Chapter Eight
Hoodie Abu-Abu
POV: Alfa
Senin pagi, ada dasi biru tua terlipat rapi di laci mejaku.
Aku tidak tahu kenapa membawanya ke kantor. Mungkin karena tidak tahu harus menaruhnya di mana di apartemen. Dasi itu milik seseorang yang tidak perlu diingat lagi, kata Shafira. Benda yang terlalu bagus untuk dibuang, tapi terlalu berat untuk disimpan sendiri. Aku mengerti jenis benda seperti itu. Aku punya beberapa.
Bayu menggelinding ke mejaku pukul delapan tepat, seperti alarm.
“Bang. Bang. Bang. Gimana Sabtu?”
“Makan.”
“Makan apa?”
“Ikan.”
“Terus?”
“Sup.”
Bayu menatapku dengan wajah orang yang baru saja membaca novel tiga ratus halaman dan menemukan bahwa halaman terakhirnya kosong. “Bang, aku butuh detail. Aku butuh data. Aku sudah investasi dua belas halaman panduan di hubungan ini.”
“Aku pakai bab satu.”
Wajahnya berubah. “Serius, Bang?”
“Aku nggak balas ‘ok’.”
Bayu menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya berkaca-kaca. Ia menggelinding kembali ke mejanya, mengambil papan tulis kecilnya, dan menulis dengan khidmat di sudut kanan atas: PANDUAN v1.0 — TERBUKTI BERHASIL (1 kasus).
Dari balik partisi, suara Bang Togar bergemuruh. “Bayu! Kau dapat info apa?”
“Bang Alfa pakai panduanku, Bang!”
“Panduan apa?”
“Panduan cinta, Bang!”
Hening. Lalu kepala Bang Togar muncul dari balik partisi, matanya menyipit curiga. “Bayu, kau sendiri pacaran pun belum pernah.”
“Teori itu nggak harus dipraktikkan dulu, Bang! Einstein nggak perlu naik roket buat bikin teori relativitas!”
Bang Togar menatap Bayu lama. Lalu menatapku. “Alfa, jangan kau ikuti panduan anak ini. Nanti kau berakhir seperti dia, jomblo dengan papan tulis.”
“Bang, itu kejam!”
Aku membuka dashboard monitoring dan membiarkan mereka berdua bertengkar. Di sudut monitor, kucing oranye masih tersenyum dengan papan SEMANGAT KERJA!-nya.
Kucing itu tidak tahu apa-apa soal Jumat sore. Aku iri padanya.
Pukul sepuluh, Alea datang ke ruang server.
Bukan untukku. Atau setidaknya, itu alasan resminya. Divisi HR sedang melakukan audit aset tahunan, dan seseorang harus mencocokkan nomor seri setiap perangkat di ruang server dengan daftar inventaris. Seseorang itu, entah karena kebetulan atau karena ia mengajukan diri, adalah Alea.
Ruang server Trista Tower adalah ruangan paling dingin di gedung ini. Delapan belas derajat, terus-menerus, siang dan malam. Rak-rak hitam berjejer seperti lemari pendingin raksasa, lampu-lampu kecil hijau dan biru berkedip di setiap baris, dan dengung kipasnya begitu konstan sampai lama-lama tidak terdengar lagi.
Alea masuk dengan blus tipis berwarna kuning dan rok selutut. Map berisi daftar inventaris di dekapannya. Jepit rambutnya hari ini bentuk stroberi.
Dalam lima menit, bibirnya mulai membiru.
“K-Kak Alfa,” katanya, giginya bergemeletuk. “K-kok di sini kayak kulkas, sih?”
“Delapan belas derajat, Mbak. Supaya server nggak kepanasan.”
“S-server-nya kepanasan, aku yang b-beku.”
Ia mencoba menulis nomor seri di daftarnya, tapi tangannya gemetar begitu hebat sampai angka tujuh yang ia tulis terlihat seperti cacing kepanasan. Ia meniup jari-jarinya. Ia menggosok-gosok lengannya. Ia berjalan di tempat seperti orang yang menunggu angkot di musim hujan.
Aku melepas hoodie abu-abuku dan menyodorkannya.
Alea menatap hoodie itu. Lalu menatapku. Lalu tersenyum, senyum yang pelan-pelan melebar seperti matahari terbit.
