Chapter Seven

Dasi Pinjaman

POV: Shafira


Alamat yang ia kirim ternyata apartemen kecil di Kalibata. Bukan kos, seperti tebakan Alea. Bukan rumah orang tua, seperti tebakan Celine.

Tower C, lantai sembilan. Gedungnya bersih tapi tua, dengan cat dinding yang mulai pudar dan satpam yang sedang tertidur sambil duduk di pos. Aku memarkir Mini Cooper merahku di depan lobi pukul tujuh kurang tiga menit dan mengirim pesan.

Aku: Udah di bawah.

Balasannya datang dalam sepuluh detik.

Alfa: Turun.

Satu kata. Aku memutar mata. Panduan apa pun yang dibaca laki-laki ini, jelas tidak berhasil.

Lalu pintu lobi terbuka, dan ia keluar.

Kemeja putih. Lengan panjang, digulung sampai siku. Celana bahan hitam. Sepatu kulit cokelat yang terlihat jarang dipakai, tapi disemir. Rambutnya disisir ke belakang, kali ini benar-benar disisir, bukan hanya diusap jari.

Aku menurunkan kaca jendela dan, untuk sesaat yang sangat singkat, lupa mau bilang apa.

Bukan karena ia tampan. Ya, ia memang lebih tampan dari yang kukira. Rahangnya jelas, bahunya lebih lebar dari kelihatannya di balik hoodie itu, dan tanpa headphone, wajahnya terlihat lebih terbuka. Tapi bukan itu.

Kemejanya kebesaran. Sedikit. Hanya di bagian bahu. Seperti kemeja yang dibeli untuk satu acara bertahun-tahun lalu, lalu digantung di lemari tanpa pernah dipakai lagi, sementara badan pemiliknya pelan-pelan berubah.

Ia benar-benar membeli kemeja. Atau menggali kemeja. Karena aku yang menyuruhnya.

“Kamu punya kemeja,” kataku.

“Satu,” jawabnya, membuka pintu penumpang. “Untuk wisuda.”

Ia masuk ke mobil, dan aku menyadari kesalahan pertamaku malam itu: Mini Cooper bukan mobil untuk laki-laki dengan kaki sepanjang itu. Ia melipat kakinya dengan hati-hati, lututnya hampir menyentuh dasbor, kepalanya sedikit menunduk supaya tidak menyentuh atap.

“Kamu bisa mundurin kursinya,” kataku.

“Sudah mentok, Mbak.”

Aku menatap kursinya. Memang sudah mentok. Aku menggigit bibir supaya tidak tertawa.

“Jangan ketawa, Mbak.”

“Aku nggak ketawa.”

“Bahunya Mbak gemetar.”

Aku tertawa. Keras. Sampai satpam di pos terbangun dan menatap kami dengan bingung.


Aku memilih Altitude, restoran di lantai empat puluh enam sebuah hotel di SCBD. Restoran yang biasa kupakai untuk menjamu klien yang perlu dibuat terkesan. Lampu temaram, dinding kaca dari lantai ke langit-langit, pemandangan Jakarta yang berkilau seperti seseorang menumpahkan perhiasan di atas karpet hitam.

Aku tahu persis apa yang akan terjadi ketika laki-laki biasa masuk ke tempat seperti ini. Mereka akan terlihat kecil. Tidak nyaman. Mereka akan melirik harga di menu dan menelan ludah. Mereka akan bertanya garpu mana yang harus dipakai lebih dulu. Dan aku akan tersenyum, membimbing mereka, dan mereka akan merasa berutang padaku.

Itu strategi. Bukan kejahatan.

Di depan lift restoran, aku berhenti dan menatapnya dari atas ke bawah.

“Ada yang kurang,” kataku.

“Apa, Mbak?”

