← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Fourteen

Outing Karaoke

POV: Celine


Undangannya datang dari Alea, Selasa sore, lewat email resmi HR dengan kop surat dan tanda tangan digital.

Perihal: Gathering Akhir Kuartal — Divisi Brand, Business Development, HR, dan IT Infrastructure
Kamis, pukul 19.00. Lokasi: Nada Karaoke, Kemang, Ruang VVIP 3.
Kehadiran sangat diharapkan. Makanan dan minuman disediakan.

Aku membaca daftar divisinya dua kali.

Brand, BD, HR. Itu masuk akal. Tiga divisi yang memang biasa kumpul di akhir kuartal karena kami bekerja di proyek yang sama sepanjang tahun.

IT Infrastructure tidak pernah ada di daftar itu.

Di grup chat Dewi-Dewi Lembur, aku mengetik satu pertanyaan.

Aku: Le, sejak kapan IT ikut gathering kita?

Alea: Sejak aku yang bikin daftarnya 😇

Alea: Alasannya resmi kok. “Dukungan teknis untuk sistem audio dan proyektor.”

Shafira: Le, ini licik banget. Aku bangga.

Shafira: Tapi dia nggak bakal datang. Empat tahun dia nggak pernah datang ke acara apa pun. Selalu “maintenance server.”

Alea: Kali ini beda. Aku udah minta tolong Bang Togar 😏

Aku tidak tahu apa yang dilakukan Bang Togar. Tapi hari Rabu pagi, ketika aku lewat di lantai 17 untuk mengantar dokumen ke tim network, aku mendengar suaranya dari balik partisi, menggelegar seperti biasa.

“Kau datang, Alfa. Kalau kau nggak datang, aku nyanyi di depan meja kau setiap pagi selama sebulan. Lagu Batak. Tiga bait. Pakai gitar.”

“Bang...”

“Pakai gitar, Alfa.”

Hening sejenak.

“Iya, Bang. Saya datang.”


Ruang VVIP 3 di Nada Karaoke adalah ruangan luas dengan sofa kulit hitam berbentuk huruf U, layar raksasa di dinding, lampu disko yang berputar pelan di langit-langit, dan meja panjang penuh piring kentang goreng, ayam wings, dan teko-teko teh manis. Empat divisi, dua puluh tiga orang. Suara bising dan tawa dan musik intro lagu pop dari pengeras suara yang terlalu keras.

Ia datang pukul tujuh lewat lima belas.

Kemeja flanel kotak-kotak biru tua di atas kaos hitam. Rambut yang sudah mulai kukenali polanya: disisir dengan jari, menyerah di tengah jalan. Tidak ada headphone. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya tanpa headphone di leher, dan ia terlihat seperti seseorang yang lupa membawa payung di hari hujan.

Ia berdiri di ambang pintu, menatap ruangan yang penuh orang, dan aku bisa melihatnya menghitung pintu keluar.

Lalu Alea bergerak.

Ia sudah duduk di bagian tengah sofa, tepat di lekukan huruf U, tempat dengan pandangan terbaik ke layar. Ia menepuk-nepuk sofa kosong di sampingnya dengan dua tangan, seperti memanggil kucing.

“Kak Alfa! Sini! Aku udah jagain tempat!”

Ia berjalan ke sana. Duduk. Alea langsung menggandeng lengannya, menyandarkan sebagian berat tubuhnya ke bahunya. Hoodie abu-abu itu, seperti biasa, ada di badan Alea, lengannya masih tergulung tiga lipatan.

Lalu Shafira bergerak.

Ia tidak menepuk sofa. Shafira tidak pernah menepuk apa pun. Ia hanya berjalan ke sisi lain laki-laki itu, menyelipkan diri ke ruang sempit antara dia dan staf IT lain di sebelahnya, lalu duduk. Staf IT itu, Bayu kalau aku tidak salah, terdorong sampai hampir jatuh dari ujung sofa.

Shafira merangkul bahu laki-laki itu dengan satu tangan. Santai. Seperti merangkul teman lama.

“Akhirnya keluar juga dari gua,” katanya.

“Bang Togar ngancam pakai gitar, Mbak.”

Shafira tertawa. Alea tertawa. Laki-laki itu duduk tegak di antara mereka berdua, satu lengan digandeng, satu bahu dirangkul, wajahnya datar seperti orang yang sedang menunggu antrean di kantor kelurahan.

Aku duduk di seberang mereka. Di sisi lain huruf U, dekat pintu. Tempat dengan pandangan terburuk ke layar, tapi pandangan terbaik ke satu titik tertentu di tengah sofa.