Ia tidak langsung mengambilnya. Ia mengambilnya pelan, dengan kedua tangan, seperti menerima sesuatu yang berharga. Lalu ia memakainya. Hoodie itu menelannya bulat-bulat. Ujungnya jatuh sampai pertengahan paha, lengannya menjuntai belasan senti melewati ujung jarinya, tudungnya, saat ia menariknya ke atas, menutupi seluruh kepalanya sampai ke alis.
Ia terlihat seperti anak kecil yang memakai baju ayahnya.
“Hangat,” bisiknya.
Lalu ia mendekatkan kerah hoodie itu ke hidungnya. Menghirup dalam-dalam. Matanya terpejam.
“Hoodie Kakak wangi,” katanya. “Wangi sabun cuci yang murah.”
“Terima kasih, Mbak. Kayaknya.”
“Itu pujian!” Ia membuka mata, menatapku dari balik tudung yang terlalu besar. Lalu ia menarik ujung lengan hoodie itu, yang kebetulan masih ada di dekat tanganku, dan menggoyang-goyangkannya. Pelan. Seperti anak kecil menarik ujung baju orang tuanya di pasar. “Pinjem, ya, Kak. Sampai Kakak kangen.”
Ia masih memegang ujung lengan itu. Jarak kami kurang dari satu langkah. Lampu hijau dari rak server memantul di pipinya yang mulai memerah lagi, bukan karena dingin.
Aku teringat suara yang sama, tiga hari lalu, dari balik pintu pantry. Aku taruhan dia belum pernah dipegang cewek sama sekali.
“Kalau saya kangen hoodie-nya,” kataku, “saya ambil.”
Alea tertawa. Tawanya memantul di antara rak-rak server, terdengar lebih keras di ruangan yang biasanya hanya berisi dengung kipas. Ia melepas ujung lengan itu dan kembali ke daftar inventarisnya, kali ini menulis dengan tangan yang tidak gemetar.
Aku berdiri di dekat pintu, kedinginan dengan kaos navy tipis, dan berpikir bahwa aku seharusnya tidak membiarkan diriku merasa senang melihat seseorang tenggelam di dalam hoodie-ku.
Aku membiarkannya juga.
Alea tidak mengembalikan hoodie itu.
Ia selesai mencocokkan inventaris pukul sebelas lewat, berterima kasih dengan riang, lalu keluar dari ruang server dan berjalan ke lift dengan hoodie-ku masih menempel di badannya. Aku menunggunya berbalik dan melepasnya. Ia tidak berbalik.
Bayu menatap punggung Alea yang menghilang di balik pintu lift, lalu menatapku yang berdiri dengan kaos tipis di depan ruang server.
“Bang,” bisiknya. “Hoodie Abang dibawa kabur.”
“Iya.”
“Abang nggak minta balik?”
“Dia kedinginan.”
Bayu menatapku seperti aku baru saja menyumbangkan ginjal. “Bang. Abang menggigil. Bibir Abang ungu.”
“Nanti juga hangat.”
“Bang, ini lantai 17. Nggak ada yang hangat di lantai 17 kecuali hati Bang Togar.”
“Aku dengar itu, Bayu!” seru Bang Togar dari balik partisi. “Dan terima kasih!”
Siang itu, Bang Togar meminjamkan jaket cadangannya padaku. Jaket parasut warna oranye terang dengan tulisan KELUARGA BESAR SIMANJUNTAK — REUNI AKBAR 2019 di punggungnya. Kebesaran dua nomor. Aku memakainya sepanjang hari, dan setiap orang yang lewat di lantai 17 berhenti untuk membaca tulisan di punggungku.
Tim network memotretku. Fotonya masuk ke grup divisi IT sore itu dengan keterangan: Anggota keluarga Simanjuntak yang baru.
Bang Togar membalas foto itu dengan stiker bendera dan tulisan SELAMAT DATANG, BORU.
Aku memutuskan untuk tidak membuka grup divisi IT selama sisa minggu itu.
Malam itu aku lembur seperti biasa.
Lantai 17 kosong sejak pukul tujuh. Hanya aku, dengung server, dan jaket oranye Simanjuntak yang ternyata cukup hangat. Aku sedang menulis skrip untuk otomatisasi backup ketika dashboard monitoring berbunyi.
Pukul sebelas lewat delapan menit.
Bukan alarm besar. Hanya peringatan kuning kecil di sudut layar. Job gagal: PAYROLL_BATCH_OCT — modul validasi rekening, error 0x3F.
Aku menatap peringatan itu.
