← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Thirty Seven

Meja Kosong

POV: Celine


Jumat, hari keempat puluh lima, aku datang ke lantai 17 pukul enam lewat lima puluh.

Aku tahu ia selalu datang pukul enam lewat lima puluh. Bayu yang memberitahuku, dua minggu lalu, ketika semuanya masih baik-baik saja. Bang Alfa itu kayak jam atom, Mbak. Enam lima puluh. Nggak pernah telat, nggak pernah kecepetan.

Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan. Aku sudah menulis dan menghapus tiga halaman di catatan ponselku semalam. Aku tidak punya kalimat lagi. Aku hanya tahu aku harus ada di sana. Satu kali. Sebelum ia pergi.

Pintu lift terbuka di lantai 17.

Lampu sudah menyala. Lampu-lampu di langit-langit, bukan hanya lampu darurat. Seseorang sudah datang lebih dulu.

Mejanya di pojok, dekat rak server.

Kosong.


Bukan kosong seperti meja yang ditinggal sebentar untuk ke pantry. Kosong seperti meja yang tidak akan diduduki lagi.

Keyboard sudah tidak ada. Mouse sudah tidak ada. Dua monitor tambahan yang selalu menampilkan dashboard hijau sudah dicabut kabelnya dan disusun rapi di samping meja, dibungkus plastik gelembung. Gelas kopi yang selalu terbalik di atas tisu sudah tidak ada. Laci-laci mejanya terbuka sedikit, dan aku bisa melihat dari tempatku berdiri bahwa isinya sudah kosong.

Hanya satu hal yang tersisa.

Monitor utamanya. Masih terpasang di tempatnya, karena itu milik kantor. Layarnya mati. Hitam.

Dan di sudut kiri atas bingkainya, stiker kucing oranye gemuk dengan pipi merah muda, memegang papan kecil bertuliskan SEMANGAT KERJA!

Ia tidak mencabutnya.

Aku berjalan ke meja itu. Kakiku terasa seperti bukan kakiku.

“Mbak.”

Aku menoleh. Bayu duduk di mejanya, di seberang. Ia memakai hoodie biru muda polos. Matanya merah. Di depannya, papan tulis kecil yang biasanya penuh tulisan, sekarang kosong.

“Dia udah pergi, Mbak,” kata Bayu pelan. “Jam lima. Aku datang jam lima lewat lima belas, dia udah selesai beresin semuanya. Kartu aksesnya udah dia kasih ke Pak Udin. Laptopnya udah dia taruh di meja Bang Togar, sama dokumen serah terima.”

“Jam lima?”

“Dia nggak mau ada yang lihat dia pergi, Mbak.” Bayu menunduk. “Dia bilang ke aku, jangan bilang siapa-siapa aku datang pagi. Aku janji. Tapi Mbak udah di sini, jadi...”

Bayu tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Dia bilang sesuatu?” tanyaku. Suaraku keluar sangat kecil. “Sebelum pergi?”

Bayu menatapku lama.

“Dia bilang makasih ke aku,” katanya. “Buat panduannya. Dia bilang bab lima paling berguna.” Bayu tertawa. Tawa yang pecah di tengah. “Bab lima itu soal bawa tisu, Mbak. Bab paling nggak berguna.”

Aku menutup mulut dengan dua tangan.

“Terus dia bilang satu hal lagi,” kata Bayu. “Waktu dia udah di depan lift. Dia noleh ke mejanya, ke stiker kucing itu, terus dia bilang, biarin aja di situ, Bay.”


Pukul delapan, lantai 17 penuh.

Bukan hanya tim IT. Orang-orang dari lantai lain. Tim network berdiri di dekat rak server dengan wajah orang yang menghadiri pemakaman. Gilang memegang termos teh manis yang tidak dibuka. Bu Ratna dari lobi, yang tidak pernah naik ke lantai 17, berdiri di dekat lift dengan tisu di tangan.

Bang Togar duduk di kursinya. Di depannya, dokumen serah terima. Empat puluh halaman, dijilid dengan penjepit hitam. Ia sudah membacanya sejak jam tujuh. Bayu bilang Bang Togar membacanya halaman per halaman, pelan, seperti membaca surat wasiat.