Aku membuka tas dan mengeluarkan sesuatu yang sudah kusiapkan sejak sore: dasi sutra warna biru tua, dengan motif garis tipis. Dasi laki-laki. Aku tidak akan menjelaskan dari mana aku mendapatkannya. Itu cerita lama dari kampus yang sudah lama kukubur, dan dasi itu satu-satunya benda dari masa itu yang tidak kubuang, karena warnanya terlalu bagus untuk dibuang.

“Kemejamu terlalu polos,” kataku. “Restoran ini nggak wajib dasi, tapi kamu bakal kelihatan lebih... meyakinkan.”

Ia menatap dasi itu. Lalu menatapku. “Saya nggak bisa pakai dasi, Mbak.”

“Aku tahu.” Aku tersenyum. “Makanya aku yang pakaikan.”

Aku melangkah mendekat. Lebih dekat dari yang diperlukan. Aku mengangkat kerah kemejanya, melingkarkan dasi itu di lehernya, dan mulai mengikatnya. Simpul Windsor. Aku belajar mengikat dasi waktu SMA, untuk ayahku, dan tanganku masih ingat semua gerakannya.

Ia tidak bergerak. Napasnya teratur. Aku bisa merasakan denyut nadi di lehernya di bawah jariku, dan aku menghitungnya diam-diam, seperti kebiasaanku menghitung detak jantung klien di ruang negosiasi. Kalau detaknya naik, mereka gugup. Kalau mereka gugup, aku menang.

Detaknya stabil. Menyebalkan sekali.

Aku menarik simpul itu ke atas, merapikannya di bawah kerah, lalu mencondongkan tubuh sampai bibirku hampir menyentuh telinganya. Parfumku, jeruk bakar yang kubeli di Paris, pasti tercium jelas.

“Kamu tahu nggak,” bisikku, pelan sekali, “cowok pendiam itu tipe aku banget.”

Aku mundur sedikit untuk melihat wajahnya. Ini momen favoritku. Momen di mana laki-laki kehilangan kendali atas ekspresinya. Mata yang membesar. Telinga yang memerah, seperti kata Alea.

Ia menatapku. Matanya cokelat gelap dan tenang.

“Tipe Mbak berubah tiap tanggal, ya?” katanya.

Aku membuka mulut.

Lalu menutupnya lagi.

Aku membukanya sekali lagi, karena aku selalu punya balasan, tapi yang keluar dari mulutku hanya suara kecil seperti “hah” yang terpotong di tengah.

Pintu lift terbuka. Ia masuk lebih dulu, menahan pintu dengan tangannya, dan menunggu.

“Mbak?”

Aku masuk ke lift dengan wajah yang, aku yakin sekali, terlihat seperti orang yang baru saja ditampar dengan sangat sopan.


Makan malam itu tidak berjalan sesuai rencana.

Ia tidak melirik harga di menu. Ia membaca menu dari atas ke bawah, satu kali, dengan kecepatan orang yang membaca dokumentasi teknis, lalu menutupnya dan memesan hal paling sederhana yang ada: sup labu dan ikan kakap panggang.

“Kamu nggak mau steak? Steak di sini terkenal.”

“Saya nggak suka daging yang masih ada darahnya, Mbak.”

“Wagyu-nya bisa dimasak well done.”

Ia menatap pelayan yang berdiri di samping meja, seorang laki-laki muda dengan rompi hitam. Pelayan itu meringis dengan wajah orang yang baru saja mendengar seseorang ingin menghina sapi seharga dua juta per porsi.

“Ikan saja, Mbak,” kata Alfa. “Kasihan masnya.”

Pelayan itu menatap Alfa dengan rasa terima kasih yang hampir terharu.

Aku menyerah dan memesan wine.

Lalu, karena aku tidak suka kalah dua kali dalam satu malam, aku melancarkan serangan berikutnya. Pertanyaan-pertanyaan yang biasanya membuat laki-laki membuka diri. Kerja di IT sudah berapa lama. Kenapa memilih IT. Hobi apa. Pernah ke mana saja.

Ia menjawab semuanya. Singkat, jujur, tanpa ada yang ditambah-tambahkan. Empat tahun di Trista. Memilih IT karena komputer tidak pernah berbohong padanya. Hobinya, katanya, “baca kode orang lain”. Belum pernah ke luar negeri.