Aku tidak bergerak dari sana sepanjang malam.


Bang Togar menyanyi lagu dangdut koplo tiga kali.

Yang pertama di menit kelima belas, dengan semangat yang membuat seluruh ruangan bertepuk tangan. Yang kedua di menit keempat puluh, dengan goyangan yang membuat Bayu bangkit dan menjadi penari latar tanpa diminta. Yang ketiga di menit ketujuh puluh, setelah ia memesan teko teh manis keempat, di atas meja panjang di antara piring-piring ayam wings, dengan mikrofon di satu tangan dan sendok sayur di tangan lain sebagai mikrofon cadangan.

“BANG TOGAR! TURUN, BANG!” teriak Bayu dari lantai, masih bergoyang.

“AKU TURUN KALAU LAGUNYA HABIS!”

Lagunya habis. Bang Togar tidak turun. Ia memilih lagu keempat.

Seluruh ruangan meledak tertawa. Aku juga tertawa. Tapi aku tidak benar-benar menonton Bang Togar.

Aku menonton laki-laki di tengah sofa.

Ia tidak tertawa keras seperti yang lain. Tapi ada sesuatu di wajahnya ketika Bang Togar menyanyi, sesuatu yang lembut dan sedikit lelah, seperti anak yang menonton ayahnya mempermalukan diri di acara sekolah. Malu, tapi juga sayang. Ia bertepuk tangan pelan setiap kali lagu Bang Togar selesai. Ia mengambilkan tisu ketika Bayu jatuh terduduk karena kehabisan napas.

Alea masih menggandeng lengannya. Shafira masih merangkul bahunya, sesekali berbisik di telinganya, dan setiap kali Shafira berbisik, aku merasakan sesuatu yang tajam di bawah tulang rusuk.

Aku meminum teh manisku. Terlalu manis.

Kalau taruhannya selesai besok, kamu masih mau naik ke atap itu?

Aku menjawab iya. Aku menjawabnya hari Minggu malam, jam dua belas kurang sepuluh, di sofa apartemenku yang terlalu bagus untuk diduduki. Aku tidak tahu kenapa aku menjawab begitu, dan aku sudah memikirkannya empat hari, dan aku masih tidak tahu.

Yang kutahu, malam ini, melihat Alea menggandeng lengannya dan Shafira berbisik di telinganya, aku ingin berjalan ke sana dan menarik mereka berdua pergi.

Itu bukan perasaan yang seharusnya dimiliki seseorang yang sedang bertaruh.


“Mas IT nyanyi dong!”

Suara itu datang dari ujung sofa. Rendi, salah satu anak tim Brand, timku sendiri. Laki-laki dengan rambut klimis dan kemeja yang terlalu ketat. Ia memegang remote karaoke, menyeringai.

“Atau Mas IT cuma bisa nyanyi lagu error 404?”

Beberapa orang tertawa. Tidak semua. Tapi cukup.

“Atau lagu Blue Screen of Death?” tambah temannya, Doni. Tawa lagi. Lebih keras.

Aku menegakkan punggung. Mulutku sudah terbuka untuk berbicara, untuk menegur timku sendiri dengan nada yang biasa kupakai di rapat, nada yang membuat mereka langsung diam.

Tapi sebelum aku sempat bicara, suara lain mendahului.

“Dia sudah aku daftarkan!”

Bang Togar, masih berdiri di atas meja, mengacungkan remote karaoke kedua yang entah dari mana ia ambil. Ia menekan beberapa tombol. Layar raksasa di dinding berkedip. Judul lagu muncul di antrean paling atas.

Di sampingnya, nama penyanyi: ALFA (DIPAKSA).

Seluruh ruangan bersorak.

Laki-laki itu menatap layar. Lalu menatap Bang Togar. Lalu menatap remote di tangan Bang Togar seperti menatap senjata yang diarahkan padanya.

“Bang.”

“Gitar, Alfa. Tiga bait. Sebulan.”

Ia menghembuskan napas panjang. Melepaskan diri pelan-pelan dari gandengan Alea dan rangkulan Shafira. Berdiri. Mengambil mikrofon dari tangan Bayu yang menyodorkannya dengan dua tangan seperti menyerahkan pusaka.

Ia berdiri di depan layar. Tidak di atas meja. Tidak di tengah ruangan. Di sudut, dekat dinding, seolah ingin sedekat mungkin dengan tempat untuk bersembunyi.

Musik dimulai.