Ia sampai di halaman terakhir pukul delapan lewat sepuluh.

Aku melihatnya berhenti. Menatap halaman itu lama. Lalu Bang Togar Simanjuntak, Head of IT Infrastructure, laki-laki yang suaranya bisa membuat kaca jendela bergetar, meletakkan dokumen itu di meja dan menutup wajahnya dengan dua tangan.

Bahunya bergetar.

Tidak ada yang mendekatinya. Tidak ada yang tahu harus berbuat apa. Lantai 17 diam. Hanya dengung server dan suara Bang Togar yang menangis tanpa suara.

Bayu berjalan ke meja Bang Togar. Menatap halaman terakhir dokumen itu. Lalu menatapku.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya memutar dokumen itu ke arahku.

Aku berjalan ke sana. Menatap halaman itu.

Halaman empat puluh. Halaman terakhir dokumen serah terima. Biasanya ringkasan. Status akhir semua sistem.

Hanya ada satu kalimat di tengah halaman.

Semua sistem aman.

Kata terakhir itu tidak digarisbawahi.

Tapi aku melihatnya digarisbawahi dua kali.


Aku tidak ingat berapa lama aku berdiri di sana.

Yang kuingat: Bang Togar yang akhirnya menurunkan tangannya dan menatapku dengan mata merah. Bu Ratna yang menangis di dekat lift. Tim network yang satu per satu kembali ke meja mereka tanpa berkata apa-apa.

Dan Alea.

Alea keluar dari lift pukul delapan lewat dua puluh. Ia memakai blus putih biasa, bukan hoodie. Hoodie abu-abu itu ada di tangannya. Dilipat rapi. Lengannya masih tergulung tiga lipatan. Ia tidak membuka lipatan itu selama tiga minggu. Aku tahu, karena ia bilang begitu di telepon, malam ketika kami bicara soal sup ayam. Aku takut kalau aku buka, aku nggak bisa lipat lagi serapi itu.

Alea berjalan melewati semua orang. Melewati Bang Togar. Melewatiku. Ia berhenti di depan meja kosong di pojok, dekat rak server.

Ia meletakkan hoodie itu di atas meja. Di depan monitor yang mati. Di bawah stiker kucing oranye yang ia tempel sendiri di hari kedua.

Ia merapikan lipatannya sekali lagi dengan ujung jari. Pelan. Seperti merapikan selimut di atas tempat tidur seseorang yang sedang tidur.

Lalu ia berdiri di sana. Tidak menangis. Tidak bicara. Hanya berdiri, menatap hoodie itu di atas meja kosong.

Aku berjalan ke sampingnya. Menggenggam tangannya.

Alea menggenggam balik. Erat. Sangat erat.

“Aku nggak sempat bilang, Kak,” bisiknya.

“Bilang apa?”

Alea tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tanganku lebih erat dan menatap hoodie itu, dan aku tahu ada sesuatu yang ia simpan. Sesuatu yang besar. Aku bisa merasakannya di genggamannya, seperti merasakan detak jantung yang terlalu cepat di balik pergelangan tangan.

Aku tidak bertanya. Aku tidak punya tenaga untuk mendengar satu hal lagi hari itu.


Shafira tidak datang ke lantai 17.

Rina bilang Shafira datang ke kantor pukul lima pagi. Ia tidak tahu kenapa. Pak Udin bilang Shafira sudah datang pukul lima pagi setiap hari selama dua minggu. Ia juga tidak tahu kenapa. Pagi ini, kata Pak Udin, Shafira berpapasan dengan Alfa di basement. Pukul lima lewat empat puluh. Alfa sedang menyerahkan kartu aksesnya.

Pak Udin bilang mereka berdiri berhadapan selama satu menit. Tidak bicara. Lalu Alfa mengangguk, sekali, pelan. Dan Shafira mengangguk balik.

Lalu Alfa pergi. Dan Shafira duduk di Mini Cooper merahnya dengan mesin mati selama dua jam.

Pak Udin tidak menceritakan apa pun lagi.


Pukul tiga sore, aku sedang di mejaku di lantai 22, menatap layar laptop yang tidak kubaca, ketika ponselku bergetar.