“Belum pernah sama sekali?” Aku menatapnya. Teringat bocoran Alea kemarin sore. Lanjut karier di luar negeri. “Kamu nggak pengin?”

Ia diam sebentar. Menatap jendela, ke lampu-lampu kota di bawah.

“Pengin,” katanya. “Belum ada alasan.”

Aku menyesap wine-ku dan tidak bertanya lebih jauh.

Yang aneh adalah, di sela-sela jawaban singkatnya, ia juga bertanya. Bukan pertanyaan basa-basi. Pertanyaan yang spesifik, seperti ia benar-benar memperhatikan apa yang kukatakan. Waktu aku bercerita soal klien yang baru kutangani, ia bertanya kenapa klien itu memilih Trista dan bukan kompetitor. Waktu aku menyebut nama kampusku, ia bertanya jurusan apa. Waktu aku menyebut ayahku, satu kalimat saja, sambil lalu, ia bertanya apakah ayahku yang mengajariku mengikat dasi.

Aku tersedak wine.

“Kok tahu?”

“Simpulnya Windsor. Bukan simpul yang biasa dipelajari perempuan. Biasanya diajarin orang tua, atau dipelajari buat orang tua.”

Aku meletakkan gelas. Lama.

“Ayahku stroke waktu aku SMA,” kataku. Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Aku tidak pernah mengatakannya pada siapa pun di kantor, bahkan Celine dan Alea hanya tahu garis besarnya. “Tangan kanannya nggak bisa gerak. Tiap pagi aku yang ikatin dasinya sebelum dia berangkat kerja. Dua tahun. Sampai dia pensiun.”

Ia mengangguk pelan. Tidak berkata maaf. Tidak berkata kamu hebat. Tidak mengulurkan tangan untuk menyentuh tanganku dengan simpati palsu. Ia hanya mengangguk, seolah ia mencatat sesuatu yang penting dan menyimpannya di tempat yang aman.

“Simpulnya rapi,” katanya. “Beliau pasti senang.”

Aku menatap piring pastaku yang sudah dingin.

Malam ini seharusnya tentang aku membuatnya terkesan. Membuatnya gugup. Membuatnya merasa berutang. Entah sejak kapan, arah percakapan ini berbelok, dan aku tidak sadar kapan aku melepaskan kemudi.


Kami turun dari restoran pukul sembilan lewat.

Di lobi hotel, aku melangkah dan meringis. Sepatu baruku. Stiletto hitam yang kubeli khusus untuk malam ini, karena aku selalu membeli sepatu baru untuk pertempuran penting. Sepatu yang belum dipakai sampai empuk. Sejak di restoran tadi, tumit kananku terasa panas dan perih, dan aku tahu tanpa melihat bahwa kulitnya pasti sudah lecet.

Aku terus berjalan. Senyum tetap di wajah. Langkah tetap tegas. Aku sudah berjalan dengan sepatu yang lebih menyakitkan di acara yang lebih penting.

“Mbak,” katanya. “Tunggu sebentar.”

Ia berbelok ke minimarket di lantai dasar hotel. Aku berdiri di lobi, bingung, sampai ia keluar dua menit kemudian membawa kantong plastik kecil. Ia mengulurkannya padaku.

Plester luka. Satu kotak. Yang ukuran besar, untuk lecet.

Aku menatap kotak plester itu, lalu menatapnya.

“Kamu tahu dari mana?”

“Mbak jalannya beda sejak dari meja. Langkah kanan lebih pendek.”

“Aku nggak pincang.”

“Iya, Mbak. Nggak pincang. Cuma beda.” Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Pakai sebelum nyetir. Nanti nginjak koplingnya sakit.”

“Mobilku matic.”

“Nginjak remnya sakit.”