Bukan lagu pop. Bukan dangdut. Intro piano yang pelan, lalu gitar akustik. Aku mengenali lagunya dalam tiga detik pertama. Lagu lama berbahasa Indonesia, lagu yang biasa diputar radio di Minggu pagi waktu aku masih kecil. Lagu tentang seseorang yang menunggu orang lain pulang. Lagu yang ibuku suka nyanyikan sambil menyiram tanaman.

Rendi mengerang. “Lagu jadul, Mas? Serius?”

Laki-laki itu tidak menjawab. Ia mengangkat mikrofon. Memejamkan mata.

Lalu ia mulai bernyanyi.


Aku tidak tahu apa yang kuharapkan.

Mungkin suara datar, seperti caranya bicara. Mungkin suara sumbang, seperti kebanyakan laki-laki yang dipaksa bernyanyi di karaoke kantor. Mungkin sesuatu yang membuat Rendi dan Doni tertawa lagi.

Suaranya rendah. Hangat. Sedikit serak di nada-nada tinggi, tapi justru di sana suaranya paling jujur. Tidak ada gaya-gayaan. Tidak ada cengkok yang dibuat-buat. Hanya suara yang mengikuti melodi dengan hati-hati, seperti orang yang berjalan di jalan setapak yang ia kenal sejak kecil.

Ruangan itu diam.

Bang Togar, masih di atas meja, menurunkan sendok sayurnya pelan-pelan. Bayu, di lantai, berhenti bergoyang. Rendi menutup mulutnya. Alea menatap dengan mata membesar dan bibir sedikit terbuka. Shafira, di sebelah Alea, tidak bergerak sama sekali. Tangannya yang tadi merangkul bahu laki-laki itu sekarang terkepal di pangkuannya.

Ia menyanyikan lagu itu sampai habis. Matanya terpejam hampir sepanjang lagu. Hanya di bait terakhir ia membukanya, menatap layar, membaca lirik yang aku yakin ia sudah hafal.

Musik berhenti.

Satu detik hening. Dua detik.

Lalu Bang Togar melompat turun dari meja, hampir terpeleset di piring kentang goreng, dan bertepuk tangan begitu keras sampai lampu disko seolah ikut bergetar. Seluruh ruangan mengikutinya. Tepuk tangan, sorakan, siulan. Bayu berteriak, “BANG! ABANG BISA NYANYI! KENAPA NGGAK PERNAH BILANG!”

Rendi dan Doni bertepuk tangan juga. Pelan. Dengan wajah orang yang baru saja kalah taruhan.

Laki-laki itu meletakkan mikrofon di meja, mengangguk kecil ke arah ruangan seperti menerima tiket yang sudah diselesaikan, lalu berjalan kembali ke sofa.

Lalu sesuatu terjadi.

Ia tidak berjalan ke tengah sofa, ke tempat Alea dan Shafira sudah bergeser memberi ruang, menepuk-nepuk sofa di antara mereka.

Ia berjalan ke sisi lain huruf U.

Ke sisiku.

Dan duduk di sebelahku.

Aku tidak bergerak. Aku tidak bernapas. Aku merasakan sofa kulit melesak sedikit di sampingku, merasakan lututnya menyentuh lututku karena sofa di sisi ini lebih sempit, merasakan kehangatan bahunya yang hampir menyentuh bahuku.

Ia tidak menatapku. Ia menatap layar, di mana Bang Togar sudah memilih lagu dangdut kelima. Ekspresinya datar, tenang, sama seperti biasa.

Aku tidak yakin ia sadar di mana ia duduk.

Tapi di tengah sofa, Alea menatap kami dengan senyum yang perlahan memudar. Dan Shafira menatap kami dengan mata menyipit, kening sedikit berkerut, seperti orang yang mendengar nada yang tidak pas di tengah lagu yang ia kenal.

Aku tidak menarik lututku.


“Suaramu,” kataku pelan. Di bawah musik dangdut yang keras, hanya ia yang bisa mendengar. “Kamu sembunyiin di mana selama ini?”

Ia diam sebentar. Lalu menoleh sedikit. Wajahnya diterangi cahaya biru dari layar, lampu disko berkelip di matanya.

“Di headphone, Mbak,” katanya.

Aku tertawa. Tawa kecil, pelan, yang hanya ia yang bisa mendengar.

Lalu tawa itu berhenti, karena aku sadar apa yang ia maksud. Headphone tanpa musik. Supaya orang nggak ngajak ngobrol. Alea yang menceritakannya di grup chat, minggu pertama, sebagai sesuatu yang lucu. Ia menyembunyikan suaranya di sana. Ia menyembunyikan dirinya di sana. Empat tahun.

“Lagunya,” kataku. “Itu lagu kesukaan ibuku.”

“Ibu saya juga.”