Satu kali. Lalu lagi. Lalu terus-menerus. Seperti hari Selasa dua minggu lalu, di lampu merah perempatan Kuningan.

Grup Trista Family.

Pesan teratas dari Bayu. Pukul tiga lewat dua menit. Tidak ada keterangan. Hanya tautan.

Tautan ke situs berita teknologi berbahasa Inggris. Situs yang namanya kukenal karena timku sering memakainya untuk riset tren digital.

Judulnya:

Kaizen Labs Welcomes Legendary Developer “mr_zero” as Principal Security Engineer

Aku membacanya dua kali sebelum otakku memprosesnya.

mr_zero.

Aku mengklik tautan itu.

Artikelnya pendek. Kaizen Labs, perusahaan keamanan siber berbasis di Tokyo, mengumumkan bahwa developer anonim di balik perangkat keamanan sumber terbuka zero-guard, yang dikenal di komunitas dengan nama mr_zero, akan bergabung sebagai Principal Security Engineer mulai bulan depan. Artikel itu menyebut zero-guard digunakan oleh ribuan perusahaan di seluruh dunia. Artikel itu menyebut akun forum mr_zero dihapus dua minggu lalu, memicu spekulasi di komunitas developer. Artikel itu mengutip CTO Kaizen Labs, Haruto Mori: Kami sudah mencarinya selama dua tahun. Ia orang yang membaca semua log.

Dan di bawah kutipan itu, satu foto.

Foto yang diambil di depan dinding putih. Kemungkinan foto untuk dokumen kerja. Kaos navy. Rambut yang disisir jari, menyerah di tengah jalan. Bekas luka tipis di dagu. Ekspresi orang yang dipaksa berdiri di depan kamera di hari yang salah.

Di bawah foto, keterangan:

Alfa Danuarta, a.k.a. mr_zero.


Aku tidak bernapas.

Aku menatap foto itu. Lalu nama itu. Lalu foto itu lagi.

mr_zero.

Lingkaran dengan garis miring di tengahnya. Seperti angka nol yang dicoret. Di layar war room lantai 22. Di stiker di belakang laptopnya, di apartemen sempit di Kalibata, hari Minggu pagi, di samping rak buku penuh Sapardi.

Itu logo tool keamanan. Open source. Banyak orang pakai.

Aku pernah lihat logo ini.

Tahun lalu kampanyeku juga diserang bot. Aku nggak pernah lihat logonya. Aku cuma tahu nama developernya.

Ia membeku waktu itu. Air keran masih mengalir di belakangnya. Mangkuk di tangannya meneteskan air ke lantai. Aku hampir menyebut nama itu. Lalu ponselku berbunyi. Pesan Shafira. Dan momen itu lewat seperti kereta yang tidak berhenti di stasiun.

Kamu ngomong kayak kamu kenal dia.

Aku menulis itu ke mr_zero. Empat hari sebelum hari ketiga puluh. Dan Zero tidak membalas sampai pagi. Untuk pertama kalinya dalam setahun.

Tidur, Cel. Sampai ketemu besok.

Sampai ketemu. Zero tidak pernah bertemu siapa pun.

Kecuali aku.

Setiap hari. Di atap. Di lantai 17. Di war room. Di Kota Tua.


Aku membuka aplikasi forum developer dengan tangan gemetar.

Percakapan dengan mr_zero masih di sana. Tidak bisa dibuka lagi. Hanya judul percakapan di daftar, abu-abu, dengan keterangan Pengguna tidak ditemukan. Tapi pesan-pesanku masih tersimpan di ponselku. Semua yang pernah kukirim. Setahun.

Aku menggulirnya ke atas. Ke empat minggu lalu.

Zero. Aku ikut taruhan bodoh sama sahabat-sahabatku. Kami harus bikin satu cowok di kantor jatuh cinta dalam 30 hari. Targetnya cowok IT yang pendiam, yang kami pilih karena dia kelihatan “aman”.

Hari keempat. Malam setelah laptop.

Ia membacanya. Malam itu, di suatu tempat di Jakarta, laki-laki yang baru saja memperbaiki laptopku dalam empat menit membaca aku menyebutnya aman. Dalam tanda kutip.

Ia membutuhkan empat puluh menit untuk membalas. Aku ingat itu. Aku ingat menatap layar seperti orang bodoh, menunggu. Tanda sedang mengetik yang muncul dan hilang, muncul dan hilang.

Tergantung. Kamu mau menang, atau kamu mau kenal dia?

Aku menggulir lagi. Lebih cepat. Kalimat-kalimatku sendiri bergulir di depan mataku seperti film yang diputar terlalu cepat.

Dia nggak kayak yang aku kira. Aku jahat nggak sih?

Dia bilang “sedikit apa-apa”. Dua kata itu bikin aku nggak bisa tidur tiga malam.

Kalau taruhannya selesai besok... iya.

Dia nyanyi. Lagu kesukaan ibuku. Ibunya udah meninggal.

Dia manggil aku “kamu” hari ini.

Aku nggak mau dia jadi poin di tabel Excel.

Aku takut aku kalah. Bukan taruhannya.

Kalau dia tahu apa yang aku tulis soal dia di hari pertama, dia nggak bakal pernah naik ke atap itu lagi sama aku.

Kalau kamu memang kenal dia, bilang ke dia aku minta maaf.

Hari ini aku naik sepeda untuk pertama kalinya. Dia yang ngajarin.

Tadi sore kami hampir.

Semua.

Ia membaca semua.

Setiap kalimat yang tidak berani kukatakan di depannya, kukatakan pada Zero. Dan Zero adalah dia.


Satu-satunya orang di dunia ini yang pernah mendengar kejujuranku.

Satu-satunya tempat aku bisa bicara tanpa wajah. Tanpa tiga detik. Tanpa senyum yang dihitung.

Aku menceritakan semuanya padanya. Setahun. Kampanye yang gagal. Atasan yang tidak membaca proposal. Rasanya dipuji untuk hal yang bukan diriku. Mama yang bilang perempuan cantik tidak boleh kelihatan berantakan.

Dan empat minggu terakhir, aku menceritakan dia padanya.

Aku memberi tahu laki-laki itu bahwa aku jatuh cinta padanya. Lewat dirinya sendiri. Berkali-kali. Tanpa tahu.

Dan satu-satunya kali aku memilih untuk bicara dengan wajahku sendiri, di depan dua puluh kamera, di lobi lift lantai 21, aku bilang cuma main.

Saya tahu Mbak bohong soal saya. Tapi karena saya tahu Mbak bohong soal yang itu, saya nggak tahu Mbak bohong soal yang mana lagi.

Ia punya setahun bukti bahwa aku tidak bohong. Setahun pesan. Empat minggu kejujuran yang tidak pernah kukatakan di depannya.

Dan di depan semua orang, aku menghapus semuanya dengan dua kata.

Aku menggulir ke pesan terakhir. Pesan kedelapan belas. Yang tidak pernah terkirim. Masih di sana, dengan tanda seru merah kecil di sampingnya.

Aku bohong tadi pagi, Zero. Semua yang aku bilang di depan orang-orang itu bohong. Aku sayang dia.

Pukul sebelas lewat lima puluh satu malam, hari ketiga puluh.

Artikel itu bilang akun mr_zero dihapus malam itu. Forum developer, kalau aku membukanya sekarang, pasti mencatat waktunya. Aku tidak perlu membukanya. Aku tahu.

Ia pergi sebelum kalimat itu sampai.

Mungkin satu jam sebelumnya. Mungkin dua puluh menit. Mungkin satu menit.

Kebenaran satu-satunya yang tersisa dariku, aku kirim ke alamat yang sudah tidak ada.


Grup Trista Family meledak.

Aku tidak membacanya. Aku hanya melihat potongan-potongan di notifikasi yang terus berdatangan di atas layarku.

WAIT. MR. AMAN = MR_ZERO???

Yang bikin zero-guard?? Itu dipakai di kantor kakakku di Singapura!

Gila. Kita ngetawain legenda.

Kaizen Labs itu perusahaan gede banget, guys. Gaji di sana...

Siapa yang bikin stiker Mr. Aman? Hapus. Malu-maluin.

Pak Hendra kasih jempol nggak?

Dion mana Dion

Lalu, pukul tiga lewat empat puluh, satu pesan dari akun yang tidak pernah mengirim apa pun di grup itu selain stiker jempol.