Aku duduk di sofa lobi hotel yang mahal, melepas stiletto seharga sepertiga gajiku, dan memasang plester seharga lima belas ribu di tumit kananku yang memang sudah lecet berdarah. Laki-laki itu berdiri di samping sofa, memunggungiku, menatap air mancur di tengah lobi seperti sedang memberiku privasi.

Seumur hidupku, laki-laki selalu memperhatikan kakiku. Panjangnya. Bentuknya. Sepatu apa yang kupakai.

Tidak ada satu pun yang pernah memperhatikan kalau kakiku sakit.


Aku mengantarnya pulang ke Kalibata. Di depan lobi apartemennya, ia melepas dasi itu dengan hati-hati, menggulungnya rapi, dan mengulurkannya padaku.

“Terima kasih dasinya, Mbak.”

“Simpan aja.”

“Ini punya Mbak.”

“Ini bukan punyaku.” Aku menatap jalan di depan, bukan menatapnya. “Ini punya seseorang yang nggak perlu aku ingat lagi. Lebih baik dipakai orang yang... nggak tahu ceritanya.”

Ia diam sebentar. Lalu memasukkan dasi itu ke saku kemejanya. Tidak bertanya.

Kenapa ia tidak pernah bertanya hal-hal yang seharusnya ditanyakan?

“Makasih makan malamnya, Mbak. Ikannya enak.”

“Kamu cuma makan ikan. Aku bayar hampir tiga juta.”

“Supnya juga enak.”

Aku memukul lengannya pelan. Ia tidak mengaduh. Lengannya keras seperti pintu.

Ia membuka pintu mobil, melipat kakinya keluar dari Mini Cooper dengan hati-hati, dan berdiri. Lalu ia membungkuk sedikit, menatapku lewat jendela yang terbuka.

“Nyetirnya pelan-pelan, Mbak. Plesternya jangan dicopot sampai besok.”

Lalu ia berjalan masuk ke lobi, melewati satpam yang kali ini terjaga, dan menghilang di balik pintu lift.

Aku duduk di mobil dengan mesin menyala selama lima menit penuh.

Lalu aku membuka ponsel. Grup chat Dewi-Dewi Lembur sudah penuh dengan pertanyaan.

Alea: KAK GIMANA??? 😭😭😭

Alea: Dia pakai kemeja nggak??

Celine: Shaf?

Alea: KAK SHAFIRA KAMU MASIH HIDUP KAN

Aku mengetik.

Aku: Dia pakai kemeja. Kemeja wisuda. Kebesaran.

Alea: HAHAHAHAHA

Alea: Terus terus??? Kakak menang ronde ini kan??

Aku menatap pertanyaan itu.

Tumit kananku berdenyut di balik plester. Aroma parfumku masih tertinggal di mobil, bercampur dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang samar dan bersih seperti sabun murahan. Aroma kemeja wisuda yang kebesaran.

Aku tidak tahu siapa yang menang ronde ini. Yang kutahu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ada laki-laki yang membuatku kehabisan kata. Dan bukan dengan rayuan. Dengan satu kalimat datar yang tepat sasaran, dan satu kotak plester seharga lima belas ribu.

Aku: Seri.

Alea: SERI??? Kakak SERI sama cowok cupu???

Celine: ...dia ngomong apa?

Aku: Nggak penting. Minggu depan aku menang.

Aku melempar ponsel ke kursi penumpang. Kursi yang masih mundur sampai mentok.

Aku menatap kursi itu lama. Lalu menyalakan musik keras-keras dan menyetir pulang.

Aku kesal. Aku kesal sekali. Aku kesal karena kalah satu ronde, dan aku kesal karena aku tidak tahu persis bagaimana aku kalah.

Dan di bawah rasa kesal itu, ada sesuatu yang lebih buruk.

Aku penasaran.

Aku tidak pernah penasaran pada laki-laki. Laki-laki yang penasaran padaku.

Aku membuka jendela dan membiarkan angin malam Jakarta masuk, berharap angin itu bisa membawa pergi perasaan menyebalkan itu.

Tidak berhasil.