“Ibu kamu masih suka nyanyiin?”

Ia diam lebih lama kali ini.

“Ibu saya sudah meninggal, Mbak. Waktu saya SMA.”

Aku menatapnya. Ia tetap menatap layar. Suaranya tidak bergetar. Tidak ada yang berubah di wajahnya. Ia mengatakannya seperti membacakan fakta. Seperti membacakan status server.

“Maaf,” kataku.

“Nggak apa-apa, Mbak.”

Aku menatapnya. Ia merasakan tatapanku dan akhirnya menoleh.

“Sedikit apa-apa,” ralatnya pelan.

Sesuatu di dadaku runtuh pelan-pelan, seperti pasir yang tersapu ombak.

Aku tidak berkata apa-apa lagi. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya membiarkan lututku tetap di sana, menyentuh lututnya, sampai lagu dangdut kelima Bang Togar selesai, dan keenam, dan Alea datang membawa remote karaoke dan memohon, “Kak Alfa, duet sama aku, plisss,” dan ia menggeleng dengan sopan, “Satu lagu cukup, Mbak. Suara saya cuma punya satu stok.”

Alea cemberut. Lalu tertawa. Lalu menatapku sekilas, dan di matanya ada pertanyaan yang tidak ia ucapkan.

Aku pura-pura tidak melihatnya.


Kami keluar dari Nada Karaoke pukul sebelas. Gerimis tipis turun di Kemang, membuat aspal mengilap di bawah lampu jalan.

Laki-laki itu pamit lebih dulu, naik motor, menghilang di tikungan dengan jas hujan plastik transparan yang dipakai asal-asalan. Bang Togar pulang dengan taksi, masih bersenandung. Bayu pulang dengan ojek, masih bergoyang di jok belakang.

Aku, Shafira, dan Alea pulang dengan mobil Shafira. Mini Cooper merah. Alea duduk di belakang, langsung tertidur dengan kepala menempel di jendela, hoodie abu-abu menutupi wajahnya seperti selimut.

Di lampu merah perempatan Mampang, Shafira berbicara tanpa menoleh.

“Dia duduk di sebelah kamu, Cel.”

“Kebetulan.”

“Kamu bilang semua hal kebetulan.” Shafira mengetuk setir dengan kukunya yang merah. “Laptop kebetulan rusak. Lewat lantai tiga puluh dua kebetulan. Sekarang duduk kebetulan.”

Aku tidak menjawab.

“Kamu kalah minggu lalu,” kata Shafira. “Poin satu. Kamu nggak update apa-apa di grup. Tapi tadi dia jalan lurus ke kamu kayak orang yang tahu jalan pulang.”

Lampu berubah hijau. Shafira menginjak gas. Ia masih tidak menoleh.

“Kamu nyembunyiin sesuatu dari kami, Cel?”

Aku menatap jendela. Gerimis di kaca. Lampu-lampu kota yang buram.

“Nggak,” kataku.

Shafira diam lama. Lalu ia tertawa. Tawa yang biasa, keras dan riang, tapi entah kenapa tidak sampai ke matanya.

“Ya udah. Bagus. Berarti kita masih seri.” Ia menyalakan radio. “Minggu depan aku menang.”

Aku tidak menjawab.

Di rumah, di sofa krem yang terlalu bagus untuk diduduki, aku membuka aplikasi forum dan mengetik pesan dengan jari yang masih sedikit gemetar entah karena apa.

Aku: Zero.

Aku: Dia nyanyi.

Balasannya datang dalam dua menit.

mr_zero: Bagus nggak?

Aku menatap pertanyaan itu. Lalu menatap langit-langit. Lalu kembali menatap layar.

Aku: Dia nyanyi lagu kesukaan ibuku. Ternyata lagu kesukaan ibunya juga. Ibunya udah meninggal. Dia ceritain itu kayak baca laporan cuaca.

Aku: Terus dia duduk di sebelah aku. Bukan di sebelah sahabat-sahabatku. Di sebelah aku.

Aku: Zero, aku nggak tahu kenapa aku pengin nangis.

Titik-titik kecil muncul. Lama. Menghilang. Muncul lagi.

mr_zero: Mungkin karena kamu dengar sesuatu yang nggak pernah dia nyanyiin di depan orang lain.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Aku tidak tahu bagaimana Zero bisa tahu itu. Zero bahkan tidak ada di sana. Zero hanya nama di layar, orang tanpa wajah di kota yang tidak kuketahui.

Tapi ia benar. Seperti biasa.

Aku memeluk bantal sofa, menutup mata, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, membiarkan diriku menangis tanpa tahu persis kenapa.