Sistem penggajian Trista menjalankan proses akhir bulan setiap tanggal dua puluh lima, tengah malam. Daftar transfer gaji seluruh karyawan, lebih dari dua ribu orang, dikunci tepat pukul dua belas dan dikirim otomatis ke bank pukul satu pagi. Kalau prosesnya gagal, transfer tertunda. Kalau transfer tertunda, dua ribu orang bangun besok pagi tanpa gaji di rekening mereka.
Aku membuka log-nya. Ada satu akun yang sedang aktif di sistem penggajian. Satu akun yang sudah mencoba menjalankan ulang proses itu empat kali dalam dua puluh menit terakhir, dan gagal empat kali.
ALEA.PK — HR Operations.
Ia tidak meneleponku. Ia tidak mengirim pesan. Aku memeriksa aplikasi chat internal. Tidak ada apa-apa. Aku memeriksa sistem tiket bantuan IT. Kosong.
Ia sedang mencoba memperbaikinya sendiri.
Aku berdiri, melepas jaket Simanjuntak, lalu memakainya lagi karena ternyata memang dingin, dan berjalan ke lift.
Lantai 19 gelap kecuali satu lampu meja di dekat jendela.
Alea duduk di depan komputernya, masih memakai hoodie abu-abuku. Tudungnya terpasang, rambutnya berantakan keluar dari sisi-sisinya. Di layarnya, jendela error yang sama terbuka empat kali, bertumpuk seperti kartu. Di samping keyboard-nya, ada ponsel dengan layar menyala. Aku bisa melihat sekilas: panggilan keluar ke Bu Ratih (Manager HR), tidak diangkat. Panggilan keluar ke Pak Gunawan (Finance), tidak diangkat.
Ia sedang mengetik sesuatu di mesin pencari ketika mendengar langkahku. Ia menoleh dengan cepat, matanya membesar.
Matanya merah. Pipinya basah.
“K-Kak Alfa?”
“Payroll-nya error,” kataku. “Monitoring saya bunyi.”
Ia menatapku. Lalu menatap layarnya. Lalu menatapku lagi. Bibirnya bergetar.
“Aku udah coba empat kali,” katanya, suaranya pecah. “Tadi sore udah aku cek semua, udah bener semua, terus jam sebelas aku run, terus error. Aku udah telepon Bu Ratih, nggak diangkat. Aku telepon Pak Gunawan, nggak diangkat. Aku nggak berani telepon Kakak soalnya ini bukan... ini kan urusan HR, bukan urusan IT, terus Kakak pasti udah tidur, terus...”
“Boleh saya duduk?”
Ia mengangguk dan bergeser. Aku menarik kursi dan duduk di sampingnya.
Error 0x3F di modul validasi rekening. Aku pernah melihatnya sekali, dua tahun lalu. Biasanya terjadi karena satu data karyawan yang dimasukkan dengan format salah. Satu baris. Satu karakter. Cukup untuk membuat seluruh proses berhenti.
Aku membuka basis data penggajian dan menjalankan pencarian.
Dua ribu tiga ratus empat belas baris. Butuh dua puluh detik. Lalu satu baris muncul, disorot merah. Seorang karyawan baru di divisi logistik, yang nomor rekeningnya diketik dengan spasi di tengah.
“Ini,” kataku, menunjuk layar. “Satu spasi.”
Alea membungkuk ke depan, hidungnya hampir menyentuh monitor. “Satu spasi?”
“Sistemnya nggak bisa baca spasi di nomor rekening. Dia anggap datanya rusak, terus menghentikan semuanya supaya nggak ada transfer yang salah.”
“Satu spasi bikin dua ribu orang nggak gajian?”
“Hampir.”
Alea menatap baris merah itu. Lalu, tiba-tiba, ia tertawa. Tawa kecil yang pecah di tengah, bercampur dengan isak yang belum benar-benar berhenti.
“Aku nangis dua puluh menit,” katanya, “gara-gara spasi.”
Aku menghapus spasi itu. Menyimpan data. Menjalankan ulang proses penggajian.
Bilah kemajuan di layar bergerak pelan. Sepuluh persen. Tiga puluh. Enam puluh. Alea memegangi ujung lengan hoodie-ku di pangkuannya dengan kedua tangan, meremasnya, menatap bilah itu seperti menatap tim sepak bola yang sedang adu penalti.
Sembilan puluh. Sembilan puluh delapan.