Pak Hendra Wijaya — Dir. Operasional: Seluruh karyawan diminta menghapus stiker “Mr. Aman” dan semua konten terkait dari grup ini dan grup lain. Town hall seluruh karyawan akan diadakan dalam dua minggu. Kehadiran wajib.

Setelah itu, grup Trista Family diam.

Seribu delapan ratus anggota. Tidak ada satu pun yang membalas.

Tidak ada stiker gembok emas lagi. Tidak ada lagu Sakura. Tidak ada Pagi, Mas Aman.

Gedung yang menertawakannya selama dua minggu akhirnya diam.

Ia tidak ada di sini untuk mendengarnya.


Pukul lima sore, aku naik ke tangga darurat lantai 32.

Aku tidak tahu kenapa. Kakiku membawaku sendiri, seperti dulu. Tangga darurat yang pengap. Lampu neon yang berkedip. Dinding beton tanpa cat.

Pintu besi. AREA TERBATAS — HANYA PETUGAS.

Panel akses dengan lampu merah kecil.

Aku tidak punya kartu. Aku tahu itu. Aku sudah tahu sejak hari Selasa dua minggu lalu, ketika aku duduk di anak tangga ini dari jam dua belas sampai jam tiga.

Aku berdiri di depan panel itu. Tanganku, entah kenapa, merogoh tas. Mengeluarkan kartu identitas karyawanku. Kartu putih dengan fotoku dan logo Trista Group. Kartu yang kupakai untuk pintu putar di lobi dan lift ke lantai 22. Kartu yang tidak pernah bisa membuka pintu ini.

Aku menempelkannya ke panel. Tanpa berpikir. Tanpa harapan. Seperti orang yang menekan tombol lift berkali-kali meskipun tahu itu tidak membuatnya datang lebih cepat.

Bunyi kecil. Bip.

Lampu merah berubah hijau.

Aku menatap lampu itu.

Pintu besi itu terbuka sedikit. Satu senti. Angin dari atap menyelinap lewat celahnya, dingin dan bersih.

Aku menatap kartu di tanganku. Lalu panel. Lalu pintu.

Aku tidak mengerti.

Lalu aku mengerti.

Satu-satunya orang di gedung ini yang bisa mengubah siapa boleh membuka pintu ini, pergi tadi pagi pukul lima. Sebelum siapa pun datang. Tanpa pamit. Tanpa pidato.

Dan sebelum pergi, ia memastikan aku bisa membukanya sendiri.

Aku mendorong pintu itu terbuka.

Atap. Angin. Langit sore yang mulai berubah jingga. Unit AC raksasa yang berdengung. Antena di sudut.

Aku berjalan ke balik unit AC terbesar. Ke sudut yang tidak bisa dilihat kamera.

Bangku papan kayu. Di atas dua balok beton. Sedikit miring ke kanan.

Kosong.

Aku duduk di ujung yang biasa. Bangku itu bergoyang, seperti biasa. Aku menatap ujung yang lain. Papan kayu yang sedikit lebih terang di tengah.

Lalu aku melihatnya. Di permukaan papan, di ujung yang biasa ia duduki. Titik-titik kecil berwarna cokelat gelap. Di tepi kayu yang kasar, tempat orang mencengkeram kalau ingin menahan sesuatu.

Darah. Kering. Sedikit. Seperti titik merah dari pulpen.

Aku menyentuh titik-titik itu dengan ujung jari.

Lalu aku menangis.

Di atap Trista Tower, di bangku papan kayu yang miring, dengan pintu yang terbuka karena ia membukakannya untukku sebelum pergi. Aku menangis untuk laki-laki yang membaca semua log di gedung ini. Yang membaca semua kalimatku. Yang tahu sejak hari kedua. Yang tetap naik ke atap. Yang mengajariku naik sepeda tanpa melepas sadel sampai aku siap.

Yang aku sebut aman.

Yang aku bilang cuma main.

Yang, sebelum pergi, memastikan pintunya terbuka.

Satu-satunya orang yang pernah mendengar kejujuranku adalah dia sendiri.

Dan ia pergi tepat sebelum kejujuran itu sampai.