan lagi duri kecil.

“Celine?”

Ia memanggil namaku lagi. Aku tersentak.

“Kamu pucat.”

“Panas,” kataku. “Mataharinya.”

Ia menatapku sebentar. Lalu menyodorkan es tehnya padaku.

Aku meminumnya. Tanganku gemetar.


Kami berjalan kembali ke mobil pukul tiga sore, menyusuri trotoar di samping Kali Besar. Air sungainya hijau dan tenang. Jembatan-jembatan tua melengkung di atasnya.

Di tengah jalan, aku berhenti.

Ia berhenti juga, satu langkah di depanku, dan menoleh.

Aku mengulurkan tanganku.

“Gandeng aku,” kataku. “Biar orang tahu.”

Ia menatap tanganku. Lalu menatapku.

“Biar orang tahu apa?”

Aku tertawa. Tawa kecil, pecah di tengah. BAB 3: KALAU DIA MINTA GANDENG, GANDENG. JANGAN TANYA “KENAPA”. Aku tahu Abang. Abang pasti tanya kenapa.

Bayu benar-benar jenius.

“Biar orang tahu,” kataku, lebih pelan, “aku nggak lagi sendirian.”

Ia diam. Lama. Angin dari Kali Besar meniup rambutku ke depan wajah.

Lalu ia mengambil tanganku. Tidak ragu kali ini. Tidak pelan dan hati-hati seperti di war room lantai 22, ketika jari-jarinya menekuk seperti seseorang yang baru belajar. Kali ini ia menggenggam tanganku dengan pasti. Hangat. Jari-jarinya menyusup di antara jari-jariku seperti mereka sudah tahu jalannya.

Kami berjalan menyusuri Kali Besar, bergandengan, di antara orang-orang yang tidak mengenal kami, yang tidak tahu soal Trista Tower atau lantai 22 atau lantai 17 atau tiga dewi atau target atau Jepang.

Hanya dua orang biasa, bergandengan di Sabtu sore.

“Alfa,” kataku.

“Hmm.”

“Aku mau bilang sesuatu.”

Ia tidak berhenti berjalan, tapi genggamannya sedikit mengencang.

“Soal...” Aku menarik napas. Kata-kata itu ada di sana. Soal taruhan. Soal Ruang Kyoto. Soal apa yang kutulis di bawah namamu. Soal kenapa aku turun ke lantai 17 dengan laptop yang kurusak sendiri.

“Nanti,” katanya.

Aku menoleh. Ia menatap jalan di depan.

“Selasa,” katanya. “Aku juga mau bilang sesuatu. Selasa, di atap. Kamu bilang, aku bilang.”

Aku menatapnya dari samping. Wajahnya tenang. Tapi genggamannya di tanganku, sedikit, sangat sedikit, terlalu erat. Seperti seseorang yang memegang pegangan tangga di tangga yang terlalu curam.

Selasa. Hari ketiga puluh. Hari terakhir taruhan.

Ia tidak tahu itu. Ia tidak mungkin tahu itu. Itu hanya kebetulan.

Kebetulan yang terlalu tepat, seperti semua kebetulan yang pernah kurancang.

“Oke,” kataku. “Selasa.”


Malam itu, di sofa krem apartemenku, aku membuka chat pribadi dengan Shafira.

Aku: Shaf. Kertas taruhan itu masih kamu simpen?

Balasannya datang dalam dua menit.

Shafira: Masih dong! Di laci meja kantor. Bukti skor 😘

Aku: Buang aja.

Shafira: Kenapa?

Aku menatap pertanyaan itu. Jariku melayang di atas layar.

Karena aku jatuh cinta padanya. Karena aku nggak mau dia pernah lihat apa yang aku tulis. Karena kata itu sekarang nggak mau pergi dari kepalaku.

Aku: Nggak apa-apa. Buang aja.

Shafira: Nanti, habis aku menang 😏 Tiga hari lagi, Cel!

Shafira: Lagian kenapa sih? Kamu takut kalah? HAHAHA

Aku tidak membalas.

Aku menatap pesan Shafira sampai layarnya meredup sendiri.

Lalu aku membuka aplikasi forum. Percakapan dengan Zero. Pesan terakhirku masih di sana, dibaca, tidak dibalas.

Aku mengetik.

Aku: Zero. Hari ini aku naik sepeda untuk pertama kalinya. Dia yang ngajarin. Dia nggak lepas pegangan sampai aku siap.

Aku: Selasa aku mau jujur ke dia. Soal semuanya.

Aku: Doain aku.

Kirim.

Dua centang. Lalu dua centang biru.

Lalu, setelah sangat lama, titik-titik kecil.

mr_zero: Selasa. Aku doain.

Hanya itu.

Aku menatap tiga kata itu dan merasakan sesuatu yang aneh. Bukan lega. Bukan juga cemas. Sesuatu di antaranya, seperti berdiri di tepi atap dan merasakan angin mendorong dari belakang.

Selasa. Zero juga bilang Selasa.

Aku meletakkan ponsel di dada, menatap langit-langit, dan mengulang dua janji itu di kepalaku seperti mantra.

Selasa. Di atap. Kamu bilang, aku bilang.

Selasa. Aku doain.

Tiga hari lagi.

Aku tidak tahu bahwa Selasa akan datang lebih cepat dari yang kubayangkan.

Dan tidak di atap.