PAYROLL_BATCH_OCT — Selesai. 2.314 transaksi siap dikirim.
Pukul sebelas lewat lima puluh dua.
Alea menghembuskan napas panjang dan menyandarkan kepalanya ke punggung kursi. Tudung hoodie-ku jatuh dari kepalanya. Lalu, tanpa peringatan, ia mencondongkan tubuh ke samping dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
Hanya sebentar. Tiga detik, mungkin.
“Makasih, Kak,” bisiknya.
Lalu ia menegakkan tubuh lagi, cepat, seolah baru sadar apa yang baru saja ia lakukan. Pipinya merah. Ia mengusap matanya dengan ujung lengan hoodie.
“Kakak nggak harus datang,” katanya pelan. “Aku nggak minta tolong.”
“Saya tahu.”
“Terus kenapa datang?”
Aku memikirkan jawabannya. Ada banyak jawaban yang benar. Karena itu pekerjaan saya. Karena dua ribu orang butuh gajian. Karena monitoring saya bunyi. Semuanya benar.
“Karena Mbak sendirian,” kataku.
Alea menatapku. Lama. Matanya yang masih merah berkaca-kaca lagi, tapi kali ini dengan cara yang berbeda.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Aku mengantarnya ke lobi. Bu Ratna sudah lama pulang. Pak Udin sedang berjaga di pos depan, menonton sinetron yang sama atau sinetron yang berbeda, aku tidak bisa membedakannya.
Ojek online pesanan Alea datang lima menit kemudian. Sebelum naik, ia menoleh dan menunjuk hoodie yang masih ia pakai.
“Ini... aku balikin besok, ya, Kak.”
“Simpan aja dulu. Malam dingin.”
Ia tersenyum, menarik tudungnya ke atas, dan naik ke motor. Lalu motor itu pergi, dan yang tersisa hanya Pak Udin yang menatapku dengan mata menyipit dari balik kaca posnya.
“Mas,” katanya. “Itu tadi Mbak Alea yang dari HR?”
“Iya, Pak.”
“Pakai jaket Mas?”
“Hoodie, Pak.”
“Dan Mas pakai jaket orang lain yang tulisannya Keluarga Besar Simanjuntak?”
“Iya, Pak.”
Pak Udin mengangguk pelan. Ia mematikan sinetronnya. “Mas. Saya sudah jaga gedung ini sebelas tahun. Saya sudah lihat banyak hal. Tapi ini pertama kali saya lihat laki-laki tukar baju sama dua orang dalam satu hari.”
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Di atas motor, sebelum menyalakan mesin, ponselku bergetar.
Alea: Kak, aku udah sampai rumah. Makasih banyak ya. Serius. Aku nggak tahu harus gimana kalau Kakak nggak datang. 🥺
Aku menatap pesan itu.
Aku memikirkan bab empat dari panduan Bayu. Kalau bingung mau balas apa, tanya balik. Aku memikirkan aturan nomor lima di catatan ponselku. Jangan berharap. Aku memikirkan suara yang sama, tiga hari lalu, berkata nggak ada yang sakit.
Lalu aku memikirkan kepalanya di bahuku. Tiga detik. Ringan, seperti burung kecil yang hinggap sebentar sebelum terbang lagi.
Aku: Sama-sama, Mbak. Istirahat.
Aku menunggu. Lalu, setelah ragu cukup lama, aku menambahkan satu kalimat lagi.
Aku: Lain kali kalau ada yang error, telepon saya. Jam berapa pun.
Aku mengirimnya sebelum sempat menghapusnya.
Lalu aku duduk di atas motor di basement B2 yang sepi, memakai jaket parasut oranye milik keluarga besar Simanjuntak, dan menyadari sesuatu yang membuatku sedikit takut.
Aku menikmatinya.
Diperhatikan. Dicari. Disandari, meskipun hanya tiga detik. Hal-hal kecil yang semua orang di dunia ini sepertinya sudah biasa terima, yang selama dua puluh delapan tahun tidak pernah benar-benar kualami.
Aku menikmatinya, padahal aku tahu dari mana semua itu berasal. Aku tahu ada selembar kertas dengan namaku di atasnya. Aku tahu ada satu baris yang ditulis tentang kepergianku, dengan nada kabar baik.
Dan tetap saja.
Sistem yang baik tahu kapan ia sedang diserang. Sistem yang baik menutup pintunya.
Aku menyalakan motor. Pintunya masih terbuka.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu reading
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang